19/01/2025
Bab 10 (Lanjutan): Bisikan di Balik Cahaya
Ketika cahaya di sekitar mereka mulai meredup, Raka dan Nadya mendengar suara lembut namun tegas, seperti bisikan yang datang dari segala arah.
"Kalian telah melangkah sejauh ini. Namun, perjalanan ini tidak hanya tentang menemukan kebenaran, tetapi juga memahami hati kalian masing-masing."
Nadya menoleh ke segala penjuru, berusaha menemukan sumber suara itu. “Siapa itu? Apa yang kau maksud dengan memahami hati kami?”
Tidak ada jawaban. Sebagai gantinya, lantai kaca di bawah mereka mulai bergetar, menampilkan refleksi berbeda. Kali ini, gambar yang muncul adalah ruangan gelap dengan sebuah pintu kayu besar di tengahnya. Pada pintu itu terdapat ukiran rumit yang menyerupai pola bunga, sama seperti yang mereka lihat sebelumnya.
Raka mengernyit, mencoba memahami maknanya. “Itu seperti… simbol yang sering muncul di perjalanan kita.” Ia menoleh ke Nadya. “Kau merasa ini penting?”
Nadya mengangguk pelan. “Iya, tapi aku juga merasa bahwa pintu itu menyimpan sesuatu yang tidak ingin kita lihat.”
Sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, suara itu kembali bergema.
"Keberanian adalah kunci untuk membuka pintu. Namun, setiap kunci memiliki harga yang harus dibayar."
Raka menggenggam tangan Nadya lebih erat. “Apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu.”
Nadya menatapnya sejenak, lalu menghela napas panjang. “Dan aku akan menghadapi ini bersamamu.”
Tanpa ragu, mereka berdua berjalan menuju pantulan pintu yang terlihat di lantai kaca. Dengan setiap langkah, ruang di sekitar mereka berubah—langit ungu perlahan menjadi kelabu, dan lantai kaca di bawah kaki mereka mulai retak seperti es yang mencair.
“Raka, apa yang terjadi?” Nadya berteriak, panik, saat lantai di bawah mereka tiba-tiba runtuh.
Raka meraih tangannya, menariknya erat ke dalam pelukannya. “Jangan takut! Aku tidak akan melepaskanmu!”
Mereka jatuh ke dalam kegelapan. Rasanya seperti terjatuh tanpa ujung, tetapi suara detak jantung Raka yang kuat di dada Nadya membuatnya merasa aman. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, mereka mendarat dengan lembut di tanah yang empuk, seperti dipenuhi rumput yang baru tumbuh.
Ketika Nadya membuka matanya, ia mendapati mereka berada di depan pintu besar seperti yang ada dalam refleksi tadi. Pintu itu terlihat lebih nyata, dengan ukiran bunga yang berpendar lembut dalam warna emas.
“Ini dia,” gumam Nadya, suaranya dipenuhi kekaguman dan kecemasan. “Pintu yang terkunci.”
Raka berjalan mendekati pintu itu, namun ia berhenti beberapa langkah di depannya, merasa ada sesuatu yang menghalanginya. “Nadya, ini pintumu.”
“Pintuku?” Nadya mengerutkan kening. “Maksudmu, hanya aku yang bisa membukanya?”
Raka mengangguk. “Aku merasa… ini adalah bagian dari perjalananmu, Nadya. Aku hanya bisa ada di sisimu.”
Nadya menatap pintu itu dengan ragu. Ada sesuatu yang memanggilnya, tetapi juga ada ketakutan besar yang menyelimuti hatinya. “Bagaimana jika aku tidak siap?”
Raka meletakkan tangannya di pundaknya, memberikan kekuatan. “Kau tidak perlu siap sepenuhnya. Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri.”
Dengan napas yang berat, Nadya melangkah mendekati pintu itu. Saat ia menyentuh ukiran bunga di permukaannya, pintu itu bergetar pelan, memancarkan cahaya yang begitu terang hingga membuatnya harus menutup mata.
Ketika cahaya itu mereda, pintu perlahan terbuka, memperlihatkan lorong panjang yang dipenuhi cahaya berkilauan, seperti ribuan bintang yang berjatuhan. Di ujung lorong itu, terlihat sebuah bayangan—bayangan seseorang yang Nadya kenal.
“Ibu?” Nadya berbisik, langkahnya terhenti di ambang pintu.
Suara lembut itu kembali bergema, seperti angin yang berdesir di telinga mereka.
"Setiap langkah yang kau ambil di lorong ini akan membawamu lebih dekat pada kebenaran, tetapi juga mengungkap luka yang telah lama kau sembunyikan. Apakah kau siap untuk melanjutkan?"
Nadya menoleh pada Raka, mencari keberanian dalam tatapannya. Raka mengangguk, memberikan senyum yang menenangkan. “Aku ada di sini.”
Dengan keyakinan yang perlahan tumbuh, Nadya melangkah masuk ke dalam lorong, sementara pintu di belakang mereka perlahan menutup, meninggalkan mereka dalam perjalanan menuju misteri berikutnya.
(Bersambung…)