15/05/2026
Di balik hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, terdapat sebuah melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang berani berhenti sejenak. Ini adalah kisah tentang "Arunika", seorang kurator museum yang hidup dalam bayang-bayang sejarah, dan "Gala" seorang arsitek lanskap yang lebih s**a membangun masa depan di atas tanah yang gersang.
Bab 1: Pertemuan di Antara Debu dan Cahaya
Sore itu, Museum Prasasti terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari senja—yang oleh orang-orang disebut "golden hour"—menerobos celah jendelanya yang tinggi, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara.
Arunika sedang berlutut di depan sebuah nisan tua bertuliskan bahasa Belanda yang hampir terkikis zaman. Jemarinya yang dibalut sarung tangan lateks menyentuh permukaan batu dengan lembut, seolah sedang menyalami kawan lama.
"Kamu tahu, dia meninggal karena menunggu kapal yang tak pernah berlabuh," sebuah suara bariton memecah keheningan.
Arunika tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri dengan kemeja flanel yang lengan bajunya digulung hingga siku. Pria itu memegang sebuah buku sketsa besar.
"Maaf?" tanya Arunika bingung.
"Cornelia. Wanita di bawah batu ini,"
pria itu menunjuk nisan tersebut. "Dia menghabiskan dua puluh tahun di pelabuhan Sunda Kelapa setiap sore. Sejarah mencatatnya sebagai korban malaria, tapi saya rasa dia mati karena rindu."
Arunika berdiri, merapikan rok 'midi"-nya. "Interpretasi yang menarik untuk seorang... pengunjung? Saya belum pernah melihat Anda di sini."
"Gala," pria itu mengulurkan tangan yang sedikit ternoda bekas pensil grafit. "Saya tidak sedang berkunjung. Saya sedang mencari inspirasi untuk taman kota yang akan dibangun di sebelah utara. Saya ingin taman itu punya 'jiwa' yang sama tenangnya dengan tempat ini."
BAB 2: DIALOG HATI
Pertemuan itu tidak berhenti di sana. Gala mulai sering muncul. Kadang ia membawa kopi susu gula aren kes**aan Arunika (ia menebaknya dengan benar hanya dalam sekali lihat), kadang ia hanya