02/06/2026
KISAH INSPIRATIF DEDI MULYADI: DARI ANAK PETANI YANG PERNAH KELAPARAN MENJADI GUBERNUR JAWA BARAT
DI sebuah kampung sederhana bernama Sukadaya, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, lahirlah seorang anak laki-laki pada 11 April 1971. Anak bungsu dari sembilan bersaudara itu kelak dikenal luas sebagai Dedi Mulyadi, sosok yang berhasil menembus kerasnya kehidupan hingga menjadi Gubernur Jawa Barat.
Namun, perjalanan menuju puncak kekuasaan itu tidak dimulai dari kemewahan. Masa kecil Dedi justru diwarnai oleh kemiskinan yang sangat berat.
Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana, merupakan seorang pensiunan tentara yang kemudian menjalani hidup sebagai petani sederhana. Sementara ibunya, Karsiti, aktif dalam kegiatan sosial Palang Merah Indonesia meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Keluarga besar itu hidup dalam keterbatasan ekonomi yang sering kali membuat kebutuhan dasar sulit terpenuhi.
Dedi kecil mengenang bagaimana dirinya pernah mengalami kelaparan selama tiga hari tiga malam. Pada masa itu, makan bukanlah sesuatu yang selalu tersedia setiap hari. Bahkan saat Lebaran tiba, ia tidak selalu merasakan kegembiraan seperti anak-anak lainnya. Ketika teman-temannya mengenakan pakaian baru, Dedi harus menerima kenyataan pahit memakai baju lama karena orang tuanya tidak memiliki cukup uang untuk membelikan pakaian baru.
Meski hidup dalam kekurangan, orang tuanya tidak pernah mengajarkan sikap menyerah.
Ayahnya dikenal sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Setiap hari, Dedi dibangunkan pada pukul tiga dini hari untuk mengaji, membantu pekerjaan bertani, dan mengurus ternak keluarga. Disiplin yang diterapkan ayahnya sering kali terasa berat bagi seorang anak kecil. Namun, dari situlah karakter tangguh mulai terbentuk.
Semasa kecil, Dedi juga membantu ibunya menggembala domba dan bekerja di ladang. Aktivitas tersebut membuatnya memahami arti kerja keras sejak usia dini. Ia belajar bahwa hidup tidak akan berubah jika hanya mengandalkan belas kasihan orang lain.
Perjalanan pendidikannya tidak selalu mulus. Saat duduk di kelas satu sekolah dasar, Dedi pernah tidak naik kelas. Kegagalan itu menjadi pukulan besar baginya. Namun, justru dari titik terendah tersebut lahir tekad untuk berubah.
Didikan keras sang ayah dan keinginan untuk membuktikan diri membuat Dedi berjuang lebih keras dalam belajar. Hasilnya mulai terlihat. Sejak kelas tiga SD, ia mampu menjadi siswa berprestasi dan sering menempati peringkat pertama di sekolahnya.
Ia menyelesaikan pendidikan di SD Subakti pada tahun 1984, melanjutkan ke SMP Kalijati dan lulus pada tahun 1987, kemudian menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Purwadadi hingga lulus pada tahun 1990.
Keterbatasan ekonomi tetap menjadi tantangan besar. Untuk berangkat sekolah, Dedi menggunakan sepeda yang dibelinya sendiri dari hasil menabung. Di masa remaja, ia pernah mengalami pengalaman yang membekas ketika ditolak oleh seorang perempuan yang ia sukai, karena hanya mampu mengantar menggunakan sepeda, sementara pemuda lain telah memiliki sepeda motor.
Namun, pengalaman itu tidak membuatnya rendah diri. Justru menjadi bahan bakar untuk terus maju.
Setelah lulus SMA, Dedi melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Perjuangan kuliahnya jauh dari kata mudah. Untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup, ia bekerja serabutan. Berbagai pekerjaan pernah dijalani, mulai dari menjadi kuli hingga tukang ojek.
Siang hari digunakan untuk bekerja, sementara malam hari digunakan untuk belajar. Dengan perjuangan panjang tersebut, Dedi akhirnya berhasil meraih gelar Sarjana Hukum pada usia 28 tahun.
Masa kuliah menjadi titik penting dalam pembentukan kepemimpinannya. Ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta. Pengalaman berorganisasi membuka jalan menuju dunia kepemimpinan dan politik.
Jabatan di organisasi yang pernah diduduki Dedi Mulyadi adalah Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Purwakarta, Senat Mahasiswa STH Purnawarman Purwakarta (1994), Wakil Ketua DPC FSPSI (1997), Sekretaris PP SPTSK KSPSI (1998), Wakil Ketua GM FKPPI Tahun (2002), Ketua PC Pemuda Muslimin Indonesia (2002), Sekretaris KAHMI Purwakarta (2002), Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Purwakarta (2005-2015), dan Ketua DPC Partai Golkar Purwakarta (2004-2007) Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat (2016-2019).
Karier politiknya dimulai ketika terpilih sebagai anggota DPRD Purwakarta pada tahun 1999. Kiprahnya yang menonjol membuat dirinya dipercaya menjadi Wakil Bupati Purwakarta pada tahun 2003 saat berusia 32 tahun, menjadikannya salah satu wakil bupati termuda di Indonesia pada masa itu.
Lima tahun kemudian, Dedi mencatatkan langkah besar dalam hidupnya. Pada Pilkada 2008, ia terpilih sebagai Bupati Purwakarta. Kepercayaan masyarakat kembali mengantarkannya memenangkan periode kedua pada tahun 2013.
Selama memimpin Purwakarta, Dedi dikenal dengan berbagai kebijakan yang menonjolkan budaya Sunda. Ia membangun taman-taman tematik, memperkuat identitas budaya lokal, memperkenalkan penggunaan pakaian adat dalam berbagai kegiatan pemerintahan, serta menghadirkan berbagai simbol budaya di ruang publik.
Sejumlah kebijakannya menuai pujian karena dianggap mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap budaya daerah. Namun beberapa kebijakan lainnya juga mengundang kritik dan perdebatan publik.
Pada tahun 2016, Dedi terpilih secara aklamasi menjadi Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat. Namanya semakin dikenal secara nasional. Ia kemudian maju sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018 mendampingi Deddy Mizwar, meski belum berhasil memenangkan kontestasi tersebut.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai bupati, Dedi melangkah ke tingkat nasional sebagai anggota DPR RI periode 2019–2024 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VII. Di Senayan, ia duduk di Komisi VI dan aktif menyuarakan berbagai isu pembangunan serta kesejahteraan masyarakat.
Tahun 2023 menjadi babak baru dalam perjalanan politiknya. Ia meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Partai Gerindra. Langkah tersebut membuka jalan menuju pertarungan politik terbesar dalam kariernya.
Pada Pilkada Jawa Barat 2024, Dedi Mulyadi maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan Erwan Setiawan. Pasangan ini memperoleh kemenangan telak dengan meraih lebih dari 62 persen suara dan memenangkan seluruh kabupaten serta kota di Jawa Barat.
Pada 20 Februari 2025, Dedi Mulyadi resmi dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat.
Sebagai gubernur, ia langsung menarik perhatian publik melalui berbagai kebijakan yang tegas dan sering kali tidak biasa. Salah satu yang paling kontroversial adalah program pembinaan bagi siswa bermasalah melalui pelatihan disiplin yang melibatkan lingkungan militer. Kebijakan tersebut memunculkan perdebatan luas. Sebagian masyarakat mendukung karena dianggap mampu membangun karakter dan kedisiplinan, sementara sebagian lainnya mengkritik karena dinilai berpotensi mengabaikan pendekatan pendidikan yang lebih komprehensif.
Di sisi lain, gaya kepemimpinannya yang sederhana, dekat dengan masyarakat, dan aktif turun langsung ke lapangan membuat popularitasnya terus meningkat. Ia juga dikenal sangat aktif memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Kehadirannya di dunia digital menjadikannya salah satu politisi paling berpengaruh di media sosial Indonesia.
Perjalanan hidup Dedi Mulyadi adalah gambaran nyata bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Dari seorang anak petani yang pernah merasakan lapar selama berhari-hari, pernah gagal di sekolah, bekerja sebagai kuli dan tukang ojek demi kuliah, hingga akhirnya menjadi pemimpin provinsi terbesar di Indonesia.
Kisahnya menunjukkan bahwa kerja keras, disiplin, ketekunan dan keberanian untuk terus bangkit setelah kegagalan, dapat mengubah jalan hidup seseorang. Meski berbagai kebijakan dan langkah politiknya tidak lepas dari kritik maupun kontroversi, perjalanan hidupnya tetap menjadi salah satu contoh bagaimana seorang anak desa mampu menembus batas-batas yang tampaknya mustahil.
Dari ladang sederhana di Subang hingga Gedung Sate di Bandung, perjalanan Dedi Mulyadi menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat lahir dari kehidupan yang paling sederhana sekalipun.
Untuk mengikuti aktivitas dan informasi terbaru dari Dedi Mulyadi, masyarakat dapat mengunjungi akun Instagram resminya di .
*Dirangkum dari berbagai sumber*