Sinar Dharma

Sinar Dharma National Buddhist Magazine based in Surabaya

Bringing you to the: - Buddhist News Around the World - Local Buddhist News - Latest Buddhist Celebrities - Movies and Buddhism - Buddhist Architecture - Dharma Teaching from Theravada, Mahayana and Vajrayana - Culture and Buddhism (Theravada, Mahayana and Vajrayana) - Chan Story - Biography of High Monks - Biography of Buddhist Deities - Buddhist Filial Piety

Mission: Propagate Buddhism, Building Compassionate Society

Timeline Photos
03/05/2019

Timeline Photos

Sinar Dharma
21/04/2019

Sinar Dharma

21/04/2019
21/04/2019
Sinar Dharma

Sinar Dharma

不向外觅 反观自己
Jangan Mencari Ke Luar –
Lihatlah Ke Dalam

... mereka yang mengerti hukum karma, tidak akan mengeluh;
mereka yang memahami diri sendiri, tidak akan menyalahkan orang lain ...

Lima indra dan pikiran kita menyukai dan mengejar objek-objek eksternal. Mata menyukai wujud-wujud yang indah, telinga mencari suara-suara yang merdu, hidung terlena dalam bau-bau yang wangi, lidah mengecap rasa-rasa yang enak, kulit ketagihan akan sentuhan-sentuhan lembut, demikianlah pikiran kita terseret menyukai dan mengejar objek-objek eksternal yang dianggap menyenangkan tersebut. Ini bukan kesalahan lima organ indra, melainkan ketidaktahuanlah penyebabnya.
Kebodohan batin menutupi pikiran kita, sehingga pikiran yang seharusnya murni itu menjadi bodoh, tidak bisa membedakan antara yang nyata dan ilusi, tidak bisa membedakan tampak luar dan sifat hakiki. Sebenarnya kebodohan batin ini tidaklah bodoh, justru sebaliknya, kebodohan batin ini pintar sekali, dia pintar mengejar dan mewujudkan objek-objek menyenangkan yang dicarinya. Namun ini bukanlah hal yang menggembirakan karena kepintaran ini mengejar ke arah yang salah. Sebab itulah, meskipun pintar tapi sebenarnya bodoh. Bisa juga dikatakan, pintar membodohkan kita.
Manusia mengejar objek-objek eksternal yang dianggap menyenangkan, bahkan menggantungkan keselamatan dan kekekalan pada kekuatan adi kuasa di luar diri. Tidak sedikit umat Buddha yang juga melakukan kekeliruan ini. Mereka memohon rezeki, juga penyelamatan, kepada Buddha dan Bodhisattva. Rezeki dan keselamatan itu bukan didapatkan dari meminta, melainkan dari daya upaya yang kita lakukan. Sebab itu, hendaknya dipahami bahwa rupang Buddha dan Bodhisattva di vihara maupun di altar sembahyang di rumah bukanlah berhala, juga bukan pemberi rezeki dan keselamatan. Buddha dan para Bodhisattva adalah guru dan tokoh-tokoh suci yang kita puja dan hormati. Rupang-rupang itu adalah media pernyataan penghormatan kita, adalah media pendorong agar kita senantiasa berdayaupaya untuk berlatih dan mempraktikkan ajaran Buddha, merupakan media pengingat agar kita tidak melupakan ikrar awal Batin Pencerahan, juga merupakan media penyadar agar kita jangan lagi tertipu oleh kekotoran batin. Yang terpenting, rupang Buddha dan Bodhisattva adalah media yang mengantar kita pada pencerahan bahwa belajar Buddha Dharma itu bukan untuk menemukan Buddha, melainkan untuk menemukan diri kita sendiri.
Dalam Sutra Intan disebutkan, kalau ingin melihat Buddha dalam bentuk wujud, mencari Buddha dalam bentuk suara, itu adalah metode praktik yang tidak benar, tidak akan mungkin bisa menemukan Tathagata. Wujud dan suara itu adalah bentuk-bentuk objek eksternal yang ilusi. Ingin melihat penampakan Buddha, atau mendengar suara Buddha, itu adalah mengharapkan mukjizat, bukan benar-benar ingin menemukan Buddha, adalah praktik tidak benar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki pengertian dan pandangan benar. Bila ingin menemukan Buddha, jangan melekat pada bentuk wujud maupun suara, itu adalah hal-hal eksternal yang ilusi, carilah ke dalam, temukan diri sendiri maka kita akan menemukan Buddha. Batin kita adalah Buddha, Buddha adalah batin kita. Batin kita yang murni adalah Buddha, Buddha adalah batin kita yang murni.
Puisi yang bisa kita temukan di dalam cerita Catatan Perjalanan ke Barat berikut ini menjelaskan makna mengapa harus mencari ke dalam.
“Buddha berada di Gunung Gridhrakuta jangan mencari di tempat yang jauh,
Gunung Gridhrakuta itu ada di dalam batinmu sendiri,
Setiap orang mempunyai Pagoda Gunung Gridhrakuta,
Berlatihlah dengan sebaik-baiknya di Pagoda Gunung Gridhrakuta.”
Gunung Gridhrakuta atau Gunung Kepala Burung Nasar berada di sebelah timur kota Rajagriha, India, adalah salah satu tempat Buddha membabarkan Dharma, juga merupakan tempat Pesamuan Pertama Sutta Kanon Pali.
Di manakah Buddha itu? “Buddha berada di Gunung Gridhrakuta jangan mencari di tempat yang jauh.” Gunung Gridhrakuta itu bukan gunung yang berada jauh di India. “Gunung Gridhrakuta itu ada di dalam batinmu sendiri.” Sebenarnya Gunung Gridhrakuta itu berada di dalam batin kita. “Setiap orang mempunyai Pagoda Gunung Gridhrakuta.” Di dalam batin setiap makhluk terdapat sebuah pagoda, Pagoda Gunung Gridhrakuta. “Berlatihlah dengan sebaik-baiknya di Pagoda Gunung Gridhrakuta.” Sebab itu, janganlah mencari di luar di tempat yang jauh, namun lihatlah ke dalam, tempalah batin kita dengan sebaik-baiknya, agar menemukan kembali batin yang murni itu.
Mencari ke luar adalah sia-sia, adalah metode yang tidak benar. Kita dan Buddha mempunyai hakikat yang sama, bedanya adalah Buddha telah tersadarkan dan terbebas mencapai Nirvana, sementara kita masih terlena dalam mimpi dan terus terombang-ambing dalam samudra penderitaan kelahiran-kematian.
Untuk bisa menemukan kembali batin yang murni, kita bisa mengacu pada praktik yang diterapkan oleh Bodhisattva Mahasthamaprapta, Bodhisattva Avalokitesvara, dan Master Hsu Yun. Dalam Sutra Surangama dijelaskan praktik melihat ke dalam yang dipraktikkan oleh Bodhisattva Avalokitesvara (Guan Yin), yakni metoda kesempurnaan melalui indra telinga (metoda mendengarkan suara).
Praktik melihat ke dalam Avalokistevara ini berfokus pada suara yang terdengar oleh telinga. Pada awalnya kita hanya mendengarkan sebagaimana adanya, jangan ditunggangi perasaan suka atau tidak suka terhadap suara yang terdengar itu. Setelah itu, alih-alih mencari ke luar mendengarkan suara, kita berfokus ke dalam, siapa yang sedang mendengarkan suara ini? Alhasil, karena kita berfokus pada “siapa yang mendengar”, jadi meskipun indra telinga kita sedang mendengar namun suara “apa yang terdengar” itu sudah tidak terdengar lagi. Ketika “apa yang terdengar” yang bersifat dinamik itu sudah tidak terdengar lagi, maka muncullah keheningan yang bersifat statik. Saat itu tetaplah berfokus pada “siapa yang mendengar”, maka keheningan statik itu juga akan lenyap/musnah. Inilah yang dalam Sutra dinamakan kondisi “musnahnya dua wujud dinamik dan statik”. Sampai tahap ini kita berhasil mencapai kondisi terbebas dari jeratan wujud (skandha pertama—rupa).
Demikianlah bila kemampuan konsentrasi ini terus dilatih dan berangsur meningkat menuju tahap yang lebih tinggi, maka seiring musnahnya “apa yang terdengar” yang bisa didengar, maka fungsi indra pendengar yang bisa mendengar juga ikut musnah, inilah kondisi musnahnya yang bisa didengar dan yang bisa mendengar. Tercapailah pencerahan bahwa tubuh ini kosong adanya dan tercapailah kondisi terbebas dari jeratan perasaan (skandha kedua—vedana).
Terus amati dan cari ke dalam, jangan berhenti pada kondisi ini. Meskipun telah menyadari sifat kekosongan dari yang bisa didengar dan yang bisa mendengar, tetapi dari mana kita bisa menyadari kekosongan ini? Kita menyadari kekosongan ini karena adanya sesuatu yang bisa merasakan dan ada yang bisa dirasakan. Namun masih merasakan adanya kekosongan menunjukkan masih adanya aku/diri. Teruslah berpraktik, hingga mencapai kondisi tidak ada yang bisa merasakan pun tidak ada yang bisa dirasakan. Inilah kondisi terbebas dari jeratan pencerapan (skandha ketiga—sanjna).
Meskipun telah mencapai kondisi kekosongan tidak ada yang bisa merasakan pun tidak ada yang bisa dirasakan, namun janganlah berhenti. Terus lanjutkan hingga musnahnya yang bisa merasakan kekosongan dan kekosongan itu sendiri. Inilah kondisi terbebas dari jeratan bentuk-bentuk pikiran (skandha keempat—samskara).
Meskipun yang bisa merasakan kekosongan dan kekosongan itu sendiri telah musnah, namun masih terdapat konotasi musnah. Musnah/lenyap merupakan paduan dari lahir/muncul, sebab itu, jika masih mengenali musnah maka itu menunjukkan belum mencapai kebebasan total. Teruslah berlatih hingga melampaui kondisi kelahiran dan kemusnahan. Inilah kondisi terbebas dari jeratan kesadaran (skandha kelima—vijnana). Inilah kondisi pencerahan sempurna terbebas dari samudra kelahiran dan kematian.
Ternyata praktik melihat ke dalam Avalokistevara ini ditujukan untuk membuat kita terbebas dari jeratan lima skandha. Mengapa praktik melihat ke dalam Avalokistevara ini ditujukan untuk membuat kita terbebas dari jeratan lima skandha? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita diskusikan lebih dahulu mengenai apa yang disebut sebagai lima skandha itu.
Panca skandha atau lima kelompok/himpunan adalah lima faktor pembentuk kehidupan kita, yang terdiri dari jasmani dan rohani. Lima faktor ini adalah wujud (rupa-skandha), perasaan (vedana-skandha) pencerapan (sanjna-skandha), bentuk-bentuk pikiran (samskara-skandha), dan kesadaran (vijnana-skandha). Selain rupa yang merupakan tubuh jasmani, keempat lainnya adalah bersifat rohani/batiniah. Kita menganggap tubuh yang terbentuk dari lima skandha ini adalah “aku”, inilah pandangan salah yang membuat kita terbelenggu dan terombang-ambing dalam samudra penderitaan. Sebab itulah, Avalokitesvara mengajarkan kita untuk melihat ke dalam dan menemukan bahwa diri ini bukanlah “aku”, bahwa tidak ada “aku”, baik di dalam diri ini maupun di alam semesta.
Wujud (rupa-skandha) adalah tubuh jasmani yang memiliki lima indra-mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Rupa-skandha terbentuk dari empat unsur-tanah, air, api, angin.
Perasaan (vedana-skandha) adalah hal yang dirasakan oleh tubuh jasmani ketika terjadi kontak antara lima indra dengan lima objek-wujud, suara, bau, rasa, dan sentuhan. Perasaan ini bisa bersifat menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral.
Pencerapan (sanjna-skandha) adalah analisis, persepsi, konsepsi dan ingatan yang diperoleh dan dibentuk setelah berlangsungnya proses kontak dan perasaan. Pencerapan inilah yang membuat kita menyadari dan membedakan adanya kontak-kontak yang menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral.
Bentuk-bentuk pikiran (samskara-skandha) adalah aktivitas batiniah yang merupakan reaksi dan tindakan terhadap kontak-kontak yang menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral. Timbullah pikiran suka/serakah (terhadap hal-hal yang menyenangkan), tidak suka/benci (terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan), ataupun tidak mau tahu terhadap hal-hal yang dianggap tidak penting atau tidak ada hubungannya. Skandha bentuk-bentuk pikiran inilah yang menjadi pendorong terjadinya perbuatan/karma yang kita lakukan.
Kesadaran (vijnana-skandha) adalah penggerak dari semua aktivitas batiniah dan lahiriah. Orang-orang pada umumnya menganggap kesadaran vijnana-skandha ini adalah aku/roh yang hakiki, yang diciptakan oleh kekuatan adikuasa, yang kekal, yang tidak pernah berubah, yang setelah meninggal akan menikmati hidup kekal di surga atau didera siksaan abadi di neraka. Buddhisme tidak menyebutnya sebagai roh/arwah, melainkan kesadaran. Kesadaran ini bisa merasakan, membedakan, dan menganalisis objek-objek eksternal melalui indra/kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, kulit/tubuh, dan pikiran, pun bisa menyimpan semua perbuatan yang pernah kita lakukan. Dalam ajaran Mahayana—tradisi Yogacara, kesadaran ini dibagi menjadi delapan. Selain lima kesadaran (mata, telinga, hidung, lidah, kulit/tubuh), khusus untuk kesadaran keenam, atau kesadaran pikiran, diuraikan menjadi tiga kesadaran—kesadaran keenam hingga kedelapan.
Kesadaran keenam—kesadaran pikiran. Kesadaran pikiran ini sama seperti halnya lima kesadaran yang lain, hanya muncul bila ada kontak antara indra dan objek. Penggerak dari kesadaran pikiran ini adalah kesadaran ketujuh—kesadaran manas.
Kesadaran ketujuh—kesadaran manas. Inilah yang baru benar-benar layak disebut sebagai kesadaran pikiran, karena benar-benar memiliki kemampuan membedakan dan menganalisis. Dalam ilmu pengetahuan modern, kesadaran manas ini dikenal dengan nama alam bawah sadar. Kesadaran manas inilah yang menjadi dalang dari semua pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. Pandangan salah dan kemelekatan pada “aku” berasal dari manas ini. Manas menganggap kesadaran kedelapan—alaya sebagai “aku” yang kekal dan tidak berubah. Manas juga beranggapan semua objek luar yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh panca indra dan kesadaran keenam adalah sesuatu yang nyata, sebab itulah muncul pandangan salah menganggap lima skandha sebagai tubuhku, alhasil timbul keserakahan terhadap hal-hal yang disukai, kebencian terhadap hal-hal yang tidak disukai, dan kebodohan terhadap hal-hal yang tidak diketahui. Demikianlah, kemelekatan pada aku yang salah dan alam semesta yang ilusi (dharma—objek-objek eksternal) menyebabkan kesadaran manas disebut juga sebagai pikiran tercemar (egosentris). Kesadaran manas inilah sumber penderitaan, inilah sumber kegelapan batin.
Kesadaran kedelapan—kesadaran alaya. Alaya secara harfiah berarti penyimpanan. Ini adalah kesadaran yang menyimpan semua benih perbuatan yang kita lakukan. Alaya ini bersifat tercemar dan murni bersih. Disebut tercemar karena alaya ini menyimpan benih-benih karma buruk yang ditabur oleh manas sebagai akibat kemelekatan terhadap objek-objek eksternal. Disebut murni bersih karena alaya tidak kontak langsung dengan objek-objek eksternal. Jadi, alaya ini bersifat “murni bersih sebagaimana adanya”, bukan “tercemar sebagaimana diharapkan”. Selain itu, hakikat sejati dari alaya adalah murni bersih tidak tercemar yang selama ini kita kenal sebagai Benih KeBuddhaan.
Berlangsungnya proses kehidupan (masa lalu, masa kini, masa depan) adalah karena adanya aktivitas kesadaran manas dan alaya. Saat makhluk hidup meninggal, yang melanjutkan proses menuju kehidupan yang baru adalah kesadaran manas dan alaya. Lalu bagaimana cara kita agar manas dan alaya ini bisa terbebas dari siklus kelahiran dan kematian mencapai kondisi Nirvana?
Langkah yang harus kita tempuh adalah dengan belajar Buddha Dharma dan berlatih diri memurnikan kesadaran manas. Belajar Buddha Dharma adalah agar kita bisa melepas pandangan salah yang menganggap tubuh yang terbentuk dari lima skandha ini adalah aku. Kemudian dengan berpegang pada pandangan benar kita jalankan praktik pemurnian batin. Dengan demikian, pandangan salah yang dipegang erat-erat oleh kesadaran manas akan terhapus, pun untuk selanjutnya benih-benih karma yang tersimpan di kesadaran alaya adalah benih-benih murni bersih yang pada akhirnya semua itu kelak bila tiba waktunya akan membuahkan pencerahan sempurna mencapai pembebasan total Nirvana.
Demikianlah, berdasarkan penjelasan lima skandha di atas, jelaslah bahwa lima skandha ini merupakan perpaduan dari kesadaran dan tubuh raga yang terdiri dari organ tubuh, panca indra, jaringan urat saraf, otak dan lain sebagainya. Benarkah perpaduan lima skandha ini adalah aku? Kalau memang benar adalah aku, lalu aku itu yang mana? Kesadaran itu adalah aku atau tubuh adalah aku? Lalu aku ini adalah tuan atau budak? Kalau tubuh ini adalah aku, kalau tubuh ini adalah tuan, tetapi mengapa kita tidak bisa membuat tubuh ini tidak menjadi tua, bahkan tidak bisa mati dan rusak? Kalau kesadaran adalah aku, kalau kesadaran adalah tuan, tetapi mengapa kita selalu mengikuti keinginan tubuh untuk membuatnya nyaman, kenyang, naik mobil mewah, tinggal di rumah megah? Ini adalah kesalahan pemahaman tentang aku yang didalangi oleh kesadaran ketujuh—kesadaran manas.
Agar bisa melepaskan diri dari pandangan salah terhadap aku, Avalokistevara mengajarkan kita untuk melihat ke dalam, membebaskan diri dari jeratan lima skandha, memurnikan kesadaran manas mencapai pencerahan sempurna. Demikianlah yang diajarkan oleh Avalokistevara.
“Jangan Mencari Ke Luar, Lihatlah Ke Dalam”, ucapan ini juga bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti berikut ini.
Pertama, saat menghadapi masalah, hambatan ataupun kegagalan, janganlah langsung menyalahkan atau mencari penyebab kegagalan itu di luar diri kita, ada kemungkinan penyebabnya adalah justru diri kita sendiri. Selalulah mawas diri! Selalulah melihat ke dalam!
Kedua, mereka yang berdaya-upaya mencapai pencerahan, tidak akan lagi mengutamakan kekayaan lahiriah (eksternal), melainkan lebih menekankan pada pembentukan kekayaan batiniah (internal), inilah kekayaan sejati yang tak akan pernah lapuk. Sebab itulah, seperti yang pernah kita katakan di baris syair sebelumnya, janganlah demi teman yang kaya lahiriah lalu menjauhi teman yang kaya batiniah. Jangan salah paham, Buddha tidak pernah mengajarkan kita menolak kekayaan lahiriah, namun selalulah mawas diri, tanyakan pada hati nurani, adakah kekayaan itu diperoleh dengan cara yang benar (Delapan Jalan Mulia)? Apakah demi kekayaan lahiriah lalu kita mengabaikan kekayaan batiniah? Jangan lupa, yang paling berharga itu bukan harta benda yang kau miliki, tetapi orang yang mendampingi dirimu. Yang dimaksud dengan orang yang mendampingi dirimu adalah juga termasuk orang-orang yang menjadi teman pergaulan, adalah orang-orang yang membantu membentuk kekayaan batiniah.
Ketiga, kita semua tahu, salah satu penyebab ketidakbahagiaan di dunia ini adalah karena kita suka membanding-bandingkan antara diri kita dengan orang lain, khususnya dalam hal materi, kemasyhuran, jabatan, prestasi, dan lain sebagainya. Kalau apa yang kita miliki lebih daripada orang lain, kita merasa superior, lalu menjadi sombong karenanya. Kalau kurang daripada orang lain, kita iri, kemudian timbul rasa kebencian. Ketidakbahagiaan seperti ini terjadi karena kita selalu melihat ke luar. Jangan lagi membanding-bandingkan ke luar, lihatlah ke dalam. Apa yang kita tuai itu adalah hasil dari apa yang kita tabur, itu adalah proses hukum karma atau hukum sebab akibat.
Hukum karma itu adil, jadi janganlah melihat ke luar. Hukum karma itu tidak pernah tidak adil, jadi janganlah mengeluh. Sepatah ucapan bijak mengingatkan kita akan hukum karma yang adil: “Jangan cuma bisa mengeluh kenapa sakit-sakitan dan banyak kemalangan, tapi cobalah lihat berapa banyak makhluk hidup yang terbunuh oleh pisau jagalmu?”
Hidup ini seperti bumerang, apa yang kita pikirkan, lakukan, dan ucapkan, suatu saat nanti akan luar biasa persisnya kembali kepada diri kita sendiri. Mereka yang mengerti hukum karma, tidak akan mengeluh; mereka yang memahami diri sendiri, tidak akan menyalahkan orang lain.
Kalau memang ingin membandingkan, gunakanlah perbandingan itu sebagai motivasi agar kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam berpikir, berucap, dan berbuat bajik. Melihat ke dalam adalah salah satu manifestasi praktik daya upaya.
Keempat, untuk bisa menjadi sukses, kita memerlukan guru atau teman bajik. Guru yang memahamimu, membimbingmu. Bisa memahami dirimu sendiri, lahirlah dirimu yang baru. Kenapa guru yang baik bisa membimbing kita menapak jalan kesuksesan? Itu karena guru tersebut bisa melihat ke dalam internal diri kita. Tidak ada orang yang bisa mengubah orang lain, tetapi seseorang bisa menjadi penyebab bagi orang lain untuk berubah. Guru atau teman bajik tidak bisa mengubah kita, tetapi bisa menjadi penyebab bagi kita untuk berubah, karena mereka menyadarkan kita akan adanya kekuatan yang tersimpan, tapi tak mudah terlihat, di dalam diri kita.
Kenapa kita bisa sukses lahir menjadi diri yang baru? Itu karena kita bisa memahami diri kita sendiri, karena kita bisa melihat ke dalam internal diri kita sendiri. Jangan khawatir orang lain tidak memahami dirimu, khawatirlah kalau kamu tidak memahami orang lain, dan lebih khawatirlah kalau kamu tidak bisa memahami dirimu sendiri. Petapa Pangeran Siddharta bisa melihat ke dalam, maka menjadi Samyaksambuddha. Jadi kesuksesan itu terjadi karena bisa melihat ke dalam.
Kalau memang ingin melihat ke luar, lihatlah ke dalam internal diri orang/hal yang kita lihat, jangan tertipu hanya melihat tampak luarnya. Bagi para muda-mudi, janganlah lupa akan ucapan berikut ini. Kamu tidak harus mencintai orang yang cantik, tetapi cintailah orang yang bisa membuat hidupmu berubah menjadi cantik.
Kelima, belajar agama Buddha bukan untuk menemukan adanya kekuatan adikuasa di luar diri kita, melainkan menyadari realitas sejati di dalam internal diri kita. Inilah hal paling penting yang harus disadari dan dipraktikkan oleh umat Buddha. Buddha dan semua makhluk hidup memiliki hakikat yang sama, yaitu Benih KeBuddhaan. Buddha adalah makhluk hidup yang sudah tercerahkan, makhluk hidup adalah Buddha yang belum tercerahkan. Buddha adalah makhluk hidup masa lalu yang telah tercerahkan, makhluk hidup adalah Buddha masa depan yang masih tersesat. Mengenali diri sendiri itulah awal dari semua kebijaksanaan.
Kelemahan terbesar manusia adalah tidak bisa melihat kelemahannya sendiri, sementara kelemahan terbesar dari manusia adalah tidak melihat ke dalam. Ironis, orang yang berada paling dekat dengan dirimu adalah kamu sendiri, tetapi kamu malah tidak pernah bisa mengenali dirimu sendiri. Yang paling kita kenal adalah diri sendiri, yang paling tidak kita kenal juga adalah diri kita sendiri. Yang paling akrab adalah diri sendiri, yang paling asing juga adalah diri sendiri. Manusia mempunyai dua mata melihat dunia, benda-benda, dan orang lain, tetapi tidak pernah bisa melihat diri sendiri. Bisa melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri. Bisa melihat keserakahan orang lain, tetapi tidak bisa melihat kepelitan diri sendiri. Bisa melihat kejahatan orang lain, tetapi tidak bisa melihat kebodohan diri sendiri. Berapa banyak orang yang bisa melihat dirinya sendiri secara jelas?
Keenam, Sutra Vimalakirti mengatakan “Pikiran murni maka lingkungan pun menjadi murni.” Ini adalah ucapan yang menunjukkan bahwa ajaran Buddha itu optimis, bukan pesimis. Seperti yang disebutkan di atas, Buddha adalah makhluk hidup yang sudah tercerahkan, sedangkan makhluk hidup adalah Buddha yang belum tercerahkan. Saat masih dicengkeram kekotoran batin, kita tidak bisa menemukan Benih KeBuddhaan, lingkungan yang kita lihat adalah lingkungan yang dualisme, ada baik dan ada juga buruk, ada yang murni namun ada juga yang kotor. Tetapi saat kebijaksanaan sejati di internal diri itu tertampak, lingkungan luar yang tertampak oleh mata kita bukan lagi lingkungan yang mendua, melainkan adalah manifestasi dari Benih KeBuddhaan, adalah lingkungan yang murni, tidak membeda-bedakan, dan sebagaimana adanya. Kita tidak lagi melekat dan terseret oleh apa yang kita lihat dan rasakan, pikiran yang muncul saat itu adalah pikiran murni, tidak ada lagi pro kontra, saat itulah juga lingkungan menjadi murni. Pikiran dan lingkungan murni ini bisa terwujud kalau kita bisa melihat ke dalam.
Mari kita simak kisah Su Dongpo dan Master Foyin berikut ini.
Suatu ketika Su Dongpo melihat Master Foyin sedang melakukan meditasi duduk, Su Dongpo kemudian juga ikut bermeditasi, lalu bertanya kepada Master Foyin, “Master, menurut Master tampang saya seperti apa?”
Foyin menjawab, “Menurutku kamu seperti seorang Buddha.” Selanjutnya Foyin yang bertanya, “Menurutmu tampangku seperti apa?” Su Dongpo menjawab, “Seperti setumpuk tahi kerbau.” Su Dongpo merasa sangat senang dan bangga, kapan lagi bisa bergurau mempermainkan Foyin, pikirnya, “Kali ini aku menang!”
Sepulang ke rumah dia menceritakan hal ini kepada adik perempuannya. Begitu mendengar ceritanya, sang adik berkata, “Kak, kamu kalah!” Su Dongpo heran, “Mana mungkin aku kalah?”
“Master melihatmu bagaikan seorang Buddha, karena yang ada dalam pikiran beliau adalah Buddha. Buddha sangatlah agung dan murni! Sedangkan kamu melihat Master bagaikan setumpuk tahi kerbau, karena yang ada dalam pikiranmu adalah tahi kerbau, betapa kotornya pikiranmu, sesungguhnya kamu yang kalah!”
Orang bajik memandang orang lain juga sebagai orang bajik, sementara orang jahat menganggap orang lain juga jahat sama seperti dirinya. Kalau yang ada dalam pikiran adalah Buddha, maka setiap orang adalah Buddha. Kalau yang ada dalam pikiran adalah Buddha, maka dunia ini adalah Tanah Murni. Selalulah mengisi pikiran ini dengan hal-hal yang bajik.
Ketujuh, melihat ke dalam mengajarkan kita bahwa makna hidup ini bukan terletak pada berapa banyak kesulitan dan aral rintangan yang kita lalui, melainkan terletak pada apa yang bisa kita pelajari dari semua itu. Renungkan dan tanyakan pada diri sendiri, apakah hikmah yang bisa kita dapatkan dari setiap hal yang kita alami? Dengan melihat ke dalam maka kita bisa mempraktikkan ucapan berikut ini: tujuan yang kita kejar mungkin saja sangatlah penting, namun ingatlah, yang jauh lebih penting adalah hal-hal yang mengubah kita menjadi lebih baik selama proses pencapaian tujuan itu. Dengan melihat ke dalam maka kita akan menyadari bahwa di dunia ini tidak ada tempat yang menyenangkan, yang ada hanyalah orang yang berhati senang. Setiap hari belum tentu adalah hari-hari yang baik, tetapi setiap hari selalu ada hal-hal yang baik yang bisa kita alami dan lakukan. Setiap hari belum tentu kita mengalami hal-hal yang baik, tetapi setiap hari kita bisa melihat hal-hal baik dari orang lain atau hal-hal yang kita alami.
Lihatlah ke dalam, amati pikiran, kendalikan gejolak jiwa, maka di mana pun kita berada, itu adalah tempat yang menyenangkan, apa pun aral rintangan yang menghadang, tidak akan bisa lagi menggoyahkan ketenangan jiwa kita.
Pada saat kelahirannya, Buddha berjalan tujuh langkah dengan jari telunjuk tangan kanan menunjuk ke langit dan jari telunjuk tangan kiri menunjuk ke bumi, kemudian berucap, “Di alam dewa dan manusia, Akulah yang termulia.” Aku yang termulia di sini bukan hanya hak paten Buddha seorang diri, melainkan juga berlaku bagi semua makhluk. Ingin menemukan Aku yang termulia ini? Lihatlah ke dalam.

Address

Jl. HR. Muhammad 179, Kompl.Surya Inti Permata 2 Blok D 8 - 9
Surabaya

Telephone

081331789009

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sinar Dharma posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sinar Dharma:

Nearby media companies


Other Media/News Companies in Surabaya

Show All