NengSyantik

NengSyantik Bercerita lah. Karena itu akan membuatmu bahagia. bagi kamu yang suka membaca dan berimajinasi..

BAB 2KEHEBOHAN PAGI “Dinaaaaaaaa cepet”  teriakan dan gedoran pintu kamar mandi menghiasi irama pagi itu dikediaman kelu...
04/04/2026

BAB 2

KEHEBOHAN PAGI

“Dinaaaaaaaa cepet” teriakan dan gedoran pintu kamar mandi menghiasi irama pagi itu dikediaman keluarga Kusuma. Bagaimana tidak sibungsu kesayangan berada dikamar mandi satu satunya keluarga itu sudah lebih dari satu jam lamanya. Dan itu bukan lah hal baik dalam keluarga Kusuma. Angga sang abang sudah tidak tahan dengan sikap adik bungsu kesayanganya itu.

Dor dor dor dor

“Dinaaaaaaa cepetan, abang mau boker ini” lagi lagi gedoran pintu dan suara teriakan si sulung kebanggaan keluarga terdengar lagi. Mama yang berada didapur merebus air untuk suami tercintanya hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya menghadapi kelakuan dua anak nya tersebut. Dan papa yang merupakan sosok paling santai sejag*t raya dalam menghadapi tingkah anak anak nya tidak terganggu sedikitpun dengan kehebohan yang diciptakan oleh anak anaknya pagi itu. Beliau dengan santai menikmati secangkir kopi dan sepiring singkong rebus buatan sang istri tercinta dihalaman belakang rumah sambil memandang tingkah laku ayam ayam peliharaanya.

“wooooi kembalikan celana ku, itu mau aku pakai kerja hari ini” teriakan lain terdengar didalam kamar depan tempat siduo bujang putra kembar keluarga kusuma. Anak kedua dan ketika keluarga kusuma ini tidak pernah bisa akur dan memang mereka hanya mau mengalah pada sibungsu kesayangan yang sekarang entah tertidur atau pingsan dikamar mandi sampai sampai sang abang sulung tidak berhenti mengedor gedor kamar mandi.

“No Rafael, kemarin kamu ambil kaosku tanpa bilang, sekarang aku pakai celanamu dan tidak akan aku kembalikan” Raffa pun tanpa memperdulikan lagi umpatan Rafel dan langsung berlari keluar menuju ruang tengah untuk menghindar dari bogeman Rafael. Mereka sudah seperti kucing dan tikus saja yang tidak akan pernah bisa disatukan.

“Raffa balikin aku bilang” teriak Rafael siap siap merebut celana yang ada ditangan Raffa, Raffa yang terus meledek saudara kembarnya sambil berlari menjulurkan lidahnya seolah menang dalam membalas perbuatan saudaranya. Rafael yang sudah emosi diujung tanduk segera menegejar kembaranya yang jahilnya luar biasa menurutnya (la Abang Afel lupa kalau abang Raffa dan dirinya sama ) Raffa yang terkejut segera berlari tidak tentu arah akhirnya berlari kebelakang rumah dan menabrak tiang jemuran yang baru saja mama keluarkan sebelum memasak sayur tadi.

BRUUUK

Jemuran roboh beserta cucian yang masih basah menimpa tubuh Raffa, Rafael mematung didepan pintu tanpa berani mendekat karena bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Raffa Rafaeeeeeeeeeeeel”

Akhirnya teriakan merdu yang sang*t khas dirumah tersebut terdengar juga menambah kehebohan pagi, teriakan seriosa siapa lagi kalau bukan suara sang mama, sang ibunda ratu dikeluarga Kusuma, yang titahnya tidak akan pernah bisa ditolak apalagi dilanggar oleh seluruh keluarga.

“gelut teruuuuuuuuus, sana masih banyak centong sayur mama buat berantem. Kalau mau p*sau juga ada didapur tinggal ambil sana” teriak mama sambil mengaduk sayur yang hampir matang di atas kompor, setetelah suara seriosa sang ibunda ratu terdengar, suasana rumah mendadak hening seakan akan hanya suara jangkrik yang terdengar dibelakang rumah.

“Raffa Rafael, cuci ulang semua jemuran yang kalian robohkan, atau kalian tidak akan ada yang boleh keluar rumah pagi ini. Selesaikan semua sebelum berangkat kerja” titah sang ibunda ratu dengan nada yang terlihat sang*t murka kembali terdengar didalam rumah itu.

Lain di tempat jemuran lain p**a dikamar mandi belakang rumah masih terdengar suara Angga yang setia menggedor gedor pintu kamar mandi dengan suara rengekan nya.

“Adeeeeeeek, cepet d**g, abang sudah tidak tahan ini”

Dor dor dor

“adeeeeeeeeeeeeek”

Dor dor dor dor

“DINA PUTRI KUSUMA cepet Abang bilang” sekali lagi Angga berteriak memanggil adeknya yang masih betah berlama lama dikamar mandi.

“Abang Anggaaaaaaaaaaaa” nah kan terdengar lagi teriakan sang ratu rumah.

“pukul terus itu pintu sampai roboh sekalian” lanjut mama memarahi anaknya. Papa yang sudah mendengar teriakan istri tercintanya akhirnya beranjak dari tempat duduk dan menghampiri nya, dengan penuh cinta Papa Kusuma memeluk istri tercintanya dan mulai menggodanya.

“Nyanyian mama merdu sekali sich pagi ini, keluar yuk sayang, temani papa beli bubur ayam di pojokan sana” sambil tangan nya mematikan kompor yang masih menyala. Lekas papa Kusuma mengandeng dan menarik tangan mama untuk diajak berjalan keluar rumah sambil berkata pada ketiga putranya “kalian berdua lekas selesaikan kekacauan pagi, dan kamu Abang Angga lekas bangunkan putri tidur itu”

Judul : Brond**g Tengil

Penulis : Meinawati N

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah :

https://read.kbm.id/book/read/dcaa4cb4-0518-48a0-957f-f80d0559df3c/f7cf4c3c-fc39-4328-908c-e59901e0dc26?af=b131ecfc-2462-44c6-caca-27b6552dd231



"Lina, tolonglah. Jangan seperti ini. Tega kamu menju al rumah kita. Mas dan adik madumu akan tinggal di mana setelah in...
18/03/2026

"Lina, tolonglah. Jangan seperti ini. Tega kamu menju al rumah kita. Mas dan adik madumu akan tinggal di mana setelah ini? Apa kau tak kasihan pada Ibu. Pikirkanlah baik-baik, jangan e go is."

"E go is katamu? Lalu, pernikahan diam-diammu itu? Ck, sepertinya kamu butuh cermin buat ngaca."

"Kenapa? Apa hanya karena pernikahan keduaku kamu jadi berubah seperti ini? Harusnya dengarkan dulu penjelasanku, Lina. Aku berhak menikah lagi. Aku ingin punya anak dan kau tak bisa memberiku."

Plakk!

"Aduh!"

Lina me nam par p**iku dengan keras. Sakit sekali. Ke ter laluan dia, berani kurang a jar padaku.

"Jaga sikpamu, Lina! Ke ter laluan!

Aku menunjuk dengan tangan kanan.

"Terserah apa katamu, aku tak peduli lagi!"

Lina membuang muka. Merasa tak berdosa. Ia berjalan cepat meninggalkanku. Harus bagaimana melembutkan hati istri tuaku itu. Keben cian membuatnya bu ta seperti ini. Ia bahkan sang*t berani padaku sekarang.

"Mbak, sadarlah, Mbak. Duh."

Kutepuk-tepuk p**i Mbak Menik. Ia masih tak sadarkan diri. Mana tu buhnya lumayan berat, pegal kakiku menahan kepalanya.

Akhirnya kubiarkan saja Mbak Menik pingsan di atas lantai. Sementara aku berlalu mengejar Lina.

***

"Jadi deal, ya, Pak. Nanti kita ke no ta ris, sekalian ngurus balik nama."

Aku melongo. Jabat tangan antara Lina dan seorang pria yang katanya pembe li rumah, membuat kepalaku seketika berputar hebat. Kesepakatan sudah dibuat. Aku terlambat.

"Tidak, tidak bisa, Pak. Ini rumah saya!"

Aku berteriak sambil setengah berlari mendekat.

"Rumah saya? Ing*t, ya, Mas. Kamu cuman num pang hidup di sini."

"Tapi ini rumahku juga!"

"Apa? Maksudnya bagaimana Bu Lina?" Pria itu menjadi ragu. Baguslah. Kesempatan untuk bisa membatalkan.

"Hohoho, jangan dengarkan pria ini, Pak. Sepertinya obat yang harus ia minum habis. Jelas sekali keterangan di surat rumah beratas namakan aku. Sok-sokan ngaku miliknya. Begini saja, kalau masih tak terima, kamu bisa bawa ke jalur hu k*m. Kita selesaikan di sana."

Deg!

Lina lancar sekali berbicara. Seperti sudah terlatih berkata seperti itu. Atau jangan-jangan ada yang mengajarinya? Lina-ku biasanya lembut, tapi sekarang ....

"Mari, Pak. Kita buat kesepakatan di luar saja. Saya gerah di sini."

***

Mondar-mandir sambil berpikir. Isi kepalaku buntu. Lina tak ada gentarnya. Ia bahkan me nan tangku ke jalur hu k*m. Jelas saja aku kalah. Tak punya bukti kepemilikan. Lina pemilik yang sah.

Tap!

Tap!

Tap!

Lagi, highells yang digunakan Lina menggema di telingaku. Menoleh cepat ke arah pintu utama. Lina datang setelah mengantar calon pembeli ke luar rumah.

"Hanya satu minggu. Penghuni baru akan menempatinya. Silakan berkemas dari sekarang, Mas."

Lina berujar dengan tenang. Tanganku g*tal, sampai akhirnya ....

"Plakk!"

Aku me nam parnya. Kesal! Istri tak tahu diri. Berani sekali pada suami.

"Ke ter laluan kamu, Lina!" desisku setelah me nam par.

Lina mengusap pelan. Ia lalu tersenyum sekilas. Kulihat bekas lima jari milikku membekas di pi pinya. Jelas saja sakit. Karena aku pakai tenaga, tapi anehnya, Lina diam tak meri ngis.

"Kamu bilang aku ke ter laluan? Oke, baiklah. Sekarang dengarkan aku, Mas. Kamu menikah lagi tanpa izinku. Menyuruhku mudik ke rumah Ibu, aku menurut saja karena kupikir kamu mendukung usahaku agar bisa hamil. Aku mencari pengobatan di sana, ya, hampir seminggu."

Lina menarik napas dalam. Ia menatapku.

"Tapi fakta di sini. Kamu diam-diam menikah lagi, bahkan didukung penuh oleh keluargamu. Apa ini bukan ke ter laluan?" tanyanya lagi.

"Kamu salah paham. Aku menikahi Ratih karena ingin punya keturunan. Mas pikir dengan tak memberitahu, kamu akan setuju saja. Karena Mas yakin, jika meminta izin, jelas sekali kamu akan menolak."

"Yakin hanya ingin keturunan saja? Apa kamu pikir aku bu ta? Tak tahu apa-apa soal Ratih? Bukankah dia tetangga satu kampungmu di desa? Kalian bahkan pernah pa ca ran. Hahahaha, aku tahu semuanya, Mas. Sekarang, sudahlah. Semuanya telah usai. Silakan me nik mati kehidupan barumu dengannya. Aku sudah melayangkan gu g*t cerai di pengadilan. Tunggu saja surat pemberitahuannya turun."

Lina mengibas rambutnya kemudian pergi. Ada yang ber de nyut sa kit dalam hati saat ia berkata gug*t cerai. Tak kusangka Lina akan seperti ini.

Keputusan untuk menikahi Ratih rupanya membawa ma sa lah baru. Kehidupanku, harta yang menjadi milikku, harus dimulai dari angka nol lagi.

S*alan!

***

Bersambung ....

Sudah tamat di KBMapp
Judul : Pengantin Baru Suamiku
Penulis : Amaliyah Aly
Link baca ada di kolom komentar, check 👇

https://read.kbm.id/book/detail/40639f8a-a139-0ff6-1c1a-9b805385a7cb?af=1bbd70ff-232d-8034-0d4c-3610a18d5188

YANG KU TEMPUH DEMI ANAK. SELAMAT MENIKMATI MASA TUA DI PENJARA IBU MERTUA KUAnita POV"Buk, bisa bicara sebentar," aku m...
18/03/2026

YANG KU TEMPUH DEMI ANAK. SELAMAT MENIKMATI MASA TUA DI PENJARA IBU MERTUA KU

Anita POV

"Buk, bisa bicara sebentar," aku menghampiri ibu mertua yang tengah memberi makan ayam di kandang.

Ibu tidak mengiyakan tapi juga tak menolak. Aku anggap ibu setuju kita bicara.

Setan berhasil mengompori, kali ini emosiku sudah diujung ubun, aku tak memiliki pengendalian. Aku sakit hati dengan kelakuan ibu terhadap ragilku.

"Bengong, cepat ngomong. Ibu banyak kerjaan," ujarnya dengan nada yang tak enak didengar telinga.

Aku tidak kaget dengan sikap yang seperti itu, sebelum aku menjadi menantu, ibu yang paling kelihatan tidak s**a. Entah apa salah yang pernah aku perbuat. Setiap kali yang aku lakukan selalu salah dimatanya.

"Mengenai Aera. Anita mohon, tolong ibu bersikaplah lembut terhadap dia," aku meminta dengan serius. Agar ibu iba dengan keadaan anak itu yang baru ditinggal Mas Yudi, papanya. "Ibu boleh membenci Anita, tidak s**a sama Anita, ibu boleh. Tapi jangan Aera. Dia tidak memiliki saladdddh apapun. Sekali lagi, tolong, Bu. Perlakukan Aera sama seperti cucu yang lainnya." Sekitaran bola mataku terasa panas.

Ibu berhenti dari aktifitas menabur beras untuk anak-anak ayam.

Bisa dibilang aku telat menegur ibu. Menurutku ini waktunya. Dulu semasih ada Mas Yudi, aku tak mempermasalahkan sikap yang seperti itu. Bukan berarti aku s**a dengan perlakuan ibu yang sungguh spesial terhadap si bungsu. Pikirku, si bungsu tidak masalah, karena kasih sayang kami bisa menggantikan dan lebih besar tak tertandingi. Namun setelah Mas Yudi meninggal, otomatis kasih sayang untuk anakku yang malang berkurang.

"Anita tidak meminta ibu menyukai Aera, tapi setidaknya ibu bersikaplah lembut terhadap anak itu," aku membiarkan air mata lolos lagi. Kesedihan kehilangan suami belum sembuh, luka batin ditambah lagi dengan sikap ibu. "Anita tidak mempermasalahkan ibu benci aku, jangan Aera," ulangku.

Ibu tidak menjawab. Dia berlalu pergi.

Aku menggepalkan kedua tangan di sisi jahitan baju. Menguatkan diri. Sekarang hanya aku yang menjadi sandaran untuk anak-anak. Tak boleh rapuh di depan mereka.

Setelah cukup lama aku menenangkan diri, aku pun segera masuk ke dalam. Lama-lama berada di kandang ayam, membuat kepala tambah pusing. Bukan lagi karena memikirkan sikap ibu yang menurutku kekanakan, tapi ditambah bau kotoran ayam.

"Ma, dipanggil akung," Aira si mbarep menghampiriku. Dia memeluk dan mehujaniku ciuman-ciuman kecil. Kebiasaan anak pertamaku kalau seharian lama tak bertemu denganku. "Kata akung, Aira disuruh sekolah disini, Ma."

Deg

Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar aduan Aira. Aku seperti mendapatkan firasat buruk lagi.

"Aira nggak mau. Di rumah akung jauh kalau ke mana-mana."

Aku bisa lega. Aira menolak. Akan aku gunakan alasan ini untuk senjata.

Aku mengusap lembut kepala Aera. Anakku sudah besar rupanya, dia mengerti dengan kalimat yang diucapkan orangtua.

"Mama akan bicara dengan akung. Mama juga nggak mau jauh-jauh dari anak mama yang cantik jelita ini." Aku membingkai wajah Aira. Pahatan sempurna pemberian Gusti Allah yang mirip dengan almarhum papanya.

"Benar ya, Ma."

"Iya. Sekarang kamu main lagi hih sama saudara-saudara."

Setiap kali dulu Mas Yudi mengajak liburan di rumah mertua, aku tak pernah membatasi anak-anak bermain dengan sepupu-sepupunya. Bahkan aku juga mengizinkan Aira tidur dengan nenek dan akungnya, Anakku butuh bersosial juga dengan saudara. Kuberi kebebasan asal mereka nyaman.

Aku menemui mertua lelaki. Ternyata mereka berk*mpul di ruang tamu. Belum bubar meski acara tahlilan sudah selesai. Aku berasa tengah di sidang.

"Nggeh, Pak. Kenapa bapak memanggilku?"

Obrolan orang-orang menjadi hening. Pandangan keluarga Mas Yudi mengarah kepadaku. Seakan tatapan mereka menelanjangi dan mengulitiku. Sinis. Yang aku tangkap.

"Duduk sini," bapak menepuk-nepuk tempat kosong sebelahnnya.

Aku manut.

"Begini, nduk. Sekarang mas-mu Yudi sudah meninggal. Di Surabaya, kamu juga bekerja."

Bapak bicara bertele-tele. Kenapa tidak langsung ke inti permasalahan. Begini aku jadi greget.

"Bapak takut, anak-anakmu tidak ada yang mengawasi lagi nanti."

Meski lidah sudah terasa g*tal untuk menjawab, aku masih upayakan menggigitnya. Menunggu agar bapak selesai mengutarakan maksudnya. Meski aku bisa menebak dari aduan sulungku tadi. Pasti yang dibicarakan tak akan jauh dari hal tersebut. Aku tahu sopan-santun. Menyela pembicaraan orangtua bentuk ketidaksopanan.

"Bapak sama ibu hanya ingin membantu kamu mengawasi mereka, bapak berharap kamu mengizinkan agar Aira bisa tinggal dan mengenyam pendidikan disini. Bagaimana?"

"Hanya Aira?" Aku memastikan.

"Kamu ngarep, anakmu super power juga kami tampung disini?" Suara nyolot ibu menggema.

"Bu, pelankan suara kamu," bapak mertua mempering*tkan. "Hanya Aira saja. Bapak pikir Aera masih kecil dan banyak membutuhkan ibunya."

"Anita terserah anaknya, Pak. Bapak bisa langsung tanya Aira."

Disisi terjahat dalam hati, aku menunggu siapa yang bakalan menang dalam kasus ini. Kalian akan ditolak oleh sulungku.

Aira dipanggil. Dia duduk di dekatku. Sementara Aera, si kecil memilih duduk di pangkuanku.

Mertua mulai menggencarkan cara membujuk mbarepku agar mau sekolah di sini. Mulai dibelikan sepeda, diajak jalan-jalan setiap Minggu, hingga bujukan-bujukan yang menurutku konyol mereka utaran, mbarepku dengan pendirian teguh ingin tetap sekolah di Surabaya.

Tanpa aku tutupi, senyum puas mengembang di ujung bibirku. Aku lega. Aira menolak.

"Bujuklah itu anak, kamu," ibu menyuruhku.

"Anita dan Mas Yudi pernah sepakat ketika mendidik anak-anak kita tidak boleh memaksakan keinginan orangtua. Kita orangtua yang modern memberikan kebebasan untuk anak-anak. Meski sekarang papanya telah tiada, cara mendidik yang Mas Yudi terapkan juga akan saya lanjutkan untuk diterapkan pada Aira dan Aera. Tidak akan memaksa mereka menuruti pilihan orangtua selama mereka memiliki pilihan sendiri dan nyaman dengan pilihan itu."

"Omong kosong! Mana bisa kamu sekarang mendidik anak kamu? Ibuk yakin, kembalinya kalian ke Surabaya, pasti kamu lebih sibuk dan cinta dengan pekerjaan kamu. Mengabaikan anak-anak kamu." Ibu menuduhku.

Aku melongo mendengar ucapan yang tidak masuk akal dan mengada-ada.

"Ma, aku nggak mau sekolah disini," anakku Aira mengiba.

"Bapak dan ibu mendengarkan? Aira tidak mau. Tolong hargai keinginannya."

"Alah, itu pasti kamu yang mengajarkan anak membangkang seperti itu. Memang ya sejak awal ibu melihat kamu perempuan licik."

*

Judul Suamiku Meninggal Di Kamar Pemandu Lagu
Penulis Pena Supini
Aplikasi KBM

Bab 5Malam itu, seusai salat Magrib, Azka belajar membaca dan berhi tung. Arini sengaja tidak mema sukkan putranya ke ta...
18/03/2026

Bab 5

Malam itu, seusai salat Magrib, Azka belajar membaca dan berhi tung. Arini sengaja tidak mema sukkan putranya ke taman kanak-kanak karena keterbatasan bi aya. Ia memu tuskan untuk mengajarinya sendiri di rum ah.

“Tahu nggak, mending Azka mas ukin ke TK aja. Aku yang bakal bia yain semua keperluannya. Biar aku yang langsung kasih ke sekolahnya, supaya Ibu ku nggak ikut cam pur lagi,” ucap Dani.

Arini hanya mengangguk pelan, tak berkata apa-apa.

Setelah salat Isya, Dani berkata, “Azka, main yuk, jalan-jalan naik motor sama Ayah!”

Azka mengangguk antusias.

“Apa Ibu juga boleh ikut?” tanyanya po los.

Dani tidak langsung menjawab. Ia malah melem parkan pertanyaan pada Arini.

“Kamu mau ikut, Rin?”

Karena pertanyaan itu bukan ajakan tul us, Arini menggeleng pelan.

“Ibu di rum ah aja, ya. Ibu mau istirahat.”

“Tapi nanti p**angnya ke sini, kan, Ayah?” tanya Azka lagi.

Dani mengangguk singkat. “Iya.”

Setelah itu, Dani dan Azka pergi jalan-jalan berdua. Mereka baru p**ang sekitar pu kul sembilan malam.

Begitu masuk rum ah, Azka langsung bercerita dengan wajah ceria.

“Ibu, tadi aku makan soto ayam. Aku disua pin tante-tante... Namanya Tante Diana. Katanya dia pa car Ayah.”

Arini terdiam. Ta tapannya langsung beralih ke Dani, yang hanya diam membi su tanpa ekspresi.

Tanpa banyak bicara, Arini mengajak Azka mencuci kaki.

“Ayo, bobok. Udah malam.”

Azka mengikuti Arini mas uk ke ka mar dan ti dur di sampingnya.

Malam itu, Arini berba ring di samping Azka. Ia menatap langit-langit, mencoba men elan bulat-bulat kenyataan yang baru saja diso dorkan takdir. Air matanya meng alir diam-diam, memba sahi bantal yang sudah terlalu sering menjadi tempat tvmpah segala kesedihan.

Da da Arini terasa per ih, seperti ada duri yang menvsuk perlahan tapi pasti. Bukan hanya karena pengkhi anatan, tapi karena ia sadar... dirinya mulai tidak diinginkan.

Pagi ini, Arini pergi ke tukang sayur untuk membe li bahan masakan. Ia sengaja ingin memasak makanan kes**aan Dani, karena hari ini suaminya berada di rum ah.

“Tumben, Mbak Arini pagi-pagi be lanja. Baru dapet lot re, ya?” celetuk seorang ibu sambil tertawa kecil.

Arini hanya tersenyum.

“Belan janya banyak, Mbak?” tanya ibu yang lain.

“Iya, Bu. Ini ada Bapaknya Azka di rum ah,” jawab Arini pelan.

“Oh, pantesan bel anja banyak.”

“Kira-kira Bu Erna tahu nggak kalau kamu bela nja hari ini?” tanya seorang ibu lagi dengan nada menyel idik.

“Kayaknya sih nggak tahu, Bu.”

“Waduh, buruan deh, bela njanya. Sebentar lagi dia datang. Bisa ramai warung Bu Ida nanti!”

Arini yang memang sudah selesai berbel anja segera p**ang dan mulai memasak. Ia menyiapkan hidangan dengan hati-hati, berharap Dani senang.

Tak lama setelah masakan matang, terdengar ketukan pintu dan suara khas ibu mertua, Bu Erna.

“Wah, hari ini masaknya istimewa, nih!” seru Bu Erna sambil langsung ma suk tanpa menunggu jawaban.

“Udah matang, kan?” tanyanya, tapi tak menunggu jawaban. Ia langsung melangkah ke dapur, mengambil mangkuk plastik, dan mulai me nuang masakan ke dalamnya.

Arini hanya terdiam. Tidak berkata apa pun. Ia memilih menahan diri.

Dani yang baru saja keluar dari kam ar ma ndi mendapati ibunya sedang sibuk di dapur.

“Bu... Ibu ngapain ke sini?” tanyanya heran.

Bu Erna terkejut, mengira Dani sudah berangkat kerja.

“Ini... Ibu cuma minta sayur sedikit, kok. Buat makan siang,” jawabnya santai.

Dani melihat mangkuk bekas sayur Arini sudah kosong. Ha tinya langsung pa nas.

“Ibu... maksud Ibu apa? Ibu kepengin ya Arini dan Azka kela paran?” Nada suaranya mulai meninggi. “Ing*t, Bu, cucu Ibu itu, Azka, a nakku. Ga jiku selama ini sebagian besar Ibu yang pakai. Tapi kenapa Ibu malah berbuat ja hat sama a nakku sendiri?”

“Halah! Kamu tahu apa. Buktinya sampai sekarang mereka nggak ma ti kelaparan, kan?”

Lalu Bu Erna mena tap taj am Arini.

“Heh, kamu Arini, pa kai apa sih? Pa kai jam pe-jampe, ya? Sampai Dani mau tid ur di sini!” katanya penuh pra sangka.

Arini masih tetap diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mu lutnya.

“Bu, taruh lagi sayurnya. Aku mau makan,” kata Dani tegas.

“Ya udah, makan aja. Nih, Ibu ambilin sis anya. Ibu bawa sebagian, ya.”

“Terus Azka sama Arini makan apa, Bu?”

“Ya nggak tahu. Bukan urvsan Ibu!”

Dani men arik napas panjang, berusaha menahan emosi.

“Taruh lagi, Bu. Itu Arini masak buat kita. Kalau Ibu mau ambil sedikit, nggak apa-apa. Tapi jangan semua.”

“Di rum ah belum masak. Ibu sama Delia, Dian, dan adikmu, Kuncoro, juga belum ma kan. Udah, Ibu bawa aja! Ribet banget, sih.”

“Oke. Ibu boleh bawa, tapi mulai bulan depan aku nggak akan ka sih u ang lagi ke Ibu.”

“Kamu ngan cam Ibu, ya? A nak dur haka! Gara-gara perem puan mis kin ini, kamu berani ngan cam Ibu!” tangan Bu Erna mela yang, hendak menjam bak ram but Arini, tapi langsung dite p*s Dani.

“Gara-gara kamu, Dani jadi ngela wan Ibu! Lihat aja nanti... Ibu svndut lagi kamu pakai ba ra kayu seperti waktu itu, biar kamu kapok dan tahu diri!”

Dani terdiam. Ia terkejut mendengar pengakuan ibunya. Jadi... lvka ba kar di punggung Arini yang pernah ia lihat semalam—itu... benar karena disvndut bar a oleh ibunya sendiri?

Judul A nakmu, Aku dan Kamu

Penulis :Zakiyah
Pf KBM

Bab 4Da da Sammy yang berotot semakin memb usung ke depan, betapa bangganya Sammy akhirnya dirinya dilantik menjadi seor...
18/03/2026

Bab 4

Da da Sammy yang berotot semakin memb usung ke depan, betapa bangganya Sammy akhirnya dirinya dilantik menjadi seorang komandan militer, dan semakin bangga lagi Loly yang terkenal cantik berdiri anggun di sampingnya.

Sammy meraih ping gang Loly agar berdiri merabpat ke tubuhnya, karena sebentar lagi banyak teman-temannya akan memberi selamat kepadanya.

Ada rasa khawatir pada diri Sammy karena di antara semua temannya banyak yang bermata jelalatan dan punya title pl***oy. Sammy takut Loly digoda oleh mereka, karena meski mereka tahu Loly istri komandan, tetap saja mereka nakal menggoda.

Biasanya Loly akan nurut dan anggun jika berada di acara seperti itu, tapi kali ini tidak. Melihat suaminya pasang aksi mengamankannya supaya tidak digodain temannya, Loly malah tersenyum manis saat Kapten Surya mendekat dan memberi selamat pada Sammy dan Lo**ta.

Tentu saja Kapten Surya yang baru saja single karena istrinya meninggal terperangah, merasa tersanjung mendapat senyuman paling manis dari Loly.

Sammy sang*t kaget kenapa Loly berbuat seperti itu, Sammy tidak mau senyum termanis Loly diberikan pada laki-laki lain. Loly harus senyum biasa saja, tidak boleh berlebihan seperti itu.

Tapi Sammy saat ini tidak bisa menegur Loly, Sammy hanya bisa menggenggam tangan Loly erat dan memberi isyarat dengan tatapan supaya Loly menjaga senyumnya, tapi Loly tidak mengindahkan. Loly tetap tersenyum lebar dan termanis, malah berani ngobrol dengan Surya.

“Terima kasih Pak Surya,” ucap Loly menjawab ucapan selamat dari Surya.

“Sama-sama,” Surya tersenyum, dia nggak nyangka Loly yang terkenal cantik dan anggun tapi sang*t susah untuk didekati kini dengan bebasnya senyum dan menjawab ucapannya. Surya pun terpana dan ingin berlama-lama menatap Loly, tapi tatapan seram Kapten Sammy di samping Loly membuatnya segera mengurungkan niatnya itu dan segera pergi.

“Jangan terlalu banyak senyum,” Sammy berbisik di telinga Loly, tapi Loly pura-pura tak mendengar, dia tetap tersenyum pada para tamu. Sammy sang*t kesal tapi dia tahan rasa kesalnya itu. Entah kenapa Loly jadi banyak melakukan hal yang dilarang olehnya.

Loly tahu kalau dirinya tidak s**a kalau Loly banyak tersenyum pada pria lain, apalagi sampai mengobrol.

“Apa yang kamu lakukan?” Sammy marah, suaranya meninggi. Sammy meluapkan amarahnya di rumah dan marahnya sudah menggunung sejak di acara tadi.

“Melakukan apa?” Loly yang baru sempat membuka sepatu malah balik nanya. Loly tersenyum kecil, misinya untuk membuat Sammy cemburu berhasil.

“Senyummu terlalu berlebihan di acara tadi, kamu kegenitan,” Sammy menghempas tubuh ke sofa, sepatu dan kaos kaki dia lemparin ke pojok ruangan dan segera diambil Nuning.

“Berlebihan bagaimana, Mas? Itu sudah sewajarnya, mereka kan memberi selamat padamu. Kamu yang berlebihan cemburunya, dari dulu kamu selalu melarang aku tersenyum pada siapa pun terutama laki-laki. Bukan hanya senyum tapi ngobrol, kamu menjadikan aku orang yang kejam, Mas,” ucap Loly kesal dan bersiap masuk kamar.

“Tapi mereka bukan muhrim kamu, kamu berdosa tersenyum seperti itu pada mereka,” ucap Sammy. Loly tersenyum sinis, sejak awal menikah Sammy memang posesif sikapnya. Dia membatasi sikap Loly dan awalnya Loly menurut, tapi sekarang Loly tidak mau menuruti semua itu karena sepertinya Sammy tidak benar-benar ingin menjadikannya wanita saleha, tapi Sammy justru egois. Sammy tidak ingin Loly mengetahui kebus**an sikap dia yang sebenarnya.

Loly masih curiga dengan an ak kecil dan wanita yang di restoran itu, Sammy masih menutupinya.

“Huek,” tiba-tiba perut Loly mual dan mau muntah. Bau masakan dari dapur membuat kepalanya pusing.

“Huek.” Loly menutup mulutnya, perutnya serasa melilit. Makanan yang tadi dimakan saat makan siang tiba-tiba ingin keluar lagi. Loly segera berlari ke kamar mandi.

Sammy menatap kaget, kemudian berlari menyusul Loly ke kamar mandi.

Di kamar mandi Loly muntah-muntah.

“Sayang, kamu kenapa?” Sammy memijat punggung Loly. “Aku telepon Kinan ya.”

“Tidak perlu, ini cuma masuk angin,” jawab Loly sambil membasuh mukanya.

Semua makanan dalam perut Loly keluar semua dan itu membuat tubuh Loly sang*t lemas.

Sammy membantu Loly untuk bangkit dan memapahnya kembali ke ruang tengah.

Tanpa minta persetujuan Loly, Sammy segera menelpon Kinan untuk segera datang.

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa, cuma masuk angin saja. Kenapa menelpon Kinan segala? Kinan kan lagi sibuk di rumah sakit,” ucap Loly tidak s**a.

“Tubuhmu lemas seperti itu masih bilang tidak apa-apa.”

“Udahlah, Mas, jangan bersandiwara terus dengan sok perhatian segala.”

“Bersandiwara? Maksud kamu apa? Kamu pikir aku pura-pura gitu? Kamu itu istriku, tentu saja aku cemas takut kamu kenapa-napa.” Loly membuang muka, membuat Sammy merasa heran dengan sikap istrinya itu.

Lagi bingung Sammy dengan sikap Loly, Kinan datang tergopoh membawa tas peralatan medis dan obat.

“Ayo kita periksa, Ly,” Kinan langsung mendekati Loly.

“Aku cuma kecapean dan masuk angin biasa kok, Kin. Nggak perlu cemas.”

“Iya, tetap saja harus diperiksa. Kan kamu punya aku seorang dokter, jadi dikit-dikit harus periksa,” Kinan mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa tekanan darah Loly, kemudian Kinan menarik napas panjang.

“Kenapa?” Sammy mendekat dengan wajah cemas.

“Tensinya tinggi,” jawab Kinan.

“Pantes emosian,” ucap Sammy dan Loly mendelik.

“Kamu harus rileks, Ly, santai, nggak boleh banyak pikiran ya, nanti kamu dan…” ucapan Kinan menggantung, hampir saja ucapannya meluncur, tapi Loly cepat memotong.

“Aku tidak banyak pikiran, aku hanya lelah saja kok. Istirahat sebentar juga nanti membaik.”

“Tunggu, ucapanmu tadi belum selesai,” Sammy menatap Kinan. Sepertinya Sammy mendengar ucapan Kinan yang nggak jadi itu.

“Ucapan yang mana?” Kinan pura-pura tidak mengerti.

“Kamu bilang Loly dan… dan siapa?” Sammy menatap Kinan tajam.

“Nggak ada apa-apa.”

“Hmm, kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku.” Wajah Sammy tampak tidak senang, merasa kedua perempuan itu menyembunyikan sesuatu.

Sammy mulai curiga, jangan-jangan Loly punya selingkuhan, dan itu Surya, karena Surya baru saja duda dan tadi Loly memberikan senyuman termanisnya pada Surya.

Apalagi sekarang Loly mulai berani keluar rumah sendiri tanpa didampingi olehnya dan sikap Loly mulai berubah, cemburu tanpa alasan.

“Kamu yang menyembunyikan sesuatu dariku, Mas,” tiba-tiba Loly menjawab dengan cepat, membuat Kinan kaget. Drama rumah tangga pun akan segera dimulai, saling cemburu.

“Aku menyembunyikan apa?” suara Sammy mulai meninggi. Kinan merasa khawatir, apalagi Kinan tahu kalau Loly memang sedang marah karena merasa Sammy menyembunyikan sesuatu.

“Mau sampai kapan kamu menyangkal, Mas? Mau sampai kapan kamu menutupi semuanya dariku?”

“Aku nggak ngerti dengan apa yang kamu bicarakan, Loly.”

“Terserahlah, Mas, tapi kalau Mas terus akan menutupinya, aku lebih baik p**ang ke rumah Mama.”

“Pulang ke rumah Mama, atau kamu ingin bebas dariku?”

Judul : Cukup satu cinta kapten

Penulis : LoveNadifa

Apk KBM App

Lanjut baca di KBM

"Aku datang membawa buku nikah sebagai bukti... tapi di depan gerbang asrama, ibu dari istri kedua suamiku merebutnya la...
18/03/2026

"Aku datang membawa buku nikah sebagai bukti... tapi di depan gerbang asrama, ibu dari istri kedua suamiku merebutnya lalu me robek nya di depan wajahku—sementara suamiku, Komandan Heru, hanya berdiri diam seolah aku tak pernah ada. Yang lebih menyayat: a nak ku bertanya, 'Bu... Ayah kok lupa sama kita?'"

Part 1 - 💔

Gerbang asrama itu berdiri kokoh seperti benteng. Besi hitam dengan lambang kesatuan di tengah. Menjulang tinggi. Dingin. Angkuh.

Aku berdiri di depannya dengan koper kecil dan Azka yang menggenggam tanganku erat.

"Bu... Ayah di dalam?" tanyanya pelan.

"lya," jawabku, walau tenggorokanku terasa kering seperti menelan pasir.

Empat tahun.

Empat tahun aku menunggu Heru.

Empat tahun aku menyimpan janji yang ia ucapkan sendiri di depan penghulu. Waktu itu matanya bersinar. Seragamnya rapi. Genggamannya hang*t.

"Nikah kita jangan diumumkan dulu. Tunggu aku lapor resmi setelah karierku naik. Ini demi masa depan, Sayang."

Aku mengangguk waktu itu.

Aku percaya.

Aku tak pernah melapor ke satuan. Tak pernah mengumumkan pernikahan. Semua atas permintaannya.

Karena katanya, waktunya belum tepat.

Dan hari ini, waktu itu ternyata berubah jadi senjata yang menusuk diriku sendiri.

Azka menarik-narik ujung bajuku. "Bu, kok lama? Azka mau lihat Ayah punya rumah besar."

"Sebentar, Nak."

Kulirik lagi surat yang sudah kusimpan rapat di dalam tas. Buku nikah dengan sampul hijau. Foto kita berdua di dalamnya. Heru tersenyum. Aku bersandar di bahunya.

Semua nyata.

Dulu.

Suara deru mobil membuatku menoleh. Mobil hitam berhenti persis di depan gerbang. Kilapnya menyilaukan di bawah terik matahari.

Seorang perempuan turun.

Sepatu hak tingginya menginjak aspal dengan mantap. Jilbab sutranya rapi. Tas branded tersampir di lengan. Tapi bukan barang mewah itu yang membuatku mundur setengah langkah.

Tatapannya.

Dingin. Tajam. Menghakimi.

Matanya langsung tertuju padaku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ke Azka. Lalu kembali ke wajahku.

"Kamu siapa?" tanyanya.

Suaranya datar. Tapi ada getar merendahkan di sana.

Aku tegakkan punggung. "Saya mau bertemu Komandan Heru."

Alisnya terangkat. Bukan heran. Lebih seperti... puas?

"Menantu saya sedang sibuk."

Menantu.

Kata itu menghantam ulu hatiku.

"Menantu?" ulangku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Perempuan itu tersenyum tip*s. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Heru sudah menikah dengan putri saya. Monica. Istri sahnya."

Tanganku bergerak membuka tas. Terburu-buru. Hampir panik.

"Saya juga istrinya," kataku. Berusaha tenang walau jemariku gemetar. "Ini buktinya. Buku nikah kami."

Belum sempat kubuka halaman pertama—

Perempuan itu bergerak cepat.

Tangannya—dengan kuku panjang bercat merah—langsung merebut buku itu dari genggamanku.

"Eh—itu milik saya!" Refleks aku menjangkau.

Tapi ia sudah memegangnya erat. Matanya menyipit membaca halaman demi halaman. Cepat. Seperti jaksa membaca dakwaan.

Aku diam membeku. Antara ingin merebut kembali dan takut dianggap lancang.

Diam-diam Azka merapatkan tubuhnya ke kakiku.

Perempuan itu menyelesaikan bacaannya. Lalu menatapku. Lalu tertawa.

Tawa kecil. Pendek. Tapi cukup membuat bulu kudukku berdiri.

"Pernikahan ini tidak pernah dilaporkan ke kesatuan," katanya.

Aku terdiam.

"Itu... atas permintaan Heru," jawabku pelan.

"Jadi kamu menikah diam-dam?" Suaranya meninggi. "Tanpa prosedur? Tanpa izin resmi?"

Beberapa orang mulai menoleh. Dua penjaga gerbang melirik. Seorang perwira yang baru turun dari motor ikut memperhatikan.

Azka bersembunyi di belakang kakiku. Tangannya mencekram erat betisku.

"Itu keputusan suami saya waktu itu," jelasku. Berusaha tenang. Berusaha tidak goyah. "Dia bilang nanti akan dilaporkan setelah semuanya siap."

Perempuan itu tertawa lagi.

Kali ini lebih keras.

"Dan kamu percaya begitu saja?"

Belum sempat aku menjawab—

Tangannya bergerak.

Kertas itu berbunyi nyaring saat ia me robek nya tepat di depan wajahku.

Sobekan pertama.

Lalu sobekan kedua.

Suara kertas terbelah terdengar jelas. Seperti daging yang dirobek. Seperti sesuatu yang patah di dalam diriku.

"Jangan!" teriakku.

Tapi potongan-potongan buku nikah itu sudah beterbangan. Jatuh ke lantai aspal. Satu potong menempel di sepatuku. Sebagian lagi tersapu angin tip*s.

Azka langsung jongkok. Tangan mungilnya memunguti sobekan-sobekan kecil itu.

"Bu... ini kenapa di robek?" tanyanya. Matanya membulat. Bibirnya bergetar.

Aku tak bisa menjawab.

D dadaku sesak. Seperti ada yang mencekik dari dalam.

Aku menatap perempuan itu. Mataku panas. Tapi air mata tak boleh jatuh. Tidak di sini. Tidak di depannya.

"Itu bukti pernikahan saya," kataku. Suaraku serak. Hampir bisik.

"Bukti?" Ia mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hidungnya hampir menyentuh dahiku. "Tanpa laporan resmi? Tanpa pengakuan kesatuan? Kertas itu tidak ada artinya di sini."

Wewangiannya menusuk hidung. Tapi yang lebih menusuk adalah kata-katanya.

Aku membuka mulut. Ingin membalas. Ingin berteriak. Tapi suara mobil lain memotong semuanya.

Mobil jip warna hijau tentara.

Aku tahu siapa yang turun bahkan sebelum melihat wajahnya.

Heru.

Seragamnya rapi. Tidak ada setitik debu. Pangkat di pundaknya berkilau kena matahari. Wajahnya tegas. Seperti komandan yang disegani semua anak buahnya.

Langkahnya mantap.

Matanya bergerak. Menangkap pemandangan di depannya.

Aku.

Azka dengan sobekan kertas di tangan.

Ibunya Monica dengan sisa-sisa buku nikah di genggaman.

"Pak Komandan," ucap perempuan itu lantang. Sengaja lantang. "Perempuan ini mengaku sebagai istri Anda."

Sunyi.

Angin berhembus. Membawa satu potong kertas kecil ke dekat sepatu Heru.

Ia menunduk. Melihatnya.

Lalu mengangkat wajah.

Azka melepaskan tanganku. Berlari kecil. Dua langkah. Tiga langkah. Mendekat.

"Ayah!"

Suara itu memecah keheningan.

Beberapa orang menahan napas. Aku lihat penjaga gerbang saling pandang. Seorang ibu-ibu yang lewat menghentikan langkah.

Heru menatap Azka.

Lama.

Wajah kecil itu. Mata itu. Bentuk hidung itu. Semua terlalu familiar. Terlalu nyata.

Lalu ia menatapku.

Tatapan kami bertemu.

Detik itu aku membaca semuanya. Atau ingin membaca. Apakah ada penyesalan? Apakah ada rasa bersalah? Apakah ada sedikit saja sisa cinta di sudut matanya?

Aku menunggu.

Heru. Katakan sesuatu.

Katakan kalau semua ini salah paham.

Katakan kalau perempuan ini ibumu, Azka. Katakan aku bukan orang asing.

Aku menunggu.

Dan yang keluar justru—

"Saya tidak mengenal perempuan ini."

Dunia serasa berhenti.

Kalimat itu tidak keras. Tidak juga lembut. Biasa saja. Seperti ia bicara tentang cuaca. Seperti ia bicara tentang barang yang salah alamat.

Tapi kalimat itu menghantam dadaku lebih keras dari pukulan fisik.

Azka mematung.

Perlahan ia menoleh ke arahku. Matanya bertanya. Bingung. Tak mengerti.

"Bu... Ayah kok bilang nggak kenal?"

Aku berlutut. Aspal panas membakar lututku. Tapi aku tak peduli. Kurentangkan tangan. Azka masuk ke pelukanku.

"Tidak apa-apa," bisikku di rambutnya. "Tidak apa-apa, Nak."

Tapi suaraku hampir pecah. Hampir hancur.

Aku berdiri lagi.

Genggamanku pada tangan Azka mengeras. Bukan karena marah. Tapi karena aku butuh pegangan. Butuh sesuatu agar tidak roboh.

"Heru."

Aku memanggil namanya. Tak peduli semua orang melihat. Tak peduli penjaga, perwira, ibu-ibu itu.

"Heru, lihat aku."

Ia menatapku. Wajahnya datar. Kosong.

"Kamu sendiri yang minta pernikahan ini dirahasiakan. Kamu yang bilang tunggu sampai kariermu naik. Kamu yang janji akan lapor setelah semuanya siap. Sekarang... kamu bilang tidak kenal?"

Suaraku bergetar di akhir kalimat. Tapi aku teruskan.

"Empat tahun, Heru. Aku tunggu kamu empat tahun. Azka lahir tanpa kamu di sampingku. Azka sakit tanpa kamu tahu. Azka tanya ayahnya di mana setiap malam. Dan aku selalu bilang... ayahmu sibuk. Ayahmu sedang perjuangkan masa depan kita."

Napasku tersengal. Tapi aku belum selesai.

"Ini... ini a nak mu, Heru. Darah dagingmu. Lihat dia. Lihat matanya. Itu matamu."

Heru diam.

Wajahnya mengeras. Tapi di rahangnya... otot itu bergerak. Sekali.

Ibunya Monica maju selangkah. Berdiri di samping Heru. Seperti perisai. Seperti penging*t.

"Sudah cukup," katanya. "Bawa perempuan ini keluar sebelum membuat citra Komandan tercemar."

Dua penjaga melangkah mendekat.

Satu meraih lenganku. Tidak kasar. Tapi tegas.

"Ibu, silakan pergi."

Aku tidak melawan.

Tapi mataku masih terpaku pada Heru.

Pada pria yang empat tahun lalu mengucap janji di hadapan penghulu.

Pada pria yang kini berdiri diam membiarkan semua ini terjadi.

Aku mundur selangkah.

Lalu menunduk.

Potongan-potongan kertas berserakan di lantai. Sebagian terinjak sepatu tentara. Sebagian beterbangan ditiup angin. Sebagian lagi masih dipegang Azka.

Bukti yang dulu kusimpan rapat-rapat. Yang kujaga seperti barang paling berharga. Kini hancur. Terinjak. Tak berharga.

Azka menunduk. Memungut satu sobekan lagi. Lalu menatapku.

"Bu... ini jangan dibuang ya."

Aku mengambilnya pelan. Sobekan kecil itu. Hanya sebesar telapak tangan Azka. Masih ada potongan foto di sana. Separuh wajah Heru. Separuh wajahku.

"Tidak akan," jawabku lirih.

Aku menggenggamnya kuat-kuat.

Kertas bisa di robek.

Tapi kenangan tidak.

Janji tidak.

Dan darah yang mengalir di tubuh Azka... tidak bisa dihapus begitu saja.

Aku mundur perlahan dari gerbang itu.

Langkahku berat. Tapi kepalaku tegak.

Di belakang, aku dengar suara ibu Monica. "Laporan segera ke atasan. Jangan sampai ada isu miring."

Lalu suara pintu mobil dibanting.

Lalu suara mesin menyala.

Dan suara gerbang asrama ditutup.

Besi itu berderit. Lalu membentur dengan bunyi keras.

Aku berhenti.

Menatap gerbang tertutup itu.

Di baliknya, ada Heru. Suamiku. Ayah dari a nak ku.

Di baliknya, ada kehidupan yang seharusnya jadi milikku.

Tapi aku di sini. Di luar. Dengan satu koper kecil. Satu sobekan buku nikah. Dan satu a nak yang terus bertanya.

"Bu... Ayah kenapa marah? Azka nakal ya?"

Aku berlutut lagi. Di pinggir jalan. Di depan gerbang asrama yang megah itu.

Kutatap wajah Azka. Hapus debu di p**inya.

"Kamu tidak nakal, Nak."

"Terus Ayah kenapa bohong?"

Aku diam.

Karena aku juga tak tahu jawabannya.

Atau mungkin aku tahu. Tapi terlalu sakit untuk diucapkan.

Angin berhembus. Membawa debu dan sisa-sisa kertas.

Aku menggenggam sobekan itu lebih erat.

Heru mungkin bisa menyangkal hari ini.

Buku nikah mungkin sudah jadi potongan kecil.

Tapi ia lupa satu hal—

Ada sesuatu yang tidak bisa ia robek.

Dan suatu hari nanti, saat ia tak lagi berdiri gagah dengan seragamnya... saat pangkatnya tak lagi membuat orang tunduk... saat ia sendiri dan sepi...

Ia akan ing*t.

Ia akan ing*t siapa yang pernah berdiri di gerbang itu.

Membawa a nak nya.

Dengan buku nikah sebagai bukti.

Dan hari itu—

Aku tidak akan datang untuk meminta.

Aku akan datang untuk menuntut.

Tapi sekarang... sekarang aku harus bertahan.

Dengan sisa kertas di tangan.

Dengan a nak yang terus bertanya.

Dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Aku berdiri.

Meraih tangan Azka.

Dan melangkah.

Tak tahu ke mana.

Tak tahu bagaimana.

Yang kuta hu... perjalanan baru saja dimulai.

Dan gerbang itu—

Gerbang yang baru saja menutup di depan wajahku—

Suatu hari akan kuketuk lagi.

Tapi tidak sebagai peminta.

Sebagai penuntut.

---

Lanjut?

Azka tiba-tiba menarik tanganku. "Bu, lihat!"

Aku menoleh. Di balik kaca mobil jip yang baru saja lewat... aku lihat Heru menatap kami. Lama. Lalu mobil itu melaju pergi.

Tapi di tangannya... aku lihat sesuatu.

Sebuah amplop cokelat.

Amplop yang sama yang kulihat terakhir kali empat tahun lalu.

Saat ia menitipkan sesuatu sebelum pergi.

Sesuatu yang katanya... "untuk jaga-jaga".

Dadaku berdegub kencang.

Apa isinya?

Dan mengapa ia membawanya sekarang?

---

[LANJUTKAN MEMBACA ▶]

Judul : Komandan Itu Suamiku Tapi Aku Diiusir Karena Dikira Pelakor
Arthor : Deelove
Ekslusif hanya di aplikasi KBM 💥

Address

Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NengSyantik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share