01/03/2026
JAWABAN BERKELAS TIYO KETUA BEM UGM USAI DIHIN4 WAKIL KEPALA BGN: MONY3T TIDAK PERNAH KORUPSI
Kritik Pedas
Jagat media sosial kembali menjadi arena b3nturan antara kritik mahasiswa dan respons pejabat negara.
Kali ini, sorotan tertuju pada Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, yang merilis pernyataan reflektif berjudul "Emoji Mony3t".
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas komentar bernada k3ras yang disertai emoji monyet dari sebuah akun Instagram terverifikasi milik pejabat negara.
Kontroversi bermula dari sebuah video yang diunggah Tiyo Ardianto. Dalam video tersebut, ia menyampaikan kritik terbuka terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
Tiyo menilai kebijakan tersebut layak dikritisi sebagai bagian dari kontrol publik, khususnya oleh mahasiswa, terhadap kebijakan yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas.
Video itu kemudian menyebar luas dan memantik beragam respons, termasuk dari kalangan pejabat.
Respons paling menyita perhatian datang dari akun Instagram terverifikasi milik Sony Sonjaya. Dalam kolom komentar, akun tersebut menuliskan pernyataan panjang bernada defensif terhadap program MBG: "BODO ??? Telah memberi makan kepada 60 juta Ballta, Ibu H4mil, Ibu Menyusui dan peserta didik, telah menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja, telah menyerap hasil tani, hasil kebun, hasil budidaya ikan, hasil ternak......lah... yang orasi telah menghasilkan apa?? jadine."
Tak berselang lama, akun yang sama kembali meninggalkan jejak berupa emoji mony3t, simbol yang kemudian menjadi pusat kontroversi.
Alih-alih membalas dengan kemarahan, Tiyo memilih merespons melalui pernyataan tertulis bernada reflektif berjudul "Emoji Monyet".
Dalam bagian pembuka, ia menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukanlah harga diri pengkritik, melainkan sikap penguasa terhadap perbedaan pandangan.
"Ketika kritik yang lahir karena cinta pada Bangsa dibalas dengan emoji mony3t, yang sebenarnya dipertaruhkan bukan martabat pengkritik, tetapi kedewasaan penguasa dalam menerima pikiran yang berbeda tanpa pernah merasa ter4ncam," tulisnya.
Tiyo menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukanlah serangan personal, melainkan ekspresi kepedulian terhadap arah kebijakan publik.
la melihat bahwa respons berupa emoji mony3t justru menunjukkan kegagalan dalam memahami esensi kritik yang membangun. Baginya, seorang pejabat seharusnya mampu membedakan antara kritik kebijakan dengan serangan pribadi, serta merespons dengan argumentasi yang sehat, bukan dengan simbol yang merendahkan.
Dalam pernyataan reflektifnya, Tiyo juga menyelipkan analisis filosofis yang t4jam tentang perbandingan antara manusia dan mony3t.
"Manusia dan monyet itu sejatinya satu keluarga primata. Yang berbeda, mony3t tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai makhluk paling mulia. Tapi, buktinya justru monyet tidak pernah korupsi, tidak menindas saudaranya, dan tidak menjilat demi dapat pangkat," tulisnya.
Pernyataan ini menjadi kritik tidak langsung terhadap perilaku elite yang kerap menunjukkan arogansi kekuasaan.
Insiden ini memicu perdebatan luas di media sosial tentang batas-batas kritik dan etika komunikasi pejabat publik.
Banyak warganet yang menyuarakan dukungan kepada Tiyo dan meng3cam penggunaan emoji monyet sebagai bentuk pel3cehan terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasinya.
Sebagian lainnya membela pejabat tersebut dengan argumen bahwa kritik mahasiswa kadang disampaikan dengan cara yang kurang santun, sehingga memancing respons emosional.
Fenomena ini kembali mengingatkan publik tentang pentingnya ruang demokrasi yang sehat, di mana kritik dapat disampaikan dan diterima dengan kepala dingin.
Respons Tiyo yang memilih jalan refleksi alih-alih konfrontasi justru mendapat apresiasi luas karena dianggap menunjukkan kedewasaan berpikir.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan kebijakan publik, mahasiswa kembali menegaskan perannya sebagai guardian of values yang tidak hanya mampu mengkritik, tetapi juga merespons dengan cara-cara bermartabat.
Sumber: Tribun News
SEMUA ORANG