17/05/2026
Kisah Keadilan dan Hikmah
Di sebuah kota yang ramai, suatu ketika, orang-orang datang kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), meminta fatwa untuk menyelesaikan berbagai masalah mereka. Keputusan beliau selalu dikenal karena keadilan yang tajam dan kebijaksanaan yang dalam.
Suatu hari, seorang pedagang miskin datang mengadu. Ia berkata, âWahai Amirul Mukminin, seseorang telah mengambil buah dari kebunku tanpa izin. Aku tidak punya saksi, dan ia menolak mengaku. Apa yang harus kulakukan?â
Ali (RA) menatapnya dengan lembut namun tegas, kemudian berkata, âMari kita lihat keadaanmu dengan hati yang jernih.â Beliau memanggil beberapa orang untuk mengamati kebun tersebut dan menanyai tetangga. Setelah mendengar semua, beliau berkata:
âJika kebenaran tidak bisa dibuktikan dengan saksi, maka kita tidak boleh menzalimi siapa pun dengan tuduhan tanpa bukti. Namun, setiap orang harus belajar menjaga harta dan haknya. Allah mencintai orang yang adil, bahkan lebih dari orang yang kaya atau berkuasa.â
Pedagang itu terdiam, lalu tersadar bahwa kadang, menjaga diri dan harta memerlukan kesabaran serta akal sehat, bukan hanya kemarahan.
Di kesempatan lain, seorang pemuda datang, menanyakan hukum tentang kebohongan yang tampak kecil: âWahai Ali, apakah berdusta tentang hal yang sepele tetap dosa?â
Ali (RA) menunduk sejenak, menatap langit, lalu berkata:
âBohong, sekecil apa pun, menodai hati. Hari ini sepele, esok bisa menjadi besar. Kejujuran adalah pondasi seorang mukmin; bila pondasi retak, seluruh bangunan kehidupan akan goyah.â
Pemuda itu mengangguk perlahan, menyadari bahwa kebenaran bukan hanya masalah hukum, tapi jalan menuju kebesaran hati.
Hikmah Sayyidina Ali (RA) dalam fatawanya selalu jelas: keadilan, kesabaran, dan akal sehat harus berjalan bersama, dan kebenaran serta kejujuran adalah harta paling berharga seorang manusia.
Maka, setiap orang yang mendengar fatwa beliau merasa tenang, karena hukum bukan hanya sekadar aturan, tetapi cahaya yang menuntun hati dan pikiran menuju keadilan sejati