28/02/2026
*Antara Disukai dan Dibutuhkan: Tentang Pilihan, Harga, dan Makna*
Dalam perjalanan hidup, ada satu persimpangan yang sering kita datangi tanpa sadar. Persimpangan itu tidak bertanda jelas, tidak berpagar, dan tidak p**a dijaga siapa pun. Namun dari sanalah arah hidup seseorang perlahan ditentukan: apakah ia ingin disukai, atau memilih untuk dibutuhkan.
Pada awalnya, disukai terasa seperti tujuan paling wajar. Manusia adalah makhluk sosial. Kita tumbuh dengan kebutuhan untuk diterima, diakui, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu. Sejak kecil kita belajar bahwa senyum mendatangkan persahabatan, sikap menyenangkan menghindarkan konflik, dan kata-kata manis membuka banyak pintu. Maka tak heran, ketika dewasa, keinginan untuk disukai menjelma menjadi ambisi yang halus tapi kuat.
Disukai memberi rasa aman.
Ia menenangkan, menghangatkan, dan membuat kita merasa tidak sendirian.
Namun di balik rasa aman itu, sering kali ada harga yang tak disadari. Demi tetap disukai, seseorang belajar menahan pendapat. Demi menjaga penerimaan, ia mengalah pada hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan nurani. Sedikit demi sedikit, kejujuran dikompromikan, prinsip dinegosiasikan, dan keberanian diparkir di sudut yang jarang dikunjungi.
Berbeda dengan itu, jalan untuk dibutuhkan hampir selalu sunyi di awal. Tidak ada tepuk tangan saat seseorang memilih bekerja serius di balik layar. Tidak ada sorakan ketika seseorang konsisten menjaga nilai, meski harus berseberangan dengan arus. Bahkan sering kali, menjadi dibutuhkan justru membuat seseorang dicurigai, dipertanyakan, atau dianggap mengganggu kenyamanan.
Sebab yang dibutuhkan jarang datang membawa hiburan.
Ia datang membawa fungsi.
Ia hadir membawa solusi, disiplin, dan tanggung jawab.
Orang yang dibutuhkan tidak selalu pandai menyenangkan. Ia pandai memastikan sesuatu berjalan dengan benar. Ia tidak sibuk membangun citra, melainkan membangun sistem. Ia tidak mengejar pujian, karena yang dikejarnya adalah hasil—hasil yang sering kali baru disadari nilainya setelah waktu berlalu.
Dalam ruang kerja, komunitas, bahkan kehidupan sosial, perbedaan ini semakin nyata. Ada mereka yang selalu tampak di depan, suaranya lantang, kehadirannya disambut. Ada p**a mereka yang jarang disebut, tapi jika ia absen, semuanya terasa timpang. Yang pertama disukai, yang kedua dibutuhkan.
Ironisnya, dunia sering kali lebih cepat mengapresiasi yang terlihat, bukan yang bekerja. Kita mudah terpesona oleh kata-kata, namun lupa menilai dampak. Padahal ketika krisis datang—saat masalah tak bisa lagi diselesaikan dengan basa-basi—yang dicari bukan siapa yang paling ramah, melainkan siapa yang paling mampu.
Di situlah makna dibutuhkan menemukan momentumnya.
Menjadi dibutuhkan menuntut keberanian. Keberanian untuk berkata tidak saat semua orang berkata iya. Keberanian untuk berdiri pada data ketika opini ramai menyesatkan. Keberanian untuk tetap lurus meski jalan itu membuat kita kehilangan simpati sementara. Tidak semua orang sanggup membayar harga ini, karena harganya sering berupa kesepian sosial.
Namun justru dari kesepian itulah integritas ditempa.
Perlu diakui, tidak ada manusia yang sepenuhnya kebal terhadap keinginan untuk disukai. Bahkan mereka yang memilih menjadi dibutuhkan pun tetap manusia—yang bisa lelah, bisa ragu, dan kadang ingin dimengerti. Tetapi bedanya, mereka tidak menjadikan kesukaan orang lain sebagai kompas utama. Mereka menjadikan nilai dan tanggung jawab sebagai penunjuk arah.
Disukai adalah soal persepsi.
Dibutuhkan adalah soal kontribusi.
Persepsi bisa berubah cepat. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini dielu-elukan, esok disingkirkan. Kontribusi bekerja sebaliknya. Ia mungkin tak langsung terlihat, tapi ketika ia hilang, kekosongan itu terasa nyata. Saat itulah orang mulai sadar: ada peran yang selama ini dianggap biasa, padahal sangat menentukan.
Pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa sering nama kita disebut, tetapi seberapa besar dampak kehadiran kita ketika dibutuhkan. Bukan tentang berapa banyak orang yang menyukai kita, melainkan tentang siapa saja yang terbantu karena kita memilih untuk bertanggung jawab.
Mungkin jalan ini tidak populer.
Mungkin p**a ia tidak selalu menyenangkan.
Namun di sanalah makna berdiam—tenang, kokoh, dan tidak bergantung pada sorak-sorai. Sebab disukai bisa memberi rasa hangat sesaat, tetapi dibutuhkan memberi alasan mengapa keberadaan kita benar-benar berarti.
Dan pada satu titik dalam hidup, ketika tepuk tangan mereda dan keramaian menjauh, hanya satu hal yang tersisa untuk kita tanyakan pada diri sendiri:
Apakah aku hanya pernah disukai, atau sungguh-sungguh pernah dibutuhkan?*(ald)
Aldian Syahmubara