Logos Logis

Logos Logis • Society becomes rational!
• Pasti masuk akal!

Akhir tahun 2024 menjadi penanda sebuah kegelisahan lama yang akhirnya menemukan bentuknya. Ketika Ustadz Muhammad Nurud...
06/01/2026

Akhir tahun 2024 menjadi penanda sebuah kegelisahan lama yang akhirnya menemukan bentuknya. Ketika Ustadz Muhammad Nuruddin tampil dan memenangkan perdebatan secara telak melawan Guru Gembul, yang sebenarnya hadir bukan sekadar duel dua tokoh, melainkan pertemuan dua cara berpikir di hadapan publik. Media sosial yang selama ini riuh oleh potongan opini dangkal, tiba-tiba menjadi ruang bagi pertarungan gagasan yang utuh, runtut, dan berani dipertanggungjawabkan secara intelektual.

Peristiwa itu menyentuh lapisan yang lebih dalam dari sekadar siapa menang atau kalah. Ia membuka kembali memori kolektif tentang tradisi debat sebagai laku intelektual, bukan ajang merendahkan, melainkan upaya mencari kebenaran melalui adu argumen. Dalam debat itu, logika tidak berteriak, data tidak dipamerkan dengan arogan, dan keyakinan tidak disulap menjadi kemarahan. Yang bekerja adalah nalar yang tenang dan keberanian untuk diuji.

Ustadz Muhammad Nuruddin dan Guru Gembul, terlepas dari posisi masing-masing, tampil sebagai pionir kebangkitan ruang diskusi yang selama ini lama mati suri. Mereka mengingatkan bahwa masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang sepakat dalam segala hal, melainkan masyarakat yang sanggup berbeda tanpa kehilangan akal sehat. Di tengah banjir informasi dan kultus sensasi, momen ini seperti lentera kecil yang menegaskan bahwa berpikir masih punya tempat, dan dialog belum sepenuhnya punah.

Ada paradoks sunyi dalam relasi manusia. Semakin palsu seseorang menampilkan dirinya, semakin luas lingkar pertemanan ya...
06/01/2026

Ada paradoks sunyi dalam relasi manusia. Semakin palsu seseorang menampilkan dirinya, semakin luas lingkar pertemanan yang ia miliki. Kepalsuan sering kali terasa ramah, lentur, dan mudah diterima. Ia pandai menyesuaikan wajah dengan selera banyak orang. Ia tahu kapan harus tertawa, kapan harus mengangguk, dan kapan harus diam demi kenyamanan bersama. Dalam kepalsuan, konflik diminimalkan, kebenaran disederhanakan, dan perbedaan disamarkan. Maka wajar jika ia dikelilingi banyak orang, karena ia tidak pernah benar-benar mengganggu siapa pun.

Namun keadaan berubah ketika seseorang memilih menjadi realistis. Realisme menuntut kejujuran, dan kejujuran sering kali terasa tidak nyaman. Ia menyingkap apa yang selama ini ditutupi, mengucapkan hal yang enggan didengar, dan berdiri pada nilai yang tidak selalu populer. Realisme tidak berusaha menyenangkan semua orang, tetapi berusaha setia pada kebenaran yang diyakini. Di titik inilah lingkar pertemanan mulai menyempit, bukan karena ia menjadi lebih buruk, melainkan karena tidak semua orang siap berhadapan dengan kenyataan.

Lingkar kecil bukan tanda kegagalan sosial. Ia justru sering menjadi bukti kematangan batin. Di dalamnya, relasi dibangun bukan atas dasar topeng, melainkan kesadaran. Bukan soal seberapa banyak yang menemani, tetapi seberapa jujur seseorang bisa menjadi dirinya sendiri. Pada akhirnya, kesepian karena kejujuran jauh lebih bermakna daripada keramaian yang lahir dari kepalsuan.

Ada ketakutan yang lebih dalam daripada amarah, lebih sunyi daripada teriakan. Ia bernama diam. Diam dari seseorang yang...
06/01/2026

Ada ketakutan yang lebih dalam daripada amarah, lebih sunyi daripada teriakan. Ia bernama diam. Diam dari seseorang yang engkau sakiti bukanlah tanda kelemahan, melainkan pertanda bahwa luka telah turun ke kedalaman yang tidak lagi membutuhkan kata. Ketika seseorang tahu kesalahanmu, merasakan perihnya, namun memilih tidak membalas, di situlah keadilan mulai berpindah tangan. Bukan lagi di antara dua manusia, tetapi naik ke ruang yang lebih tinggi.

Manusia yang terluka namun diam sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ia menahan dorongan untuk membalas, menekan ego yang ingin menang, dan memilih menyerahkan rasa sakitnya kepada Tuhan. Diamnya bukan tanpa suara, melainkan penuh doa yang tak terdengar. Doa yang lahir dari hati yang remuk sering kali lebih tajam daripada seribu makian.

Jangan keliru menafsirkan diam sebagai izin. Diam adalah bentuk kelelahan jiwa yang sudah tidak ingin berurusan dengan keburukan. Ketika ia berhenti membela diri, bukan berarti kebenaran mati. Ia hanya menunggu waktu yang lebih adil.

Sebab Tuhan tidak pernah tuli pada duka yang dipendam. Ketika manusia memilih diam, sering kali Tuhan memilih berbicara melalui cara yang tak terduga. Maka berhati-hatilah. Luka yang kau abaikan hari ini bisa menjadi pintu keadilan yang kelak mengetuk hidupmu tanpa aba-aba.

Jika religiusitas membuat seseorang merasa paling benar, mudah menghakimi, dan ringan melukai martabat orang lain, maka ...
06/01/2026

Jika religiusitas membuat seseorang merasa paling benar, mudah menghakimi, dan ringan melukai martabat orang lain, maka ada sesuatu yang perlu direnungkan lebih dalam. Sebab spiritualitas sejati tidak pernah lahir untuk meninggikan diri, melainkan untuk menundukkan kesombongan. Ia hadir bukan sebagai alat untuk mengeras, tetapi sebagai jalan untuk melembutkan. Ketika keyakinan berubah menjadi senjata, ketika doa berubah menjadi alasan untuk merendahkan, di situlah iman kehilangan ruhnya dan hanya menyisakan simbol tanpa makna.

Tuhan, dalam hampir semua ajaran, tidak pernah meminta manusia menjadi hakim atas sesamanya. Yang diminta adalah kesadaran, kasih, dan tanggung jawab atas diri sendiri. Namun ego kerap menyamar rapi dalam jubah kesalehan. Ia berbicara atas nama kebenaran, tetapi digerakkan oleh rasa unggul. Ia merasa suci karena perbandingan, bukan karena perenungan. Dari sinilah lahir kata-kata kasar, sikap keras, dan fitnah yang dibungkus dalil.

Religiusitas yang matang selalu membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih lembut dalam bersikap, dan lebih dalam dalam memahami luka manusia lain. Ia tahu bahwa iman bukan soal menunjuk siapa yang salah, tetapi mengakui betapa rapuhnya diri sendiri. Jika keyakinan tidak melahirkan kerendahan hati, mungkin yang sedang disembah bukan Tuhan, melainkan ego yang haus pengakuan.

Jangan malu karena tidak punya uang. Kemiskinan bukanlah aib, ia hanya keadaan, sementara rasa malu adalah soal sikap ba...
05/01/2026

Jangan malu karena tidak punya uang. Kemiskinan bukanlah aib, ia hanya keadaan, sementara rasa malu adalah soal sikap batin. Banyak orang berjalan dengan kepala tertunduk bukan karena salah, melainkan karena membiarkan ukuran harga diri ditentukan oleh angka di dompet. Padahal nilai manusia tidak pernah lahir dari benda, ia tumbuh dari cara seseorang menjaga nurani di tengah keterbatasan.

Yang patut direnungkan justru mereka yang tidak tahu malu demi uang. Ada yang menjual kejujuran, merendahkan orang lain, bahkan mengkhianati hati sendiri hanya agar terlihat berhasil. Uang yang seharusnya menjadi alat berubah menjadi tuan, mengendalikan sikap, ucapan, dan pilihan hidup. Pada titik itu, kekayaan tidak lagi memberi martabat, justru mengikisnya perlahan tanpa disadari.

Tidak punya uang bisa membuat hidup berat, tetapi tidak harus membuat jiwa rusak. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kepekaan, dan empati, hal-hal yang sering hilang saat segalanya terasa mudah. Orang yang bertahan dengan cara yang lurus sedang membangun kekayaan yang tidak kasat mata, namun kelak menjadi penopang saat dunia goyah.

Maka jangan tergesa merasa rendah. Lebih baik miskin harta tetapi utuh harga diri, daripada kaya namun kehilangan rasa malu. Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang dari berapa banyak yang ia kumpulkan, melainkan dari bagaimana ia menjaga dirinya tetap manusia.

Kekuatan sejati tidak pernah tinggal di otot, harta, atau posisi. Ia bersemayam diam di dalam hati, tempat manusia belaj...
05/01/2026

Kekuatan sejati tidak pernah tinggal di otot, harta, atau posisi. Ia bersemayam diam di dalam hati, tempat manusia belajar bertahan ketika dunia tidak ramah. Hidup kerap datang membawa beban tanpa permisi. Tanggung jawab, kegagalan, kehilangan, dan harapan yang tertunda menumpuk perlahan, seolah ingin menguji sejauh mana kita mampu berdiri. Namun, selama hati tidak runtuh, jalan selalu menemukan bentuknya sendiri untuk dilalui.

Hati yang kuat bukan hati yang tidak pernah terluka. Justru sebaliknya, ia adalah hati yang pernah jatuh berkali-kali, tetapi memilih bangkit tanpa kehilangan makna. Ketika pikiran lelah dan tubuh meminta menyerah, hatilah yang berbisik pelan bahwa berhenti bukan satu-satunya pilihan. Dari sanalah daya tahan lahir, bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai kesunyian yang teguh.

Jika keraguan masih menguasai, tengoklah perjuangan orangtuamu. Mereka memikul beban yang mungkin tak pernah mereka ceritakan. Mereka menunda mimpi, menahan letih, dan menelan kecewa demi memastikan hidupmu terus berjalan. Tidak selalu dengan kata-kata, sering kali hanya dengan kesabaran yang panjang. Di sanalah bukti paling nyata bahwa kekuatan sejati memang berasal dari hati, bukan dari kemudahan hidup, melainkan dari cinta dan keteguhan yang memilih bertahan.

Ibuku pernah berkata, orang yang pergi dengan marah akan kembali lagi, tapi seseorang yang pergi dengan senyuman tidak a...
05/01/2026

Ibuku pernah berkata, orang yang pergi dengan marah akan kembali lagi, tapi seseorang yang pergi dengan senyuman tidak akan kembali lagi. Kalimat itu tinggal di kepalaku seperti gema yang terus berulang, sederhana namun penuh lapisan makna. Ia tidak berbicara tentang jarak fisik semata, melainkan tentang keadaan batin manusia saat meninggalkan sesuatu yang pernah ia cintai, tempat ia pernah berharap, atau hubungan yang pernah ia perjuangkan.

Orang yang pergi dengan marah sejatinya masih terikat. Amarah adalah tanda bahwa harapan belum sepenuhnya mati. Ia pergi sambil membawa luka, membawa tuntutan yang belum terjawab, dan keinginan untuk dimengerti. Karena itu, ia akan kembali, entah untuk menuntut penjelasan, meminta keadilan, atau sekadar memastikan bahwa rasa sakitnya diakui. Marah adalah bentuk cinta yang belum menemukan jalannya.

Namun orang yang pergi dengan senyuman adalah mereka yang telah berdamai. Senyum itu bukan berarti tidak terluka, melainkan tanda bahwa ia memilih melepaskan. Ia telah menerima kenyataan apa adanya, tanpa keinginan untuk mengubah masa lalu. Senyum adalah penutup, bukan jeda. Ia berjalan pergi tanpa beban untuk kembali, karena hatinya sudah selesai.

Dari kalimat ibu itu, aku belajar bahwa yang paling berat bukanlah perpisahan, melainkan penerimaan. Dan sering kali, keikhlasan yang tenang lebih final daripada kemarahan yang meledak.

Nak, jika kelak engkau berdiri sebagai guru, dosen, atau kiai, jangan lepaskan ikhtiar duniawi dari genggaman tanganmu. ...
05/01/2026

Nak, jika kelak engkau berdiri sebagai guru, dosen, atau kiai, jangan lepaskan ikhtiar duniawi dari genggaman tanganmu. Ilmu yang kau ajarkan adalah cahaya, tetapi hidup juga menuntut pijakan yang nyata. Mengajar adalah amal, namun usaha adalah penjaga hati. Dengan memiliki usaha sampingan, engkau melatih dirimu untuk tidak menggantungkan martabat pada amplop, honor, atau pujian manusia.

Ketika penghidupanmu sebagian lahir dari keringat sendiri, ada ruang merdeka di dalam batin. Engkau dapat berbicara jujur tanpa takut kehilangan bayaran. Engkau dapat menegur tanpa khawatir diputus rezeki. Usaha menjadikan kata-katamu bersih dari kepentingan, dan niatmu lebih dekat pada keikhlasan. Di sanalah ilmu menemukan kehormatannya.

Usaha juga mengajarkan kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa rezeki tidak selalu turun dari mimbar atau ruang kelas, tetapi dari kesediaan untuk bekerja, belajar, dan bertahan. Keringat yang menetes dari usaha sendiri membawa berkah yang berbeda, karena ia lahir dari tanggung jawab, bukan dari belas kasihan.

Nak, jangan takut sibuk. Kesibukan yang jujur akan menenangkan jiwa. Selama engkau menjaga niat, usaha tidak akan merusak kemuliaan peranmu, justru menjaganya. Ilmu yang disertai kemandirian akan lebih kuat, lebih tenang, dan lebih berumur panjang dalam kehidupan orang-orang yang kau sentuh.

Berpakaianlah yang rapi dan baik. Bukan semata untuk dipuji, apalagi untuk menipu dunia. Kerapian adalah bahasa sunyi ya...
04/01/2026

Berpakaianlah yang rapi dan baik. Bukan semata untuk dipuji, apalagi untuk menipu dunia. Kerapian adalah bahasa sunyi yang pertama kali dibaca orang sebelum mereka sempat mendengar isi pikiranmu. Dari sana, dunia membangun prasangka, dan prasangka sering kali menjadi pintu awal bagi kemungkinan.

Ketika seseorang mengira kamu orang kaya, barangkali itu bukan tentang harta, melainkan tentang kesan utuh yang kamu pancarkan. Kekayaan sering diasosiasikan dengan keteraturan, ketenangan, dan rasa hormat pada diri sendiri. Maka saat kamu berpakaian dengan pantas, sesungguhnya kamu sedang menyatakan bahwa hidupmu layak dirawat, bahwa dirimu cukup berharga untuk tidak tampil asal-asalan.

Anggapan orang memang tidak selalu benar, tetapi tidak semua anggapan layak ditolak. Ada kalanya persepsi menjadi doa yang bekerja diam-diam. Dunia memperlakukanmu sesuai dengan bayangan yang ia ciptakan tentangmu. Dari situ muncul peluang, kepercayaan, dan pintu yang mungkin takkan terbuka jika kamu memilih tampil sembarangan.

Berpakaian baik bukan tentang menjadi orang lain. Ia adalah latihan batin untuk menghormati diri sendiri sebelum meminta dunia melakukan hal yang sama. Jika kelak kekayaan sungguhan datang, ia tidak akan terasa asing. Ia hanya p**ang ke tempat yang sejak awal sudah kamu siapkan.

Kau bilang Adam berdosa karena hasutanku. Kalimat itu terdengar rapi, seolah dosa selalu butuh satu alamat untuk disalah...
04/01/2026

Kau bilang Adam berdosa karena hasutanku. Kalimat itu terdengar rapi, seolah dosa selalu butuh satu alamat untuk disalahkan. Namun jika begitu, izinkan aku bertanya dengan nada yang sama tenangnya: atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Jika setiap kesalahan membutuhkan penghasut, maka di mana ruang bagi kehendak, dan di mana letak tanggung jawab?

Pertanyaan ini bukan pembelaan, melainkan cermin. Manusia kerap merasa nyaman ketika dosa dapat dipindahkan ke luar dirinya. Setan, keadaan, masa lalu, luka, atau siapa pun yang lebih gelap dari dirinya sendiri. Dengan begitu, nurani dapat tidur lebih nyenyak, karena kesalahan telah diberi kambing hitam. Padahal, hasutan hanya membuka pintu. Langkah masuk tetap keputusan kaki sendiri.

Adam mendengar bisikan, benar. Tetapi ia juga memiliki kesadaran, pilihan, dan keberanian untuk berkata tidak. Sama sepertiku. Sama sepertimu. Jika aku berdosa karena hasutan, lalu siapa yang menghasut kesombongan yang membuatku membangkang? Siapa yang membisiki keinginan untuk menempatkan diri di atas kebenaran?

Mungkin di sanalah letak pelajaran paling sunyi. Bahwa dosa tidak lahir dari bisikan semata, melainkan dari keputusan batin yang memilih untuk tunduk pada bisikan itu. Dan sejak saat itu, tanggung jawab tidak lagi bisa dipindahkan. Ia menetap di dalam diri, menunggu keberanian untuk diakui.

Jadilah manusia bebas. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya sering terasa berat ketika dijalani. Kebebasan b...
04/01/2026

Jadilah manusia bebas. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya sering terasa berat ketika dijalani. Kebebasan bukan sekadar kemampuan untuk memilih, melainkan keberanian untuk menanggung konsekuensi dari pilihan itu. Banyak orang hidup dengan tubuh merdeka, namun pikirannya terpenjara oleh penilaian, ketakutan, dan ekspektasi orang lain. Mereka berjalan di jalur yang bukan miliknya, hanya karena takut tersesat jika melangkah sendiri.

Jangan mau dikuasai orang lain, sebab kekuasaan paling berbahaya bukanlah yang menggunakan paksaan, melainkan yang bekerja melalui rasa takut dan kebutuhan akan pengakuan. Ketika hidupmu ditentukan oleh tepuk tangan atau cemooh, saat itulah dirimu perlahan hilang. Engkau menjadi bayangan dari kehendak orang lain, bukan wujud utuh dari dirimu sendiri.

Pergilah mencari jalanmu sendiri. Jalan itu mungkin sepi, penuh keraguan, dan tidak selalu terlihat benar di mata banyak orang. Namun di sanalah kejujuran bertemu dengan keberanian. Setiap langkah yang kau ambil atas kesadaran sendiri akan membentuk karakter, bukan sekadar reputasi.

Dan jangan goyah. Dunia akan terus menguji keyakinanmu, menawarkan jalan pintas, atau menertawakan keteguhanmu. Tetaplah berdiri. Lebih baik berjalan lambat di jalanmu sendiri daripada berlari cepat menuju kehidupan yang bukan milikmu. Kebebasan sejati lahir ketika kau setia pada nuranimu sendiri.

Boleh jadi saat engkau terlelap, ketika kesadaranmu berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, ada puluhan doa yang diam d...
03/01/2026

Boleh jadi saat engkau terlelap, ketika kesadaranmu berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, ada puluhan doa yang diam diam naik ke langit untukmu. Doa doa itu tidak lahir dari mimbar megah atau lisan yang fasih, melainkan dari hati hati yang pernah kau sentuh dalam kesederhanaan. Dari mereka yang lapar lalu kau beri makan tanpa banyak tanya, dari mereka yang sedih lalu kau dengarkan tanpa menghakimi, dari mereka yang miskin lalu kau bantu tanpa merasa lebih tinggi.

Setiap kebaikan yang tampak kecil di matamu, sejatinya menyimpan gema panjang dalam kehidupan orang lain. Barangkali engkau lupa wajah wajah itu, atau menganggapnya sebagai peristiwa biasa yang telah berlalu. Namun bagi mereka, perbuatanmu menjadi penopang saat dunia terasa sempit dan harapan nyaris padam. Doa mereka lahir bukan karena kewajiban, tetapi karena rasa syukur yang tulus.

Di situlah makna kebaikan menemukan bentuknya yang paling murni. Ia tidak menuntut pujian, tidak p**a mencatat jasa. Ia hidup dalam keheningan, bekerja dalam sunyi, lalu kembali kepadamu dalam rupa yang tak selalu kasat mata. Maka jangan pernah meremehkan satu pun perbuatan baik. Bisa jadi, ia menjadi alasan mengapa hidupmu dijaga, dilapangkan, dan diberi cahaya pada saat yang paling tidak kau sangka.

Address

Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
South Jakarta
12620

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Logos Logis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category