02/05/2026
Episode 1: lampu kedelapan
Detik itu juga, siluet di bawah lampu kedelapan menoleh. Wajahnya bukan wajah manusia. Kulitnya pucat seperti pantulan bulan di genangan, matanya hitam legam tanpa pupil, dan dari mulutnya menetes air got yang hitam pekat. Lampu kedelapan mati, lalu seluruh jalan jadi gelap gulita. Dina menjerit, tapi suaranya ditelan kabut. Di belakangnya, suara langkah kaki basah mulai mendekat, pelan, satu-satu, plak... plak... plak...
Tiga jam sebelumnya, Dina masih di kantor. Bosnya maksa lembur karena deadline. Jam 11 malam dia baru pulang, naik motor lewat Jalan Merpati biar cepat. Jalan itu terkenal sepi, tapi aspalnya mulus. Hujan baru saja berhenti, jadi udara dingin dan wangi tanah basah. Cuma ada 7 lampu jalan, Dina hafal betul karena tiap hari lewat sini.
Di tengah jalan, motornya tiba-tiba tersendat. Lampu kedelapan yang seharusnya tidak ada, tiba-tiba menyala dan berkedip di ujung jalan. Di bawahnya berdiri anak kecil, diam, memunggunginya. Dina pikir itu anak tetangga yang main hujan. Dia mau menyapa, tapi bulu kuduknya langsung berdiri. Udara jadi dingin menusuk, dan genangan di depannya beriak membentuk lingkaran, padahal tidak ada yang jatuh ke dalamnya.