09/06/2026
*RENUNGKAN MAKANANMU, KENALI RABBMU*
> Tadabbur dan Tafsir Surat 'Abasa Ayat 24–32
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat yang tak terhitung kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga Hari Kiamat.
> *Di antara cara Allah membangkitkan keimanan manusia adalah dengan mengajak mereka merenungkan nikmat yang setiap hari mereka rasakan. Dalam Surat 'Abasa ayat 24–32, Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan makanan yang mereka konsumsi. Makanan yang tampak biasa ternyata menyimpan bukti-bukti kekuasaan Allah, rahmat-Nya, serta dalil tentang kebangkitan manusia setelah kematian.*
Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa setiap butir makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia merupakan hasil dari pengaturan Allah yang sempurna, mulai dari turunnya hujan, terbelahnya bumi, tumbuhnya tanaman, hingga menjadi rezeki bagi manusia dan hewan ternak.
*TADABBUR SURAT 'ABASA AYAT 24–32*
Teks Ayat
قال الله تعالى:
﴿فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ ٢٤ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ٢٥ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا ٢٦ فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا ٢٧ وَعِنَبًا وَقَضْبًا ٢٨ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا ٢٩ وَحَدَائِقَ غُلْبًا ٣٠ وَفَاكِهَةً وَأَبًّا ٣١ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ ٣٢﴾
Artinya
> "Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit) dengan curahan yang banyak. Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun yang lebat, buah-buahan dan rerumputan. Untuk kesenangan dan manfaat bagi kalian dan bagi hewan-hewan ternak kalian." (QS. 'Abasa: 24–32)
*PEMBAHASAN*
*1. PERINTAH MERENUNGI MAKANAN SEBAGAI JALAN MENGENAL ALLAH*
*Firman Allooh ta'alaa:*
﴿فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ﴾
> "Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya."
*Ayat ini merupakan perintah untuk bertafakkur dan merenungkan asal-usul makanan yang setiap hari dikonsumsi.*
> *Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, ayat ini mengandung dua pelajaran besar:*
1. Pengingat atas nikmat Allah.
2. Dalil tentang kebangkitan manusia setelah kematian.
Sebagaimana Allah mampu menghidupkan tanah yang mati sehingga menghasilkan berbagai tanaman, maka Allah juga mampu menghidupkan kembali manusia yang telah menjadi tulang-belulang dan tanah.
*Allooh ta'alaa berfirman:*
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ﴾
> "Di antara tanda-tanda-Nya adalah engkau melihat bumi itu kering, lalu apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah." (QS. Fushshilat: 39)
*Pelajaran*
Orang yang memikirkan makanan dengan hati yang hidup akan sampai kepada pengenalan terhadap Rabbnya, karena setiap makanan adalah bukti kasih sayang dan kekuasaan Allah.
*2. HUJAN DAN TUMBUHNYA TANAMAN ADALAH BUKTI RUBUBIYAH ALLOOH*
*Firman Allooh ta'alaa:*
﴿أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا﴾
> "Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air dengan curahan yang banyak. Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya."
> Allah mengingatkan bahwa sumber kehidupan seluruh makhluk adalah air hujan yang Allah turunkan dari langit.
> Kemudian Allah membelah bumi sehingga air masuk ke dalam lapisan tanah dan mencapai biji-bijian yang tertanam. Dari proses itulah muncul kehidupan baru berupa tumbuh-tumbuhan.
Manusia hanya menanam, namun yang menumbuhkan adalah Allooh.
*Allooh ta'alaa berfirman:*
﴿أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ﴾
> "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian tanam. Apakah kalian yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?" (QS. Al-Waqi'ah: 63–64)
*Pelajaran*
> Keberhasilan pertanian, perkebunan, dan seluruh sumber pangan sejatinya bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah Ta'ala.
*3. BERAGAMNYA REZEKI MENUNJUKKAN LUASNYA RAHMAT ALLOOH*
*Firman Allooh ta'alaa:*
﴿فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا وَعِنَبًا وَقَضْبًا وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا وَحَدَائِقَ غُلْبًا وَفَاكِهَةً وَأَبًّا﴾
*Allah menyebutkan berbagai jenis tanaman:*
*a. Al-Habb (الحب)*
> Segala jenis biji-bijian yang menjadi makanan pokok manusia.
*b. Al-'Inab (العنب)*
> Buah anggur yang penuh manfaat dan gizi.
*c. Al-Qadhb (القضب)*
*Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan As-Suddi adalah tanaman hijauan yang dimakan ternak dalam keadaan segar.*
*Al-Hasan Al-Bashri berkata:*
القَضْبُ العَلَفُ
> "Al-qadhb adalah makanan ternak."
*d. Az-Zaitun (الزيتون)*
> Buah yang menghasilkan minyak, digunakan sebagai makanan, penerang, dan obat.
*e. An-Nakhl (النخل)*
> Pohon kurma yang menghasilkan buah dalam berbagai fase kematangan dan menjadi makanan yang penuh berkah.
*f. Hada'iq Ghulban (حدائق غلبا)*
> Kebun-kebun yang lebat, rindang, besar, dan menjadi tempat berteduh.
*g. Fakihah (فاكهة)*
> Berbagai buah-buahan yang dinikmati manusia.
*h. Abb (أبّ)*
*Menurut Ibnu Abbas:*
> هو ما أنبتت الأرض مما تأكله الدواب
> "Yaitu tumbuh-tumbuhan yang dimakan hewan ternak."
*Mujahid, Sa'id bin Jubair, dan Abu Malik berkata:*
الأب: الكلأ
> "Al-abb adalah rerumputan dan padang gembalaan."
*Pelajaran*
> Keanekaragaman tumbuhan menunjukkan keluasan rahmat Allah kepada seluruh makhluk-Nya, baik manusia maupun hewan.
*4. NIKMAT DUNIA UNTUK MANUSIA DAN TERNAKNYA HINGGA HARI KIAMAT*
*Firman Allooh ta'alaa:*
﴿مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ﴾
> "Sebagai kesenangan dan manfaat bagi kalian dan bagi hewan-hewan ternak kalian."
*Ibnu Katsir menjelaskan:*
أي عيشة لكم ولأنعامكم في هذه الدار إلى يوم القيامة
> "Sebagai sumber kehidupan bagi kalian dan ternak kalian di dunia ini sampai Hari Kiamat."
*Allah tidak hanya menyediakan makanan untuk manusia, tetapi juga menyediakan makanan bagi hewan-hewan yang menjadi sarana kehidupan manusia.*
Hal ini menunjukkan sempurnanya rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk.
*Pelajaran*
Setiap nikmat yang kita makan seharusnya menambah rasa syukur, bukan kesombongan.
*Penjelasan dari Atsar Sahabat*
*1. Perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu*
> Ketika ditanya tentang makna "abb", beliau berkata:
«أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِنْ قُلْتُ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا لَا أَعْلَمُ»
> "Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan memikulku jika aku berkata tentang Kitab Allah sesuatu yang tidak aku ketahui."
> *Pelajaran penting dari atsar ini adalah kehati-hatian para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an tanpa ilmu.*
*2. Perkataan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu*
Ketika membaca ayat:
﴿وَفَاكِهَةً وَأَبًّا﴾
*Beliau berkata:*
> "Buah-buahan sudah kita ketahui, lalu apakah abb itu?"
Kemudian beliau berkata:
«إِنَّ هَذَا لَهُوَ التَّكَلُّفُ»
> "ini termasuk sikap memaksakan diri." Maksudnya, tidak perlu membebani diri dengan rincian yang tidak memiliki dampak terhadap amal, selama makna umumnya telah dipahami.
*KAITAN DENGAN AQIDAH TENTANG HARI KEBANGKITAN*
> Rangkaian ayat ini merupakan salah satu dalil Al-Qur'an tentang kebangkitan setelah kematian.
> Tanah yang mati dapat hidup kembali setelah turun hujan.
> Demikian p**a manusia yang telah menjadi tanah akan dibangkitkan kembali oleh Allah pada Hari Kiamat.
Karena itu, makanan yang setiap hari kita makan sebenarnya adalah bukti nyata kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia.
*PENUTUP*
> Surat 'Abasa ayat 24–32 mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan jasmani, tetapi juga sarana mengenal Allah dan memperkuat keimanan. Hujan yang turun, tanah yang terbelah, biji yang tumbuh, kebun yang lebat, buah-buahan yang beragam, hingga makanan ternak, semuanya menunjukkan kesempurnaan rububiyah dan rahmat Allah.
Seorang mukmin yang merenungkan makanan yang ada di hadapannya akan semakin yakin bahwa Rabb yang menumbuhkan tanaman dari tanah yang mati adalah Rabb yang mampu membangkitkan manusia dari kuburnya. Oleh karena itu, setiap suapan hendaknya menambah rasa syukur, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta'ala.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
*REFERENSI*
TAFSIR IBNU KATSIR