Motivasi Islam

Motivasi Islam Sunnah itu ibarat kapal Nabi Nuh,siapa yang mrnumpanginya ia akan selamat (Imam Malik)

30/12/2020

Peringatan tahun baru dan niat

Sebagian orang mengatakan, "di malam tahun baru saya ada acara makan-makan dan bakar jagung, niatnya sekedar kumpul-kumpul, bukan merayakan tahun baru".

Ada juga yang mengatakan, "di malam tahun baru saya ingin melihat pesta kembang api, sekedar menikmati kembang api saja bukan merayakan, kan semua tergantung niatnya".

Maka kita katakan, kita semua tahu bahwa perayaan tahun baru masehi adalah kebiasaan orang-orang non Muslim. Dan kita semua tahu hadits:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Orang yang menyerupai suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, dihasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, dishahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).

Dan perbuatan yang dilarang karena tasyabbuh, tidak memandang niat pelakunya. Karena tasyabbuh itu sudah riil terjadi ketika adanya keserupaan secara zahir, tanpa melihat niatnya.

Contohnya, kalau ada laki-laki memakai lipstik, bedak, maskara, dan make up wanita lainnya, kemudian jalan lenggak-lenggok, maka kita katakan ini lelaki yang menyerupai wanita (baca: tasyabbuh terhadap wanita). Tanpa perlu kita tanyakan apa niatnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan:

ما حصل به التشبه لا يشترط فيه نية التشبه، إذن التشبه تحصل صورته ولو بلا قصد فإذا حصلت صورة التشبه كانت ممنوعاً ولا فرق في هذا بين التشبه بالكفار أو تشبه المرأة بالرجل أو الرجل بالمرأة فإنه لا يشترط فيه نية التشبه ما دام وقع على الوجه المشبه

“suatu perbuatan yang merupakan tasyabbuh, tidak disyaratkan adanya niat untuk tasyabbuh. Maka, bentuk dari perbuatan tasyabbuh itu terjadi walau tidak dimaksudkan demikian. Maka jika terjadi suatu perbuatan yang merupakan bentuk dari tasyabbuh, hukumnya terlarang. Ini tidak dibedakan baik dalam tasyabbuh dengan orang kafir atau tasyabbuh-nya wanita dengan laki-laki atau tasyabbuh-nya laki-laki dengan wanita. Tidak disyaratkan adanya niat, selama di sana terjadi satu bentuk tasyabbuh (maka terlarang)” (Fatawa Nuurun ‘alad Darbi).

Dalam kitab al Qaulul Mufid, beliau juga menjelaskan:

لأن الحكم عُلق على مجرد صورته , فهذا العمل لا يحتاج إلى نية لأنه مُعلق بمجرد الفعل . فالنية تؤثر في الأعمال الصالحة وتصحيحها, وتؤثر في الأعمال التي لايقدر عليها فيعطى أجرها , وما أشبه ذلك , بخلاف ما علق على فعل مجرد , فلا حاجة فيه إلى نية

“... Karena hukum tasyabbuh ini hanya terkait dengan bentuk zahirnya. Maka perbuatan ini tidak membutuhkan pengecekan niat, karena hukumnya hanya dikaitkan dengan amal. Adapun niat itu berpengaruh pada amal-amal shalih yaitu berpengaruh pada sah atau tidaknya amal shalih tersebut. Juga niat berpengaruh pada amal-amal yang tidak disebut batasan pahalanya, sehingga seseorang diberi pahala karena niatnya, atau amalan-amalan semacam itu. Ini tidak berlaku pada yang hanya dikaitkan dengan amalannya saja. Dalam hal ini maka tidak perlu pengecekan niat”

Maka aktivitas apa saja yang bisa disangka secara zahir sebagai bentuk merayakan tahun baru, ini semua terlarang. Walaupun tidak berniat merayakannya.

Sikap yang benar dalam melewati malam tahun baru Masehi adalah melewatinya sebagaimana malam-malam biasanya, tidak ada yang istimewa. Sebagaimana firman Allah:

والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما

“(Orang beriman adalah) orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur (perayaan orang kafir) dan bila melewatinya, ia lewat dengan penuh wibawa” (QS. Al Furqan: 72).

Wallahu a'lam.

Join channel telegram

BERSATULAH DAN JANGAN BERPECAH BELAH Persatuan kaum muslimin adalah perkara yang amat baik dan memberikan kekuatan yang ...
02/01/2020

BERSATULAH DAN JANGAN BERPECAH BELAH

Persatuan kaum muslimin adalah perkara yang amat baik dan memberikan kekuatan yang dahsyat dalam menghadapi musuh musuh islam.
Amat menarik bila kita merenungi ayat ayat dan hadits tentang perpecahan.
Karena semua ayat tersebut memberikan ikatan dan tidak memutlakkan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

"Dan berpeganglah semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai berai."
(Ali imron: 102)

Ayat ini menyuruh agar persatuan itu diikat dengan berpegang kepada tali Allah yaitu alqur'an dan sunnah.

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Dan taatilah Allah dan rosulNya dan jangan berselisih niscaya kalian akan gagal dan hilanglah kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang bersabar."
(Al Anfaal: 64)

Ayat ini menyuruh menaati Allah dan rosulNya lalu melarang perselisihan. Artinya memaksiati Allah dan rosulNya adalah sumber perselisihan.

Allah berfirman::

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

"Dan janganlah kamu seperti kaum musyrikin, yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi berkelompok kelompok. Setiap kelompok berbangga dengan apa yang ada pada mereka."
(Ruum: 31-32)

Ayat ini memberikan kepada kita pemahaman bahwa sumber perpecahan adalah berbangga dengan apa yang ada pada kelompoknya, bukan dengan berpegang kepada tali Allah. Fanatik kepada kelompok dan golongan atau individu membuat mata mereka buta untuk melihat kebenaran.

Yang lebih gamblang adalah hadits:

فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، عضّوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل بدعة ضلالة.

"Sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian kelak akan melihat perpecahan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang tertunjuki. Gigitlah ia dengan gigi geraham dan jauhilah perkara yang diada adakan, karena setiap bid'ah itu sesat."
(HR Abu Dawud dan Attirmidzi, beliau berkata: "Hadits hasan shahih."

Perhatikan, ketika nabi mengabarkan umatnya akan berpecah, ternyata nabi tidak berkata: "bersatulah jangan membahas permasalahan yang membuat perpecahan !!"

Tapi nabi menyuruh berpegang kepada sunnah beliau dan sunnah para shahabat.
Dan itu amat berat di zaman perselisihan karena akan dituduh macam macam. Maka nabi bersabda: "gigitlah ia dengan gigi geraham."

Lalu nabi melarang perbuatan bid'ah di zaman terjadi perpecahan. Tentunya tidak mungkin kita dapat meninggalkannya jika kita tidak membahasnya secara ilmiyah.
Namun kenyataannya pembahasan masalah bid'ahn dan kesyirikan malah dianggap sumber pemecah belah. Allahul Musta'an.

🇳 🇦 🇸 🇪 🇭  🇦 🇹🌺💠🌺 *SETIAP HARI RUTIN MEMBACA AL-QURAN*📖 Jadikanlah Al-Quran kebutuhan harian kita☄ Jika tidak makan dan ...
02/01/2020

🇳 🇦 🇸 🇪 🇭 🇦 🇹

🌺💠🌺 *SETIAP HARI RUTIN MEMBACA AL-QURAN*

📖 Jadikanlah Al-Quran kebutuhan harian kita

☄ Jika tidak makan dan minum sehari
Badan menjadi lemah

☄ Demikian jika tidak membaca Al-Quran sehari
Bisa jadi hati dan jiwa menjadi lemah

⭕ Hati menjadi keras, mudah marah, mengeluh dan selalu miskin

⭕ Tidak qana'ah dan bersemangat menjalani hari

⭕ Tidak tersentuh dengan kebaikan dan hidayah

⭕ Sungguh benar khabar bahwa Al-Quran akan ditinggalkan

📖 Allah berfirman,

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺇِﻥَّ ﻗَﻮْﻣِﻲ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﻬْﺠُﻮﺭﺍً

“Berkatalah Rasul: "Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN". (QS. Al Furqan : 30)

☄ Bacalah Al-Quran beberapa juz sehari
Jika tidak mampu, beberapa halaman
Jika tidak mampu, setengah halaman
Jika tidak mampu, beberapa ayat
Jika tidak mampu, mohon ampun kepada Allah

⭕ Maksiat yang banyak telah mengeraskan hati
Cinta dunia telah melalaikan akhirat

☄ Waktu itu selalu ada,
Setelah shalat subuh
Setelah magrib
Dalam perjalanan ke kantor
Ketika menunggu dan mengantri
Bukan banyak bacaan yang menjadi utama
Akan tetapi istiqamah setiap hari membaca
Walaupun hanya beberapa ayat

💎 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﺣَﺐَّ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣَﺎﺩَﺍﻡَ ﻭَﺇِﻥْ ﻗَﻞَّ

" Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus (istiqamah) walaupun sedikit."
📚 (HR. Bukhari & Muslim)

📖 Al-Quran adalah penyembuh penyakit fisik dan jiwa
Kuatkan hati dengan Al-Quran setiap hari

📖 Allah berfirman

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

🌍 Sumber :
https://muslimafiyah.com/setiap-hari-rutin-membaca-al-quran.html

📝 Penyusun: Raehanul Bahraen

🌐 muslimafiyah

Jadikanlah Al-Quran kebutuhan harian kita Jika tidak makan dan minum sehariBadan menjadi lemahDemikian jika tidak membaca Al-Quran sehariBisa jadi hati dan jiwa menjadi lemahHati menjadi keras, mudah marah, mengeluh dan selalu miskinTidak qana’ah dan bersemangat menjalani hariTidak tersentuh denga...

*SISI LAIN MUSIBAH BANJIR*________✒Kita semua tentu sangat berharap agar hujan yang Allah turunkan *menjadi rahmat dan b...
02/01/2020

*SISI LAIN MUSIBAH BANJIR*
________✒

Kita semua tentu sangat berharap agar hujan yang Allah turunkan *menjadi rahmat dan bukan adzab.*

Namun tidak semua harapan bisa menjadi realita.

Hujan yang kita harapkan menjadi rahmat, ternyata justru menjadi tentara Allah yang siap menghukum kita, dan menjadi azab bagi mereka yang durhaka.

Hujan bak pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan sekaligus bisa merugikan.

Tentunya anda masih ingat peristiwa yang pernah terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam.
Bagaimana Allah membalas *KEANGKUHAN UMAT NUH* dengan hujan dan air yang berlimpah.

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاء بِمَاء مُّنْهَمِرٍ { } وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاء عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

_“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”_

*(QS. Al Qamar: 11-12).*

Di saat itulah, tidak ada yang bisa menyelamatkan diri, selain mereka yang Allah rahmati.

وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ { } قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

_“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: *“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”* Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. *Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”*_

*(QS. Hud: 42-43)*

• *Apa Sebab Banjir?*

Ayat yang sering didengungkan ketika terjadi musibah, adalah firman Allah di *surat Ar-Rum:*

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

_“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Supaya Allah *merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan*, supaya mereka kembali.”_

*(QS. Ar-Rum: 41).*

Ada satu hal yang telah menjadi *MINDSET* hampir semua orang terkait ayat ini, tafsir _‘perbuatan tangan-tangan manusia’_ hanya terbatas pada *sikap manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan.*

Mereka menyimpulkan bahwa banjir, atau bencana apapun bentuknya, disebabkan *sikap manusia yang tidak disiplin dalam mengelola lingkungan.*

- Di saat banjir mulai melanda, rame-rame orang menyalahkan _buang sampah sembarangan, infrastruktur yang kurang diperhatikan pemerintah, eksploitasi alam yang tidak terkontrol,_ dst…

Namun, tahukah anda,
ternyata *SEBAB UTAMA BANJIR* atau bencana alam lainnya, tidak hanya dalam bentuk lahiriyah sebagaimana anggapan di atas.

Ada sebab terpenting yang ternyata belum dipahami kebanyakan orang. Sebab itu adalah *MAKSIAT.*

● Perbuatan maksiat dan kedurhakaan kepada Sang Pencipta, merupakan sebab terbesar Allah mendatangkan bencana alam.

● Dosa dan maksiat adalah sebab terbesar Allah mendatangkan banjir.

Itulah tafsir yang dipahami oleh para sahabat ulama masa silam terhadap surat Ar-Rum di atas.

*Berikut diantara tafsir mereka,*

- At-Thabari menyebutkan ketarangan dari Al-Hasan Al-Bashri ketika menafsirkan ayat ini,

أفسدهم الله بذنوبهم، في بحر الأرض وبرها بأعمالهم الخبيثة

_“Allah menghancurkan mereka disebabkan dosa mereka, berupa kerusakan di daratan maupun dilautan, disebabkan perbuatan buruk mereka..”_

📗 *(Tafsir At-Thabari, 20/108).*

As-Suyuthi menyebutkan keterangan dari Abu Bakr bin Ayyasy, ketika beliau ditanya tentang ayat ini, beliau berkomentar,

إِن الله بعث مُحَمَّدًا إِلَى أهل الأَرْض وهم فِي فَسَاد فأصلحهم الله بمحمدا صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَمن دَعَا إِلَى خلاف مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَهُوَ من المفسدين فِي الأَرْض

_“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke penduduk bumi ketika mereka dalam kondisi rusak (masa jahiliyah). Kemudian Allah memperbaiki mereka dengan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang mengajak kepada perbuatan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.”_

📗 *(Ad-Dur Al-Mantsur, 3/477).*

Dikisahkan oleh Shofiyah radhiyallahu ‘anha, tentang gempa yang terjadi di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu,

“Pernah terjadi gempa bumi di Madinah pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu, sehingga beberapa pagar roboh, lalu Umar berkhotbah:

أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها

_"Wahai sekalian manusia, apa yang terjadi? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.”_

📗 *(HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (3/342), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (2/473) dengan sanad yang shahih).*

Gempa itu belum pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar khawatir, dia juga tertimpa sebab maksiat yang dilakukan manusia.

Beliau mengancam, jika terjadi gempa yang kedua, beliau akan keluar madinah.

Setelah memahami hal ini, dan dengan adanya musibah banjir, selayaknya kita *BERUSAHA UNTUK SEMAKIN DEKAT DENGAN ALLAH.*

Memohon ampunan kepada-Nya seraya berharap agar Dia segera melepaskan kaum muslimin dari musibah ini.

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

_Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa *Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.* Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”. Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.”_

*(QS. Al-An’am: 65 – 67)*

Allahu a’lam

🖊 Ustadz Ammi Nur Baits
konsultasisyariah.com

*Oleh: Mutiara Risalah Islam*
>>>>>>>>🌺🌺

03/12/2019

🚺“Kisah Istri Sholehah…” 😭😭

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)

Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

22/10/2019

🔥 *Manusia yang menyulitkan iblis ...*

✍Permusuhan iblis dengan manusia keturunan adam adalah permusuhan yang abadi.
Awal mula permusuhan itu berawal dari pembangkangan iblis untuk sujud kepada Adam عليه السلام atas perintah Allah. Drama permusuhan setan dengan manusia diceritakan oleh Allah diantaranya dalam Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 61 – 65.
Allah berfirman (yang artinya):
61- Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”
62- Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.
63- Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.
64- Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.
65- Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, Kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (Al Isra': 61-65)

Kesungguhan iblis untuk menjatuhkan manusia dalam kesesatan adalah upaya yang sungguh-sungguh dan tidak main-main.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ.
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
"Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. "(Al-A’raf: 16-17)
Bahkan iblis telah bersumpah untuk melakuka hal itu.
Iblis bersumpah dengan Maha Kebesaran Allah untuk melakukannnya.
Allah menyebutkan sumpah iblis dalam firman-nya:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
"Iblis berkata, ‘Demi kekuasaan-Mu! Aku akan menyesatkan mereka semuanya.’ "(Shad: 82)

Rasululloh صلى الله عليه وسلم menggambarkan upaya kesungguhan iblis menjatuhkan manusia dalam kesesatan sebagaimana riwayat dari Sabrah رضي الله عنه Rasulullah berkata, “Sesungguhnya syaitan duduk untuk menghalang-halangi seorang anak Adam dari berbagai jalan. Syaitan duduk menghalangi jalan untuk masuk Islam. Syaitan berkata, ‘(Apakah) kamu masuk ke dalam Islam dan kamu tinggalkan agamamu, agama bapak-bapakmu dan agama nenek moyangmu?’
Anak Adam tersebut tidak mentaatinya, kemudian dia masuk Islam. Kemudian syaitan pun menghalangi jalan untuk berhijrah dan dia berkata, ‘(Apakah) kamu akan berhijrah dan kamu meninggalkan bumi dan langitmu? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah adalah seperti kuda yang diikat dengan tali.’ Kemudian anak Adam tesebut tidak mentaatinya dan terus berhijrah. Kemudian syaitan duduk untuk menghalangi jalan untuk berjihad. Syaitan berkata, ‘(Apakah) kamu akan berjihad? Jihad itu adalah perjuangan dengan jiwa dan harta. Engkau berperang, dan nanti kami terbunuh, istrimu akan dinikahi (oleh orang lain) dan hartamu akan dibagi-bagi.’ Kemudian anak tersebut tidak mentaatinya, kemudian terus berjihad.” Kemudian Rasulullah berkata, “Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah berkewajiban untuk memasukkannya ke dalam surga.”(HR. An-Nasaai, 3134 dishohihkan Al-Albany)

Hanya karena rahmat Allah semata, ada sebagian manusia yang iblis tidak akan mampu untuk menyesatkan.
Dan ini merupakannjanji Allah yang pasti kepada vani adam yang memiliki sifat ini. Firmannya,

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ.
إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ.
قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ.
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ.
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"
Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat." (Al Hijr : 39 – 42)

Ada kisah menarik yang disampaikan
Ibnu Qudamah Al-Maqdisy رحمه الله suatu riwayat dari Al-Hasan Al-Bashry رحمه الله tentang jebakan iblis dalam menghancurkan keikhlasan manusia, sehingga harus diwaspadai.
Dia berkata,
”Dahulu pernah ada satu pohon yang disembah selain Allah maka datanglah seorang laki-laki yang mengatakan,”Aku pasti akan menebang pohon ini.” Maka ia pun mendatanginya dan ingin menebangnya semata-semata murka karena Allah. Setan yang menyerupai manusia mencoba menghampirinya dan berkata,”apa yang engkau inginkan?’ laki-laki itu menjawab,’Aku ingin menebang pohon ini yang disembah selain Allah.’ dia itu berkata,’Jika memang engkau tidak menyembahnya maka pohon yang disembah ini tidak akan merugikanmu?
Laki-laki itu berkata,’Aku pasti menebangnya.’ Dia berkata kepadanya,’apakah engkau mau sesuatu yang lebih baik daripada menebang pohon ini, jika kamu tidak menebangnya maka kamu akan mendapatkan dua dinar pada esok hari dari bawah bantalmu.’ Laki-laki itu mengatakan,’siapa yang memberikan itu kepadaku.’ Dia berkata,’aku’.
Lalu laki-laki itu pun kembali pulang dan pada keesokan harinya dia mendapati dua dinar dari bawah bantalnya. Kemudian pada esok harinya lagi dia tidak mendapatinya lagi dan ia pun murka dan ingin menebang pohon itu. Maka setan yang menyerupai manusia menemuinya dan berkata,’apa yang kamu inginkan?’ dia berkata,’Aku ingin memotong pohon ini yang disembah selain Allah.’ Dia berkata,’kamu bohong, aku akan menghalangimu dari menebangnya,’ laki-laki itu pun berusaha menebangnya namun dia menghalanginya dan terjadi pergumulan sehingga ia mampu mencekik laki-laki itu, dan berkata,”Tahukah kamu siapa aku?’ maka dia pun memberitahukannya bahwa dirinya adalah setan. Setan berkata,’pada pertama kali engkau datang adalah semata-mata murka karena Allah sehingga aku tidak memiliki jalan untuk menghalangimu. Maka aku pun memperdayamu dengan dua dinar kemudian aku menghentikannya. Dan tatkala engkau tidak mendapatkannya lagi maka engkau pun murka karena dua dinar itu sehingga aku bisa menguasaimu.” (Mukhtashar Minhaj al Qosidhin h, 348)

Ada beberapa manusia yang betul-betul menyulitkan iblis untuk menjatuhkannya kedalam kesesatan. Mereka itu adalah manusia yang membentengi diri mereka dengan ilmu dan akhlak yang mulia. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibrohim bin Adham رحمه الله,

كان يقال ليس شيء أشد على إبليس من العالم الحليم،
إن تكلم تكلم بعلم،
وإن سكت سكت بحلم.
📚حلية الأولياء وطبقات الأصفياء، ص. 17.

Dikatakan bahwa tidak ada yang lebih menyulitkan bagi iblis (untuk menggoda) melebihi seorang alim yang lembut.
Jika dia (alim yang lembut itu) berbicara maka akan berbicara dengan ilmu,
Sedangkan jika dia diam maka diamnya dengan penuh kelembutan.
📚Hilyah Auliya' wa Thobaqat Al-Ashfiya', h. 17

Wallahu a'lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.✨..

Address

Solok
27373

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Motivasi Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Motivasi Islam:

Share