Sirikit School of Writing

Sirikit School of Writing Menulis, mengubah Dunia. Yang tertulis, akan abadi.
(15)

Sekolah Kepenulisan Berbasis Pengalaman

02/04/2016

Hallo teman2. Ayo siap2 sambut persaingan dn pasar terbuka Asia dlm profesi yg berkaitan dgn tulis menulis. Gak PD? Konsultasikan dgn SSW. Mungkin menjadi wartawan utk media asing dan utk itu hrs bisa nulis pakai bhs Inggris? Mau menerjuni dunia periklanan dan mahir copy writing? Ingin kirim paper utk konferensi internasional sekaligus belajar menyiapkan presentasinya? Mau jadi ghost writer ? Yuk belajar bersama kami di SSW. Daftar setiap hari.

06/11/2015

Mengakhiri tahun 2015, November-Desember, SSW buka beberapa kelas baru: kelas anak-anak, fiksi remaja, artikel populer/opini, buku ajar. Ayo buruan mendaftar. Bulan Desember nanti akan ada peluncuran buku karya peserta kursus di SSW. Ikuti terus beritanya dan tunggu tanggal mainnya.

Timeline Photos
23/09/2015

Timeline Photos

Epose sebuah buku
09/09/2015

Epose sebuah buku

Timeline Photos
07/08/2015

Timeline Photos

Dibuka Kelas Menulis tk. Dasar & Menengah Angkatan III
28/07/2015

Dibuka Kelas Menulis tk. Dasar & Menengah Angkatan III

12/07/2015

Pak Leiman

Pertama kali kami bertemu di kelas Menulis Dasar dan Menengah (diberi nama begini karena belajarnya mulai membuat kalimat dan paragraph yang baik), dia tampak skeptis. Wajahnya menunjukkan dia tidak sepenuhnya yakin. Di kelas ini ada enam peserta yang amat bervariasi: ada siswa SMA, calon mahasiswa, widya iswara, pengusaha.

Syukurlah, saya dikaruniai bakat mengajar yang lumayan baik (berdasarkan pengalaman mengajar, hasil evaluasi dosen oleh mahasiswa menunjukkan demikian), sehingga mudah saja masuk ke situasi sulit, seperti menghadapi siswa yang skeptis, bahkan sinis.

Dengan berjalannya waktu, kelas ini menunjukkan dinamika yang sehat. Pak Leiman ternyata pinter banget dan kritis. Setiap materi ajaran saya sampaikan, dia interupsi atau bertanya atau berkomentar. Biasanya dia bertanya kritis -yang mungkin bagi pengajar lain akan sulit menjawabnya. Kadang dia malah nambahi keterangan (memperkaya) dengan pengetahuannya yang luas. Dia hafal semua pemenang nobel sastra, dari Gabriel Garcia Marques sampai Tony Morrison. Dia hafal karya Budi Darma dan Iwan Simatupang. Dia suka mendebat dan berdebat, baik dengan saya maupun dengan peserta lain.

Pernah saya tanya, "Bapak ini sudah pintar, kok mau belajar lagi?" Dia menjawab, dia ingin menulis buku, pemikiran-pemikirannya selama ini. Di samping karakternya yang suka "ngeyel", terutama kalau berdebat ttg suatu hal dengan sesama peserta yang sebaya (juga sesama pengusaha), dia sangat menghormati dua remaja di kelas. Dia suka mengapresiasi karya mereka (saat pembacaan karya pendek hasil latihan), suka mendorong dan menyemangati.

Dia pernah megkritik keras salah satu pengajar kami, Pak Eko. "Bu, Pak Eko itu jangan boleh nggebrak meja kalau ngajar. Itu tidak sopan." Peserta lain menentangnya: "Gak papa kok Bu, enak Pak Eko mengajarnya. Itu karena beliau ekspresif saat mengajar. Kami cocok." Pak Leiman ngeyel bahwa guru tidak boleh begitu. "Tapi kalau Pak Eko buka kelas Buku Populer, saya daftar Bu," kata Pak Leiman. Jadi, dia mengakui kualitas Pak Eko, dan merasa butuh ilmunya, sehingga mau mendaftar kelas lanjutan.

Pada pertemuan terakhir dengan saya dia menawarkan bantuan sponsorship bila SSW akan mengadakan "Master Writing". Katanya: "Masak orang disuruh jadi koki semua, itu di acara-acara TV ada Master Chef. Ayo kita bikin Master Writing, peserta diuji menulis dalam waktu singkat dan langsung diumumkan pemenangnya, dalam sebuah forum massal. Saya sponsori Bu."

Sungguh sebuah penawaran yang menarik. Namun itu menjelang bulan Ramadhan, sehingga proses kami tunda dulu hingga usai lebaran. Saya dengar siang itu juga dia mengajak seorang peserta remaja dan staf SSW untuk makan Bebek Sinjay di Ruko sebelah, seusai pelatihan.

Pada pertemuan berikutnya, dia tidak hadir. Pada sesi terakhir/penutupan, dia juga tidak hadir. Staf mencoba menghubunginya, melalui sms maupun telepon, HP tidak diangkat dan sms tidak dibalas. Sejenak dia kami lupakan karena banyak peserta lain dan kelas-kelas lain yg harus kami perhatikan.

Pada suatu hari pekan lalu, kami mendengar kabar bahwa sesungguhnya Pak Leiman sudah meninggal dunia karena serangan jantung. Kabar ini sangat mengejutkan kami. Kami semua merasa sedih, kami terkenang intensitas dan agresivitasnya dalam belajar, kepintarannya, kekritisannya, kepeduliannya. Ini pertamakali bagi SSW mengalami seorang peserta kursus meninggal di tengah-tengah kursus.

Semoga Tuhan menerima arwah Pak Leiman di tempat yang baik dan dosa-dosanya diampuni. SSW berpikir keras untuk meneruskan ide "Master Writing" itu. Entahlah, mungkin jelang akhir tahun akan kami selenggarakan. Sekarang mencari sponsor pengganti lebih dulu.

Salam literasi.

Dra. Sirikit Syah, MA.
Direktur Sirikit School of Writing

03/07/2015

Mudaha-mudahan ibadah puasa kita semua diterima Allah SWT. Selamat menyambut Lebaran. Mohon maaf lahir batin ya teman-teman. Usai libur Lebaran, belajar lagi yuk. SSW buka kelas baru: Kelas Buku Populer (bagi yang sudah punya bahan dan ingin menerbitkan bukunya), Kelas Menulis Dasar-Menengah (bagi yang masih belajar atau berproses menulis, berbagai genre)< Kelas Fiksi (bagi yang sudah berfokus untuk menulis fiksi, cerpen maupun novel). Saat ini juga ada kelas Academic Writing yang sudah jalan 1 kali. Ini cocok bagi para mahasiswa S2, dosen, guru, yang mau studi ke LN, yang mau nulis paper untuk seminar/konferensi atau kirim ke jurnal ilmiah. Sesi kedua minggu depan masih bias menerima peserta baru. Ayo, keterampilan menulis meningkatkan martabat Anda. Hubungi [email protected]. Salam sehat selalu yaaaa

Berbagi Berkah lewat MenulisAlhamdulillah, Workshop Menulis untuk anak-anak yatim dan dhuafa telah terselenggara dengan ...
25/06/2015

Berbagi Berkah lewat Menulis

Alhamdulillah, Workshop Menulis untuk anak-anak yatim dan dhuafa telah terselenggara dengan sukses. Hari pertama workshop digelar di Pondok Taubat-Lamongan, selasa, 23 Juni 2015. Diikuti tiga puluh-an anak-anak setingkat SD binaan Gus Amirul, aktivis LSM yang berpenampilan nyentrik, yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia pemberdayaan masyarakat terpinggirkan. Hari kedua, worshop diselenggarakan di Rumah Kemandirian yang dikelola Yayasan Yatim Mandiri cabang Bojonegoro, diikuti 26 anak-anak SD desa Bulu-Balen Bojonegoro.

Acara ini terlaksana atas kerja sama Sirikit School Writing dengan Yayasan Walsama dan Yayasan Yatim Mandiri.

Sirikit School of Writing's cover photo
25/06/2015

Sirikit School of Writing's cover photo

Sirikit school of writing bekerjasama dengan Yatim Mandiri. Mengadakan kegiatan Pesantren Ramadhan Kreatif. 24 Juni 2015...
22/06/2015

Sirikit school of writing bekerjasama dengan Yatim Mandiri. Mengadakan kegiatan Pesantren Ramadhan Kreatif. 24 Juni 2015. Tempat. Rumah Kemandirian Bojonegoro.
Kegiatan ini akan diisi dengan workshop menulis untuk anak-anak.pastinya akan seru sekali. walaupun puasa, kegiatan menulis juga jalan terus.

12/06/2015

Mimpi Sekolah Tinggi Ilmu Literasi

Catatan Eko Prasetyo
Jurnalis dan editor buku



”Buku adalah sahabat terbaik manusia….”
~ Mutanabbi, penyair klasik Iraq

******

Pada masa jayanya dulu, Islam telah memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya literasi. Sebagai bukti, Khalifah Abbasiyah Al-Ma’mun (736–833), putra Harun Al-Rasyid, pernah memanggil para ahli nujum, kaum terpelajar, dan ahli ilmu falak lalu memerintahkan mereka untuk membangun sebuah gedung ilmu perpustakaan. Namanya Darul Hikmah yang artinya Rumah Kebijakan. Sahl bin Harun dan Said bin Harun ditunjuk sebagai penanggung jawabnya.

Al-Ma’mun merupakan salah satu patron terbesar di bidang seni dan sastra. Disebutkan oleh Fernando Baez dalam bukunya yang berjudul A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq (Agencia Literaria, 2004), Al-Ma’mun pernah bermimpi bertemu sosok sepuh dengan janggut rapi dan menjelaskan nilai-nilai filsafat. Orang ini bicara dengan bahasa aneh yang tidak digunakan pada masa itu. Namun, entah bagaimana Al-Ma’mun dapat memahaminya dan mereka pun berdiskusi tentang iman, kebaikan, arti etimologi, tumbuh-tumbuhan, dan nilai karya-karya klasik. Sekonyong-konyong Al-Ma’mun menyadari bahwa orang bijak tersebut ialah Aristoteles, yang memintanya menerjemahkan seluruh karyanya agar tak lekang oleh zaman.

Beberapa bulan kemudian, para terpelajar suruhan Al-Ma’mun itu lantas pergi ke Byzantium dan kota-kota besar lainnya untuk mencari manuskrip berbahasa Yunani yang memuat karya-karya Aristoteles. Mereka mengirim manuskrip-manuskrip dengan unta sambil dibayangi ketakutan terhadap perampok.

Lalu dimulailah tugas penerjemahan dan pembubuhan penjelasan atas karya-karya Aristoteles. Armagest karya Ptolemus diterjemahkan oleh Hajjaj bin Mater (827–828) dan Humayun bin Ishaq. Perpustakaan pertama di Baghdad dibangun pada 991 oleh Sabur bin Ardeshair dengan koleksi sepuluh ribu jilid. Pada satu masa, pernah ada 36 perpustakaan di Baghdad. Penyair Mutanabbi, lahir di Kufa pada 915, mengatakan bahwa buku adalah sahabat terbaik manusia.

Kesadaran akan budaya literasi lantas menjalar dengan cepat di beberapa wilayah Islam seperti Mesir, Iran, hingga Syria. Ketika pasukan Fatimiyyun menaklukkan Mesir pada 969, mereka mendirikan Kota Al-Qahirah (Kejayaan). Di kota ini salah satu perpustakaan Islam terbesar didirikan, yang berisi ribuan buku dari segala bangsa. Sayang, invasi Turki pada 1068 menghancurkan segalanya.

Di Damaskus juga terdapat Perpustakaan Zahiriya. Di sinilah sejumlah karya klasik Yunani yang nantinya menyebar ke Eropa disalin. Pada 1108, pasukan Perang Salib menghancurkan pusat belajar itu dan memusnahkan lebih dari tiga juta buku. Pada Juli 1109, setelah pertempuran sengit, mereka memasuki Kota Tripoli. Kemarahan terpendam dari perang bertahun-tahun serta kekalahan yang dipikul membuat pasukan tersebut membakar seratus ribu volume dari Perpustakaan Islam yang terkenal.

Sejarah juga mencatat bahwa tiga kota besar di Eropa pernah menjadi saksi kegairahan budaya literasi Islam, yaitu Cordoba (Spanyol), Konstatinopel (Turki), dan Wina (Austria). Karya-karya terkenal dari Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averoes), dan cendekiawan muslim lainnya ikut memengaruhi peradaban Barat.

******
Berkaca dari sejarah tersebut, ucapan Milan Kundera menemukan pembenarannya. Yaitu, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradabannya, hancurkan buku-bukunya.” Dari perspektif ilmu komunikasi, literasi menempati level tertinggi karena menentukan arah sebuah sistem atau tatanan yang ada.

Karena itu, ketika gagasan akan mendirikan sebuah sekolah menulis digulirkan oleh Sirikit Syah, penulis dan pengamat media, di Surabaya pada 2012, saya sangat menyambut baik. Berbekal kesamaan visi untuk membangun atmosfer literasi di Kota Pahlawan serta upaya melahirkan penulis-penulis baru, saya ikut bergabung sebagai pengajar di sekolah yang bernama Sirikit School of Writing (SSW) tersebut.

Pada 11 Juni 2015, SSW menandai perjalanannya di tahun ketiga. Dalam sebuah seremoni haul yang sederhana di kampus SSW di bilangan Jalan A. Yani, hadir komisarisi, direksi, karyawan, pengajar, serta kolega. Di antara mereka, tampak para pendirinya seperti Ismail Nachu (ketua ICMI Jatim), Md. Aminuddin (novelis), dan Sirikit Syah sendiri.

Dalam catatan saya, SSW telah berhasil mencetak penulis-penulis baru kendatipun jumlahnya tidak bisa dikatakan melimpah. Namun, yang paling penting adalah kami tidak sekadar memberikan pelatihan dan bimbingan menulis saja, tetapi juga mengajak mereka untuk membuka cakrawaka kesadaran akan nilai-nilai literasi itu sendiri.

Di sinilah sebenarnya SSW memainkan peran sebagai rahim bagi semangat-semangat baru di dunia literasi. Peran ini sangat penting mengingat SSW berada di kota yang menggulirkan program kota literasi yang publikasinya disebar secara luas.

Dunia literasi akan selalu menemui kegemilangan sekaligus jalan terjal seperti halnya histori tentang penghancuran buku sebagaimana dijelaskan di muka. Namun, pada zaman modern seperti sekarang ketika era digital dan kecanggihan teknologi menjadi tantangan bagi upaya menjaga budaya membaca buku, penghancuran buku tidak hanya berupa tindakan fisik menghancurkan buku. Penghancuran buku juga bisa berupa tindakan malas membaca dan enggan bercengkerama dengan bacaan-bacaan bermutu.

Ini PR besar bersama. SSW telah membuka jalan lempang untuk membangun kejayaan literasi di masa lalu. Usia tiga tahun ini telah dijalani dengan menghadapi berbagai tantangan serta kerja keras menyemai bibit-bibit baru di jagat kepenulisan. Jalan masih panjang. SSW kini tidak hanya dituntut untuk melahirkan kreativitas dan inovasi baru di bidang literasi, tapi juga mewujudkan mimpi mendirikan sebuah Darul Hikmah dalam bentuk sekolah tinggi ilmu literasi yang jejaknya telah dirintis saat ini.

SSW Menginjak Usia Tiga TahunOleh Dra. Sirikit Syah, MA. (Direktur SSW)Tanggal 11 Juni besok, Sirikit School of Writing ...
10/06/2015

SSW Menginjak Usia Tiga Tahun
Oleh Dra. Sirikit Syah, MA. (Direktur SSW)

Tanggal 11 Juni besok, Sirikit School of Writing menginjak usia tiga tahun. Masih Balita, tapi sudah lumayan lancar berjalan dan berbicara. Sebagai salah satu dari lima pendirinya, saya merasakan, tidak mudah mengelola sebuah sekolah atau kursus menulis. Target pasar belum memiliki kesadaran bahwa menulis itu perlu dalam hidup mereka –setidaknya pada suatu titik (at some point) seseorang akan diharuskan menulis, apapun profesinya. Maka, peserta kursus tidak berbondong-bondong seperti kalau akan les matematika, bahasa Inggris, komputer, dsbnya.
Meskipun berjalan tertatih-tatih, SSW masih bertahan hingga tahun ketiga. Cita-cita balik modal (BEP) pada tahun kedua terlewati. Namun Alhamdulillah, BEP tercapai pada tahun ketiga ini. Meskipun mendorong dan mengajarkan menulis tampak sebagai sebuah kegiatan yang mulia dan ideal, ini adalah sebuah venture, sebuah usaha, yang telah menelan modal dan harus membiayai operasionalnya: menggaji karyawan, menghonori para pengajar, membayar sewa kantor-kelas, dan sebagainya. Tak jarang dalam waktu tiga tahun itu gaji karyawan terlambat, atau sewa kantor nunggak. Untunglah, kami semua tak putus asa. Untungnya lagi, setiap bulan ada saja peserta kursus.
Yang paling banyak memang anak-anak. Banyak anak gemar menulis dan orangtua mereka mendukung dengan mengkursuskan mereka di SSW. Sebagian ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya bahkan tertarik untuk ikut juga kursus menulis hingga menghasilkan karya tulis. SSW telah menerbitkan dua buku kumpulan tulisan ibu-ibu (Singgasana Putih 2012 dan Let’s Talk About Mom 2013). Namun belakangan ini yang paling banyak ikut kursus adalah para guru dan professional lainnya (pengusaha, dosen, ustadz, pendeta, dll). Di SSW, peserta dapat langsung ikut kursus menulis fiksi, artikel opini, buku popular, kehumasan-periklanan, menerjemahkan, dll. Ada juga yang ingin belajar dari nol, mereka akan masuk kelas Menulis Dasar-Menengah, yang pelajarannya antara lain mulai membuat kalimat, paragraph, menulis naratif, deskriptif, persuasive, argumentative, dst.
Seorang pendiri SSW, pengusaha muda Andy Suharyanto, mengatakan, salah satu tanda kesuksesan berusaha adalah bila kita mengalami “repeat order”. Artinya, orang mengulang menggunakan jasa kami. Ini terjadi di SSW. Peserta ikut kelas yang satu, lalu setelah selesai, ikut kelas lainnya. Seorang guru SD, panggilannya Mbak Poppy, pernah ikut kursus menulis bersama para guru di sekolahnya, disponsori kepala sekolahnya. Kursus selama seminggu itu menghasilkan antologi feature guru tentang pengalaman mengajar mereka. Buku itu diterbitkan sebanyak 3000 eksemplaar. Lalu Mbak Poppy ikut lagi, biaya sendiri, di kelas Buku Populer. Kemarin dia datang ke SSW membawa buku hasil kursusnya. Buku tentang pemikiran dan pengalamannya bergelut dengan siswa SD dan orangtuanya itu bergenre psikologi pendidikan, judulnya “Salah Kaprah Membangun Karakter Anak”. Buku itu dijualnya ke rekan guru-guru dan para wali murid. Nah, kini Mbak Poppy akan “repeat order” ketiga
kalinya dengan ikut kelas fiksi. Dia ingin menulis novel.
Ada juga anak muda ganteng bernama Surya. Lulusan SMA pengagum Raditya Dhika dan Tere Liye ini mula-mula ikut kelas Menulis Dasar-Menengah. Di tengah-tengah, dia ikut lagi kelas lain, yaitu kelas fiksi. Jadi dia ikut dua kelas. Malahan dia masih ingin belajar khusus dan personal dengan saya pribadi. Bundanya sudah menelepon dan mengatur waktu dengan saya agar Surya dapat ke rumah saya untuk konsultasi.
Demikianlah, kami-kami yang tadinya cuma penulis atau guru (saya dan Md. Aminudin), dipaksa oleh keyakinan komisaris kami, Ismail Nachu, untuk menjadi pengusaha yang mandiri dan menghidupi manusia-manusia lainnya, selain menebarkan ilmu. Bila Ismail Nachu berikrar membangun 10 ribu sodagar muslim di masa kepemimpinannya di ICMI Jatim, mungkin kami salah dua di antaranya. Kami sendiri juga ikut-ikutan berikrar menjadikan 1000 penulis dalam dua tahun. Kenyataannya memang belum seribu, tetapi ada ratusan guru yang tadinya mengaku tidak bisa menulis, sudah menulis dan bukunya sudah diterbitkan. Baru-baru ini SSW melatih 100 guru di Bontang, Kaltim, dan menerbitkan karya mereka dalam buku “Pelangi Inspirasi di Kota Taman”. Anak-anak dan ibu-ibu juga sudah menerbitkan antologi. Beberapa orang menerbitkan sendiri dan mandiri. Seorang peserta kursus artikel opini senang sekali ketika artikelnya dimuat di harian Jawa Pos.
Ada seorang remaja putri bernama Zahra yang senantiasa diantar kedua orangtuanya. Sang ibu berkata: “Selama perkawinan saya, suami saya tidak pernah antar-antar, kurang peduli, semua urusan anak diserahkan ke saya. Saya heran, untuk kursus menulis ini, suami rajin mengantarkan setiap hari Minggu. Meskipun dia mengantuk dan tidur di mobil.” Zahra terbukti sangat berbakat, tulisannya di berbagai genre –fiksi, feature, opini- sangat bagus. Kisah-kisah tentang orangtua semacam ini, termasuk orangtua Surya yang ingin anaknya belajar lagi lebih khusus ke saya, merupakan pupuk bagi semangat kami dalam menjalankan usaha ini.
Demikianlah kisah perjalanan kami dalam tiga tahun ini. Semoga niat baik kami untuk menularkan keterampilan menulis, mendorong kebiasaan menulis, meningkatkan jumlah dan mutu penulis Indonesia, diridloi Allah SWT. Terimakasih kepada semua pihak: para investor, para rekan kerja, staf, pelatih, mitra diskusi, mitra kerja, peserta kursus, orangtua siswa, dll, atas dukungannya.
Menandai usia tiga tahu dan mengisi bulan Ramadhan, SSW bekerjasama dengan Yatim Mandiri dan YDSF akan memberikan pelatihan secara cuma-cuma pada anak-anak yatim dan dhuafa di kota Surabaya dan Bojonegoro. Semoga muncul penulis-penulis hebat di kalangan anak-anak yatim dan dhuafa.

Address

Jl. Ahmad Yani 153
Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sirikit School of Writing posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Nearby media companies


Other Media/News Companies in Surabaya

Show All