28/08/2026
" *WANITA YG TDK MEMILIKI DNA TAKUT* "
Ada masa ketika seorang pemimpin tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan pemerintahan.
Ia berhadapan dengan suara-suara yang ingin menjatuhkannya, dengan kepentingan politik yang ingin membungkamnya, dengan prasangka yang bahkan tidak memberi ruang bagi dirinya untuk menjelaskan.
Apa pun yang dilakukan, selalu ada yang salah.
Ketika ia melangkah ke kanan, dikatakan keliru.
Ketika ia memilih ke kiri, dituduh punya kepentingan.
Ketika ia diam, dianggap takut.
Ketika ia bicara, dianggap melawan.
Begitulah politik. Kadang bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling lama mampu bertahan.
Dan di tengah badai itu, berdirilah seorang perempuan.
Perempuan yang mungkin bisa menangis ketika sendirian, tetapi tidak pernah membiarkan air matanya menjadi alasan untuk menyerah.
Ia adalah pemimpin perempuan pertama yang memimpin Kabupaten Gowa.
Hari-hari yang dilaluinya tidak selalu mudah.
Tekanan datang dari berbagai arah.
Kritik berubah menjadi serangan.
Perbedaan pilihan politik berubah menjadi pertarungan yang seolah tidak mengenal batas.
Bahkan suatu hari, ia berdiri di tengah kerumunan yang mendesaknya untuk mundur dari jabatannya.
Orang-orang berteriak.
Suara-suara semakin keras.
Ada yang menuntutnya pergi.
Ada yang meragukan kepemimpinannya.
Ada yang berharap ia patah.
Tetapi perempuan itu tetap berdiri.
Tidak berteriak untuk melawan.
Tidak menangis untuk meminta belas kasihan.
Tidak p**a berlari meninggalkan panggung yang pernah dipercayakan kepadanya.
Ia hanya berdiri Kokoh.
Seperti pohon yang diterpa badai berkali-kali. Daunnya mungkin berguguran, rantingnya mungkin patah, tetapi akar-akarnya tetap menggenggam tanah.
Barangkali itulah yang tidak dipahami oleh mereka yang terus menggempurnya 😇
perempuan ini tidak memiliki DNA TAKUT .
Bukan berarti ia tidak takut.
Ia mungkin takut kehilangan kepercayaan rakyat.
Ia mungkin takut mengecewakan orang-orang yang mencintainya.
Ia mungkin takut ketika melihat keluarganya ikut terseret dalam kerasnya pertarungan politik.
Tetapi ia memilih satu hal tidak menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk menyerah.
Sebab menjadi pemimpin perempuan bukanlah tentang membuktikan bahwa perempuan lebih kuat daripada laki-laki.
Ini tentang membuktikan bahwa keberanian tidak mengenal jenis kelamin.
Bahwa seorang perempuan pun mampu berdiri ketika dunia sedang berusaha membuatnya berlutut.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika riuh politik telah reda dan orang-orang mulai lupa siapa yang paling keras berteriak, sejarah akan mengingat satu hal
Pernah ada seorang perempuan di Gowa yang berdiri sendirian di tengah badai.
Ia digempur.
Ia dicaci.
Ia dipaksa untuk mundur.
Tetapi ia memilih tetap berdiri.
Bukan karena ia tidak punya rasa takut.
Melainkan karena ia tahu, jabatan bisa berakhir, kekuasaan bisa berganti, tetapi keberanian untuk mempertahankan kehormatan dan tanggung jawab tidak boleh mati.
Dan kepada perempuan itu, barangkali sejarah hanya perlu berkata:
“Jika hari ini engkau merasa sendirian, jangan takut.
Pohon yang besar memang sering kali berdiri sendirian di tengah lapang, tetapi justru karena akarnya telah menancap jauh ke dalam tanah.”
Teruslah berdiri.
Karena badai tidak selamanya datang. Kerumunan akan bubar.
Suara-suara akan menghilang.
Politik akan berganti.
Tetapi keberanian yang pernah kau tunjukkan akan tinggal lebih lama daripada semua teriakan yang pernah diarahkan kepadamu.
Sebab seorang perempuan tangguh tidak selalu menang dengan membuat lawannya jatuh.
Kadang Kemenangan terbesar adalah ketika ia tetap berdiri…
sementara semua orang mengira ia akan runtuh.