12/01/2026
Inara:
“Aku nggak punya nomor dia, aku diblokir di IG. Tapi DM aku malah disebarin ke keluarga besarnya. Sampai sepupu Insan menghubungi aku. Harusnya ini internal kita bertiga aja.”
Lah… 🤡
Kamu masuk ke kehidupan suami–istri yang SAH, tiba-tiba mengklaim diri sebagai “istri kedua” tanpa sepengetahuan istri sah, lalu marah karena masalahnya sampai ke keluarga besar?
Ya jelas sampai ke keluarga.
Itu pernikahan SAH.
Masalah rumah tangga orang memang urusan keluarga, bukan grup WA rahasia bertiga.
Kalau suami kepincut perempuan lain, wajar d**g istri sah curhat ke keluarganya.
Emangnya harus minta izin ke kamu dulu?
Terus kamu siapa ngatur-ngatur?
Status kamu apa, tepatnya?
Nikahnya aja nggak jelas.
Bukti nikah siri nggak pernah ditunjukkan.
Akad kapan, di mana, siapa walinya—nggak pernah terang.
Bahkan di podcast kamu sempat bilang:
“Setahuku kalau sudah janda, nggak wajib ada wali.”
Lho?
Ilmunya dari mana?
Guru siapa?
Mazhab baru kah ini?
Lanjut…
Inara:
“Yang aku sayangkan kenapa jadi rame? Sampai se-Indonesia tahu. IG aku dikunjungi 420 juta orang.”
Ya rame LAH.
Karena kamu masuk ke pernikahan orang.
Dengan latar belakang kamu yang pernah jadi istri sah.
Dengan branding religius.
Dengan citra yang sering membawa-bawa nilai agama.
Dan lucunya, dulu kamu sendiri yang meramaikan perselingkuhan mantan suami kamu.
Satu Indonesia diajak tahu.
Media dipanggil.
Drama dijual.
Dan dari situ kamu dikenal.
Bukan karena karya besar.
Tapi karena drama.
Sampai dapat panggung, sorotan, bahkan penghargaan.
Sekarang giliran kamu kena, kok kaget?
Kok marah?
Kok merasa paling tersakiti?
Kok nggak pernah merasa SALAH?
Denny Sumargo:
“Mungkin Mawa kaget makanya cerita ke keluarga.”
Inara:
“Ya saya juga kaget.”
Iya, kamu kaget.
Tapi masih mending cuma kaget.
Di luar sana, banyak perempuan bernasib jauh lebih buruk.
Kamu masih aman.
Masih bisa klarifikasi.
Masih bisa podcast.
Masih bisa atur narasi.
Terus kamu bilang lagi:
“Aku nggak tau apa-apa, aku orang luar.”
NAH.
Justru itu poinnya.
Orang luar nggak usah ngatur.
Orang luar nggak usah minta damai bertiga.
Orang luar nggak usah menolak keterlibatan keluarga.
Kenapa nggak mau ada keluarga?
Takut situasinya nggak bisa dikontrol?
Takut ada saksi?
Takut narasinya berubah?
Padahal pernikahan sah memang melibatkan dua keluarga.
Yang janda itu kamu.
Mawa belum janda, belum cerai, masih istri sah, dan masih dihormati keluarganya.
Dan yang paling bikin muak:
“In Islam aku harus patuh pada suami.”
“Menurut syariat…”
“Sebagai Muslim…”
Agama dipakai, tapi dipilih-pilih.
Yang menguntungkan diambil.
Yang menegur, mengoreksi, dan menuntut tanggung jawab—dilewati.
Ini namanya cherry picking agama.
Dalil dijadikan tameng, bukan cermin.
Lebih baik jadi orang yang sadar dia salah.
Karena orang sadar masih bisa berhenti dan memperbaiki.
Daripada merasa paling benar, paling taat, paling religius—
tapi nggak pernah sadar kalau sudah melukai orang lain.