SAWIT KITA

SAWIT KITA SAWITKITA.ID adalah media siber yang berfokus pada publikasi dan komunikasi isu-isu perkelapasawitan.

18/02/2026

Fakta menarik tentang sawit

18/02/2026

Sawit jadi kambing hitam banjir, padahal fakta barbicara sebaliknya

14/02/2026

Guru Besar bidang Ekonomi Pertanian Universitas Sumatra Utara, Prof. Dr. Diana Chalil menegaskan kelapa sawit memiliki potensi memulihkan ekonomi korban bencana alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada akhir 2025. "Kita belajar pasca tsunami di Aceh tahun 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan. Kebun sawit rakyat banyak dari konversi komoditi lain," kata Diana dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Universitas Sumatra Utara pada 10 Februari 2026. Kuncinya penanaman sawit harus di lahan yang tepat dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Di tempat yang sama, Guru Besar Fakultas Pertanian USU, Prof Abdul Rauf menegaskan, tanaman apapun jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai atau ekofisiologinya tidak sesuai, akan merusak lingkungan. Karena itu, banjir dan tanah longsor akhir tahun lalu di Indonesia, tidak serta merta karena budidaya salah satu tanaman, misalnya kelapa sawit. “Yang bisa disalahkan bukan tanamannya. Tetapi ekofisiologisnya sudah sesuai atau tidak? Kalau tidak tepat, jadinya aktivitas ilegal seperti illegal logging, illegal planting, dan illegal mining,” katanya.

Memulihkan Ekonomi Korban Bencana Dengan Komoditas SawitBencana alam berupa banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera...
12/02/2026

Memulihkan Ekonomi Korban Bencana Dengan Komoditas Sawit

Bencana alam berupa banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November-Desember 2025 yang lalu menyisakan pelajaran penting yang tidak boleh kita lupakan. Perbaikan tata kelola lahan untuk komoditas yang menghasilkan harus tetap memperhatikan kesesuaian tanah dan tanaman sehingga tidak memicu masalah di kemudian hari.

Bencana alam di Sumetera telah terjadi. Lalu, apa yang perlu kita lakukan untuk memulihkan ekonomi warga yang terdampak bencana. Tentu banyak masukan dan usulan. Namun, proses pemulihan harus memperhatikan budaya, tradisi, dan kebiasaan masyarakat dalam menghidupkan perekonomian mereka.

Guru besar agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Diana Chalil menjelaskan komoditas sawit masih bisa diandalkan untuk memulihkan perekonomian warga yang terdampak bencana. Sebab, selama ini sawit merupakan tulang punggung ekonomi nasional, terutama di daerah sentra sawit. Namun, pengembangannya harus dievaluasi agar tidak mengorbankan ekologi. Pengembangan sawit sebaiknya difokuskan pada peningkatan produktivitas, tidak lagi perluasan lahan.

"Budidaya dan pengelolaan kelapa sawit harus mengacu pada tata kelola yang baik dan tidak mengorbankan aspek ekologi," kata Diana Chalil dalam diskusi bertajuk Dialektika Sawit Indonesia yang diselenggarakan oleh Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan pada 10 Februari 2026.

Menurut Diana Chalil, industri sawit nasional memegang peran penting dalam ekonomi nasional. Industri ini menyerap 16,5 juta tenaga kerja dengan 9,7 juta orang di antaranya merupakan tenaga kerja langsung. Sebanyak 73,83 persen devisa yang dihasilkan dari ekspor pertanian merupakan kontribusi industri sawit. "Bencana akhir tahun lalu adalah pelajaran penting dalam pengembangan industri sawit ke depan," katanya.

Kelapa sawit adalah anugerah dari Tuhan yang tidak semua negara memilikinya. Dia bisa tumbuh sesuai dengan kemauan manusianya. Karena itu, kelapa sawit tidak bisa serta-merta dikambinghitamkan sebagai penyebab bencana. Ada banyak faktor yang berkontribusi memperparah dampak bencana Sumatera, mulai dari aktivitas perusahaan hutan tanaman industri, pertambangan, perkebunan, penebangan hutan secara ilegal maupun legal, serta siklon tropis yang melanda.

”Kita perlu memikirkan kembali bahwa faktanya memang ada sebagian sawit yang tidak dikelola dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Ada sekitar 30 persen kebun sawit di kawasan hutan,” kata Diana. Indonesia mempunyai kebun sawit seluas 16,8 juta hektar. Luasan ini masih masuk akalkarena tingkat kesesuaian lahan untuk penggunaan sawit kategori sangat sesuai (S1) dan cukup sesuai (S2) di Indonesia mencapai 16 juta hektar.

”Namun, tata kelola yang berkelanjutan itu bukan hanya soal luasnya saja, melainkan di mana kebunnya. Bukan hanya kemampuan lahan, melainkan keseimbangan lanskap. Bukan juga hanya bisa diproduksi, tetapi juga bisa dijual dengan baik,” kata Diana.

Menurut Diana, rata-rata produktivitas sawit nasional juga masih sangat rendah karena produktivitas sawit rakyat yang terus menurun. Sementara kontribusi luas lahannya terus meningkat. Padahal, luas sawit rakyat kini mencapai 6,4 juta hektar atau 38 persen dari total 16,8 juta hektar kebun sawit di Indonesia. Sisanya, 10,4 juta hektar adalah kebun sawit swasta dan badan usaha milik negara.

Diana Chalil mengatakan kontribusi kebun sawit rakyat terus meningkat dari sekitar 8 persen pada 1980-an. ”Rakyat itu kebunnya sekarang sudah hampir 40 persen, tetapi tidak ada yang membimbing. Mereka berkembang sendiri,” kata Diana.

Semakin hari semakin banyak tanaman sawit rakyat yang menua dan tidak diremajakan. Akibatnya, tanaman sawit rakyat rata-rata hanya bisa menghasilkan 2 ton minyak sawit mentah (CPO) per hektar per tahun, jauh dari potensi 8 ton per hektar per tahun. Sementara itu, produktivitas sawit swasta yang terus diremajakan sudah mencapai 4-8 ton per hektar per tahun.

Persoalan utama stagnasi sawit adalah banyaknya tanaman menua dan terlambat diremajakan. Peremajaan ini satu paket dengan penggunaan bibit unggul, penerapan praktik pertanian yang baik, dan tata kelola perkebunan yang baik.

Diana Chalil mengajak para pemangku kepentingan untuk duduk bersama merumuskan pengelolaan sawit di masa depan yang ramah ekologis dan bernuansa lingkungan. Yang paling penting dari semua itu adalah memperbaiki perilaku manusianya, termasuk kebijakan di sektor sawit agar tanaman anugerah Tuhan ini memberikan manfaat semakin besar dan mempercepat pemulihan ekonomi warga terdampak bencana.

07/02/2026

Berapapun hasil panen tetap kita bersyukur

07/02/2026

Kenapa lipstik bisa awet dan tahan lama di bibir?

20/01/2026

Banyak manfaat pelihara sapi di kebun sawit

06/01/2026

Alhamdilillah tumbuh pelepah baru

Hanya dalam 20 hari dampak aplikasi biochar, biocompost dan BIOTOP sudah terlihat hasilnya, alhamdulillah
12/11/2025

Hanya dalam 20 hari dampak aplikasi biochar, biocompost dan BIOTOP sudah terlihat hasilnya, alhamdulillah

12/11/2025

Hanya dalam waktu 20 hari perkembangan kelapa sawit ini sudah terlihat

Address

South Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SAWIT KITA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to SAWIT KITA:

Share