20/12/2025
Deforestasi terus terjadi selama periode pascareformasi hingga kini. Data Global Forest Watch menunjukkan selama periode 2009-2024, lebih dari 200.000 hektare hutan primer hilang setiap tahun. Luas hutan primer yang hilang setiap tahun tersebut setara dengan 280.112 kali luas lapangan sepak bola dan 3 kali luas wilayah Jakarta.
Hutan primer adalah kawasan atau wilayah hutan yang kondisinya masih utuh dan belum pernah dieksplorasi atau diganggu oleh manusia. Sedangkan hutan sekunder adalah wilayah hutan primer yang telah berubah akibat deforestasi. Artinya, hutan sekunder ada karena deforestasi.
Pada 2016, atau pada masa jabatan Siti Nurbaya Bakar sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia kehilangan 930.000 hektare hutan primer. Ini menjadikan 2016 sebagai masa deforestasi tertinggi selama 15 tahun terakhir, meski kemudian turun signifikan pada tahun-tahun berikutnya.
Jika dikelompokkan menurut masa jabatan pemerintahan 5 tahunan, 2009-2014 menjadi periode dengan hilangnya hutan primer tertinggi. Saat itu, setiap tahun Indonesia kehilangan lebih dari 450.000 hektare hutan primer. Pada periode tersebut, Zulkifli Hasan menjabat Menteri Kehutanan.
Pada 2025 atau awal Raja Juli Antoni menjabat Menteri Kehutanan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memproyeksikan laju deforestasi meningkat menjadi 0,5 juta - 0,6 juta hektare atau sekitar 250% - 300%. Deforestasi diyakini berdampak pada terganggunya siklus air, kerusakan ekosistem, terjadi bencana (seperti banjir dan tanah longsor), perubahan iklim, hingga pemanasan global.
Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat dalam 5 menit, sebanyak 13,8 hektare hutan telah hilang. Padahal, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan target ambisius mengurangi 60% emisi yang berasal dari sektor hutan dan lahan.