Goresan Rayn

Goresan Rayn Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Goresan Rayn, Digital creator, Surabaya.

ISTRI YANG TAK PERNAH ADA  "Suamiku membawaku pulang ke 'istana' kami. Tapi kenapa rumah ini terasa seperti penjara yang...
21/01/2026

ISTRI YANG TAK PERNAH ADA

"Suamiku membawaku pulang ke 'istana' kami. Tapi kenapa rumah ini terasa seperti penjara yang dipenuhi foto-foto wanita asing yang memakai wajahku?"

​Adrian memamerkan foto-foto masa lalu kami yang 'bahagia'. Tapi aku tahu itu bukan aku. Di foto itu tidak ada tahi lalat yang kumiliki sejak lahir. Dan di kamar mandi tamu, aku menemukan bukti mengerikan yang kusembunyikan sendiri sebelum ingatan ini dihapus: "Lari sebelum tanggal 13".

-----------------------------------------------------------------------------------
BAB 2: Galeri Kebohongan

​Dua minggu kemudian, Adrian membawaku "pulang".

​Mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap itu memasuki gerbang besi setinggi empat meter yang otomatis terbuka. Di baliknya, terhampar sebuah mansion bergaya modern minimalis yang terbuat dari beton ekspos dan kaca gelap. Rumah itu megah, tapi terasa dingin dan tak bernyawa, dikelilingi oleh taman yang ditata terlalu sempurna; bahkan rumputnya seolah takut untuk tumbuh miring.

​Ini bukan rumah. Ini adalah mausoleum.
​"Selamat datang di rumah, Sayang," ujar Adrian, suaranya halus saat ia membukakan pintu mobil untukku. Dia menggandeng tanganku. Cengkeramannya lembut, tapi tegas—jenis kelembutan yang tidak menerima penolakan.

​Di depan pintu utama yang besar, seorang wanita paruh baya berseragam hitam-putih sudah menunggu dengan kepala tertunduk.

​"Selamat datang kembali, Nyonya Siska," sapanya tanpa berani menatap mataku. Ada getaran ketakutan dalam suaranya.

​"Terima kasih, Bi Inah," jawab Adrian mewakiliku. "Siska masih sedikit lelah. Siapkan teh chamomile di kamar utama."

​Aku dituntun masuk. Udara di dalam rumah itu berbau mahal—campuran kayu cendana dan pembersih lantai beraroma lemon yang tajam.

​Adrian tidak langsung membawaku ke kamar. Dia membawaku menyusuri lorong panjang di lantai dasar.

​"Kau mungkin lupa beberapa hal, jadi biar kubantu menyegarkan ingatanmu," katanya.

​Lorong itu adalah sebuah galeri. Di sepanjang dinding kiri dan kanan, tergantung puluhan foto berukuran besar dalam bingkai perak. Semuanya adalah foto Adrian dan wanita itu. Wanita dengan wajah yang sekarang kupakai.

​Siska di Menara Eiffel. Siska di atas kapal pesiar di Santorini. Siska yang tertawa lepas sambil memegang gelas sampanye di sebuah pesta mewah.

​Aku berhenti di depan sebuah foto pernikahan besar di ujung lorong. Di foto itu, Siska mengenakan gaun pengantin seharga sebuah mobil, tersenyum sempurna di samping Adrian yang tampak gagah. Tanggal di sudut foto menunjukkan tujuh tahun yang lalu.

​Tujuh tahun lalu, aku—Maya—sedang berjuang menyelesaikan skripsiku di perpustakaan kota yang berdebu sambil makan mie instan.

​"Lihat betapa bahagianya kita," bisik Adrian di telingaku, tangannya melingkar di pinggangku, posesif.

​Aku menatap foto itu lekat-lekat, mencari celah dalam kebohongan yang sempurna ini. Lalu aku melihatnya.

​"Jika wanita ini adalah aku..." suaraku bergetar, "Di mana tahi lalatnya? Maya punya tahi lalat kecil di bawah mata kiri."

​Aku menunjuk p**i wanita di foto itu. Mulus. Sempurna.

​Adrian tertawa kecil. Suara tawanya dingin, tidak mencapai matanya. "Ah, itu. Dokter bedah plastikmu melakukan pekerjaan luar biasa, bukan? Dia membuangnya saat rekonstruksi wajahmu. Aku selalu bilang tahi lalat itu mengganggu kesempurnaan wajahmu, dan sekarang... kau benar-benar sempurna."

​Dia berbicara seolah-olah wajahku adalah sebuah benda yang baru saja direnovasi, bukan bagian dari diriku.

​"Aku ingin ke kamar mandi," kataku cepat. Aku merasa mual. Aku butuh menjauh dari galeri kebohongan ini dan dari pria yang menyebut dirinya suamiku.

​Adrian menunjuk sebuah pintu di dekat tangga. "Tentu. Jangan lama-lama, Sayang. Kamar kita di atas."

​Aku masuk ke kamar mandi tamu dan mengunci pintunya. Tanganku gemetar hebat saat aku menyalakan keran air agar suaranya menutupi isak tangis yang tertahan. Aku menatap cermin di atas wastafel. Wajah asing itu menatap balik, matanya—mataku—dipenuhi teror.

​Aku mulai membuka laci-laci kabinet wastafel dengan panik. Mencari apa saja. Tisu, obat, atau bukti bahwa aku sudah gila.

​Di laci terbawah, di bawah tumpukan handuk kecil yang terlipat rapi, jariku menyentuh sesuatu yang keras dan kecil. Aku menariknya keluar.
​Itu sebuah liontin perak berbentuk buku kecil yang sudah agak kusam.

​Napasku tercekat. Aku kenal liontin ini. Ini hadiah ulang tahunku yang ke-17 dari nenekku. Di dalamnya ada ukiran inisial namaku: M.A. (Maya Ariana).

​Bagaimana mungkin benda milik Maya ada di rumah Siska?

​Aku mencoba membukanya dengan kuku yang gemetar. Liontin itu terbuka dengan bunyi klik kecil. Di dalamnya, tidak ada foto. Tapi ada secarik kertas tipis yang dilipat sangat kecil, seolah disembunyikan dengan tergesa-gesa.

​Aku membuka lipatan kertas itu. Tulisan di dalamnya ditulis dengan pensil, terburu-buru dan agak berantakan, tapi aku mengenali tulisan tangan itu. Itu tulisanku sendiri.

​Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat yang membuat darahku membeku:

​"Jika kau membaca ini, artinya dia sudah memulai Proyek Siska. Jangan percaya pada cermin itu. Lari sebelum tanggal 13."

​Hari ini tanggal 10. Aku punya tiga hari.

"Suamiku membawaku ke 'ruang rahasia'. Bukan untuk kejutan romantis, tapi untuk mengikatku di kursi eksperimen."--------...
21/01/2026

"Suamiku membawaku ke 'ruang rahasia'. Bukan untuk kejutan romantis, tapi untuk mengikatku di kursi eksperimen."
-----------------------------------------------------------------------------

Selama 10 tahun, teh pagiku ternyata dicampur obat penghapus memori. Hari ini, Rendra—atau dokter gila yang menyamar sebagai suamiku—memutar rekaman suaraku sendiri yang sedang memohon ampun. Siapa aku sebenarnya?

-------------------------------------------------------------------------------

BAB 8: Ruang Putih

​Sore itu, Rendra pulang lebih awal. Dia tidak membawaku makan malam atau menonton film di home theater.

​"Ikut aku, Arini. Waktunya stimulus."

​Dia membawaku ke sebuah pintu di lantai dasar yang selama ini kukira hanya gudang anggur yang terkunci. Dia menempelkan ibu jarinya pada pemindai biometrik di gagang pintu. Bip. Pintu terbuka dengan desisan hidrolik.

​Ruangan di dalamnya membuatku menahan napas.

​Itu bukan gudang anggur. Itu adalah ruangan steril. Lantai, dinding, dan langit-langitnya berwarna putih menyilaukan, terbuat dari bahan yang kedap suara. Tidak ada jendela. Hanya ada sebuah kursi futuristik di tengah ruangan yang menghadap layar lebar, dan di sudutnya, sebuah meja kontrol penuh tombol dan monitor yang sedang menyala.

​Ini bukan rumah. Ini fasilitas medis.

​"Duduklah, Sayang," kata Rendra, suaranya terdengar lebih klinis sekarang. Dia mengenakan jas lab putih tipis di atas kemejanya. Dia duduk di belakang meja kontrol, jari-jarinya menari di atas keyboard.

​Aku duduk di kursi itu. Dingin dan kaku. Sabuk pengaman otomatis tiba-tiba keluar dan mengunci pergelangan tangan dan kakiku.

​"Rendra! Apa ini? Lepaskan aku!" Aku meronta panik.

​"Tenang, Arini. Ini protokol standar agar subjek tidak melukai diri sendiri saat terjadi lonjakan memori. Rileks saja. Kita hanya akan melakukan tes kognitif."

​Dia menekan sebuah tombol. Lampu ruangan meredup, dan layar di depanku menyala.

​Bukan film yang diputar. Melainkan serangkaian foto cepat yang berkedip. Foto-foto abstrak. Bentuk-bentuk aneh. Lalu, tiba-tiba muncul foto sebuah rumah kecil sederhana dengan pagar biru yang sudah mengelupas.

​Jantungku tersentak. Aku mengenali rumah itu. Itu rumah masa kecilku. Rumah yang seharusnya sudah dijual dua puluh tahun lalu.

​"Apa yang kau rasakan melihat gambar ini, Subjek 04?" tanya Rendra dari balik meja kontrol. Dia tidak memanggil namaku.

​"Itu... itu rumahku," jawabku gagap.

​"Salah," kata Rendra dingin. Dia menekan tombol lain.

​Suara rekaman terdengar dari speaker. Suara seorang wanita yang sedang menangis histeris.

“Tolong! Lepaskan saya! Saya bukan Arini! Nama saya... nama saya...”

​Suara itu terputus oleh bunyi statis yang tajam.
​Darahku membeku. Suara wanita di rekaman itu... itu suaraku. Tapi aku tidak ingat pernah mengatakan itu. Aku tidak ingat pernah disekap sebelumnya.

​Rendra menatapku dari balik monitornya, mencatat reaksiku di tabletnya dengan wajah tanpa ekspresi. "Detak jantung meningkat. Pupil melebar. Ada resistensi pada memori implan. Menarik. Sepertinya dosis obat penghapus memorimu di teh setiap pagi harus ditingkatkan."

​Dunia di sekelilingku berputar. Teh pagi itu. Rasa almond yang sedikit pahit.

​Aku bukan istrinya. Aku kelinci percobaannya. Dan ini sudah berlangsung selama sepuluh tahun.

"Tukang kebun itu menatapku penuh ketakutan saat aku meminta tolong. Bisikannya membuat darahku dingin: 'Nyonya, Anda bu...
21/01/2026

"Tukang kebun itu menatapku penuh ketakutan saat aku meminta tolong. Bisikannya membuat darahku dingin: 'Nyonya, Anda bukan yang pertama'."

_________________________________________________

Aku mencoba mengirim pesan rahasia lewat satu-satunya orang yang bisa keluar masuk "akuarium" ini. Tapi Rendra selalu selangkah lebih maju. CCTV menangkap semuanya. Dan sekarang aku tahu, ada korban lain sebelum aku di rumah kaca ini.

__________________________________________________

​BAB 7: Pesan di Air Keruh

​Pagi itu, aku bangun dengan kesadaran baru: setiap gerakanku adalah pertunjukan.

​Aku menyisir rambutku di depan cermin kamar mandi, sadar bahwa di balik cermin dua arah itu, mungkin ada lensa yang merekam. Aku tersenyum pada bayanganku sendiri—senyum palsu terbaik yang pernah kubuat. Jika Rendra menginginkan istri yang bahagia, aku akan memberinya pertunjukan Oscar.

​Rendra sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. "Urusan mendesak sebelum kita memulai sesi nanti sore," katanya sambil mengecup keningku. Kecupan itu terasa sedingin es batu.

​Kesempatan.

​Aku tahu ponselku disadap. Wi-Fi rumah ini adalah jebakan. Satu-satunya jalan keluar adalah interaksi fisik dengan dunia luar.

​Aku berjalan keluar menuju teras belakang, tempat sebuah kolam pantul (reflecting pool) besar memisahkan rumah dari hutan. Di sana, seorang pria paruh baya berseragam biru sedang membersihkan filter kolam dengan jaring. Dia bukan staf biasa; Rendra biasanya menggunakan jasa perusahaan outsourcing yang berganti-ganti orang setiap minggu. Tapi pria ini... aku merasa pernah melihat punggungnya yang bungkuk itu sebelumnya.

​Aku mendekat, memastikan posisiku membelakangi kamera CCTV yang kulihat di sudut atap teras.

​"Permisi, Pak," sapaku pelan.
​Pria itu tersentak kaget, hampir menjatuhkan jaringnya. Dia berbalik. Wajahnya penuh kerutan, matanya membelalak ketakutan saat melihatku. Ketakutan yang tidak wajar.

​"Nyonya... Nyonya Arini. Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu." Suaranya bergetar. Dia menunduk dalam-dalam, menghindari kontak mata.

​"Tidak apa-apa. Siapa namamu?"

​"Pak Ujang, Nyonya. Tukang kebun lama... sebelum Tuan Rendra merenovasi semua ini menjadi kaca."
​Tukang kebun lama. Dia tahu masa lalu rumah ini.

​Aku melangkah lebih dekat, berbisik cepat. "Pak Ujang, saya butuh bantuan. Saya rasa... saya rasa saya dalam bahaya. Suami saya..."

​Pak Ujang mundur selangkah seolah aku baru saja menodongkan senjata. Dia menggeleng panik. "Jangan, Nyonya. Tolong jangan libatkan saya. Saya masih butuh pekerjaan ini untuk cucu saya."
​"Saya hanya butuh Bapak mengirimkan pesan. Tolong." Aku menyelipkan secarik kertas kecil yang sudah kusiapkan—berisi nomor telepon adikku yang sudah lama tidak kuhubungi—ke telapak tangannya yang kasar.

​Pak Ujang menatap kertas itu seperti melihat bara api. Lalu, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

​"Nyonya... Anda harus hati-hati," bisiknya serak. "Anda bukan yang pertama. Jangan berakhir seperti yang di menara."

​Yang di menara?

​Sebelum aku bisa bertanya, suara interkom di dinding teras berbunyi nyaring, membuat kami berdua terlonjak.

​“Sayang? Aku melihatmu di CCTV sedang mengobrol dengan petugas kolam. Apa ada masalah dengan airnya?”

​Suara Rendra yang tenang dan halus bergema dari speaker. Pak Ujang langsung meremas kertas di tangannya, memasukkannya ke saku, dan kembali bekerja dengan panik tanpa menoleh lagi padaku.

​Aku menatap lensa kamera di sudut. "Tidak, Sayang. Hanya menanyakan soal lumut."

​Aku gagal mengirim pesan. Tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: konfirmasi bahwa ada "Arini" lain sebelum aku.

"Aku pikir aku sendirian. Ternyata, setiap jengkal rumah ini memiliki mata yang tak pernah berkedip."___________________...
21/01/2026

"Aku pikir aku sendirian. Ternyata, setiap jengkal rumah ini memiliki mata yang tak pernah berkedip."

_______________________________________________

Makan malam yang romantis berubah menjadi horor saat aku menyadari cahaya merah kecil di sudut langit-langit. Rendra bukan sedang mencintaiku, dia sedang mengobservasiku. Aku bukan istrinya. Aku adalah proyeknya.
---------------------------------------------------------------------------------

​BAB 6: Mata di Setiap Sudut

​Malam itu, makan malam terasa seperti sebuah eksekusi yang tertunda.

​Rendra duduk di ujung meja kayu panjang, memotong daging steaknya dengan presisi yang mengerikan. Suara denting pisau dan garpu di atas piring porselen adalah satu-satunya musik di ruangan itu. Dinding kaca di sekeliling kami memantulkan cahaya lampu gantung, menciptakan ribuan titik cahaya yang menyilaukan.

​"Kenapa tidak dimakan, Arini? Ini daging kualitas terbaik," ujar Rendra tanpa menatapku.

​"Aku hanya tidak nafsu makan, Ren."

​"Kau butuh nutrisi. Kita punya jadwal besar besok. Aku ingin melihat bagaimana reaksimu terhadap... lingkungan baru yang sedang kusiapkan di kantor."

​Aku teringat percakapan teleponnya di bawah tanah tadi. Stimulus berikutnya.

​Aku mencoba mencari keberanian. "Ren, apakah kau pernah merasa... kita terlalu terbuka di rumah ini? Maksudku, dengan semua kaca ini, siapa saja bisa melihat kita."

​Rendra meletakkan pisau dan garpunya. Dia menatapku dalam, seolah sedang membedah isi kepalaku. "Itulah indahnya, Arini. Kita tidak punya apa pun untuk disembunyikan. Hanya orang yang bersalah yang takut diawasi."

​Dia bangkit, berjalan ke arah dinding kaca yang menghadap ke hutan gelap. Dia berdiri di sana, dan dalam pantulan kaca, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kusadari sebelumnya.

​Di sudut atas bingkai jendela, tersembunyi di balik bayangan ukiran kayu, ada sebuah lensa kecil. Tidak lebih besar dari kancing baju, namun ia berkedip dengan cahaya merah yang nyaris tak terlihat.

​Aku mengalihkan pandangan ke lampu gantung, ke detektor asap, ke celah ventilasi. Semuanya ada di sana. Mata-mata kecil yang terus mengawasiku.
​Rumah ini bukan akuarium. Ini adalah laboratorium.

​"Besok," kata Rendra, membalikkan badannya sehingga ia membelakangi kegelapan hutan, "kita akan memulai tahap kedua. Aku harap kau siap, Arini. Karena aku sudah menginvestasikan terlalu banyak untuk proyek ini."

​Aku menyentuh surat di balik gaun yang masih kusembunyikan. Aku belum membacanya secara utuh, tapi aku tahu satu hal: Arini yang asli mungkin sudah tidak ada, dan aku adalah pengganti yang sedang diuji ketahanannya

"Hampir ketahuan! Suamiku berdiri tepat di atas kepalaku saat aku mencoba menutup rahasia gelapnya."____________________...
20/01/2026

"Hampir ketahuan! Suamiku berdiri tepat di atas kepalaku saat aku mencoba menutup rahasia gelapnya."

______________________________________________

Detak jantungku lebih keras dari langkah kakinya. Satu detik saja aku terlambat menggeser vas itu, semuanya akan berakhir. Tapi sekarang, dia menatapku dengan tatapan yang berbeda. Apakah dia tahu aku sudah turun ke bawah?

__________________________________________________

​BAB 5: Jejak yang Tertinggal

​Suara air dari pancuran di lantai atas berhenti mendadak. Keheningan yang menyusul jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun.

​Aku tidak punya waktu lagi. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku menyembunyikan tumpukan surat tua itu ke dalam balik gaun sutraku, menekannya ke perut agar tidak berbunyi. Aku memanjat tangga kayu itu secepat yang kubisa, setiap deritanya terasa seperti ledakan di telingaku.

​Begitu sampai di atas, aku mendorong panel marmer itu kembali ke tempatnya.

Srek. Klik.

​Aku menarik tuas kuningan itu, menutup panel rahasia di dinding ek, lalu dengan tenaga yang tersisa, aku menyeret vas Ming besar itu kembali ke posisi semula. Tepat saat alas vas itu menutupi sambungan marmer, pintu kamar mandi di lantai atas terbuka.

​Aku ambruk di sofa, mencoba mengatur napas yang memburu. Tanganku menggenggam bantal kursi begitu erat hingga buku jariku memutih. Aku harus terlihat tenang. Aku harus menjadi Arini yang "sempurna".

​Rendra muncul di puncak tangga. Dia hanya mengenakan jubah mandi putih bersih, rambutnya yang basah disisir rapi ke belakang. Dia menatapku dari atas sana, diam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

​"Arini? Kau masih di sana?" tanyanya. Suaranya datar, namun matanya memindai seluruh ruangan dengan ketajaman seorang pemangsa.

​"Ya, Ren. Aku... aku hanya merasa sedikit pening, jadi aku berbaring sebentar," jawabku, berusaha keras agar suaraku tidak bergetar.

​Rendra menuruni tangga dengan langkah pelan. Dia tidak langsung menghampiriku. Dia berjalan menuju sudut ruangan, berhenti tepat di depan vas Ming itu. Jantungku seolah berhenti berdetak.

​Dia mengulurkan tangan, menyentuh tepian vas itu, lalu beralih menatap lantai marmer di bawahnya.

​"Vas ini sedikit bergeser," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan pada diri sendiri. Dia menoleh ke arahku, senyum tipis yang tidak mencapai matanya tersungging di bibirnya. "Kau mencoba membersihkannya sendiri, Sayang? Bukankah sudah kubilang biarkan pelayan saja yang melakukannya besok?"

​"Aku hanya ingin menyibukkan diri, Ren. Maaf kalau aku merusaknya."

​Rendra berjalan mendekat, duduk di sampingku di sofa. Dia mengelus p**iku dengan punggung tangannya yang dingin. "Kau tidak pernah merusak apa pun, Arini. Kau adalah pusat dari rumah ini. Jika kau rusak, maka seluruh rumah ini akan hancur."

​Kalimat itu terdengar seperti pujian, namun bagiku, itu adalah ancaman yang paling nyata

"Aku masih di bawah tanah saat mendengar suara pintu depan dibuka. Rendra pulang lebih awal. Dan dia berdiri tepat di at...
20/01/2026

"Aku masih di bawah tanah saat mendengar suara pintu depan dibuka. Rendra pulang lebih awal. Dan dia berdiri tepat di atas kepalaku."
-----------------------------------------------------------------------------------
Napasku tercekat. Aku mendengar dia bicara di telepon tentang sebuah 'proyek' dan 'stimulus'. Dia tidak sedang bicara dengan istrinya. Dia sedang bicara tentang eksperimennya. Dan eksperimen itu... adalah AKU.

------------------------------------------------------------------------------------
BAB 4: Detak Jantung di Bawah Kaki

​Langkah kaki itu berat. Berwibawa. Sangat Rendra.

​Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti dentuman palu hakim di telingaku. Aku mematikan senter ponselku secepat kilat. Kegelapan total langsung menyergap, lebih pekat dan lebih dingin dari sebelumnya. Aku meringkuk di samping meja kayu, memeluk tumpukan surat itu di dadaku seolah-olah itu adalah tameng pelindung.

​"Arini?"
​Suaranya memanggil namaku. Tenang, namun bergema di seluruh ruangan atas yang kosong. Aku bisa membayangkan dia berdiri di sana, meletakkan kunci mobilnya di atas meja kaca, matanya mencari-cari sosokku di dalam "akuarium" transparan yang dia bangun.

​"Sayang, kau di mana?"

​Langkah kakinya bergerak. Dia berjalan menuju arah ruang makan—tepat di mana aku menggeser vas Ming itu. Napasku terasa tercekat di tenggorokan. Jika dia melihat vas itu bergeser meski hanya satu inci, dia akan tahu.

​Tap. Tap. Tap.

​Suara itu kini berada tepat di atas kepalaku. Aku mendongak, menatap langit-langit beton yang lembap. Hanya beberapa puluh sentimeter semen yang memisahkan aku dari pria yang selama sepuluh tahun ini kusebut suami, namun sekarang terasa seperti orang asing yang paling berbahaya di dunia.

​Aku bisa mendengar suara gesekan halus. Rendra sedang merapikan sesuatu. Mungkinkah dia sedang mengembalikan vas itu ke posisi semula? Ataukah dia sedang menatap lubang yang lupa kututup rapat?

​Keringat dingin mengalir di pelipisku. Di bawah sini, aroma mawar busuk itu terasa semakin mencekik. Aku ingin terbatuk, tapi aku menggigit bibirku hingga terasa darah. Sedikit suara saja, dan penjaraku ini akan menjadi makamku.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki itu berhenti. Hening yang panjang mengikutinya.
​Lalu, sebuah suara mekanis terdengar.

KLIK.

​Suara itu sama dengan suara tuas yang kutarik tadi. Jantungku seolah berhenti berdetak. Dia sedang membuka panelnya. Dia tahu aku di sini.

​Cahaya tipis mulai merembes dari celah lantai yang perlahan terbuka di atasku. Aku memejamkan mata, menunggu suara Rendra yang dingin menyuruhku naik. Menunggu konfrontasi yang akan menghancurkan hidupku selamanya.

​Namun, yang kudengar justru suara ponsel yang berdering.

​"Ya, ini Rendra," suaranya terdengar sangat dekat sekarang. "Ya, dia masih di rumah. Semuanya terkendali. Stimulus berikutnya bisa kita mulai malam ini."

​Stimulus? Semuanya terkendali?

​Rendra tidak sedang bicara denganku. Dia sedang bicara dengan seseorang tentangku. Seolah-olah aku bukanlah istrinya, melainkan sebuah proyek yang sedang dia awasi.

​"Jangan khawatir," lanjut Rendra dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri. "Dia tidak akan pernah tahu. Dinding kaca ini terlalu silau untuk dia lihat kebenarannya."

​Suara langkah kakinya kembali menjauh, menuju kamar mandi. Suara kucuran air terdengar. Dia sedang mandi.

​Ini kesempatanku. Aku harus naik sekarang, menutup lubang itu, dan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa. Atau, aku tetap di sini dan mencari tahu siapa yang berada di ujung telepon itu.

​Aku menatap surat di tanganku. Keputusanku detik ini akan menentukan apakah aku akan tetap menjadi ikan hias, atau menghancurkan akuarium ini selamanya.

"Bangun dari koma adalah anugerah, sampai kau menyadari wajah di cermin itu bukan milikmu dan suamimu memanggilmu dengan...
19/01/2026

"Bangun dari koma adalah anugerah, sampai kau menyadari wajah di cermin itu bukan milikmu dan suamimu memanggilmu dengan nama wanita lain."
---------------------------------------------------------------------------------

Adrian bilang aku Siska. Tapi ingatanku bilang aku Maya. Operasi plastik katanya menyelamatkan nyawaku, tapi kenapa rasanya operasi itu justru menghapus eksistensiku?

----------------------------------------------------------------------------------

BAB 1: NAMA YANG SALAH

​"Selamat pagi, Siska."

​Suara itu lembut, sehangat sinar matahari yang menembus celah gorden kamar rumah sakit. Aku membuka mata perlahan, merasakan nyeri yang berdenyut di pelipisku. Adrian duduk di samping tempat tidurku, menggenggam tanganku dengan erat. Wajahnya yang tampan tampak kuyu, seolah dia tidak tidur berhari-hari.

​Aku mencoba tersenyum, meski bibirku terasa pecah-pecah. "Adrian..." bisikku parau. "Apa yang terjadi?"

​"Kau kecelakaan, Sayang. Mobilmu tergelincir di tebing. Tapi syukurlah, kau selamat. Operasi wajahnya berhasil."

​Aku mengerutkan kening. Operasi wajah?
​"Tapi Adrian..." Aku menelan ludah yang terasa pahit. "Siapa... siapa Siska? Namaku Maya."
​Cengkeraman tangan Adrian membeku. Senyumnya tidak luntur, tapi matanya memancarkan sesuatu yang menyerupai rasa kasihan yang mendalam. Dia menghela napas, lalu mengusap rambutku pelan.

​"Dokter bilang kau mungkin akan mengalami disorientasi, Siska. Itu efek benturan di kepalamu. Kita sudah menikah tujuh tahun. Kau adalah Siska Dirgantara. Tidak ada Maya dalam hidup kita."

​Aku mencoba duduk, mengabaikan rasa pening yang menyerang. "Tidak! Aku Maya! Aku seorang pustakawan, kita bertemu di kafe dekat kampus... Adrian, tolong jangan bercanda."

​Adrian tidak menjawab. Dia hanya mengambil sebuah cermin kecil dari meja samping tempat tidur dan memberikannya kepadaku.
​"Lihat dirimu sendiri, Sayang."

​Aku mengambil cermin itu dengan tangan gemetar. Dan saat aku melihat pantulannya, aku hampir menjerit. Wanita di cermin itu memiliki hidung yang lebih mancung, dagu yang lebih lancip, dan struktur tulang p**i yang sempurna. Itu bukan wajahku. Itu adalah wajah wanita cantik yang sangat asing.

​"Ini bukan aku," bisikku, air mata mulai mengalir. "Ini bukan wajahku!"

​"Itu wajahmu, Siska," suara Adrian kini terdengar sangat dingin dan datar. "Itu wajah yang selalu aku cintai. Dan aku tidak akan membiarkan 'Maya' mengambilmu dariku lagi."

19/01/2026

"ISTRI YANG TAK PERNAH ADA"

​SINOPSIS:

Maya terbangun dari koma setelah kecelakaan hebat, hanya untuk menemukan bahwa suaminya, Adrian, memanggilnya dengan nama "Siska". Seluruh dunia—mertuanya, pelayannya, bahkan foto-foto di dinding—menunjukkan bahwa dia adalah Siska, istri Adrian yang sempurna. Masalahnya, Maya ingat dengan jelas siapa dirinya, dan dia tahu Siska seharusnya sudah mati dalam kecelakaan itu. Apakah Maya sedang "digantikan", ataukah ia sedang terjebak dalam delusi yang sangat rapi?

BAB 3: Mausoleum Kenangan​Udara yang merembes keluar dari lubang itu tidak hanya dingin; ia terasa tua.​Itu adalah jenis...
19/01/2026

BAB 3: Mausoleum Kenangan

​Udara yang merembes keluar dari lubang itu tidak hanya dingin; ia terasa tua.

​Itu adalah jenis dingin yang menempel di tulang, membawa serta aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—manis, namun membusuk. Seperti buket bunga yang dibiarkan terlalu lama di atas makam.

​Jantungku berdegup begitu keras hingga telingaku berdenging, menyaingi keheningan rumah yang tiba-tiba terasa menuduh. Aku melirik ke arah dinding kaca di ruang tamu. Hutan di luar sana tampak diam, seolah menahan napas, menunggu apakah aku cukup bodoh untuk menuruni tangga kayu reyot yang baru saja kutemukan.

​Rendra tidak pernah memberitahuku tentang ini. Sepuluh tahun pernikahan. Sepuluh tahun tanpa rahasia, katanya. Kalimat itu kini terasa seperti lelucon pahit di ujung lidahku.

​Dengan tangan gemetar, aku menyalakan senter di ponselku. Cahaya putih yang tajam mengiris kegelapan di bawah sana. Aku menelan ludah, mengumpulkan sisa keberanian yang kumiliki, dan menjejakkan kaki telanjangku ke anak tangga pertama.

​Kayu itu mengerang di bawah berat badanku. Satu langkah. Dua langkah. Semakin dalam aku turun, semakin jauh rasanya aku dari dunia nyata. Suara AC yang berdengung halus di lantai atas perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian yang berat dan menekan.

​Ketika kakiku menyentuh lantai beton yang dingin di dasar, aku mengarahkan senter ke sekeliling.

​Ini bukan sekadar ruang penyimpanan. Ini adalah museum. Atau lebih tepatnya, sebuah mausoleum.
​Ruangan itu tidak besar, dindingnya terbuat dari beton kasar yang lembap. Tidak ada jendela. Tidak ada cahaya matahari. Kebalikan total dari istana kaca di atas kepala kami. Di tengah ruangan, ada sebuah meja kayu tua. Dan di atasnya, tergeletak sebuah kotak kayu berukir yang tampak sangat familiar.

​Aku mendekat, seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata. Aroma mawar busuk itu semakin kuat di sini, menyesakkan kerongkongan. Tanganku terulur, jari-jariku yang terawat menyentuh permukaan kotak yang berdebu. Aku membukanya.

​Di dalamnya, terbaring setumpuk surat yang diikat dengan pita goni kasar, dan di sampingnya, beberapa tangkai mawar yang sudah kering kerontang—kelopaknya menghitam dan rapuh. Aku mengambil surat teratas. Kertasnya sudah menguning, teksturnya rapuh di ujung jariku.

​Aku mengarahkan senter ponsel ke tulisan tangan di amplop itu. Mataku melebar. Napasku tercekat.
​Tulisan tangan itu. Lekukan pada huruf 'y', cara huruf 't' dipalang dengan tegas... Itu tulisanku.
​Tapi tanggal di sudut kanan atas amplop itu membuat darahku membeku: 14 Februari, Lima belas tahun yang lalu.

​Lima tahun sebelum aku bertemu Rendra. Lima tahun sebelum aku—seharusnya—menulis surat ini. Masalahnya, aku tidak ingat pernah menulis ini. Aku tidak ingat pernah memiliki mawar-mawar ini. Pikiranku mencari-cari memori tentang lima belas tahun lalu, namun yang kutemukan hanyalah lubang hitam yang hampa.

​Dinding beton di sekelilingku terasa menyempit. Aku menjatuhkan surat itu seolah-olah ia terbakar. Aroma mawar kering itu kini terasa seperti racun.

​Aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Dan jika aku tidak tahu siapa diriku, lalu siapa wanita yang selama sepuluh tahun ini dicintai Rendra?

​Tiba-tiba, sebuah bunyi menghentikan detak jantungku.

Bruk.

​Suara pintu depan rumah di lantai atas ditutup. Disusul suara langkah kaki yang berat dan tenang di atas lantai marmer.

​Rendra pulang. Dan aku terjebak di bawah sini.

​​

"Retakan di Lantai Marmer"Sepeninggal Rendra, rumah ini kembali menjadi milikku. Atau lebih tepatnya, aku menjadi milik ...
19/01/2026

"Retakan di Lantai Marmer"

Sepeninggal Rendra, rumah ini kembali menjadi milikku. Atau lebih tepatnya, aku menjadi milik rumah ini.

​Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang produktif daripada hanya menatap hutan. Aku berjalan ke sudut ruang makan, tempat sebuah vas porselen Dinasti Ming yang tinggi berdiri tegak.

Vas itu berisi ranting-ranting kering dekoratif yang mulai berdebu. Rendra sangat menyukai vas ini; katanya, bentuknya yang asimetris adalah satu-satunya "kekacauan" yang diizinkan di rumah ini.

​Saat aku mencoba menggeser alas vas tersebut untuk membersihkan lantai marmer di bawahnya, aku melakukan kesalahan.

​Tanganku licin. Vas itu tidak jatuh, tapi bergeser dengan kasar dan menghantam lantai dengan bunyi dentum yang berat. Namun, bunyinya tidak seperti yang kubayangkan.

​Lantai marmer ini seharusnya padat. Beton dan baja. Tapi bunyi yang dihasilkan barusan adalah bunyi kosong. Sebuah gema samar yang bergetar di bawah telapak kakiku.

​Aku mengerutkan kening. Rasa penasaran yang ganjil mulai merayap di tengkukku.

​Aku berlutut, menempelkan telinga ke lantai marmer yang dingin. Aku mengetuk lantai itu dengan buku jariku.

Tok. Tok. Tok.

Padat.

​Aku menggeser vas itu lebih jauh, lalu mengetuk area tepat di bawah posisi aslinya.

Tung. Tung. Tung.

​Jantungku mulai berpacu. Suaranya berbeda. Ada ruang di bawah sini.

​Aku memperhatikan sambungan antar marmer di area itu. Jika tidak dilihat dengan sangat teliti, semuanya tampak sempurna. Namun, di bawah cahaya matahari yang menembus dinding kaca, aku melihatnya—sebuah celah mikroskopis yang tidak diisi dengan semen nat, melainkan selembar karet tipis yang warnanya sangat menyerupai marmer.

​Aku meraba celah itu dengan kuku jariku. Ada sesuatu yang kenyal. Aku menekannya lebih dalam, dan tiba-tiba—KLIK.

​Sebuah suara mekanis yang halus terdengar dari balik dinding. Bukan di lantai, tapi di dinding kayu ek yang berada tepat di samping vas. Sebuah panel kecil terbuka, memperlihatkan sebuah tuas kuningan kuno yang tampak sangat kontras dengan teknologi tinggi rumah ini.

​Tanganku gemetar. Logikaku berteriak agar aku berhenti. Rendra mungkin punya alasan merahasiakan ini. Mungkin ini hanya tangki air, atau ruang panel listrik cadangan. Tapi jika itu hanya ruang teknis, mengapa harus disembunyikan di balik mekanisme yang begitu rumit?

​Aku menarik tuas itu.

​Tidak ada suara ledakan. Hanya suara gesekan batu yang berat. Di depanku, satu blok lantai marmer berukuran satu meter persegi perlahan turun beberapa inci, lalu bergeser ke samping dengan mulus, menyingkap sebuah lubang gelap yang menganga.

​Sebuah tangga kayu yang curam memimpin ke bawah.

​Bau itu langsung menyerangku. Bau yang tidak seharusnya ada di rumah seharga puluhan miliar ini. Bau mawar yang membusuk dan debu yang sudah mengendap selama bertahun-tahun.

​Aku menatap lubang itu. Cahaya dari dinding kaca di atasku seolah enggan ikut masuk ke dalam kegelapan itu. Ia berhenti di anak tangga pertama, meninggalkan sisanya dalam misteri.

​"Rendra..." bisikku lirih, entah pada siapa.

​Nama suamiku biasanya membawa rasa aman. Tapi kali ini, menyebut namanya di depan lubang gelap ini membuatku merasa seperti sedang memanggil orang asing.

​Aku merogoh saku gaun sutraku, mencari ponsel.

Aku butuh cahaya. Aku butuh tahu apa yang disembunyikan suamiku di bawah lantai yang setiap hari kupijak dengan penuh rasa syukur ini.

​Satu langkah. Aku mulai menuruni tangga itu, memunggungi cahaya dunia luar yang selama ini kupuja.

Address

Surabaya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Goresan Rayn posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share