Madad Rosulullah

Madad Rosulullah Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Madad Rosulullah, Digital creator, Sumber.

kami hadir sebagai oase dipadang tandus ... penyejuk sekaligus pelepas dahaga bagi para jiwa yang kering ...

semoga kehadiran halaman ini menjadi amal jariyah bisa bermanfaat bagi kita semua ...

𝙎𝙮𝙚𝙠𝙝 𝙄𝙝𝙨𝙖𝙣 𝙅𝙖𝙢𝙥𝙚𝙨: 𝙎𝙖𝙣𝙜 "𝙂𝙝𝙖𝙯𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙅𝙖𝙬𝙖"𝐏𝐫𝐨𝐟𝐢𝐥 𝐒𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi, ata...
26/03/2026

𝙎𝙮𝙚𝙠𝙝 𝙄𝙝𝙨𝙖𝙣 𝙅𝙖𝙢𝙥𝙚𝙨: 𝙎𝙖𝙣𝙜 "𝙂𝙝𝙖𝙯𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙅𝙖𝙬𝙖"

𝐏𝐫𝐨𝐟𝐢𝐥 𝐒𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭
Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi, atau yang akrab disapa Syekh Ihsan Jampes, adalah ulama kharismatik kebanggaan Kediri. Lahir pada tahun 1901 di Dusun Jampes, Desa Putih. Beliau merupakan putra dari KH. Dahlan bin Shaleh dan Nyai Artimah. Ayahnya adalah sosok di balik berdirinya Pondok Pesantren Jampes (kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Al-Ihsan).

𝐊𝐞𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐁𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮
Beliau dikenal dengan semboyan hidup yang inspiratif: "Tiada Hari Tanpa Membaca". Menariknya, meski tidak pernah mengenyam pendidikan langsung di Timur Tengah, penguasaan bahasa Arab dan kedalaman ilmu agama beliau diakui dunia.

Syekh Ihsan Jampes dikenang sebagai "Ghazali dari Tanah Jawa" karena karya-karyanya yang monumental. Beliau telah meninggalkan warisan intelektual yang tidak hanya bermanfaat bagi umat Islam di Indonesia, tetapi juga di dunia .

Karya-karya monumental beliau, seperti Siraj al-Thalibin (syarah kitab Minhaj al-Abidin karya Imam Al-Ghazali), telah diterbitkan dan dipelajari di berbagai pusat keilmuan internasional, termasuk Mesir. Karya lainnya yang tak kalah masyhur adalah Tashrih al-Ibarat, Manahij al-Amdad, dan Irsyad al-Ikhwan.

𝐖𝐚𝐟𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮
Syekh Ihsan berp**ang ke Rahmatullah pada 16 September 1952 (25 Dzulhijjah 1371 H) dalam usia 51 tahun. Jasadnya disemayamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsan Jampes, Kediri. Hingga kini, makam beliau menjadi destinasi ziarah utama bagi umat Islam yang ingin mencari keberkahan.

𝐊𝐚𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐋𝐢𝐫𝐛𝐨𝐲𝐨 & 𝐉𝐚𝐦𝐩𝐞𝐬
Lirboyo dan jampes punya hubungan yg sangat erat. Kerena guru kami, Kiai Marzuqi Dahlan Lirboyo, adalah adik kandung dari Syekh Ihsan Al-Jampesy.

Ada dawuh dari sebagian ulama: "Sopo seng moco kitab-be Syekh Ihsan Jampes, uripe ora bakal apes" (Siapa yang membaca kitabnya Syekh Ihsan Jampes, hidupnya tidak akan apes).

Itulah alasan mengapa akhir² ini saya sering membagikan isi kitab beliau, Sirajut Thalibin. Niatnya semata-mata mengharap barokah (ngalap berkah) dari beliau.

Semoga Anda yang ikut menyimak penjelasan kitab² beliau di akun ini juga mendapatkan keberkahan.

Alhamdulillah ala kulli hall ...Maaf baru sempat buka halaman Madad Rosulullah lagi semenjak 10 ahir romadhon sengaja sa...
22/03/2026

Alhamdulillah ala kulli hall ...

Maaf baru sempat buka halaman Madad Rosulullah lagi semenjak 10 ahir romadhon sengaja saya fokuskan untuk bermunjat ...

Dan kini lebaran telah usai meski terlambat saya ucapkan minal aidin wal faizin ... Mohon maaf lahir dan batin ...

Setelah shalat Ied, orang-orang yang sholat terbagi menjadi dua kelompok: sebagian dari mereka p**ang ke rumah dengan pe...
18/03/2026

Setelah shalat Ied, orang-orang yang sholat terbagi menjadi dua kelompok: sebagian dari mereka p**ang ke rumah dengan penuh kegembiraan (tertawa riang), dan sebagian lainnya pergi ke pemakaman sambil menangis.

Perang antara kekaisaran Persia dan Romawi berlangsung selama 700 tahun, di mana mereka bertempur lebih dari 1000 kali, ...
06/03/2026

Perang antara kekaisaran Persia dan Romawi berlangsung selama 700 tahun, di mana mereka bertempur lebih dari 1000 kali, hingga Khalid ibn al-Walid datang dan menghancurkan kedua kekaisaran tersebut hanya dalam waktu 4 tahun.

Ia mengalahkan Persia dalam 15 pertempuran hingga negara mereka runtuh, dan ia mengakhiri kehadiran Romawi, yang telah berlangsung di Timur selama seribu tahun, setelah mengalahkan mereka dalam 9 pertempuran.

Mereka bahkan bersatu dalam Pertempuran Al-Furat pada tahun 12 Hijriah dengan 200.000 pejuang di tepi Sungai Eufrat... Namun Khalid meraih kemenangan atas mereka hanya dengan 15.000 prajurit dan atas izin Allah Subhanawata'alla.

- Jika Anda sudah selesai membaca, jangan lupa sholawat untuk Nabi.
"Allahumma sholi ala Muhammad wa'ala ali Muhammad "

berat

1000 BULAN vs 1 MALAM: Hitungan Matematis yang Gila atau Fakta Ilmiah?Coba pikir. Rata-rata umur manusia mungkin 60-70 t...
06/03/2026

1000 BULAN vs 1 MALAM: Hitungan Matematis yang Gila atau Fakta Ilmiah?

Coba pikir. Rata-rata umur manusia mungkin 60-70 tahun. Lalu tiba-tiba ada “malam” yang nilainya setara dengan 83 tahun lebih (1000 bulan). Logika mana yang bisa menerima ini? Apakah ini hanya janji surgawi, atau ada skenario kosmik yang sengaja Allah atur di malam itu?

Berhenti melihat Lailatul Qadar hanya sebagai ritual. Malam ini adalah fenomena multidimensi. Dan sains, dengan segala keterbatasannya, mulai bisa mencium keanehan malam yang satu ini.

MENGAPA MALAM ITU TERASA "SEJUK"?

Bukan perasaanmu saja. Malam itu benar-benar lebih sejuk secara fisik.

Ahrens (2012) dalam Meteorology Today menjelaskan bahwa kombinasi tekanan udara dan kelembapan yang ideal bisa menciptakan kondisi "termal nyaman". Di malam Lailatul Qadar, angin biasanya tenang, suhu stabil.
Artinya? Allah menciptakan kondisi lingkungan yang paling prima untuk ibadah. Alam sedang diam, agar suaramu yang terdengar oleh-Nya.

Hadits menyebut malam itu "cerah dan tenang". Sains menyebut ini atmospheric window.

Phillips (2017) bilang, angin stratosfer bisa membersihkan partikel aerosol, mengurangi polusi cahaya. Hasilnya? Langit jadi transparan.

Mata fisikmu mungkin melihat bintang lebih terang, mata hatimu mungkin melihat "pintu langit" sedang dibuka. Apakah ini kebetulan? Atau desain untuk memberi tanda pada orang-orang yang berakal?

Ciri paling ikonik: Pagi harinya matahari terbit "tanpa sinar yang menyilaukan", seperti bejana perak.

Bohren & Huffman (1998) menjelaskan ini sebagai fenomena hamburan cahaya.

Malam sebelumnya, atmosfer "dicuci" (mungkin oleh ketenangan angin dan pengurangan partikel), sehingga saat pagi, cahaya merah/kuning matahari terhambur minimal.
Matahari terbit lembut, seolah alam sedang menjaga suasana khusyuk itu tetap terasa hingga pagi.

Tiba-tiba hati jadi tenang, damai luar biasa, bahkan mungkin menangis tanpa sebab. Itu bukan cuma soal "emosi".
Persinger (2003) dalam Neuropsychological Bases of God Beliefs menyebut aktivitas geomagnetik bumi bisa memicu pola gelombang otak yang rileks (gelombang Alpha/Theta).
Bayangkan jika malam itu bertepatan dengan titik di mana gangguan elektromagnetik bumi minimal. Batin jadi adem, fokus ibadah maksimal. Sains menyebutnya "kondisi psikologis optimal", kita menyebutnya "Malaikat turun membawa kedamaian".

Jangan remehkan kekuatan keyakinan.
Koenig et al. (2012) dalam Handbook of Religion and Health membuktikan bahwa ekspektasi spiritual dan ibadah (doa, meditasi) secara signifikan menurunkan kortisol (hormon stres).
Mereka yang meyakini dan mencari Lailatul Qadar secara psikologis lebih siap menerima kedamaian. Ditambah kondisi lingkungan yang mendukung (sejuk, langit cerah), maka "pengalaman spiritual" menjadi ledakan yang luar biasa dahsyatnya.

Sains menjelaskan bagaimana mekanismenya (tata surya, atmosfer, gelombang otak). Spiritual menjelaskan mengapa dan siapa di balik mekanisme itu.

Ada yang bilang ini hanya kebetulan alam. Tapi bagi yang beriman, ini adalah "tanda" (ayat) bagi orang-orang yang berpikir.
Jadi, malam ini jangan cari "malam seribu bulan".

Bagaimana menurutmu?

Tak terasa sudah malam 17 Ramadhan ...Selamat malam dimalam Nuzulul Qur'an ...Semoga kita bisa menjalankan puasa dengan ...
06/03/2026

Tak terasa sudah malam 17 Ramadhan ...

Selamat malam dimalam Nuzulul Qur'an ...

Semoga kita bisa menjalankan puasa dengan sempurna ...

Sang Pendidik Sejati, Pendidik Hati, Pendidik Ruhani, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.Abuya As-Sayy...
06/03/2026

Sang Pendidik Sejati, Pendidik Hati, Pendidik Ruhani, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

Abuya As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki, Seorang Alim Allamah, Al-Muhaddits (Pakar Hadits), Ahlu Baiti Rosulillah, Kaya Raya dan dermawannya tidak keukur. Dan itu diakui Ulama dunia, buka sekedar pengakuan muridnya. Rumah beliau tempat kedua yang dikunjungi di Makkah setelah Masjidil Haram. Bahka Habib Abdul Qodir bin Ahmad Asseggaf mengatakan “Termasuk kesempurnaan Haji ialah Ziaroh ke As-Sayyid Muhammad Al-Maliki”.

Beliau bukan sekadar seorang pendidik yang mentransfer ilmu. Beliau adalah pendidik hati, pendidik jiwa dan pembina akhlak. Beliau tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi membentuk karakter orang-orang yang dididiknya.

Bahkan didikan itu beliau mulai dari rumahnya sendiri.

Suatu hari, ketika putra beliau Sayyid Alawi masih duduk di bangku sekolah dasar (jika di Indonesia), saat Sayyid Alawi mau berangkat sekolah, Abuya melihat buku tulis anaknya. Di cover buku itu tertulis nama:

“As-Sayyid Alawi.”

Begitu melihatnya, Abuya langsung mencoret kata “As-Sayyid” dari tulisan tersebut. Lalu beliau berkata kepada putranya:

“Jangan memakai gelar Sayyid sekarang. Nanti saja ketika engkau sudah mengajar dan berdakwah.”

Tidak berhenti di situ. Setelah itu Abuya langsung menelepon guru anaknya, yang juga merupakan santri beliau sendiri. Kepada guru tersebut Abuya berpesan:

“Mulai sekarang jangan panggil anak saya dengan sebutan Sayyid. Panggil saja Alawi. Biarkan dia belajar dahulu. Belum waktunya memakai gelar itu.”

Kemudian Abuya menyinggung seseorang -seorang anak dari ulama besar- yang ketika kecil terlalu diagung-agungkan oleh para santri ayahnya. Karena sejak kecil selalu dimuliakan, ia tidak pernah merasakan khidmah dan akhirnya tumbuh dengan sifat sombong.

Abuya tidak ingin hal itu terjadi pada anak-anaknya.

Beliau ingin mereka tumbuh dengan tawadhu’, rendah hati, dan bersih dari kesombongan.

Begitulah cara Abuya mendidik putra-putranya.

Dan hasil didikan itu terlihat nyata.

Kerendahan hati itu juga tampak pada para santri beliau. Banyak dari mereka menjadi ulama besar -baik dari kalangan kiai maupun habaib- namun tetap rendah hati, tidak berlebihan dalam penampilan, dan sangat tawadhu’ kepada siapa saja.

Salah satu contohnya adalah guru kami, Abina KH. Ihya Ulumiddin.

Suatu ketika, saat beliau sedang bersama Abuya dalam sebuah perjalanan di Malaysia, Abi Ihya menelpon seseorang. Karena orang yang ditelepon tidak mengetahui siapa yang berbicara, Abi Ihya spontan berkata:

“Ini saya, Ustadz Ihya.”

Mendengar itu, Abuya langsung menoleh kepadanya dan berkata:

“Ustadz? Engkau ustadz?”

Kemudian Abuya berkata dengan kalimat yang sangat dalam maknanya:

يا إحياء، ما زلتَ طالبًا
“Wahai Ihya’, engkau selamanya tetap seorang santri.”

MasyaAllah.

Begitulah cara Abuya menjaga hati murid-muridnya. Pastinya belia mengaakan itu bukan karena beliau sombong, tetapi Abuya mengingatkan agar benih kesombongan tidak pernah tumbuh di hati muridnya.

Didikan seperti inilah yang membentuk Abi Ihya. Sampai hari ini, kepada para santri beliau sendiri, Abi Ihya tidak pernah menulis “KH. Ihya” atau “Abi Ihya”.

Jika beliau menulis pesan kepada kami para santrinya, beliau menutupnya dengan kalimat:

محبكم، الطالب، إحياء علوم الدين
“Yang mencintai kalian, Kang Santri, Ihya’ Ulumiddin.”

MasyaAllah.

Begitulah didikan sang murabbi, Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki.

Dan kami sendiri bisa menyaksikan buah dari didikan itu ketika berkumpul bersama para murid beliau.

Di antara mereka ada yang sudah sangat sepuh, ada yang memiliki ratusan bahkan puluhan ribu santri, ada p**a yang hanya mengajar sederhana di pesantren-pesantren kecil. Bahkan ada yang tidak punya pondok ataupun jama’ah, hanya ikut ngajar di pesantren temanya. Namun di antara mereka tidak ada sekat.

Santri lama dan santri yang baru p**ang dari Makkah sama saja.
Tidak ada perbedaan antara Kiyai besar, Habib besar, atau anak orang biasa.

Semua merasa satu keluarga.

Semua merasa sebagai anak-anak didik Abuya Al-Maliki.

Bahkan kami yang bukan siapa-siapa (hanya muhibbin yang s**a khidmah) ketika berkumpul bersama beliau-beliau, diperlakukan sama. Jika mereka makan enak, kami juga diajak makan bersama. Tidak ada yang menyendiri, semuanya duduk berbaur penuh kehangatan.

Inilah buah didikan seorang Murabbi Sejati.

Beliau mendidik ilmu,
mendidik akhlak,
mendidik jiwa,
dan mendidik cara bersikap.

Hingga akhirnya para murid beliau -baik dari kalangan Habaib maupun Kiai- tidak pernah membanggakan diri mereka, tidak membanggakan nasab mereka, tidak p**a membanggakan kedudukan mereka.

Yang mereka banggakan hanyalah satu:

Menjadi anak didik Abuya Al-Maliki.

Mereka menisbatkan diri kepada beliau dengan penuh cinta:

أولاد أبوي المالكي

Anak-anak didik Abuya Al-Maliki.

Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau.

رحمه الله تعالى رحمة واسعة

17 RAMADHAN HAUL AHLI BADARPERISTIWA PERANG BADAR17 Ramadhan, yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr al-Kubra. Dim...
05/03/2026

17 RAMADHAN HAUL AHLI BADAR
PERISTIWA PERANG BADAR

17 Ramadhan, yang mengingatkan kita kepada peristiwa Badr al-Kubra. Dimana diterangkannya bendera pembela Sang Nabi Saw, pertamakali ketika beliau Saw. berhadapan dengan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah al-Munawwarah sebelum menuju Badr al-Kubra, maka di saat itulah wajah yang paling ramah, wajah yang paling indah, wajah yang dikatakan oleh Sayyidina Anas bin Malik:

مَارَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبُ مِنْ وَجْهِ النَّبِي

“Tidak ada pemandangan kutemukan lebih indah dari wajah Sang Nabi (Saw.), lebih menakjubkan dari wajah Sang Nabi.”

Ketika berdiri kaum Muhajirin dan Anshar menghadap wajah yang paling mulia, wajah yang paling sopan, wajah yang paling berkasih sayang dari seluruh makhluk Allah, wajah yang dikatakan oleh Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ( القلم : (4

“Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam ayat 4).

Wajah yang selalu menjawab cinta dari semua umat bahkan dari benda mati, demikian Sayyidina Nabi Muhammad Saw. Maka Rasulullah Saw. berkata: “Bagaimana pendapat kalian?” Maka berkata salah seorang Anshar:

لَكَأَنَّكَ تُرِيْدُ مِنَّا يَارَسُولَ اللهِ ؟

“Ya Rasulullah tampaknya engkau menunggu pendapat kami?”

Maka Rasul Saw. berkata: “Betul, bagaimana pendapat kalian wahai kaum Anshar?” Maka salah satu kaum Anshar berkata:

يَارَسُولَ اللهِ اِمْضِ بِنَا لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَكَ, لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا اْلبَحْرَ فَخَضْتَهُ لَخَضْنَاهُ مَعَكَ مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ لَعَلَّ اللهُ يُرِيْكَ مِنَّا مَا تَقَرَّ بِهِ عَيْنُكَ

“Wahai Rasul, kami akan ikut bersamamu ke manapun engkau pergi. Jika engkau mengajak kami ke manapun kami akan ikut. Jika engkau berdiri di depan lautan lalu masuk ke dasar lautan, kami akan ikut dan tidak akan tersisa satu pun dari kami kecuali ikut denganmu. Barangkali dengan itu kami bisa menggembirakan hatimu wahai Rasulullah.”

Maka mereka pun berangkat.

Maka keluarlah dengan dua bendera hitam, satu bendera di tangan Muhajirin satu bendera di tangan Anshar. Bendera Muhajirin di tangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, dan satu bendera di tangan kaum Anshar. Dan Rasulullah Saw. berkata:

“Janganlah kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian. Jangan ada yang bergerak dan berbuat sesuatu sebelum mereka terlebih dahulu berbuat dan menyerang kita.”

Jumlah 313 orang, senjata tidak lengkap menghadapi 3000 pas**an musyrikin Quraisy dengan senjata lengkap dan kuda, pakai baju besi, topi besi, senjata, pedang, siap tempurnya dengan pas**an kuda yang berlapis baja p**a, berhadapan dengan pas**an 313 orang, berapa puluh yang punya pedang, lainnya bawa tombak, lainnya cuma punya panah, lainnya hanya bawa tongkat, dan yang lainnya membawa batu dan alat tani. Inilah keadaan mereka. Allah Swt. berfirman:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ الأنفال :9

“Jika kalian berdoa dan bermunajat meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, sesungguhnya Aku (Allah) akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. al-Anfal ayat 9).

Berkata Abu Sa’id dari kaum Anshar: “Aku buta sejak perang Badr. Kalau seandainya aku tidak buta, aku bisa perlihatkan kalian di mana turunnya pas**an malaikat dari belahan langit di wilayah Badr, karena kejadian itu terjadi di wilayah yang dinamakan Badr tahun ke-2 Hijriah pada hari Jum’at 17 Ramadhan.”

Demikian indahnya peperangan Badr al-Kubra ini. Ketika Sayyidina Abu Thalhah al-Anshari Ra. yang sangat mencintai Sang Nabi Saw, yang berlutut di tengah-tengah peperangan seraya berkata kepada Rasulullah:

وَجْهِيْ لِوَجْهِكَ اْلوِقَاءُ وَنَفْسِيَ لِنَفْسِكَ اْلفِدَاءُ

“Wajahku ini siap menjadi tameng bagi segala serangan di wajahmu ya Rasul, jiwa dan ragaku siap untuk membentengimu wahai Nabi dari segala panah dan senjata.”

Maka orang seperti Abu Thalhah ini kata Rasul Saw.: “Abu Thalhah ka alf min ummati (Abu Thalhah seperti 1000 orang kekuatannya dalam umatku ). Demikian keadaan para pencinta Rasul Saw. yang mempunyai kekuatan yang demikian dahsyat.

Selanjutnya

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah ini di dalam peperangan Badr pedangnya jatuh karena kantuknya, karena sepanjang malam qiyamullail di saat perang terjatuh pedangnya. Bagaimana manusia perang dengan hawa nafsu, kalau ia perang dengan hawa nafsu tentunya ia tidak akan bisa memejamkan mata sekejap pun dari melihat serangan pedang 3000 orang pas**an kuffar Quraisy dengan senjata lengkap masih bisa terkantuk-kantuk, menunjukkan mereka memang mempunyai jiwa-jiwa yang suci dan damai, bahkan Sang Nabi mengatakan: “Jangan menyerang sebelum mereka menyerang.”

Manusia yang paling tidak menghendaki permusuhan walau terhadap orang-orang yang paling jahat memusuhi beliau, bahkan pada saat perang Uhud ketika panah besi menembus rahang beliau, dan beliau Saw. roboh maka saat itu berdiri Sayyidina Abu Thalhah di depan beliau, dan Rasul berdiri lagi untuk melihat keadaan pas**annya yang kacau balau karena diserang kaum kuffar, maka Abu Thalhah berkata: “Tetap duduk wahai Rasul jangan berdiri sungguh.

وَجْهِيْ لَيْسَ بِوَجْهِكَ وَصَدْرِيْ لَيْسَ بِصَدْرِكَ

“Badr (wajahku bukan wajahmu, dadaku bukan dadamu), biar aku yang kena serangan panah jangan engkau kena serangan lagi, tetap di tempatmu wahai Rasul.”

Dan Rasul sudah mengalir darah, karena panah besi menghantam dari perisai baja yang ada di tangan Sang Nabi dan sedemikian kerasnya sampai menembus baja tersebut dan menembus tulang rahang beliau. Maka Sayyidatuna Fathimah az-Zahra. dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari datang kepada Nabi dan membersihkan darah yang mengalir dari wajah beliau.

Al-Imam Ibn Hajar al-Asqalani di dalam Fathul Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa Rasul memegang rida’nya (sorban di pundak yang sering juga dililitkan di leher beliau Saw.), menahan jangan sampai darah jatuh ke tanah. Maka para sahabat berkata: “Biar dulu darahnya jatuh ke tanah wahai Rasul, kita urus panah besi di rahangmu masih menempel.”

Maka Rasul berkata: “Kalau ada darah dari wajahku jatuh ke tanah, Allah akan tumpahkan bala’ untuk mereka.” Maka Rasul tidak ingin bala’ ini tumpah pada mereka yang memerangi beliau, inilah Sayyidina Muhammad Sa. Panah besi menembus rahang beliau, beliau masih sibuk menjaga jangan sampai setetes darah jatuh ke tanah, karena nanti Allah akan murka kalau sampai ada setetes darah dari wajah beliau jatuh ke bumi, Allah akan menumpahkan bala’ untuk mereka. Rasul masih ingin mereka masuk Islam lalu keturunannya mendapat hidayah. Demikian manusia yang paling indah Sayyidina Muhammad Saw. Perang Badr berakhir dengan kemenangan.

Selesai perang Badr, maka Rasulullah Saw. bersabda: “Allah telah berfirman kepada Ahlul Badr dalam hadits qudsi riwayat Shahih Bukhari:

اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ يَاأَهْلَ اْلبَدْرِ قَدْ غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَكُمْ مَاتَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ

“Beramallah semau kalian wahai ahlul Badr, karena Allah telah mengampuni dosa kalian yang telah lalu dan yang akan datang.”

Maka Sayyidina Utsman berkata: “Ya Rasulullah, aku tidak hadir perang Badr, aku menjaga putrimu.” Maka Rasulullah berkata: “Kau dapat pahala Badr, dan kau dalam kelompok Ahlul Badr.”

Karena beliau (Sayyidina Utsman) menjaga putri Rasul, mengorbankan hadir dari perang Badr maka Allah memberikan baginya pahala kemuliaan Badr al-Kubra. Inilah indahnya sunnah Nabi kita Muhammad Saw.: “Berbuatlah semampunya.”

Semoga Allah Swt. memuliakan kita dalam rahasia keagungan Badr al-Kubra ini dan kemuliaan Nuzulul Quran. Rabbi... Rabbi... halalkan seluruh wajah kami mendapatkan cahaya kemuliaan Nuzulul Quran, pastikan kami semua kelak dalam kelompok Ahlul Badr, ketika dipanggil di yaumul qiyamah wahai Ahlul Badr berdirilah, pastikan kami berdiri diantara para pencinta Ahlul Badr. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali Wal Ikram.

Pada tanggal 17 Ramadhan terjadi peristiwa besar dalam islam, yaitu "Perang Badr".

Para Ulama' mengatakan bahwa Allah sangat mencintai ahli Badr..

Berikut nama2 Shahabat yg ikut PERANG BADR bersama Baginda Nabi Muhammad ﷺ :

1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah ﷺ
2. Abu Bakr ash-Shiddiq r.a.
3. 'Umar bin Khoththob r.a.
4. 'Utsman bin 'Affan r.a.
5. 'Ali bin Abi Tholib r.a.
6. Tholhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Robbah r.a.
8. Hamzah bin 'Abdul Muththolib r.a.
9. 'Abdulloh bin Jahsyi r.a.
10. Zubair bin Awwam r.a.
11. Mus’ab bin 'Umair bin Hasyim r.a.
12. 'Abdurrohman bin ‘Auf r.a.
13. 'Abdulloh bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqos r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Husain bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
22. Tufail bin Harits bin 'Abdul Muththolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin 'Abdul Muththolib r.a.
24. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Robi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Hudzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Robi’ah bin Aksam r.a.
36. Thoqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Robi’ah r.a.
48. Zus Syimalain 'Amru bin 'Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin 'Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin Khoththob r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. 'Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula 'Umar bin Khoththob) r.a.
62. Waqid bin 'Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. 'Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Utsman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. 'Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harits r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. 'Abdullah bin Makhramah r.a.
78. 'Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. 'Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harits r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harits bin Aus r.a.
91. Al-Harits bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Tsabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harits bin Khazamah bin ‘Adi r.a.

98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. 'Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. 'Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harits bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. 'Abdullah bin Thoriq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. 'Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tsa’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Tsabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tsa’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. 'Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Tsabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Tsabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Tsabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Tsabit r.a.
138. Al-Harits bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tsa’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. 'Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tsa’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tsa’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. 'Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harits bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. 'Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tsa’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. 'Abdullah bin 'Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. 'Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. 'Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. 'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin 'Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin 'Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tsa’labah r.a.
178. Tsabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tsa’labah bin Khazamah r.a.
186. 'Abdullah bin Tsa’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. 'Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.

199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. 'Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Mu'adz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Tsabit bin al-Jiz’i r.a.
209. 'Umair bin al-Harits bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. 'Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin 'Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. 'Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. 'Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Haritsah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. 'Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. 'Abdullah bin 'Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin 'Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Mu'adz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harits bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Utsman r.a.
242. ‘Uqbah bin Utsman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Mu'adz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Anshori r.a.
260. Tsabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin 'Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harits bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harits bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. 'Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Tsabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tsa’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harits bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Tsabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Tsabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Tsabit r.a.
285. Haritsah bin Suraqah bin al-Harits r.a.
286. Amru bin Tsa’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Tsabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.

292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harits bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. 'Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tsa’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harits bin Tsa’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin 'Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khodam Nabi Muhammad ﷺ)

Lahum... al-Faatihah

Address

Sumber

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Madad Rosulullah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share