Alikaa JADIKAN FACEBOOK SEBAGAI JENDELA ILMU RASULULLAH SAW

اللهم صل على سيد نا محمد و على ال سيد نا محمد

28/09/2025

Allah 😭

24/09/2025

TIDAK BERKUMPUL MAKHLUK DAN KHALIQ DALAM SATU HATI.

“Makhluk dan Khaliq tidak berkumpul. Dunia dan akhirat juga tidaklah berkumpul dalam satu hati. Ada kalanya makhluk dan ada kalanya Khaliq di hatimu. Ada kalanya dunia dan ada kalanya akhirat. Ada kalanya terbayang bahawa makhluk ada di lahirmu sedang Khaliq di hatimu. Dunia di tanganmu sedang akhirat di hatimu. Adapun di dalam hati, kedua-duanya tidak berkumpul. Lihatlah kepada jiwamu dan pilihkan untuknya, jika ia menghendaki dunia maka keluarlah akhirat dari hatimu. Jika ia menghendaki akhirat maka keluarkanlah dunia dari hatimu. Jika ia menghendaki Tuhan maka keluarkanlah dunia, akhirat dan apa yg selainNya dari hati.
Selagi di dalam hatimu masih ada sebesar semut yang selain Allah, maka kamu tidak melihat dekatnya Allah di sisimu, dan tidak bangkit kejinakan dan ketenangan kepada-Nya. Selagi di dalam hatimu masih ada dunia sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat akhirat di hadapanmu. Dan selagi di dalam hatimu terdapat akhirat sebesar semut kecil, maka kamu tidak melihat dekat kepada Allah.”

Syeikh Abdul Qadir Jailani ~

22/09/2025

Bahagia itu bukan berarti kamu tidak pernah menangis ataupun sedih, bahagia yang sebenarnya adalah ketika kamu bisa hidup bersama takdir-takdirnya dalam keadaan selalu memuji Alloh berterimakasih kepada-Nya dan selalu tersenyum.

Al-Arifbillah Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz💕......................................................................
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq dan hidayah, sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh. Aamiin


22/09/2025

"Ini dia orangnya...? Yang wajahnya disebut-sebut, tapi belum pernah kulihat? Yang namanya menggema di langit dan bumi...?"

Seorang Arab Badui yang tinggal jauh di pedalaman datang ke Makkah. la belum pernah melihat Nabi Muhammad secara langsung. Tapi telinganya sudah sering mendengar namanya: Muhammad... Muhammad... Rasul Allah... Bahkan para malaikat pun menyebut nama itu dalam langit mereka.

Hari itu, sang Badui masuk ke Masjidil Haram. Di hadapannya, berdiri sosok yang bersandar di dinding Ka'bah. Wajahnya menyejukkan, penuh wibawa. Tapi beliau diam, tidak banyak bicara. Tak bertakhta, tak dikawal, tak diiringi pas**an.

Sang Badui bertanya pada orang di sekitarnya:

"Siapa itu?"

Mereka menjawab:

"Itulah Rasulullah."

Seketika, tubuh sang Badui gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya lemas. Matanya tak bisa lepas dari sosok di depannya. la tak menyangka-orang yang membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia ternyata begitu sederhana, begitu tenang, begitu lembut.

Tapi Rasulullah melihat kegugupan itu. Beliau tersenyum dan berkata dengan suara yang lembut:

"Tenanglah, wahai saudaraku. Aku bukanlah raja. Aku hanyalah anak dari seorang wanita yang biasa makan daging kering di Makkah."

(HR. Ibn Majah)

Kata-kata itu seketika meruntuhkan ketegangan. Membuat sang Badui merasa dekat, nyaman, dan tak lagi takut.

Rasulullah tidak butuh pakaian mewah atau gelar megah untuk menunjukkan siapa dirinya. Wibawanya berasal dari akhlak, bukan kekuasaan. Kemuliaannya terpancar dari tawadhu', bukan takhta.

22/09/2025

Di balik dinding mewah istana Fir'aun, tersembunyi seorang wanita salehah yang tak dikenal dunia, tapi namanya harum di langit: Siti Masyitoh, sang penyisir rambut anak Fir'aun.

Suatu hari, ketika menyisir rambut putri Fir'aun, sisir itu terjatuh dari tangannya. Refleks, ia mengucapkan, "Bismillah."

Sang putri tercengang. "Kau punya Tuhan selain ayahku?"

Dengan mata yang jernih dan suara penuh keyakinan, Siti Masyitoh menjawab: "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah."

Kata-kata itu sampai ke telinga Fir'aun. Dan murka Fir'aun tak mengenal belas kasihan. la perintahkan pas**an menyeret wanita mulia ini, lalu menyiapkan kuali besar berisi minyak mendidih-ancaman kematian bagi siapa pun yang melawan kekuasaannya.

Siti Masyitoh dibawa bersama anak-anaknya. la tahu ini bukan sekadar ujian hidup, tapi ujian keimanan. Satu per satu anaknya dilempar ke dalam minyak panas itu di hadapannya.

Tangisnya pecah. Hatinya nyaris runtuh ketika anak terakhir-seorang bayi mungil-hendak dilempar. la gemetar. Ragu. Tapi justru di saat genting itu... Allah menguatkannya lewat sesuatu yang luar biasa.

Bayi itu bicara.

"Wahai Ibu, bersabarlah. Engkau berada di atas kebenaran."

Air matanya berubah menjadi cahaya. Keyakinannya tegak kembali. la rela. la ikhlas. la tahu, surga lebih indah daripada dunia Fir'aun.

Siti Masyitoh pun ikut menyusul anak-anaknya-rebah dalam minyak panas-namun ruhnya naik ke langit dalam keadaan harum. Begitu harum, hingga Rasulullah menciumnya saat Isra' dan Mi'raj.

Inilah cinta sejati: mencintai Allah meski harus kehilangan segalanya. Bahkan, saat seorang ibu tak tega kehilangan anaknya, ia tetap memilih Allah-dan Allah membalas dengan keabadian.

Semoga kita diberikan iman seteguh itu... Di zaman yang godaannya tak kalah membakar.

21/09/2025

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu seorang sahabat yang gagah, dermawan, dan setia pernah mengalami hari yang sangat berat...

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, banyak sahabat turut serta. Tapi Thalhah terlambat. la tertahan dalam perjalanan pulang dari Syam dan akhirnya menyusul Nabi ke Madinah. Dalam benaknya, ia akan segera berkumpul dengan Rasul tercinta.

Namun sesampainya di Madinah, sebuah kabar menyayat hatinya.

"Sahabat-sahabat Nabi telah berangkat ke Badar..."

Thalhah menangis. Bukan karena takut atau kecewa pada siapa pun. Tapi karena rasa kehilangan ia merasa melewatkan momen paling mulia dalam hidup para sahabat: berjuang bersama Nabi di perang pertama melawan Quraisy.

Sejak saat itu, orang-orang menyaksikan satu hal yang tak biasa dari Thalhah: ia tak pernah terlihat tersenyum.

Bukan karena dia lemah. Tapi karena dia tak ridha kehilangan kesempatan mati syahid bersama Rasulullah di Badar.

Sampai hari itu datang...

Uhud.

Hari di mana pas**an Muslim sempat porak poranda. Hari ketika panah dan tombak menyasar tubuh Rasulullah. Hari ketika banyak sahabat terpukul mundur... tapi Thalhah tetap berdiri.

la perisai hidup Rasulullah.

Tangannya lumpuh karena menangkis serangan pedang. Tubuhnya berlubang-lubang. Tapi ia bertahan. Sampai Rasulullah selamat.

Setelah peperangan usai, Rasulullah berkata:

"Barangsiapa ingin melihat seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah."

Dan hari itu... setelah bertahun-tahun tanpa senyum...

Thalhah pun tersenyum.

21/09/2025

Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bercerita,

"Aku minum dari gelas, lalu Rasulullah mengambilnya dan meletakkan mulutnya persis di tempat mulutku menyentuh gelas itu, lalu beliau minum. Aku juga pernah makan daging, lalu beliau mengambil daging itu dan meletakkan mulutnya persis di tempat aku menggigitnya."

(HR. Muslim)

Di saat waktu luang, Rasulullah dan Aisyah s**a bercerita, bercanda, bahkan saling memercikkan air saat mandi bersama. Tak ada jarak antara Nabi yang agung dengan istrinya yang penuh rasa cemburu. Cinta mereka hidup dalam kesederhanaan.

Tak hanya itu, Rasulullah sering memanggil Aisyah dengan panggilan sayang:

Ya Humaira" Wahai yang pipinya kemerahan.

" Itu panggilan mesra yang membuat Aisyah merasa istimewa.

Dalam banyak riwayat, Rasulullah pun selalu berusaha menjaga perasaan Aisyah. Pernah saat para istri beliau berkumpul, beliau menunjukkan kasih khususnya pada Aisyah. Ketika ditanya siapa orang yang paling beliau cintai, Rasulullah menjawab, "Aisyah." Para sahabat bertanya lagi, "Kami maksudnya dari kalangan laki-laki."

Beliau pun menjawab, "Ayahnya," (HR. Bukhari) mengisyaratkan cinta yang berlanjut pada keluarga Aisyah.

Dan jangan lupakan kisah mereka lomba lari: Di waktu Aisyah masih ramping, ia menang lomba lari dengan Rasulullah. Beberapa waktu kemudian, tubuh Aisyah mulai berisi. Rasulullah kembali menantangnya lomba. Kali ini Rasulullah yang menang, lalu berkata dengan senyum penuh cinta, "Ini untuk membalas kekalahan waktu itu." (HR. Abu Dawud)

Aisyah juga menjadi sandaran hati Rasulullah. Ketika beliau merasa sedih, Aisyahlah yang menjadi teman bicara. Ketika Rasulullah sakit menjelang wafatnya, beliau meminta izin agar bisa dirawat di rumah Aisyah. Dan di pangkuan Aisyah-lah, Rasulullah mengembuskan napas terakhirnya.

21/09/2025

la berangkat dengan tekad membunuh Nabi, tapi pulangnya justru sebagai pengikut yang paling setia.

Itulah kisah Umar bin Khattab رضي الله عنه Dengan pedang terhunus, ia melangkah penuh amarah menuju rumah Rasulullah. Namun di tengah jalan, ia justru mendengar bacaan Al-Qur'an yang meruntuhkan kesombongannya. Surat Thaha mengguncang hatinya.

Dada yang semula dipenuhi benci, seketika luluh oleh ayat-ayat Allah. Air mata mengalir, dan kebencian berganti menjadi iman. Hari itu Umar tak lagi musuh Islam, melainkan benteng terkuatnya.

Inilah bukti, sebesar apapun dosa dan kebencian, pintu taubat selalu terbuka. Hidayah Allah mampu membalikkan hati yang keras menjadi lembut, dan musuh menjadi sahabat sejati

Hakikat ketenangan itu adalah hubungan hati dengan Allah ﷻ
21/09/2025

Hakikat ketenangan itu adalah hubungan hati dengan Allah ﷻ

20/09/2025

Ini kisahnya

Kita tahu bahwa manusia tertawa, tetapi ketika Allah ta'ala tertawa maka akan timbul pertanyaan dalam keadaan apa dan apa arti tertawanya Allah.

Hadits berikut menjelaskan bahwa bahwa ketika Allah ridha atau merasa sangat senang dengan amalan atau apa yang dilakukan oleh manusia, maka saat itulah Allah tertawa.

Tidak hanya itu, tetapi orang yang beramal tersebut akan dimasukkannya ke dalam surga.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزَّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَضْحَكُ اللهُ إِلَى رَجُلَيْن يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ كِلَاهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَقَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يُقَاتِلُ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسْتَشْهَدُ ثُمَّ يَتُوبُ اللهُ عَلَى الْقَاتِلُ فَيُسْلِمُ فَيُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلْ فيُسْتَشْهَدُ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي الزُّنَادِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Umar Al Maki,..., dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Allah tertawa terhadap dua orang yang saling membunuh, dan kedua-duanya masuk surga."

Maka para sahabat bertanya; "Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab: "Salah seorang darinya berperang di jalan Allah 'azza wajalla lalu dia mati syahid, kemudian Allah menerima taubat si pembunuh, lalu ia masuk Islam dan berperang di jalan Allah 'Azza wa Jalla hingga mati syahid." ..." (HR Muslim)

Semoga bermanfaat, barokallah fiikum

20/09/2025

semua senyumnya keluar karena tentangmu ya Rosulallah.. yang dapat membuat kami melupakan pahitnya dunia.

**

تحب

ربي زدني محبتي الى حبيبك والى من









20/09/2025

Ia tak menulis syaır.

Ia tak punya tinta.

Tapi kisah hidupnya adalah puisi yang ditulis Allah langsung di atas luka dan air mata.

Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu.

Sahabat Nabi, pemilik raga yang tak bisa lagi menyentuh tanah...

Namun hatinya setiap malam menyentuh langit.

la terbaring.

Lemah. Luka-luka di tubuhnya tak juga sembuh.

Hari demi hari, bulan, bahkan tahun berlalu. Tapi tikarnya tetap menjadi ranjang satu-satunya.

Apa yang tersisa dari tubuhnya hanyalah rasa sakit.

Tapi ia tidak mengeluh meski sudah 30 tahun lamanya menderita.

Karena ia tahu, Allah sedang menulis sesuatu yang indah lewat deritanya.

Malam-malamnya tak sunyi.

Ada langkah-langkah lembut yang tak tampak mata, ialah Malaikat.

Mereka datang.

Setiap luka di tubuhnya, seperti mengetuk pintu

langit...

Dan langit pun membalas, dengan kedatangan makhluk-makhluk suci yang membuat dunia serasa surga.

Tapi...

la hanya manusia.

la rindu untuk bangkit.

Rindu untuk duduk. Rindu untuk berjalan.

Lalu ia memohon kepada Rasulullah:

"Wahai Rasulullah, doakan aku agar sembuh dari sakit ini."

Dan Rasulullah pun mendoakannya.

Tubuhnya kembali kuat.

Kakinya kembali berdiri.

Tangannya kembali menggenggam dunia
Tapi hatinya kosong, penuh dengan kehampaan, seperti ada sesuatu yang hilang. Dan ada rasa rindu untuk selalu bertemu dengan mereka.

Karena... Malaikat itu tak lagi datang.

Malam-malamnya kembali gelap.

Bukan karena langit kehilangan bintang,

tapi karena hatinya kehilangan cahaya dari langit.

la menangis...

Bukan karena sakit.

Tapi karena ia rindu disapa oleh yang datang dari langit, oleh para malaikat yang dulunya menghibur saat tubuhnya remuk oleh luka.

la sembuh...

Tapi ia kehilangan sesuatu yang lebih dari sekadar kesehatan: rasa dekat dengan Allah.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah wafat...

Maka tak ada lagi tangan yang bisa ia minta untuk memohonkan doa. Tak ada lagi pelukan Nabi yang bisa menguatkan.

Lalu ia menengadah... "Ya Allah... Jika dengan sakit aku lebih dekat dengan-Mu...

Jika dengan luka aku bisa lebih

merindukan surga-Mu... Jika dengan derita aku ditemani

malaikat-Mu...

Maka kembalikanlah sakit itu... Aku rela. Aku ikhlas. Aku rindu..."

Dan Allah mendengar. la kembali terbaring. Tubuhnya kembali penuh luka. Tapi kali ini, hatinya lapang.

Karena hatinya telah sampai pada tempat yang tak bisa digapai oleh siapa pun,

kecuali mereka yang diuji dengan sabar dan cinta.

Dan malaikat pun kembali.

Menemani. Menyapa. Mendoakan. Inilah cinta yang tak tertukar. Cinta yang tak minta apa-apa, selain untuk tetap dekat dengan-Nya.

Sumber Siyar A'lam An-Nubala' -Imam Adz-Dzahabi

Address

South Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Alikaa posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share