01/04/2026
Ini adalah kisah tentang harga diri, aspal panas, dan sebuah baliho kecil yang menempel di punggung.
Lakon: Balada MMT di Jalur Pantura
Seminggu sudah gema takbir berlalu. Ketupat di meja makan Ibu sudah habis, digantikan rasa sesak di dada Bambang. Sudah lima tahun ia merantau ke Jakarta, katanya jadi "staf logistik", padahal aslinya kurir paket yang motornya lebih sering masuk angin daripada pemiliknya.
Tiba saatnya p**ang. Tapi, dompet Bambang sedang melakukan aksi mogok makan. THR habis buat bayar tunggakan kontrakan, sisa recehan hanya cukup buat bensin dan kopi sachet di SPBU.
Persiapan "Perang"
Bambang memandang motor Supra kesayangannya. Di jok belakang, sudah duduk manis Slamet, teman satu kontrakan yang nasibnya sebelas dua belas.
"Mbang, yakin kita mau p**ang kondisi begini? Gak bawa tentengan roti kaleng atau sarung baru?" tanya Slamet ragu.
Bambang tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah gulungan plastik MMT dari dalam tasnya. Dengan bantuan lakban hitam dan sisa-sisa harga diri, ia menempelkan MMT itu tepat di punggung jaket Slamet.
Tulisannya besar, tebal, dan menusuk kalbu:
"PULANG MALU, TAK PULANG RINDU. MAAF MAK, ANAKMU MUDIK MAMPUNE MUNG NGADEK JEJEG."
Deru Mesin dan Debu Jalanan
Motor melaju membelah aspal Pantura yang masih menyisakan sisa-sisa kemacetan arus balik. Setiap kali berhenti di lampu merah, orang-orang menatap punggung Slamet. Ada yang tersenyum getir, ada yang memotret, ada p**a bapak-bapak pengendara moge yang tiba-tiba mengacungkan jempol sambil mengusap air mata di balik kacamata hitamnya.
"Gas, Mbang! Malu aku dilihatin orang!" bisik Slamet di balik helm full face-nya.
"Sabar, Met! Iki jenenge seni bertahan hidup!" sahut Bambang, sambil memutar gas lebih dalam.
---
Puncak Drama:
Gerbang Desa
Matahari hampir tenggelam saat mereka sampai di gapura desa. Bambang sengaja tidak mencopot MMT itu. Ia ingin dunia tahu, atau setidaknya tetangga tahu, bahwa p**ang kampung bukan soal pamer mobil rental, tapi soal raga yang kembali untuk sujud.
Saat motor berhenti di depan rumah kayu yang catnya sudah mengelupas, Ibu sedang menyapu teras. Matanya yang rabun menyipit, membaca tulisan di punggung Slamet yang turun dari motor dengan kaki gemetar.
Suasana hening sejenak.
Ibu berjalan mendekat. Bambang sudah bersiap untuk dimarahi karena p**ang tanpa bawa apa-apa. Namun, tangan tua itu justru merobek paksa lakban yang menempelkan MMT di punggung Slamet.
"Le," suara Ibu bergetar. "Sing nulis iki sopo? Sing jenenge mulih kuwi nggowo awak, dudu nggowo isin. Ibu ra butuh MMT, Ibu butuh kowe."
Bambang ambruk di pelukan Ibunya. MMT itu tergeletak di tanah, terinjak standar motor. Drama p**ang malu itu berakhir menjadi tangis haru. Tetangga yang tadinya mau mencibir, mendadak balik kanan, pura-pura tidak lihat karena mata mereka sendiri mendadak perih.
---
Epilog
Lebaran memang sudah lewat seminggu. Jalanan sudah sepi dari pemudik borjuis. Tapi bagi Bambang, lebaran baru benar-benar dimulai saat mesin motornya mati, dan doa Ibunya hidup kembali.
Status terakhir Bambang di WhatsApp: "Aman. Gas otw... otw bahagia meski dompet merana."