KITAB

KITAB ingin berbagi kemanfaatan ilmu agar menjadi amal jariyah
https://www.facebook.com/share/1AvKkgxCuo/

11/05/2026

JUM’AT
Dua Perkara yang Paling Sering Dilupakan Saat Lapang

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, di mana pun kita berada, kapan pun waktunya, dan dalam keadaan apa pun, dengan senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena sesungguhnya orang yang bertakwa adalah orang yang paling mulia di sisi Allah dan akan memperoleh kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat.

Setiap manusia pernah merasa sempit, tapi juga pernah merasa lapang. Pernah menangis, lalu tertawa. Pernah jatuh, lalu bangkit. Itulah hidup.

Namun justru di saat kelapangan itu datang—saat hidup terasa mudah, rezeki lancar, tubuh sehat, keluarga bahagia—dua perkara ini sering kita lupakan:

1. Bersyukur kepada Allah
2. Mengingat kematian

1) Lupa Bersyukur
Ketika miskin, kita mengadu dan merintih dalam doa. Tapi ketika kaya, kita seringkali lupa kepada Sang Pemberi. Ketika susah, kita rajin ke masjid. Tapi ketika lapang, kita lebih sering ke tempat belanja.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Wa idz ta’azzana rabbukum la’in syakartum la’azīdannakum

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sungguh, jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Namun berapa banyak nikmat yang kita nikmati hari ini... yang tak pernah kita ucapkan syukur untuknya?
Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ

Unẓurū ilā man asfala minkum wa lā tanẓurū ilā man huwa fauqakum
"Lihatlah kepada orang yang lebih bawah dari kalian, dan jangan melihat kepada yang lebih atas." (HR. Muslim)

Bersyukurlah... sebelum nikmat itu menjadi musibah.

2) Lupa Mengingat Kematian

Kematian tidak menunggu tua. Tidak menunggu miskin. Tidak menunggu sakit. kita siap.
Nabi ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
Akṯirū ẓikra hādimil-ladzdzāt
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian)." (HR. Tirmidzi, hasan sahih)

Kita terlalu sibuk membangun rumah, tapi lupa bahwa suatu saat kita akan masuk ke dalam liang lahat. Kita terlalu khusyuk empercantik dunia, tapi lupa menyiapkan bekal ke akhirat.

Setiap hari kita melihat berita kematian, tapi kita merasa seolah kita tidak akan termasuk dalam daftar itu.

Wahai jamaah sekalian

Kalau hidupmu sedang lapang, bersyukurlah.
Kalau hatimu sedang senang, ingatlah mati.
Karena Allah bisa membalikkan keadaan dalam sekejap mata.

Jangan tunggu sempit baru shalat.
Jangan tunggu sakit baru sadar.
Dan jangan tunggu ajal baru ingin taubat.
Mari kita perbanyak syukur dan perbanyak ingat mati—karena di sanalah letak keselamatan hati.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَمِنَ الْمُسْتَعِدِّينَ لِلْمَوْتِ فِي كُلِّ حَالٍ
Allāhummaj‘alnā mina sy-syākirīn, wa minal-musta‘iddīna lil-mauti fī kulli ḥāl

Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bersyukur dan siap menghadapi kematian kapan pun datangnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah ll

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ اْلأَنَامِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اَللهُمَّ
رَبَّنَا ظَلَمْنَ أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَاصِغَارًا
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّار
ِ وَقِنَا عَذَابَ النَّار
ِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
عِبَادَاللهِ.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ



11/05/2026

Bijak untuk Para Pedagang

​قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي التَّاجِرِ ثَلَاثُ خِصَالٍ افْتَقَرَ فِي الدَّارَيْنِ جَمِيعًا:

​١. (أَوَّلُهَا): لِسَانٌ نَقِيٌّ مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنَ الْكَذِبِ، وَاللَّغْوِ، وَالْحَلْفِ.

٢. (وَالثَّانِي): قَلْبُ صَافٍ مِنْ ثَلَاثٍ: مِنَ الْغِشِّ، وَالْخِيَانَةِ، وَالْحَسَدِ.

٣. (وَالثَّالِثُ): نَفْسٌ مُحَافِظَةٌ لِثَلَاثٍ: الْجُمُعَةِ، وَالْجَمَاعَاتِ، وَطَلَبِ الْعِلْمِ فِي بَعْضِ السَّاعَاتِ، وَإِيثَارِ مَرْضَاةِ اللهِ تَعَالَى عَلَى غَيْرِهِ
﴿ تنبيه الغافلين ص ١٦٥ ﴾
Sebagian ahli hikmah berkata:

"Jika seorang pedagang tidak memiliki tiga perkara (sifat), maka ia akan merugi (miskin) di dunia maupun di akhirat:"

1. Kesucian Lisan
​Pedagang yang selamat adalah mereka yang mampu menjaga lisannya dari:
​Kebohongan: Tidak menipu pembeli mengenai kualitas atau harga barang.
​Perkataan Sia-sia: Menghindari obrolan yang tidak bermanfaat (laghu).
​Sumpah: Tidak mudah bersumpah (meskipun benar) hanya untuk meyakinkan pembeli.

​2. Kebersihan Hati
​Keberkahan usaha sangat bergantung pada kondisi batin, yaitu bersih dari:
​Kecurangan: Tidak melakukan penipuan atau pengurangan timbangan.
​Pengkhianatan: Menjaga amanah dan kepercayaan pelanggan atau rekan bisnis.
​Iri Dengki: Tidak merasa tidak senang atas keberhasilan pedagang lain.

​3. Keteguhan Jiwa dalam Ibadah
​Bisnis tidak boleh menjadi penghalang untuk tetap taat kepada Allah, terutama dalam menjaga:
​Ibadah Wajib: Menjaga salat Jumat dan salat berjemaah.
​Pendidikan: Menyisihkan waktu untuk terus menuntut ilmu agama.
​Prioritas Utama: Selalu mengutamakan rida Allah SWT di atas keuntungan materi semata.

​Jadi seorang pedagang harus menjaga kejujuran dengan menjauhi kebohongan, sumpah palsu, dan ucapan yang tidak bermanfaat demi menjaga keberkahan hartanya.
​Kebersihan Hati: Bisnis yang selamat adalah yang dijalankan tanpa kecurangan, pengkhianatan, maupun rasa iri terhadap pencapaian orang lain.
​Keseimbangan Dunia dan Akhirat: Kesibukan berdagang tidak boleh melalaikan kewajiban ibadah (seperti salat berjemaah dan Jumat) serta kebutuhan untuk terus belajar ilmu agama.
​Prioritas Utama: Kunci utama agar tidak merugi di dunia dan akhirat adalah dengan selalu mengutamakan rida Allah di atas kepentingan atau keuntungan pribadi lainnya.

والله اعلم بالصواب

11/05/2026

UNTUK ORANG TUA YANG TELAH MENINGGAL

PERTANYAAN :

Bagaimana hukumnya menyembelih KURBAN untuk orang tua yang telah meninggal yang tidak meninggalkan wasiat agar dikurbani ?

JAWABAN :

Di dalam kitab Majmu' Syarah Muhaddab Juz.8 Hal.407 di sebutkan :

(فرع) لوضحی عن غيره بغير اذنه لم يقع عنه، (واما) التضحية عن الميت فقد اطلق ابو الحسن العبادي جوازها ، لانها ضرب من الصدقة ، والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل اليه بالاجماء اه

ولا تضحية عن ميت إن لم يوص بها فإن أوصى بها جاز وإذا ضحى عن الغير وجب التصدق بالجميع وقيل تصح التضحية عن الميت وان لم يوص بها

Tidak ada kurban untuk orang yang telah meninggal bila tidak meninggalkan wasiat sebelumnya (berdasarkan Firman Allah diatas), namun bila bila meninggalkan wasiat boleh dan kalau menyembelih korban untuk orang lain maka wajib disedekahkah dagingnya secara keseluruhan.
Meskipun ada juga pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa berkurban untuk orang yang telah meninggal diperkenankan meski tidak meninggalkan wasiat sebelumnya karena kurban bisa dikatagorikan bagian dari shodaqoh sementara shodaqoh atas nama orang mati hukumnya boleh seperti dalam sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hirairoh :”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Berarti menurut pendapat ini kurban seseorang yang ditujukan untuk orang yang sudah meninggal disamakan dengan sedekah seperti apa yang dikatakan oleh Imam Nawaawiy :

=> ”Doa yang dipanjatkan, pahalanya akan sampai kepada orang yang sudah meninggal demikian halnya dengan sedekah, dan kedua hal tersebut adalah ijma para ulama.” (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi 11/122)

=> ”Para ulama telah sependapat bahwa doa seseorang kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepadanya demikan p**a halnya dengan sedekah yang ditujukan kepada orang yang meninggal, pahalanya akan sampai kepadanya dan tidak mesti orang itu harus anaknya. (Al Majmu’ 15/522).

>Dalam masalah mengorbani mayat terdapat berbedaan ulama :

Pendapat pertama tidak sah bila tidak ada wasiat dari mayat semasa hidupnya.
Pendapat yang kedua sah dan menjadi qurban walau tanpa wasiat sebelumnya , pendapat ini di fatwakan oleh imam Al qoffal dan imam Ar rofi'i.

Terlepas dari perbedaan ulama tersebut , maka bila seseorang mengorbani mayat baik wasiat atau tidak , maka orang yang mengorbani mayat tidak boleh memakan daging qurban tersebut dg alasan memakan daging tersebut harus ada idzin dari si mayat , sedang hal tersebut sulit untuk meminta idzin kepada si mayat .

Referensi :

حكم الاضحية عن الميت

لا تجوز ولا تقع الاضحية عن الميت ان لم يوص بها ، اما اذا اوصي الميت بها قبل موته فتصح .
قال القفال : ومتي جوزنا التضحية عن الميت لا يجوز الاكل منها لاحد بل يتصدق بجميعها لان الاضحية وقعت عنه فتوقف جواز الاكل علي اذنه وقد تعذر فوجب التصدق بها عنه. هذا عند الشافعية.

اسعاد البرية في احكام الاضحية ص ٣١

ـــــــــــــــــــــــــــــQفَرْعٌ: لَوْ ضَحَّى عَنْ مَيِّتٍ حَرُمَ الْأَكْلُ مِنْهَا عَلَى الْمُضَحِّي لِأَنَّهَا وَقَعَتْ عَنْهُ فَلَا يَأْكُلُ الْمُضَحِّي إلَّا بِإِذْنِهِ وَهُوَ مُتَعَذِّرٌ فَيَجِبُ التَّصَدُّقُ بِجَمِيعِهَا قَالَهُ الْقَفَّالُ
[القليوبي ,حاشيتا قليوبي وعميرة ,4/255]

وَقَالَ الرَّافِعِيُّ: فَيَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَحُكِيَ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ السَّرَّاجِ شَيْخِ الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ خَتَمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَكْثَرَ مِنْ عَشَرَةِ آلَافِ خَتْمَةٍ وَضَحَّى عَنْهُ مِثْلَ ذَلِكَ
[القليوبي ,حاشيتا قليوبي وعميرة ,4/256]

Wollohu a'lam

10/05/2026

[ GOLONGAN MANUSIA MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI ]

وَالنَّاسُ تَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ كَمَا قَالَهُ سَيِّدِي عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيُّ قَدَّسَ اللهُ سِرَّهُ :

١. رَجُلٌ لَا لِسَانَ لَهُ وَلَا قَلْبَ :
وَهُوَ الْعَاصِي الْغُرُّ الْغَبِيُّ، فَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ وَلَا تَقُمْ فِيهِمْ فَإِنَّهُمْ أَهْلُ الْعَذَابِ.

٢. رَجُلٌ لَهُ لِسَانٌ بِلَا قَلْبٍ :
فَيَنْطِقُ بِالْحِكْمَةِ وَلَا يَعْمَلُ بِهَا، يَدْعُو النَّاسَ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَهُوَ يَفِرُّ مِنْهُ، فَابْعُدْ مِنْهُ بِأَنْ لَا يَخْطَفَكَ بِلَذِيذِ لِسَانِهِ فَتَحْرُقَكَ نَارُ مَعَاصِيهِ وَتَقْتُلَكَ نَتْنُ قَلْبِهِ.

٣. رَجُلٌ لَهُ قَلْبٌ بِلَا لِسَانٍ :
وَهُوَ مُؤْمِنٌ سَتَرَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ خَلْقِهِ، وَبَصَّرَهُ بِعُيُوبِ نَفْسِهِ، وَنَوَّرَ قَلْبَهُ، وَعَرَّفَهُ غَوَائِلَ مُخَالَطَةِ النَّاسِ وَشُؤْمَ الْكَلَامِ، فَهَذَا رَجُلٌ وَلِيُّ اللهِ تَعَالَى مَحْفُوظٌ فِي سِتْرِ اللهِ تَعَالَى، فَالْخَيْرُ كُلُّ الْخَيْرِ عِنْدَهُ، فَدُونَكَ وَمُخَالَطَتَهُ وَخِدْمَتَهُ فَيُحِبَّكَ اللهُ تَعَالَى.

٤. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ وَعَلَّمَ وَعَمِلَ بِعِلْمِهِ :
وَهُوَ الْعَالِمُ بِاللهِ تَعَالَى وَآيَاتِهِ، اسْتَوْدَعَ اللهُ قَلْبَهُ غَرَائِبَ عِلْمِهِ، وَشَرَحَ صَدْرَهُ لِقَبُولِ الْعُلُومِ، فَاحْذَرْ أَنْ تُخَالِفَهُ وَتُجَانِبَهُ وَتَتْرُكَ الرُّجُوعَ إِلَى نَصِيحَتِهِ.

Manusia itu terbagi menjadi empat golongan sebagaimana yang dikatakan oleh Tuanku Syekh Abdul Qadir al-Jailani Qaddasallahu Sirrah Yaitu :

Golongan Pertama : Orang yang tidak Memiliki Lisan dan Tidak Memiliki Hati.
Ia adalah orang yang maksiat, tertipu, lagi dungu. Maka waspadalah jangan sampai kamu menjadi bagian dari mereka, dan janganlah bergaul di lingkungan mereka, karena sesungguhnya mereka adalah ahli azab (orang yang celaka)

Golongan Kedua : Orang yang memiliki Lisan Namun Tidak Memiliki Hati.
Ia pandai berbicara hikmah namun tidak mengamalkannya.
Ia mengajak manusia kepada Allah Ta’ala, sementara ia sendiri lari dari-Nya.
Maka menjauhlah darinya agar kamu tidak terpedaya oleh manisnya lisan orang itu, karena kelak api maksiatnya akan membakarmu dan bau busuk hatinya akan mematikanmu

Golongan Ketiga : Memiliki Hati Namun Tidak Memiliki Lisan.
Ia adalah seorang mukmin yang Allah tutup (sembunyikan) dari makhluk-Nya, Allah perlihatkan kepadanya aib-aib dirinya sendiri, Allah sinari hatinya, dan Allah beri pemahaman tentang bahaya berbaur dengan manusia (yang buruk) serta dampak buruk banyak bicara. Inilah Wali Allah yang terjaga dalam perlindungan-Nya. Segala kebaikan ada padanya. Maka dekatilah dia, bergaul dan bantulah dia, niscaya Allah akan mencintaimu.

Golongan Keempat : Orang yang Belajar ( Ngaji ), Mengajar, dan Mengamalkan Ilmunya
Ia adalah orang yang mengenal Allah (Al-Arif billah) dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Allah telah menitipkan keajaiban ilmu di hatinya dan melapangkan dadanya untuk menerima berbagai cabang ilmu. Maka waspadalah jangan sampai kamu menyelisihinya, menjauhinya, atau meninggalkan nasihatnya."

واللّٰه أعلم بالصواب

✍ : Nashoihul Ibad Hal, 40 Makolah, 35
Bab, 3

10/05/2026

( #الْبُيُوْعُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ): أَحَدُهَا (بَيْعُ عَيْنٍ مُشَاهَدَةٍ) أَيْ حَاضِرَةٍ (فَجَائِزٌ) إِذَا وُجِدَتِ الشُّرُوْطُ مِنْ كَوْنِ الْمَبِيْعِ طَاهِرًا مُنْتَفِعًا بِهِ، مَقْدُوْرًا عَلىٰ تَسْلِيْمِهِ، لِلْعَاقِدِ عَلَيْهِ وِلَايَةً.

Adapun "jual beli" itu ada 3 macam, yaitu :

Pertama : Jual beli sesuatu yang dapat dilihat, yakni barangnya ada di tempat, maka jual beli ini hukumnya boleh. Jika memang dapat ditemukan beberapa syarat seperti :

1.Keadaan bendanya suci.

2.Bendanya dapat diambil manfaatnya sesuai dengan yang dimaksudkan.

3.Bendanya dapat diterimakan atau diserahkan kepada pihak pembeli.

وَلَا بُدَّ فِي الْبَيْعِ مِنْ إِيْجَابٍ وَقَبُوْلٍ.

Karena itu dalam akad jual beli ini harus ada ijab qabul (serah terima).

فَالْأَوَّلُ كَقَوْلِ الْبَائِعِ أَوِ الْقَائِمِ مَقَامَهُ بِعْتُكَ وَمَلَّكْتُكَ بِكَذَا.

"Ijab" ialah ucapan si penjual benda atau orang yang mengganti kannya : "Aku menjual kepadamu dan menyerahkan p**a kepadamu dengan sesuatu" (baik dengan uang atau sesuatu, pen).

وَالثَّانِيْ كَقَوْلِ الْمُشْتَرِيْ أَوِ الْقَائِمِ مَقَامَهُ: «إِشْتَرَيْتُ وَتَمَلَّكْتُ» وَنَحْوُهُمَا.

Sedang "Qabul" maksudnya ialah ucapan si pembeli atau orang yang menggantikannya : "Aku membeli dan memiliki" dan selain perkataan keduanya.

Keterangan :

Bagi orang yang jual beli, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan di dalam mencapai sahnya akad "Ijab qabul", yaitu :

a.Bahwa antara kedua belah pihak tidak terpisahkan dengan "diam" dalam waktu yang lama, lain halnya jika hanya sejenak.

b.Tidak disela-selai sedikitpun dengan kata lain, yakni kata-kata yang tidak ada sangkut pautnya, lagi p**a bukan untuk tujuan kebaikan dalam jual beli yang bersangkutan.

c.Hendaklah keduanya ada persesuaian makna (bukan harus lafadznya). Misalnya "Saya jual barang ini kepadamu dengan harga Rp. 500, lalu si pembeli setuju membelinya dengan harga tersebut atau malah bisa kurang, atau penjual berkata "Aku jual barang ini dengan harga Rp. 1.000, secara kontan, lalu pihak pembeli setuju dengan cara angsuran, maka akad jual beli semacam ini tidak sah hukumnya, karena ada perselisihan maknanya.

d.Ijab qabul itu sendiri tidak harus bergantung dengan adanya suatu peristiwa (kejadian). Misalnya: "Jika ayahku wafat, maka benar benar aku jual barang ini kepadamu". Akad yang demikian ini tidak sah hukumnya.

e.Juga tidak dibatasi dengan waktu yang mengikat. Misalnya: "Aku jual barang ini kepadamu, tapi selama satu tahun saja".

10/05/2026

HAJI DENGAN UANG HARAM

Apakah sah melakukan ibadah haji dengan biaya dari uang haram atau syubhat?

Jawaban
Menurut pendapat Madzhab Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi'iyah. Hukum ibadah haji dengan uang harom adalah sah dan dapat menggugurkan kewajiban, namun hukumnya haram dan dia berdosa serta tidak termasuk haji mabrur.

Sedangkan menurut madzhab Hambali, haji dengan uang haram tidak sah.

Referensi

١. [المجموع شرح المهذب ج ٧ ص ٦٢]
(فرع) إذا حج بمال حرام أو راكبا دابة مغصوبة أثم وصح حجه واجزأه عندنا وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبد رى وبه قال أكثر الفقهاء وقال احمد لا يجزئه

(Cabang masalah) Apabila seseorang berhaji dengan harta haram atau berkendara dengan hewan yang digasab, maka ia berdosa. Namun hajinya sah dan telah menggugurkan kewajiban menurut mazhab kami. Demikian p**a pendapat Abu Hanifah, Malik, dan al-'Abdari, serta inilah pendapat mayoritas ulama fikih. Sementara Ahmad berpendapat hajinya tidak sah.
[Al-Majmu' Syarh al-Muhazzab jilid 7 hal. 62]

٢. [الإيضاح للنووي ص ١٦]
الخامسة ليحرص على أن تكون نفقته حلالا خالصة من الشبهة،فإن خالف وحج بما فيه شبهة أو بمال مغصوب صح حجه فى ظاهر الحكم ،ولكنه ليس مبرورا ويبعد قبوله،هذا هو مذهب الشافعي ومالك وأبي حنيفة رحمهم الله وجماهير العلماء من السلف والخلف،وقال أحمد بن حنبل لا يجزيهم الحج بمال حراما

Kelima: Hendaknya seseorang berupaya agar bekal hajinya berasal dari harta yang halal dan bersih dari unsur syubhat. Jika ia menyelisihi hal itu lalu berhaji dengan harta yang mengandung syubhat atau harta hasil gasab, maka hajinya sah secara hukum yang tampak. Akan tetapi hajinya tidak mabrur dan jauh dari kemungkinan untuk diterima. Inilah mazhab Imam Syafi'i, Malik, Abu Hanifah -semoga Allah merahmati mereka- serta pendapat mayoritas ulama dari kalangan salaf maupun khalaf. Sedangkan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa haji dengan harta haram tidak mencukupi dan tidak sah.
[Al-Idhah karya An-Nawawi hal. 16]

Semoga bermanfaat

09/05/2026

{ #فَصْلٌ} فِي الرِّبَا) بِأَلْفٍ مَقْصُوْرَةٍ لُغَةً الزِّيَادَةُ، وَشَرْعًا مُقَابَلَةُ عِوَضٍ بِآخَرَ مَجْهُوْلِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيْرٍ الْعِوَضَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا.

Pasal : Menerangkan tentang Riba

Kata "Riba" dibaca dengan Alif Maqsurah, menurut bahasanya ia mempunyai arti "tambah". dengan menurut syara’ telah penyerahan pergantian sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tidak dapat terlihat adanya kesamaan menurut timbangan syara’ ketika akad-akadan, atau disertai mengakhirkan dalam proses tukar menukar atau hanya salah satunya.

Hukum Riba Ialah Haram

(وَالرِّبَا حَرَامٌ، وَإِنَّمَا يَكُوْنُ فِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَ فِي الْمَطْعُوْمَاتِ).

Riba itu hukumnya haram, tetapi riba hanya terdapat pada emas, perak dan makanan-makanan.

وَهِيَ مَا يُقْصَدُ غَالِبًا لِلطَّعْمِ اقْتِيَاتًا أَوْ تَفَكُّهًا أَوْ تَدَاوِيًا. وَلَا يَجْرِي الرِّبَا فِي غَيْرِ ذٰلِكَ.

Adapun yang dimaksudkan dengan makan-makanan ialah segala sesuatu yang sudah biasa dimakan agar supaya (badan, pen.) menjadi kuat. Atau buah-buahan atau juga sesuatu yang dapat dibuat untuk pengobatan. Dan tidak ada riba pada selain yang tersebut itu.

(وَلَا يَجُوْزُ بَيْعُ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ لَا الْفِضَّةُ كَذٰلِكَ) أَيْ بِالْفِضَّةِ مَضْرُوْبَيْنِ كَانَا أَوْ غَيْرُ مَضْرُوْبَيْنِ (إِلَّا مُتَمَاثِلًا) أَيْ مِثْلًا بِمِثْلٍ.

Tidak boleh menjual emas dibeli dengan emas demikian juga menjual jual perak dibeli dengan perak yang keduanya sudah tercetak atau belum dibangun (masih berupa bahan, pen.) kecuali jika keduanya sama dalam timbangannya.

فَلَا يَصِحُّ بَيْعُ شَيْءٍ مِنْ ذٰلِكَ مُتَفَاضِلٍ. وَقَوْلُهُ: (نَقْدًا) أَيْ حَالًا يَدًا بِيَدٍ؛ فَلَوْ بِيْعَ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ مُؤَجَّلًا لَمْ يَصِحَّ.

Maka tidak boleh menjual emas atau perak secara berlebihan. Adapun perkataan mushannif "secara kontan" maksudnya ialah serah terima seketika itu juga. Karenanya bila emas atau perak itu dijual angsuran (tempo pembayarannya, pen.) maka hukum nya tidak sah.

(وَلَا) يَصِحُّ (بَيْعُ مَا ابْتَاعَهُ) الشَّخْصُ (حَتّٰى يَقْبِضَهُ)، سَوَاءٌ بَاعَهُ لِلْبَائِعِ أَوْ لِغَيْرِهٖ.

Tidak sah menjual barang yang telah dibeli sebelum barang tersebut diterimanya, baik barang itu dijual kepada orang yang semula menjual atau lainnya.

(وَلَا) يَجُوْزُ (بَيْعُ اللَّحْمِ بِالْحَيَوَانِ) سَوَاءٌ كَانَ مِنْ جِنْسِهٖ، كَبَيْعِ لَحْمِ شَاةٍ بِشَاةٍ أَوْ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهٖ لٰكِنْ مِنْ مَأْكُوْلٍ كَبَيْعِ لَحْمِ بَقَرَةٍ بِشَاةٍ.

Dan tidak boleh menjual daging dibeli dengan binatang, meskipun binatang itu sejenis (daging yang dijual, pen.) seperti menjual daging kambing dibeli dengan binatang kambing, atau lain jenis nya tetapi dari binatang yang halal dimakan, seperti menjual daging kerbau dibeli dengan binatang kambing.

09/05/2026
09/05/2026

zaman Nabi Muhammad, hiduplah seorang pemuda bernama Alqamah. Ia dikenal sebagai sosok yang tekun dalam beribadah kepada Allah. Dahinya kerap bersujud dalam salat yang panjang, hari-harinya dihiasi puasa, dan tangannya begitu ringan mengulurkan sedekah tanpa terhitung jumlahnya.

Suatu hari, kepiluan melanda kediaman Alqamah. Orang yang taat itu terbaring lemah, bergulat dengan sakaratul maut yang berat. Istrinya, yang diliputi kecemasan, mengutus seseorang menghadap Baginda Nabi Muhammad untuk mengabarkan kondisi suaminya yang sedang berada di ambang perpisahan nyawa.

Rasulullah, segera mengutus Bilal, Ali, Salman, dan Ammar untuk menjenguknya. Tepat di sebelah pria yang terbaring itu, para sahabat utusan Nabi membimbingnya: "Katakanlah: Laa ilaha illallah." Namun, lisan Alqamah seolah terkunci rapat. Lidah yang biasanya basah oleh zikir itu kini membeku,
tak mampu mengucap satu kalimat tauhid pun di penghujung nafasnya.

Kabar mengejutkan ini sampai ke telinga Rasulullah. Beliau bertanya, "Apakah ia masih memiliki orang tua?"

Seseorang menjawab, "Ayahnya telah tiada, namun ia memiliki seorang ibu yang sudah sangat tua renta."

Rasulullah kemudian mengutus Bilal untuk menyampaikan salam dan pesan kepada ibunda Alqamah. Yang intinya, jika sang ibu mampu, datanglah menemui Nabi, namun jika tidak, Nabi yang akan datang menghampirinya.

Dengan keteguhan hati, sang ibu menyahut, "Jiwa ini adalah tebusan baginya, akulah yang lebih berhak mendatangi beliau." Ia pun berjalan perlahan bersandar pada tongkatnya, demi menghadap Nabi Muhammad.

Di hadapan Rasulullah, suatu yang sangat pahit terungkap. Nabi bertanya dengan lembut, meminta kejujuran sebelum wahyu turun menyibak tirai rahasia. Sang ibu bercerita tentang ketaatan lahiriah putranya. Wanita tua itu mengabarkan kepada Nabi bahwa anaknya adalah orang yang taat beribadah, selalu salat, puasa, dan sedekah.

Rasulullah kembali menanyakan perihal hubungan Alqamah dengan ibunya, sang ibu akhirnya menyatakan kenyataan bahwa:
يَا رَسُول اللَّهِ إِنِّي عَلَيْهِ سَاخِطَةٌ وَاجِدَةٌ كَانَ يُؤْثِرُ امْرَأَتَهُ عَلَيَّ وَيُطِيعُهَا
فِي الْأَشْيَاءِ وَيَعْصِينِي
"Wahai Rasulullah, aku murka kepadanya. Ia lebih mengutamakan istrinya daripadaku, ia menaati istrinya namun mendurhakaiku."

Rasulullah akhirnya bersabda kepada para hadirin:
سُخْطُ أُمِّهِ حَجَبَ لِسَانَهُ عَنْ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
"Murka ibunyalah yang telah menghalangi lisannya dari mengucapkan syahadat."

Selepas ibunda Alqamah menyatakan kemurkaannya, Nabi memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar. Beliau hendak membakar Alqamah di depan mata ibunya sendiri.

Sang ibu tersedu, seraya berkata;
يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنِي وَثَمَرَةُ فُؤَادِي تَحْرِقُهُ بِالنَّارِ بَيْنَ يَدَيَّ؟ فَكَيْفَ يَحْتَمِلُ قَلْبِي؟
"Wahai Rasulullah, putraku adalah buah hatiku, bagaimana mungkin buah hatiku dibakar di hadapanku?"

Nabi dengan segala kebijaksanaannya kembali bersabda:
يَا أُمَّ عَلْقَمَةَ فَعَذَابُ اللَّهِ أَشَدُّ وَأَبْقَى فَإِنْ سَرَّكِ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُ فَارْضَيْ عَنْهُ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَنْفَعُهُ الصَّلَاةُ وَلَا الصَّدَقَةُ مَا دُمْتِ عَلَيْهِ سَاخِطَةً
"Wahai ibu Alqamah, azab Allah jauh lebih pedih dan kekal. Jika engkau ingin Allah mengampuninya, maka ridailah dia. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan bermanfaat salat dan sedekahnya selama engkau masih murka kepadanya."

Luluhlah dinding kemarahan itu oleh kasih sayang seorang ibu. Sambil menengadahkan tangan, ia bersaksi di hadapan Allah dan Rasul-Nya bahwa ia telah rida kepada putranya. Seketika itu p**a, Bilal mendengar dari balik pintu rumah Alqamah, lisan sang pemuda telah terlepas dari belenggunya, dengan lantang mengucap: "Laa ilaha illallah."

Alqamah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari itu dalam keadaan husnul khatimah.

Setelah menyalatkan dan menguburkannya, Rasulullah berdiri di tepi liang lahat, memberikan sebuah wasiat yang menggetarkan setiap hati yang hadir di prosesi pemakaman itu:
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مَنْ فَضَّلَ زَوْجَتَهُ عَلَى أُمِّهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ،
وَلَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ
"Wahai kaum Muhajirin dan Ansar, barangsiapa yang lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya, maka baginya laknat Allah. Tidak akan diterima darinya amal wajib maupun sunnahnya."1

Pada akhirnya, jangan pernah menukar rida ibumu dengan apa pun di dunia ini, bahkan dengan cinta pasanganmu sekalipun. Sebab, apa gunanya seluruh dunia berada di genggamanmu, jika saat maut menjemput, lisanmu tak mampu memanggil nama Tuhanmu hanya karena ada hati seorang ibu
yang kau biarkan lara?

Referensi:
1. Abu al-Laits Nashr bin Muhammad al-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin bi-Ahadits Sayyid al-Anbiya’ wa al-Mursalin (Beirut: Dar Ibn Katsir, t.t), hal. 126.

09/05/2026

#‎Banyak yang langsung menjawab spontan dalam masalah ini… padahal jawabannya belum tentu tepat.

“Pak yaii.. misal saat Khotib baru naik mimbar, lalu langsung ngasih teguran kepada jama'ah, menyuruh anak2 kecil diam jangan berisik..

‎Boleh tidak semacam itu?”

‎Sebagian orang mungkin langsung menjawab:

‎“Tidak boleh. Khutbah itu tidak boleh diselingi ucapan seperti itu.”

‎Sekilas memang terdengar benar…

‎Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

‎Karena dalam beberapa keadaan, khatib justru boleh berbicara kepada jamaah demi sebuah maslahat.

‎Dalilnya adalah hadits shahih tentang Sulaik Al-Ghathafani:

‎جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْطُبُ، فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: «يَا سُلَيْكُ! قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا» ثُمَّ قَالَ: «إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا»

‎“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at sementara Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, lalu ia langsung duduk.

‎Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

‎‘Wahai Sulaik! Berdirilah lalu shalatlah dua rakaat, dan ringankanlah keduanya.’

‎Kemudian beliau bersabda:

‎‘Apabila salah seorang di antara kalian datang pada hari Jum’at sementara imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua rakaat dan meringankannya.’”

‎(HR. Sahih Muslim, No. 875)

‎Perhatikan…

‎Nabi ﷺ berbicara langsung kepada jamaah di tengah khutbah.

‎Bahkan beliau memberi instruksi secara jelas demi sebuah maslahat.

‎Dari sini dapat difahami:

‎Jika ada kebutuhan atau maslahat, maka khatib boleh berbicara kepada jamaah saat khutbah.

‎Maka mengqiyaskan kepada hadits ini Khatib boleh:

‎✓ Menegur jamaah yang ribut

‎✓ Mengingatkan agar anak-anak tenang

‎✓ Atau memberi perhatian pada sesuatu yang mengganggu kekhusyukan khutbah

‎Pada asalnya tidak mengapa jika memang ada kebutuhan.

‎Apalagi dalam kasus yang ditanyakan, Khatib baru naik mimbar dan khutbah belum dimulai. Maka hal itu lebih jelas lagi kebolehannya.

‎Karena anjuran diam dan mendengarkan dengan khusyuk itu berlaku bagi makmum yang mendengarkan khutbah ketika khutbah sedang berlangsung.

‎Sedangkan khatib sendiri memang berbicara untuk menyampaikan khutbah dan kebutuhan yang berkaitan dengannya.

‎Dan dari sini kita jadi paham…

‎Tidak semua hal yang “tidak biasa kita lihat” otomatis terlarang.

‎Kadang justru kuncinya ada pada: Apakah ada maslahat dan kebutuhan syar’i atau tidak.

‎Oleh: Abdi Ramadan

‎---

‎📖 Referensi:
‎Sahih Muslim, Bab “Tahiyyatul Masjid ketika Imam sedang Berkhutbah”, no. 875, hlm. 597, tahqiq Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, Maktabah Syamilah

08/05/2026

YANG DIDAHULUKAN: MENJAWAB ADZAN ATAU SHALAT TAHIYYATUL MASJID?

Syikh Ahmad adz-Dzahabi al-Bashshal berfatwa bahwa orang yang masuk masjid ketika adzan khutbah berlangsung, maka yang lebih utama baginya adalah langsung melaksanakan shalat tahiyyatul masjid.

Sedangkan Syikh Abu Syakil berkata: barangkali yang lebih utama adalah berdiri untuk menjawab adzan terlebih dahulu, kemudian baru shalat tahiyyatul masjid dengan dipercepat, agar dapat menggabungkan kedua tujuan (menjawab adzan dan shalat tahiyyat).

Pendapat ini dikuatkan oleh Syikh Abu Makhramah, beliau berkata: tidak sah (tidak benar) pendapat yang mengatakan makruh menjawab adzan pada saat itu. (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 82)

فائدة : أفتى أحمد الذهبي البصال بأن من دخل حالة أذان الخطبة أن الأولى له أن يصلي التحية ، وقال أبو شكيل : لعل الأولى الوقوف وإجابة المؤذن ثم يصلي التحية ويتجوز ليحصل الجمع بين المقصودين ، ورجحه أبو مخرمة قال : ولا يصح القول بكراهة الإجابة حينئذ اهـ.(بغية المسترشدين صـ٨٢)

Address

Tegal

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KITAB posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share