Kisah sang pena

Kisah sang pena kreator digital
cerita novel
cerita horor
cerita romantis
cerita masa depan

Hantu di Sekolah LamaDi sebuah kota kecil yang terpencil, terdapat sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan selama ber...
22/11/2025

Hantu di Sekolah Lama
Di sebuah kota kecil yang terpencil, terdapat sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan selama bertahun-tahun. Namanya adalah SD Kayu. Banyak cerita mengerikan yang berkembang di sekitar sekolah tersebut, dan kebanyakan orang menghindarinya karena reputasinya sebagai tempat yang angker dan berhantu.

Tiga pelajar bernama Maya, Rian, dan Dika sangat penasaran dengan cerita-cerita tentang sekolah tersebut. Mereka memutuskan untuk memeriksanya sendiri pada malam Minggu. Tanpa memberi tahu orang tua mereka, mereka berencana menyelinap masuk ke gedung sekolah pada tengah malam.

Pada malam Minggu, ketiganya bertemu di depan gerbang sekolah yang tua dan menakutkan itu. Mereka membawa senter, kamera, dan peta sekolah yang mereka temukan di internet. Meskipun ketakutan, mereka merasa bersemangat untuk mengeksplorasi apa yang ada di dalam.

Saat mereka memasuki sekolah, suasana segera menjadi gelap dan menakutkan. Langkah mereka bergema di lorong-lorong kosong yang dipenuhi oleh bayangan-bayangan yang menyeramkan. Namun, mereka tidak menemukan apa pun yang mencurigakan hingga mereka mencapai lantai atas.

Di sana, mereka menemukan sebuah pintu yang tertutup rapat. Maya, yang paling penasaran, mencoba membukanya. Namun, pintu itu terkunci kuat. Rian menyarankan untuk meninggalkan pintu itu saja, tetapi Dika ingin mencari kunci di sekitar.

Saat Dika berjalan menjauh, Maya dan Rian mendengar suara aneh dari balik pintu tersebut. Suara itu terdengar seperti bisikan angin yang menyeramkan, membuat mereka merinding. Mereka mencoba memanggil Dika, tetapi tidak ada jawaban.

Ketika mereka berdua berbalik untuk mencari Dika, mereka melihat sesosok bayangan gelap yang mengintai dari balik sudut lorong. Tanpa berpikir panjang, mereka berlari menjauh, mencari tempat persembunyian.

Mereka berhasil bersembunyi di ruangan kecil yang tersembunyi di salah satu sudut sekolah. Mereka berdua diam seribu bahasa, menunggu dengan ketakutan. Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

Takut dan terpojok, Maya dan Rian mengunci pintu ruangan itu dan bersembunyi di bawah meja. Mereka merasa napas mereka tersangkut saat pintu itu digoyang-goyangkan dengan keras.

Namun, tiba-tiba, suara itu berhenti. Maya dan Rian menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada yang terjadi. Akhirnya, mereka memutuskan untuk keluar dari persembunyian mereka dan mencari tahu apa yang telah terjadi pada Dika.

Namun, ketika mereka membuka pintu, mereka kaget dengan apa yang mereka temukan. Di depan mereka, terbaring Dika dalam keadaan tidak bergerak, matanya terbelalak dan bibirnya berbusa. Di sekelilingnya, bayangan-bayangan gelap menyelimuti.

Tanpa berpikir panjang, Maya dan Rian memutuskan untuk membawa Dika keluar dari sekolah tersebut. Mereka menggendongnya dengan hati-hati dan berlari secepat mungkin keluar dari bangunan itu.

Setelah mereka keluar, mereka segera memanggil bantuan. Dika dilarikan ke rumah sakit, dan setelah beberapa hari, dia akhirnya sadar. Namun, dia tidak pernah bisa mengingat apa yang terjadi padanya di dalam sekolah itu.

Sejak kejadian itu, mereka bertiga bersumpah untuk tidak pernah lagi memasuki SD Kayu. Mereka juga menyadari bahwa cerita-cerita tentang rumah hantu itu tidak hanya sekadar legenda, melainkan kenyataan yang menakutkan.

Cinta di Perpustakaan
Di sebuah sekolah yang ramai, ada seorang siswi bernama Maya yang gemar membaca. Setiap hari setelah pulang sekolah, dia selalu menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah, menyelami dunia-dunia baru melalui buku-buku yang dipilihnya.

Pada suatu hari, saat Maya sedang asyik membaca di sudut favoritnya, dia melihat seorang siswa baru yang duduk di seberangnya. Namanya Rian. Rian anak yang pendiam, tetapi Maya melihat kilatan minat di matanya saat dia membuka buku tebal tentang sejarah.

Maya merasa penasaran dengan Rian dan kehadirannya di perpustakaan. Setiap hari, dia memperhatikannya dari kejauhan, berharap bisa bertegur sapa dengannya. Namun, dia ragu untuk mengganggu ketenangan Rian yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri.

Namun, suatu hari, saat Maya sibuk mengatur bukunya, dia secara tidak sengaja menjatuhkan tumpukan buku yang disusunnya. Dengan canggung, dia mencoba mengambilnya kembali, tetapi buku-buku itu tercecer di lantai.

Rian, yang duduk di sebelahnya, melihat kejadian itu dan dengan cepat memberikan bantuan. Maya merasa malu, tetapi Rian hanya tersenyum kecil sambil membantunya mengumpulkan buku-buku tersebut. Mereka berdua kemudian berbicara tentang buku-buku yang mereka sukai dan perlahan-lahan mulai terjalin sebuah percakapan.

Sejak hari itu, Maya dan Rian sering bertemu di perpustakaan. Mereka saling berbagi cerita tentang buku favorit mereka, impian, dan ketertarikan mereka terhadap dunia sejarah dan sastra. Waktu yang mereka habiskan bersama membuat mereka semakin akrab satu sama lain.

Suatu hari, ketika hujan turun dengan lebatnya, Maya dan Rian terjebak di perpustakaan karena hujan deras di luar. Mereka duduk di lantai bersama-sama, mengobrol dan tertawa, lalu menemukan kesamaan minat mereka dalam membaca.

Di tengah canda tawa mereka, Rian tiba-tiba menatap mata Maya dengan penuh keberanian. Dengan suara lembut, dia mengakui perasaannya kepada Maya. Dia mengungkapkan betapa spesialnya Maya baginya dan bagaimana dia selalu menantikan setiap hari untuk bertemu dengannya di perpustakaan.

Maya tersenyum dengan hangat, merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Dia juga merasakan hal yang sama terhadap Rian. Dengan gemetar, dia menjawab perasaan Rian dan menyatakan bahwa dia juga merasakan hal yang sama.

Di bawah atap perpustakaan yang hangat dan nyaman, di antara buku-buku yang mereka cintai, Maya dan Rian menemukan cinta mereka yang murni dan tak terduga. Dari hari itu, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat untuk membaca, tetapi juga tempat di mana cerita cinta mereka dimulai.

Lagi promo nih pemirsah☺️
16/11/2025

Lagi promo nih pemirsah☺️

16/11/2025

Halo semuanya! 🌟 Anda bisa mendukung saya dengan mengirim Bintang, itu membantu saya mendapatkan uang untuk terus membuat konten yang Anda sukai.

Setiap kali Anda melihat Stars, Anda bisa mengirimi saya Stars!

Belanja mingguan Cek jangkauan yuk hadir dari mana aja nih😊
16/11/2025

Belanja mingguan

Cek jangkauan yuk hadir dari mana aja nih😊

16/11/2025

Setiap penyakit sudah ada obatnya

16/12/2024

"Nggak usah lebay, orang meninggal itu mah biasa. Tinggal digalikan lubang terus dipendam. Atau juga kalo gak mau repot, hayutkan ke sungai mengalir, ya, beres. Haaa ...."

"Iya, betul itu. Nggak usah banyak gaya mau bikin acara pesta kematian segala!"

"Baguslah dia cepat k0it, berarti kamu tak perlu repot-repot lagi mengurusi dia yang penyakitan lagi."

"Pulang sana, kami tak sudi mengurusi mayat suamimu yang semasa hidupnya tak pernah berguna itu!"

Begitulah kata-kata yang kudapat saat datang ke rumah Ayah dan Ibu yang juga dihuni oleh saudara-saudaraku itu, padahal aku ke sana dengan membawa berita duka meninggalnya Bang Wawan--suamiku. Pria yang sudah 10 tahun membina rumah tangga dalam kesederhanaan juga cinta kasih bersamaku. Rumah tangga kami bahagia, walau kami miskin.

Kupercepat langkah menuju gubuk kami, di mana Winka--putriku yang berusia 8 tahun itu kusuruh menunggui jenazah Ayahnya.

Saat tiba di sana, terlihat sudah ada satu orang tetangga yang datang padahal aku belum memberitahu mereka, sebab yang kuutamakan adalah memberi kabar kepada keluargaku. Kalau almarhum Bang Wawan, dia itu seorang perantau dan katanya dulu sudah tak punya sanak family lagi.

"Innalillah wa inna illaihiroji'un, saya turut berduka cita, ya, Wulan." Bu RT memeluk tubuh kurusku saat tiba di depan rumah.

"Terima kasih, Bu RT." Aku menyeka wajah yang sembab karena banjir air mata sedari tadi. "Bu RT tahu dari mana?"

"Tadi saya bawa pisang goreng untuk Winka dan ternyata ... Dia sedang menangisi jenazah ayahnya," jawab Bu RT sambil melepaskan pelukannya dariku.

Aku menarik napas panjang sambil mengelap air mata dengan ujung jilbab.

"Kamu dari mana? Saudara-saudara juga orangtuamu apa sudah diberitahu?" tanya Bu RT sambil menuntunku masuk.

"Mereka tak ada yang perduli, Bu RT. Biarlah saya sendiri yang akan mengurus jenazah Bang Wawan," jawabku dengan tak dapat menghentikan tangis.

"Astaghfirullahal'adzim, tega sekali mereka." Bu RT terlihat kaget.

"Aku membenci mereka semua, Bu. Baiklah, aku bisa sendiri dan aku takkan pernah datang kepada mereka lagi." Kukepalkan tangan ini, dada terasa sesak karena segala kesedihan yang kini sudah bercampur dengan dendam.

"Sudahlah, saya akan beritahu warga sekitar tentang meninggalnya suamimu, kami semua akan membantu proses pemakamannya. Kamu tenang saja!" Bu RT menepuk pundakku.

Aku berusaha menguatkan diri, semua demi Winka--putriku. Kalau tak mengingat dia, mungkin aku sudah mengakhiri hidup dan pergi menyusul Bang Wawan.

Ya Allah, dengan apa jenazah Bang Wawan akan kubungkus? Sedangkan aku tak mempunyai uang sepeser pun untuk membeli kain kafan untuk suamiku. Dadaku semakin sesak saja memikirkan semua ini.

Taklama berselang, beberapa warga mulai berdatangan untuk melayat. Aku sedikit lega karena masih ada yang peduli, walau keluarga sendiri tak dapat diharapkan.

Usai dimandikan, aku semakin kebingungan jika warga menanyakan kain kafan untuk suamiku. Ya Allah, hari ini aku benar-benar merasa tak berarti sebagai seorang istri, karena tak bisa mengusahakan pakaian terakhir suamiku sebelum ia dimasukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

"Bu RT, saya ... Tak punya uang buat beli kain kafan .... " ujarku pelan sambil menyeka air mata.

"Tak perlu kamu risaukan itu, Wulan, kami sudah menyiapkan segalanya. Hmm ... Masalah pemakaman bagaimana, mau dimakamkan di mana almarhum?" kata Bu RT.

Aku tertegun, hati sedikit lega karena urusan kain kafan telah selesai, tinggal masalah makamnya lagi. Aku tahu, pemakaman di sini tidak gratis dan biaya administrasinya, walau hanya 100ribu tapi benar-benar tak punya uang sama sekali.

"Dimakamkan di halaman rumah saja, Bu RT," kataku.

"Serius kamu, Wulan? Kamu tak perlu memikirkan semua biayanya, semuanya gratis karena akan diambil dari uang kas desa." Bu RT mengerutkan dahinya.

"Serius, Bu RT. Biarlah jenazah Bang Wawan dimakamkan di depan rumah saja, saya ucapkan terima kasih atas bantuan Bu RT, Pak RT dan semua warga. Saya takkan melupakan kebaikan kalian semua," ujarku dengan menyeka air mata yang terus saja mengalir dengan derasnya.

Singkat cerita, kini jenazah suamiku telah disemayamkan di depan rumah kami. Semua warga sudah pulang ke rumah masing-masing, dan aku berhutang budi dengan mereka.

Bang Wawan telah tenang sekarang, dia sudah tak sakit lagi. Sesungguhnya aku ikhlas, Tuhan, sebab yang bernyawa tetap akan menemui kematian. Yang kusesalkan hingga saat ini adalah sikap keluargaku, mereka manusia paling tega.

***

"Akhirnya kamu mengikuti saranku juga, orang mati mah tinggal digalikan lubang dan ditanam." Bang Wahyu--abang tertuaku datang ke rumahku beberapa hari kemudian setelah meninggalnya suamiku.

Aku hanya diam sambil mengupas ubi yang akan kurebus buat sarapan bersama Winka--putriku.

"Segeralah berdandan yang cantik, Abang akan memperkenalkanmu dengan saudagar kaya raya biar kamu tak perlu makan ubi terus tiap hari!" ujarnya lagi.

"Tidak usah repot-repot, Bang, aku tak berniat menikah lagi. Tanah kuburan suamiku belum juga kering, tapi Abang---" Aku menatap sesak.

"Wulan, kalau dari dulu kamu mendengarkan perkataan Abangmu ini, kamu takkan melarat begini dan jadi janda miskin! Menurut saja, biar hidupmu enak! Abang akan menjodohkanmu dengan Saudagar Gani dan dia sudah setuju menjadikanmu istri kelimanya," ujarnya lagi.

Dadaku semakin sesak saja mendengar perkataan Bang Wahyu, seenaknya saja dia ingin menikahkanku dengan saudara banyak istri itu. Aku tidak mau!

"Segera pergi dari rumahku! Anggap aku sudah mati, jadi kamu tak perlu merisaukan masalah hidupku, wahai Tuan Wahyu yang terhormat!!!" Kuarahkan pisau pengupas ubi itu ke arah pria berkumis tebal itu.

"Hey, sudah gil4 kamu, Wulan!" bentaknya garang.

"Jangan mengurusi hidupku lagi, pergi dari sini!" Aku tak takut kepadanya.

"Kamu akan masuk penjara, Wulan, buang pisau itu!" bentaknya garang namun turun juga dari rumahku.

"Aku tak perduli, enyahlah Abang dari rumahku dan jangan coba-coba mengatur hidupku lagi!!!" teriakku histeris dengan emosi yang sudah tak terkontrol lagi.

Tiba-tiba, terlihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahku. Lalu turunlah beberapa orang dari kendaraan mewah ini.

Jantungku yang sedari tadi berdebar kencang karena marah dengan Bang Wahyu, kini semakin bertabu-tabu karena melihat pria mirip suamiku yang berdiri diantara orang-orang yang keluar dari dalam mobil itu.

Siapa mereka? Pis4u di tangan ini jatuh perlahan. Tak hanya aku yang terbengong melihat rombongan orang-orang yang memasuki perkarangan rumah gubukku, tapi Bang Wahyu juga.

Bersambung ....

***

16/11/2024

Happy weekend

Bantu up akun pemula ka
16/11/2024

Bantu up akun pemula ka

Address

Sumber

Telephone

+6281911803924

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kisah sang pena posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kisah sang pena:

Share