Ilham gan

Ilham gan Cerita seru setiap hari 📖
Romantis | Horor | Sedih | Plot twist
Follow biar gak ketinggalan 👇

Di balik hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, terdapat sebuah melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang ber...
15/05/2026

Di balik hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, terdapat sebuah melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang berani berhenti sejenak. Ini adalah kisah tentang "Arunika", seorang kurator museum yang hidup dalam bayang-bayang sejarah, dan "Gala" seorang arsitek lanskap yang lebih s**a membangun masa depan di atas tanah yang gersang.

Bab 1: Pertemuan di Antara Debu dan Cahaya

Sore itu, Museum Prasasti terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari senja—yang oleh orang-orang disebut "golden hour"—menerobos celah jendelanya yang tinggi, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara.
Arunika sedang berlutut di depan sebuah nisan tua bertuliskan bahasa Belanda yang hampir terkikis zaman. Jemarinya yang dibalut sarung tangan lateks menyentuh permukaan batu dengan lembut, seolah sedang menyalami kawan lama.
"Kamu tahu, dia meninggal karena menunggu kapal yang tak pernah berlabuh," sebuah suara bariton memecah keheningan.
Arunika tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri dengan kemeja flanel yang lengan bajunya digulung hingga siku. Pria itu memegang sebuah buku sketsa besar.

"Maaf?" tanya Arunika bingung.
"Cornelia. Wanita di bawah batu ini,"

pria itu menunjuk nisan tersebut. "Dia menghabiskan dua puluh tahun di pelabuhan Sunda Kelapa setiap sore. Sejarah mencatatnya sebagai korban malaria, tapi saya rasa dia mati karena rindu."
Arunika berdiri, merapikan rok 'midi"-nya. "Interpretasi yang menarik untuk seorang... pengunjung? Saya belum pernah melihat Anda di sini."
"Gala," pria itu mengulurkan tangan yang sedikit ternoda bekas pensil grafit. "Saya tidak sedang berkunjung. Saya sedang mencari inspirasi untuk taman kota yang akan dibangun di sebelah utara. Saya ingin taman itu punya 'jiwa' yang sama tenangnya dengan tempat ini."

BAB 2: DIALOG HATI

Pertemuan itu tidak berhenti di sana. Gala mulai sering muncul. Kadang ia membawa kopi susu gula aren kes**aan Arunika (ia menebaknya dengan benar hanya dalam sekali lihat), kadang ia hanya

---PART 4 (TAMAT) — “Aku Terlambat Menjadi Anak yang Baik”Aku masih terduduk di lantai…memeluk dompet tua itu seolah itu...
27/04/2026

---

PART 4 (TAMAT) — “Aku Terlambat Menjadi Anak yang Baik”

Aku masih terduduk di lantai…
memeluk dompet tua itu seolah itu satu-satunya yang tersisa dari ibuku.

Tangisku tak berhenti.

“Ibu… maafin aku…” bisikku berulang kali.

Perawat itu lalu mengeluarkan satu amplop kecil.

“Ada ini juga… ibumu titipkan khusus untuk kamu.”

Tanganku gemetar saat menerimanya.

Di atas amplop itu… tertulis namaku.
Tulisan tangan ibuku… yang sederhana tapi sangat aku kenal.

Aku membukanya perlahan.

Di dalamnya… ada selembar surat.

Aku mulai membacanya…

---

> “Untuk anakku tersayang…

Kalau kamu baca ini, mungkin Ibu sudah gak ada.

Maaf ya Nak… Ibu gak pernah jadi ibu yang kamu banggakan.
Ibu cuma bisa jualan gorengan, tangan Ibu kotor, bau minyak…

Tapi Ibu selalu bangga sama kamu.
Dari kecil sampai sekarang… kamu selalu jadi alasan Ibu kuat.

Ibu tahu… kamu kadang malu sama Ibu.
Gak apa-apa, Nak… Ibu ngerti.

Yang penting… kamu jadi orang sukses, hidup lebih baik dari Ibu.

Ibu cuma punya satu permintaan…

Kalau suatu hari nanti kamu berhasil…
jangan pernah malu sama asalmu.

Dan…
kalau bisa… panggil Ibu sekali saja dengan bangga.

Ibu sayang kamu… selalu.”

---

Tanganku langsung lemas.

Surat itu jatuh ke lantai.

Tangisku pecah sejadi-jadinya.

“Ibuuuuu…!!!” teriakku keras, tanpa peduli siapa yang mendengar.

Untuk pertama kalinya…
aku memanggilnya dengan bangga.

Tapi… dia sudah tidak ada.

Aku merangkak mendekati tubuh ibuku.
Aku memeluknya erat.

“Ibu… aku bangga punya Ibu… aku bangga…” suaraku hancur.

Air mataku membasahi wajahnya yang dingin.

Penyesalan itu… terlalu besar.

Dan aku tahu…
seumur hidupku, rasa ini tidak akan pernah hilang.

---

Beberapa hari setelah pemakaman…

Aku kembali ke tempat biasa ibuku berjualan.

Tempat kecil di pinggir jalan itu… kini kosong.

Aku berdiri lama di sana.

Lalu… perlahan, aku mulai membersihkannya.

Aku memasang kembali gerobak itu.

Bukan untuk sekadar berjualan…

Tapi untuk melanjutkan perjuangan ibuku.

Di atas gerobak itu, aku menempelkan satu tulisan kecil:

> “Gorengan Bu Rina — Dari Ibu, Untuk Masa Depanku.”

Setiap hari aku berjualan di sana.

Dan setiap kali ada yang bertanya…

“Apa ini usaha kamu?”

Aku tersenyum… dengan mata yang masih sering berkaca-kaca.

Dan aku menjawab dengan bangga:

“Ini… usaha Ibu saya.”

---

TAMAT.

PART 3 — “RAHASIA ITU MENGHANCURKANKU…”“Apa maksudnya…?” suaraku bergetar.Perawat itu menatapku lama, seakan ragu untuk ...
26/04/2026

PART 3 — “RAHASIA ITU MENGHANCURKANKU…”

“Apa maksudnya…?” suaraku bergetar.

Perawat itu menatapku lama, seakan ragu untuk bicara.
Tapi akhirnya… dia menghela napas pelan.

“Ibumu… dulu sering datang ke rumah sakit ini.”

Aku mengernyit.
“Untuk berobat?”

Perawat itu menggeleng.

“Bukan…”

Jantungku berdetak semakin cepat.

“Ibumu… bekerja di sini.”

Aku terdiam.

“Sebagai apa?”

Perawat itu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Sebagai… petugas kebersihan. Dia sering mengambil shift malam.”

Aku menunduk.
Dadaku terasa sesak.

Selama ini… aku selalu mengeluh soal hidupku.
Padahal ibuku… bekerja siang malam.

Tapi perawat itu belum selesai.

“Bukan cuma itu…”

Aku menatapnya lagi, takut… tapi juga ingin tahu.

“Ada satu hal lagi yang selama ini dia sembunyikan.”

Tanganku mengepal.

“Apa lagi…?”

Perawat itu menggigit bibirnya pelan.

“Beberapa kali… ibumu menolak pengobatan.”

Aku langsung tersentak.

“Kenapa?!”

Air mata perawat itu jatuh.

“Karena… uangnya dia pakai untuk bayar sekolah kamu.”

Dunia terasa berhenti.

Aku mundur selangkah.

“Gak mungkin…”

“Iya,” jawabnya lirih.
“Dia bilang… selama kamu bisa sekolah dan punya masa depan… dia rela menahan sakitnya.”

Air mataku mengalir tanpa bisa ditahan.

Tapi… itu belum yang paling menghancurkan.

Perawat itu menatapku dalam.

“Dan… ada satu lagi.”

Aku sudah takut untuk mendengar.

Namun tetap bertanya…

“Apa…?”

Perawat itu menarik napas panjang.

“Ibumu… pernah menjual satu-satunya tanah yang dia punya.”

Aku terdiam.

“Itu tanah peninggalan suaminya… ayahmu.”

Kakiku langsung lemas.

“Itu… untuk biaya masuk sekolah kamu.”

Tanganku gemetar hebat.

Selama ini… aku bangga dengan diriku sendiri.
Merasa semua yang aku capai adalah hasil kerja kerasku.

Padahal… di belakangku, ada ibu yang diam-diam mengorbankan segalanya.

Bahkan… masa depannya sendiri.

Aku jatuh terduduk di lantai.

Tangisku pecah.

“Ibu… kenapa Ibu lakukan semua ini…?” suaraku hancur.

Perawat itu mendekat, lalu berkata pelan:

“Sebelum meninggal… ibumu sempat bilang sesuatu.”

Aku langsung menatapnya.

“Apa…?”

Perawat itu tersenyum sedih.

“Dia bilang… dia gak butuh dibalas apa-apa.”

Air mataku terus mengalir.

“Dia cuma berharap… suatu hari nanti… kamu mau memanggilnya ‘Ibu’ dengan bangga.”

Dadaku seperti diremas.

Aku teringat…
selama ini aku bahkan malu mengakui dia.

Aku menggenggam dompet tua itu erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya… aku benar-benar hancur.

Tapi… semuanya sudah terlambat.

---

👉 PART 4?
Di part selanjutnya, penyesalan terbesar akan terjadi… dan ada sesuatu yang ditinggalkan ibunya khusus untuknya

Judul: RAHASIA ITU MENGHANCURKANKU


PART 2 — AKU BARU TAHU PENGORBANAN IBUKU.“Maaf… kamu terlambat.”Kalimat itu seperti menghantam dadaku tanpa ampun.Aku la...
25/04/2026

PART 2 — AKU BARU TAHU PENGORBANAN IBUKU.

“Maaf… kamu terlambat.”

Kalimat itu seperti menghantam dadaku tanpa ampun.

Aku langsung lemas.
“Dok… gak mungkin… tadi pagi dia masih…” suaraku gemetar.

Dokter hanya menggeleng pelan.
“Ibumu sudah terlalu lemah… dan dia menyembunyikan penyakitnya cukup lama.”

Penyakit?

Aku menatap kosong.
Selama ini… aku bahkan tidak pernah benar-benar memperhatikan ibuku.

Aku masuk ke ruang jenazah dengan langkah berat.
Di sana… ibuku terbaring kaku.

Wajahnya pucat.
Tapi entah kenapa… masih terlihat tenang.

“Ibu…” suaraku pecah.
Aku menggenggam tangannya yang dingin.

Untuk pertama kalinya… aku memanggilnya dengan tulus.
Tapi semuanya sudah terlambat.

Air mataku jatuh tanpa henti.

Aku teringat semua perlakuanku.
Semua kata-kata kasar.
Semua rasa malu yang selama ini aku tunjukkan padanya.

Dan sekarang… aku tidak punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Tiba-tiba, seorang perawat menghampiriku.

“Ini ada barang dari ibumu… dia titipkan sebelum kondisinya memburuk.”

Aku menerima sebuah kantong kecil.

Di dalamnya… ada dompet tua milik ibuku.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalam dompet itu hanya ada beberapa lembar uang lusuh…
dan satu foto.

Foto aku… saat masih kecil.
Dengan tulisan kecil di belakangnya:

> “Anakku harus sekolah tinggi… walau Ibu harus menahan sakit.”

Aku langsung jatuh terduduk.

Sakit?

Tanganku makin gemetar saat menemukan sebuah kertas lain.
Itu… hasil pemeriksaan rumah sakit.

Mataku membelalak.

“Ibu… sudah sakit sejak dua tahun lalu…?”

Air mataku jatuh semakin deras.

Selama dua tahun…
dia tetap berjualan gorengan…
tetap tersenyum di depanku…
padahal dia sedang melawan sakit sendirian.

Dan aku…
justru sibuk merasa malu memiliki ibu seperti dia.

Aku menangis sejadi-jadinya di ruang itu.

“Kenapa Ibu gak bilang ke aku…?” bisikku hancur.

Perawat itu menatapku pelan.

“Ibumu bilang… dia gak mau jadi beban buat kamu.”

Dunia seakan runtuh.

Aku menggenggam dompet itu erat.

Dan saat aku pikir semuanya sudah menyakitkan…

Perawat itu menambahkan satu kalimat lagi:

“Dia juga sempat bilang… kalau uang biaya sekolah kamu… bukan dari jualan gorengan saja.”

Aku langsung menatapnya.

“Maksudnya…?”

Perawat itu ragu sejenak.
Lalu berkata pelan:

“Ibumu… melakukan sesuatu yang jauh lebih berat… demi kamu.”

Jantungku berdegup kencang.

“Apa… maksudnya?”

Perawat itu menatapku dengan mata yang penuh iba.

Dan saat dia akhirnya membuka mulut…

aku berharap… aku tidak pernah mendengarnya.

---

PART 3?
Di part selanjutnya, rahasia terbesar ibunya akan terbongkar… dan itu jauh lebih menyakitkan.

Penulis: Ilham gan

Judul: AKU BARU TAHU PENGORBANAN IBUKU



Aku selalu merasa hidupku berat.Ayah pergi sejak aku kecil, dan ibuku hanya seorang penjual gorengan di pinggir jalan.Se...
24/04/2026

Aku selalu merasa hidupku berat.
Ayah pergi sejak aku kecil, dan ibuku hanya seorang penjual gorengan di pinggir jalan.

Setiap hari aku malu.
Teman-temanku punya orang tua yang rapi, bekerja di kantor.
Sedangkan ibuku… pulang dengan bau minyak dan tangan yang penuh luka bakar.

“Ma, jangan jemput aku lagi ke sekolah…” kataku suatu hari.

Ibuku hanya tersenyum kecil.
“Iya, Nak… Ibu ngerti.”

Sejak saat itu, aku jarang mengaku kalau dia ibuku.
Kalau ada yang tanya, aku bilang dia cuma tetangga.

Aku pikir itu hal biasa.
Sampai hari kelulusanku tiba.

Semua orang tua datang dengan bangga.
Mereka memeluk anaknya, memberi bunga, berfoto bersama.

Ibuku juga datang.

Dia memakai baju terbaiknya… meski terlihat sederhana.
Di tangannya ada satu plastik kecil berisi kue.

Dia berjalan mendekat ke arahku sambil tersenyum.
Tapi… aku justru mundur.

“Ma… jangan di sini,” bisikku dingin.

Senyumnya langsung hilang.
Tapi dia tetap menyerahkan plastik itu.

“Selamat ya, Nak… Ibu bangga sama kamu.”

Aku tidak menjawab.
Aku bahkan tidak mau menerimanya.

Aku pergi begitu saja… meninggalkan ibuku berdiri sendirian di tengah keramaian.

Dan itu…
adalah terakhir kalinya aku melihatnya tersenyum.

Malam harinya, aku mendapat telepon dari tetangga.

“Ibumu… tadi pingsan di jalan.”

Tanganku gemetar.

“Sekarang… dia di rumah sakit.”

Aku langsung berlari tanpa pikir panjang.

Tapi saat aku sampai…

Dokter menatapku dengan wajah serius.

“Maaf… kamu terlambat.”

LANJUT PART 2

JUDUL: AKU MENYESAL MENOLAK IBU
PENULIS: ILHAM GAN


Address

Tegal Panjang
Tasikmalaya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ilham gan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share