06/01/2026
Akhir tahun 2024 menjadi penanda sebuah kegelisahan lama yang akhirnya menemukan bentuknya. Ketika Ustadz Muhammad Nuruddin tampil dan memenangkan perdebatan secara telak melawan Guru Gembul, yang sebenarnya hadir bukan sekadar duel dua tokoh, melainkan pertemuan dua cara berpikir di hadapan publik. Media sosial yang selama ini riuh oleh potongan opini dangkal, tiba-tiba menjadi ruang bagi pertarungan gagasan yang utuh, runtut, dan berani dipertanggungjawabkan secara intelektual.
Peristiwa itu menyentuh lapisan yang lebih dalam dari sekadar siapa menang atau kalah. Ia membuka kembali memori kolektif tentang tradisi debat sebagai laku intelektual, bukan ajang merendahkan, melainkan upaya mencari kebenaran melalui adu argumen. Dalam debat itu, logika tidak berteriak, data tidak dipamerkan dengan arogan, dan keyakinan tidak disulap menjadi kemarahan. Yang bekerja adalah nalar yang tenang dan keberanian untuk diuji.
Ustadz Muhammad Nuruddin dan Guru Gembul, terlepas dari posisi masing-masing, tampil sebagai pionir kebangkitan ruang diskusi yang selama ini lama mati suri. Mereka mengingatkan bahwa masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang sepakat dalam segala hal, melainkan masyarakat yang sanggup berbeda tanpa kehilangan akal sehat. Di tengah banjir informasi dan kultus sensasi, momen ini seperti lentera kecil yang menegaskan bahwa berpikir masih punya tempat, dan dialog belum sepenuhnya punah.