21/01/2026
ISTRI YANG TAK PERNAH ADA
"Suamiku membawaku pulang ke 'istana' kami. Tapi kenapa rumah ini terasa seperti penjara yang dipenuhi foto-foto wanita asing yang memakai wajahku?"
Adrian memamerkan foto-foto masa lalu kami yang 'bahagia'. Tapi aku tahu itu bukan aku. Di foto itu tidak ada tahi lalat yang kumiliki sejak lahir. Dan di kamar mandi tamu, aku menemukan bukti mengerikan yang kusembunyikan sendiri sebelum ingatan ini dihapus: "Lari sebelum tanggal 13".
-----------------------------------------------------------------------------------
BAB 2: Galeri Kebohongan
Dua minggu kemudian, Adrian membawaku "pulang".
Mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap itu memasuki gerbang besi setinggi empat meter yang otomatis terbuka. Di baliknya, terhampar sebuah mansion bergaya modern minimalis yang terbuat dari beton ekspos dan kaca gelap. Rumah itu megah, tapi terasa dingin dan tak bernyawa, dikelilingi oleh taman yang ditata terlalu sempurna; bahkan rumputnya seolah takut untuk tumbuh miring.
Ini bukan rumah. Ini adalah mausoleum.
"Selamat datang di rumah, Sayang," ujar Adrian, suaranya halus saat ia membukakan pintu mobil untukku. Dia menggandeng tanganku. Cengkeramannya lembut, tapi tegas—jenis kelembutan yang tidak menerima penolakan.
Di depan pintu utama yang besar, seorang wanita paruh baya berseragam hitam-putih sudah menunggu dengan kepala tertunduk.
"Selamat datang kembali, Nyonya Siska," sapanya tanpa berani menatap mataku. Ada getaran ketakutan dalam suaranya.
"Terima kasih, Bi Inah," jawab Adrian mewakiliku. "Siska masih sedikit lelah. Siapkan teh chamomile di kamar utama."
Aku dituntun masuk. Udara di dalam rumah itu berbau mahal—campuran kayu cendana dan pembersih lantai beraroma lemon yang tajam.
Adrian tidak langsung membawaku ke kamar. Dia membawaku menyusuri lorong panjang di lantai dasar.
"Kau mungkin lupa beberapa hal, jadi biar kubantu menyegarkan ingatanmu," katanya.
Lorong itu adalah sebuah galeri. Di sepanjang dinding kiri dan kanan, tergantung puluhan foto berukuran besar dalam bingkai perak. Semuanya adalah foto Adrian dan wanita itu. Wanita dengan wajah yang sekarang kupakai.
Siska di Menara Eiffel. Siska di atas kapal pesiar di Santorini. Siska yang tertawa lepas sambil memegang gelas sampanye di sebuah pesta mewah.
Aku berhenti di depan sebuah foto pernikahan besar di ujung lorong. Di foto itu, Siska mengenakan gaun pengantin seharga sebuah mobil, tersenyum sempurna di samping Adrian yang tampak gagah. Tanggal di sudut foto menunjukkan tujuh tahun yang lalu.
Tujuh tahun lalu, aku—Maya—sedang berjuang menyelesaikan skripsiku di perpustakaan kota yang berdebu sambil makan mie instan.
"Lihat betapa bahagianya kita," bisik Adrian di telingaku, tangannya melingkar di pinggangku, posesif.
Aku menatap foto itu lekat-lekat, mencari celah dalam kebohongan yang sempurna ini. Lalu aku melihatnya.
"Jika wanita ini adalah aku..." suaraku bergetar, "Di mana tahi lalatnya? Maya punya tahi lalat kecil di bawah mata kiri."
Aku menunjuk p**i wanita di foto itu. Mulus. Sempurna.
Adrian tertawa kecil. Suara tawanya dingin, tidak mencapai matanya. "Ah, itu. Dokter bedah plastikmu melakukan pekerjaan luar biasa, bukan? Dia membuangnya saat rekonstruksi wajahmu. Aku selalu bilang tahi lalat itu mengganggu kesempurnaan wajahmu, dan sekarang... kau benar-benar sempurna."
Dia berbicara seolah-olah wajahku adalah sebuah benda yang baru saja direnovasi, bukan bagian dari diriku.
"Aku ingin ke kamar mandi," kataku cepat. Aku merasa mual. Aku butuh menjauh dari galeri kebohongan ini dan dari pria yang menyebut dirinya suamiku.
Adrian menunjuk sebuah pintu di dekat tangga. "Tentu. Jangan lama-lama, Sayang. Kamar kita di atas."
Aku masuk ke kamar mandi tamu dan mengunci pintunya. Tanganku gemetar hebat saat aku menyalakan keran air agar suaranya menutupi isak tangis yang tertahan. Aku menatap cermin di atas wastafel. Wajah asing itu menatap balik, matanya—mataku—dipenuhi teror.
Aku mulai membuka laci-laci kabinet wastafel dengan panik. Mencari apa saja. Tisu, obat, atau bukti bahwa aku sudah gila.
Di laci terbawah, di bawah tumpukan handuk kecil yang terlipat rapi, jariku menyentuh sesuatu yang keras dan kecil. Aku menariknya keluar.
Itu sebuah liontin perak berbentuk buku kecil yang sudah agak kusam.
Napasku tercekat. Aku kenal liontin ini. Ini hadiah ulang tahunku yang ke-17 dari nenekku. Di dalamnya ada ukiran inisial namaku: M.A. (Maya Ariana).
Bagaimana mungkin benda milik Maya ada di rumah Siska?
Aku mencoba membukanya dengan kuku yang gemetar. Liontin itu terbuka dengan bunyi klik kecil. Di dalamnya, tidak ada foto. Tapi ada secarik kertas tipis yang dilipat sangat kecil, seolah disembunyikan dengan tergesa-gesa.
Aku membuka lipatan kertas itu. Tulisan di dalamnya ditulis dengan pensil, terburu-buru dan agak berantakan, tapi aku mengenali tulisan tangan itu. Itu tulisanku sendiri.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat yang membuat darahku membeku:
"Jika kau membaca ini, artinya dia sudah memulai Proyek Siska. Jangan percaya pada cermin itu. Lari sebelum tanggal 13."
Hari ini tanggal 10. Aku punya tiga hari.