Pena Madini

Pena Madini Menulis menenangkan hati
Membaca membangkitkan imajinasi

Tepat pukul tiga pagi, Hana menerima telepon yang mengabarkan bahwa orangtuanya menjadi korban kecelakaan pesawat. Antar...
24/03/2026

Tepat pukul tiga pagi, Hana menerima telepon yang mengabarkan bahwa orangtuanya menjadi korban kecelakaan pesawat. Antara mimpi dan kenyataan Hana mengumpulkan seluruh kesadarannya, ia berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanyalah mimpi buruk dan berusaha bangun dari mimpi itu.

Berkali-kali Hana mencubit p**i, bahu, paha dan semua yang bisa membangunkannya dari mimpi buruk itu. Namun bukannya bangun dari mimpinya tapi hanya rasa perih dan badan yang memerah akibat cubitannya sendiri. Sekejap ia sadar bahwa panggilan tadi bukanlah mimpi namun kenyataan yang mau tidak mau harus ia hadapi.

Hana tak menangis, tak bersuara sepatah katapun saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Bik Imah yang sudah merawatnya dari bayi membuka pintu kamarnya dan langsung memeluknya.

"Non..." , Bik Imah menangis tersedu.

Bukannya menangis, Hana malah melepaskan pelukan Bik Imah dan berlalu menuju kamar mandi.

Di kamar mandi Hana menatap cermin, menatap dalam-dalam dirinya yang sedang berada di dalam cermin. Mencoba meresapi lagi apa yang tengah terjadi. Kali ini ia menampar keras p**inya hingga wajahnya memerah dan darah keluar dari sudut bibirnya. Hana meringis, meringkuk disamping kloset namun anehnya air matanya tak kunjung bisa menetes.

Beberapa saat kemudian, Bik Imah mengetuk pinta kamar mandi sambil berkata,

"Non, buka pintunya." Bik Imah berucap panik. Ia takut jika majikannya ini melakukannya hal yang tidak diinginkan.

Sekejap kemudian pintu kamar mandi terbuka. Hana berdiri di depan pintu dengan wajah lesu tanpa bisa berucap sepatah katapun. Hingga Bik Imah memeluknya kembali, namun Hana hanya mematung tak bergerak.

Bel berbunyi, memecah keheningan di antara mereka. Hana langsung berlari. Ia berharap yang datang itu adalah orang tuanya. Tergopoh-gopoh ia menuruni anak tangga, ia berlari hingga membuatnya hampir menambrak meja yang berada di tengah ruang tamu. Namun betapa kecewanya ia saat membuka pintu yang didapatinya bukan kedua orang tuanya, melainkan seorang lelaki paruh baya yang mengaku sebagai klien sekaligus sahabat papanya.

"Kamu pasti Hana, saya Om Tomas. Saya sahabat papa mu." Lelaki paruh baya itu memperkenalkan dirinya.

Tanpa menghiraukan ucapan lelaki paruh baya itu, Hana menoleh keluar melihat ke kiri dan ke kanan seakan-akan mencari apa yang di harapkannya.

"Silahkan masuk tuan." Bik Imah muncul di belakang Hana, mempersilakan Om Tomas masuk ke dalam rumah.

"Saya sudah mengurus semuanya, Insya Allah sore ini jenazah orang tua Hana sudah tiba di rumah," ucap Om Tomas langsung kepada Bik Imah.

"Sebentar lagi orang-orang saya akan datang membantu bibi mengurus semuanya." Sambung Om tomas sambil arah matanya menatap Hana yang dari tadi hanya berdiri di depan pintu tanpa bergerak sedikitpun.

"Alhamdulillah, terimakasih tuan atas segala bantuannya." Bik Imah menyahuy seakan menahan tangis. Kemudian ia berjalan ke arah Hana dan berkata, "Non, siap-siap ya papa sama mama non sebentar lagi pulang."

Mendengar itu Hana bergegas naik ke atas dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap menyambut kedua orang tuanya. Ia menggunakan gamis yang baru saja mamanya belikan. Ia memakai jilbab yang sudah lama sekali mamanya ingin lihat ia memakainya, namun ia belum siap untuk memakai jilbab. Masih antara percaya atau tidak, mimpi atau kenyataan. Di benak Hana, ia hanya ingin melihat kedua orang tuanya, hanya itu yang ada dipikirannya sekarang.

Di ruang tamu, orang-orang dari Om Tomas sudah berdatangan. Para tetangga pun juga sudah banyak yang datang melayat. Ada yang membantu menyiapkan tenda dan keperluan lain dan ada juga yang sedang memgaji.

Bunyi sirine mobil jenazah kian mendekat, iring-iringan mobil di belakangnya juga mulai memadati halaman dan sebagian komplek tempat Hana tinggal. Mendengar suara sirine mobil jenazah, Hana bergegas berlari menuruni anak tangga, tak perduli berapa banyak pelayat yang menatap nya iba.

Saat mobil jenazah berhenti, tepat di depannya. Ia terdiri kaku tak bergeming. Tubuhnya seakan-akan membeku, nafasnya tercekat di tenggorokan, tangannya gemetar, dadanya terasa panas. Melihat jenazah mama dan papanya di keluarkan dari mobil jenazah, telinganya berdenging, jantungnya berdegup kencang. Kenyataan pahit yang menampar nya begitu keras menyadarkan nya bahwa ini adalah kenyataan.

Kehilangan kedua orang tua secara tiba-tiba, tanpa pernah berpamitan, tanpa berpelukan, tanpa ada kata perpisahan. Membuatnya menciut seakan-akan dunia kedepannya tak akan lagi sama, hanya ia seorang diri. Tak ada lagi tempat bermanja, tempat ia berlindung dari kerasnya kehidupan.

"Non, kita beri jalan ya buat mama papa." Bik Imah merangkul Hana. Saat ini hanya Bik Imah yang ia punya.

Berkali-kali Hana hanya terdiam, termangu mencoba meresapi semuanya, mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.



Address

South Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pena Madini posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share