14/09/2026
Maudy Ayunda tengah menjadi perbincangan setelah video YouTube miliknya kembali ramai dibahas warganet. Video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News tersebut sebenarnya sudah diunggah pada 21 Agustus 2026, tetapi kembali viral dan menuai beragam reaksi beberapa pekan kemudian.
Dalam video itu, Maudy membicarakan pengalamannya menghadapi arus informasi negatif yang datang hampir setiap hari. Ia mencoba membahas bagaimana seseorang tetap bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya tanpa membuat kondisi emosional ikut terkuras.
Namun, pesan yang disampaikan Maudy justru mendapatkan kritik dari sebagian warganet. Mereka menilai ada bagian dari pembahasannya yang kurang mempertimbangkan kondisi masyarakat yang menghadapi persoalan secara langsung.
Lantas, apa saja poin yang disampaikan Maudy hingga akhirnya menjadi perdebatan?
1. Maudy mengaku kewalahan menghadapi berita buruk
Maudy mengawali pembahasannya dengan menceritakan bagaimana dirinya merasa terus dibanjiri berbagai informasi negatif. Menurutnya, dalam beberapa bulan bahkan sekitar setahun terakhir, banyak peristiwa dari dalam maupun luar negeri yang membuat publik terus menerima kabar kurang menyenangkan.
Kondisi tersebut ternyata juga memengaruhi dirinya secara emosional. Maudy mengaku sempat merasa kewalahan ketika harus terus memproses berbagai informasi yang muncul setiap hari.
Baginya, mengetahui banyak persoalan yang terjadi di dunia memang penting. Namun, terlalu banyak menerima informasi dalam waktu yang berdekatan juga dapat membuat seseorang merasa kelelahan secara mental.
2. Maudy mengaku sempat merasa tidak berdaya
Dalam video tersebut, Maudy juga terbuka mengenai respons emosional yang muncul ketika dirinya menghadapi terlalu banyak berita buruk.
Ia mengaku pernah berada dalam kondisi emosional hingga menangis dan marah. Perasaan tidak berdaya juga sempat muncul ketika melihat berbagai persoalan yang terjadi tetapi dirinya tidak selalu bisa melakukan sesuatu secara langsung.
Menurut Maudy, perasaan tersebut merupakan hal yang manusiawi. Seseorang bisa saja merasa sedih atau marah setelah melihat sebuah peristiwa, terlebih jika informasi tersebut datang secara terus-menerus.
Karena itu, ia mencoba mencari cara agar tetap mendapatkan informasi tetapi tidak sampai membuat dirinya tenggelam dalam emosi negatif.
3. Maudy menyarankan adanya batas dalam mengonsumsi berita
Poin inilah yang kemudian menjadi bagian paling banyak diperdebatkan warganet.
Maudy menyampaikan bahwa seseorang boleh menentukan batas ketika merasa sudah cukup mendapatkan informasi mengenai sebuah persoalan. Menurutnya, seseorang tidak harus terus membaca berita atau melihat konten yang sama berulang kali hanya karena merasa harus terus mengikuti perkembangan.
Ia memberikan gambaran bahwa setelah memahami sebuah persoalan, seseorang dapat memilih berhenti mengonsumsi informasi untuk sementara waktu dan mengalihkan perhatian kepada hal lain.
Menurut Maudy, langkah tersebut bukan berarti seseorang tidak peduli. Justru, ia melihatnya sebagai salah satu cara untuk menjaga kondisi diri agar tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun, sebagian warganet melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda.
Mereka menilai kemampuan untuk mengambil jarak dari berita buruk tidak selalu dimiliki semua orang. Ada masyarakat yang justru berhadapan langsung dengan persoalan yang sedang diberitakan, sehingga mengikuti perkembangan informasi bukan sekadar pilihan.
Misalnya, ketika sebuah berita berkaitan dengan kondisi ekonomi, kebijakan, bencana, lingkungan, pekerjaan, atau persoalan sosial tertentu, sebagian orang mungkin tidak bisa begitu saja menutup informasi tersebut karena dampaknya berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.
Perdebatan akhirnya berkembang pada persoalan yang lebih luas, yaitu mengenai siapa yang memiliki kesempatan untuk memilih tidak mengikuti berita buruk.
Sebagian warganet kemudian menggunakan istilah tone deaf untuk menggambarkan apa yang mereka anggap sebagai ketidaksesuaian antara pesan dalam video dengan kondisi sosial yang sedang dihadapi sebagian masyarakat.
Meski begitu, kontroversi ini bukan berarti konsep mindfulness atau membatasi konsumsi berita sepenuhnya dianggap keliru.
Mengurangi paparan informasi yang berlebihan memang dapat menjadi salah satu cara seseorang mengatur kondisi mental. Persoalannya adalah bagaimana pesan tersebut disampaikan dan bagaimana mempertimbangkan pengalaman orang yang berbeda-beda.
Seseorang yang merasa terlalu lelah akibat terus mengikuti media sosial mungkin memang membutuhkan jeda. Tetapi bagi orang yang kehidupannya terdampak langsung oleh sebuah persoalan, mengikuti berita bisa menjadi kebutuhan.
Maudy kemudian menyadari adanya sudut pandang yang belum cukup ia masukkan dalam video tersebut. Ia mengakui bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita merupakan sebuah privilese karena tidak semua orang memiliki pilihan yang sama.
Ia juga meminta maaf karena bagian tersebut belum cukup ia refleksikan dalam kontennya. Maudy menegaskan bahwa pembahasan mindfulness yang dibuatnya tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk tidak peduli terhadap realitas atau persoalan yang terjadi di masyarakat.
Ia justru mengatakan bahwa mindfulness seharusnya membantu seseorang tetap sadar, peduli, dan mampu melihat sebuah persoalan dengan lebih jernih.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, kontroversi mengenai video Maudy kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai kesehatan mental, konsumsi informasi, dan kondisi sosial masyarakat.
Pada akhirnya, tidak semua orang memiliki cara yang sama dalam menghadapi berita buruk. Ada yang membutuhkan informasi sebanyak mungkin untuk memahami keadaan, sementara ada p**a yang membutuhkan jeda agar tidak merasa kewalahan.
Karena itu, pesan yang bisa diambil dari polemik ini bukan semata-mata apakah seseorang boleh menjauh dari berita atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang dapat menjaga dirinya tanpa kehilangan kepedulian terhadap persoalan di sekitarnya.
Dan bagi Maudy, kritik yang muncul menjadi kesempatan untuk melihat kembali pesannya dari perspektif yang lebih luas sekaligus mengakui adanya bagian penting yang sebelumnya belum ia sampaikan.