16/08/2026
π ππ§ π¦ππ πππ‘ ππ‘π§ππ‘ π§π₯ππ¦πππ§π,
πππ§πππ πππ₯π§π π§ππ₯πππ¦ππ₯ πππ π£πππ ππ¨π¦π§π₯π¨ π ππ‘ππππ ππ¨ππ
Pada 26 Agustus 1965, kawasan Sungai Tiung, Cempaka, Kalimantan Selatan, mendadak menjadi pusat perhatian. Sekelompok pendulang tradisional menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas yang biasa mereka cari: sebutir intan mentah seberat 166,75 karat.
Orang yang kemudian paling dikenal dari penemuan itu adalah Haji Madsalam alias Mat Sam, pemimpin kelompok pendulang.
Batu tersebut berwarna kebiruan bercampur kemerahan dan disebut berukuran hampir sebesar telur burung merpati. Kabar penemuannya segera menyebar. Pikiran Rakjat edisi 31 Agustus 1965 bahkan membandingkannya dengan Koh-i-Noor, intan legendaris yang menjadi bagian dari koleksi mahkota Inggris.
Bagi Mat Sam dan kawan-kawannya, awalnya ini mungkin tampak seperti keberuntungan terbesar dalam hidup.
Namun sejarah justru mencatat kisah yang berbeda.
Intan itu kemudian diambil alih pemerintah.
Dan sejak saat itulah, penemuan yang seharusnya mengubah kehidupan para pendulang tersebut berubah menjadi salah satu kisah paling getir dalam sejarah pertambangan rakyat Kalimantan Selatan.
π³ πππ π£πππ, πππ π£π¨π‘π π¬ππ‘π ππππ¨π£ πππ₯π π§ππ‘ππ ππ‘π§ππ‘
Untuk memahami kisah Mat Sam, kita harus melihat Cempaka bukan sekadar sebagai lokasi penemuan Intan Trisakti.
Pendulangan intan di kawasan ini memiliki sejarah yang jauh lebih panjang.
Catatan mengenai aktivitas pendulangan di wilayah Kalimantan Selatan sudah muncul dalam sumber-sumber abad ke-19. Penjelajah Belanda Carl A.L.M. Schwaner, yang melakukan perjalanan penelitian di Kalimantan pada 1840-an, mencatat kegiatan pendulangan emas dan intan oleh masyarakat setempat.
Tradisi tersebut dilakukan menggunakan peralatan sederhana, termasuk linggangan, alat tradisional untuk memisahkan material berat dari pasir dan tanah.
Artinya, ketika Mat Sam dan kelompoknya mendulang di Sungai Tiung pada 1965, mereka bukanlah orang yang tiba-tiba datang untuk membuka tambang baru. Mereka bekerja dalam tradisi pendulangan yang telah lama hidup di kawasan Cempaka.
π³ ππππ, ππ£ππππ π ππ§ π¦ππ π£ππ‘πππ§ππ‘π?
Ini bagian yang menarik sekaligus harus dijawab hati-hati.
Dari sumber yang berhasil ditelusuri, belum ditemukan bukti primer yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa Mat Sam dan keluarganya adalah pendatang dari daerah lain yang datang ke Cempaka khusus untuk menjadi penambang.
Sumber-sumber yang membahas penemuan Intan Trisakti menyebut Mat Sam sebagai pendulang dari Kampung Cempaka dan menggambarkan Sungai Tiung sebagai tempat kelompoknya biasa melakukan pendulangan.
Namun, sumber yang tersedia juga belum memberikan keterangan biografis lengkap mengenai tempat kelahiran Mat Sam, asal-usul orang tuanya, atau sejak kapan keluarganya menetap di Cempaka.
Jadi, kurang tepat jika kita menyebutnya dengan pasti sebagai βpenduduk asli Cempakaβ, tetapi juga tidak memiliki dasar kuat untuk menyebutnya sebagai pendatang.
Jadi yang bisa dikatakan dengan lebih aman adalah:
| Mat Sam merupakan bagian dari komunitas pendulang tradisional Cempaka dan hidup dari aktivitas pendulangan di Sungai Tiung.
Ini penting karena sejarah sering kali membuat tokoh seperti Mat Sam hanya muncul ketika menemukan sesuatu yang besar, sementara kehidupan mereka sebelum peristiwa tersebut justru jarang dicatat.
π³ ππ‘π§ππ‘ ππ²π²,π³π± πππ₯ππ§ π ππ‘ππππ π£ππ₯πππ‘ ππ‘ππ’π‘ππ¦ππ
Berita mengenai penemuan tersebut segera masuk surat kabar.
Pikiran Rakjat memberitakan bahwa intan tersebut diperkirakan bernilai puluhan miliar rupiah pada masa itu. Nilai tersebut tentu harus dipahami dalam konteks ekonomi 1965, bukan dibandingkan begitu saja dengan harga sekarang.
Yang membuatnya semakin menarik, batu tersebut kemudian diberi nama Intan Trisakti.
Nama itu dikaitkan dengan gagasan Trisakti Soekarno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Dalam suasana politik Indonesia yang sedang penuh ketegangan pada 1965, nama tersebut tentu bukan sekadar nama batu permata.
Intan itu menjadi simbol kekayaan alam Indonesia yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembangunan.
Namun, persoalan justru muncul setelah batu itu berada di tangan pemerintah.
π³ ππ‘π§ππ‘ ππππ πππ, π£ππ₯π π£ππ‘ππ¨πππ‘π π ππ‘π¨π‘πππ¨ πππ‘ππ
Salah satu sumber sezaman yang sangat penting adalah pemberitaan Angkatan Bersenjata, 11 September 1967.
Dua tahun setelah penemuan, koran tersebut memberitakan bahwa Intan Trisakti telah diamankan oleh Pantjatunggal Kabupaten Banjar dan kemudian dibawa ke Jakarta.
Yang menarik, laporan itu menyebut proses pengambilalihannya dilakukan βbertentangan dengan keinginan para penemu/pemilik.β
Dengan kata lain, gambaran bahwa intan itu sekadar βdiserahkan secara sukarelaβ perlu diperlakukan dengan hati-hati.
Sumber sezaman justru menunjukkan adanya keberatan dari pihak penemu.
Pemerintah ketika itu memiliki alasan sendiri.
Menurut pemberitaan Pikiran Rakjat, intan tersebut direncanakan untuk mendukung pembangunan Kalimantan Selatan dan pengembangan teknologi penggalian intan agar produksi dapat ditingkatkan.
Sebagai bentuk penghargaan, muncul kabar bahwa Mat Sam dan beberapa rekannya akan mendapatkan fasilitas untuk menunaikan ibadah haji.
Tetapi janji tersebut kemudian menjadi persoalan.
π³ π₯π£π―,π± π πππππ₯ π¬ππ‘π πππ₯π¨πππ π ππ‘ππππ π₯π£π―,π± ππ¨π§π
Di sinilah kisahnya semakin rumit.
Menurut kajian Tajuddin Noor Ganie dalam Tragedi Intan Trisakti, pemerintah memberikan uang balas jasa yang disebut mencapai Rp3,5 miliar uang lama.
Namun pada akhir 1965 terjadi sanering (kebijakan pemerintah memotong nilai uang yang sedang beredar. Daya beli atau nilai nominal uang lama dikurangi. Contoh Indonesia pada 1959 dan 1965), yang mengubah nilai nominal uang secara drastis.
Akibatnya, angka tersebut menjadi sekitar Rp3,5 juta dalam uang baru.
Sebagian dana juga dikaitkan dengan biaya perjalanan haji bagi para penemu dan keluarga mereka.
Bagi masyarakat sekarang, angka Rp3,5 juta mungkin terdengar kecil. Tetapi membandingkan nominal tersebut langsung dengan harga barang sekarang juga tidak tepat.
Yang lebih penting adalah persoalan yang dirasakan Mat Sam dan kawan-kawannya:
mereka merasa imbalan yang diterima tidak sebanding dengan nilai penemuan dan janji yang sebelumnya disampaikan.
π³ ππ¨π π§πππ¨π‘ πππ π¨ππππ‘, π ππ§ π¦ππ πππ ππππ π ππ‘π¨π‘π§π¨π§ ππππ‘π¬π
Pada 1967, Mat Sam dan beberapa rekannya kembali bersuara.
Ironisnya, ketika mereka menjadi pemberitaan, kehidupan mereka ternyata tidak berubah menjadi kehidupan orang kaya.
Laporan-laporan mengenai kisah tersebut justru menggambarkan para penemu masih hidup sederhana.
Mat Sam dan empat rekannya kemudian meminta pemerintah meninjau kembali persoalan penghargaan dan hak mereka.
Namun situasi politik Indonesia sudah berubah.
Soekarno kehilangan kekuasaan.
Soeharto muncul sebagai pemimpin baru.
Pergantian rezim membuat persoalan Mat Sam semakin tidak jelas ujungnya.
ππ π ππ‘π ππ‘π§ππ‘ π§π₯ππ¦πππ§π π¦ππππ₯ππ‘πβ
Inilah bagian yang sampai sekarang belum memiliki jawaban meyakinkan.
Setelah dibawa ke Jakarta, jejak Intan Trisakti menjadi kabur.
Tidak ada bukti terbuka yang cukup kuat untuk memastikan bahwa intan tersebut benar-benar berada di museum tertentu di Belanda.
Cerita mengenai keberadaannya di luar negeri lebih tepat disebut sebagai dugaan atau kesaksian tidak terverifikasi, bukan fakta yang sudah terbukti.
Karena itu, kalimat seperti βIntan Trisakti pasti disimpan di Belandaβ sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta sejarah.
Yang dapat dipastikan dari sumber yang tersedia adalah: batu itu dibawa dari Kalimantan ke Jakarta dan kemudian keberadaannya tidak lagi jelas dalam catatan publik.
π³ π£ππ‘ππ‘ππππππ‘ π ππ§ π¦ππ
Haji Madsalam alias Mat Sam akhirnya meninggal pada 1993.
Ia tidak menjadi orang kaya seperti yang mungkin dibayangkan orang ketika mendengar kisah penemuan intan raksasa.
Justru namanya kemudian dikenang sebagai simbol ironi pertambangan rakyat:
orang kecil menemukan kekayaan luar biasa dari tanah tempat mereka hidup, tetapi tidak otomatis menjadi orang yang menikmati kekayaan tersebut.
Dan di sinilah kisah Mat Sam menjadi lebih besar daripada sekadar cerita tentang sebuah batu permata.
Ini adalah cerita tentang hubungan rakyat, kekayaan alam, dan negara.
Tentang bagaimana sebuah penemuan yang semestinya menjadi berkah dapat berubah menjadi sumber kekecewaan ketika hak orang-orang yang menemukan dan mengusahakannya tidak jelas.
Cempaka sendiri terus hidup dengan tradisi pendulangan intan yang telah berlangsung sangat lama.
Intan Trisakti mungkin telah menghilang dari pandangan sejarah. Tetapi cerita tentang Mat Sam tetap tinggal.
Sebab terkadang, yang paling berharga dari sebuah harta karun bukanlah batunya, melainkan cerita tentang siapa yang menemukannyaβdan siapa yang akhirnya memilikinya.
π· : H Salman, salah seorang saksi hidup, yang menemukan Intan Trisakti di tahun 1965.
π Sumber
- Pikiran Rakjat, 31 Agustus 1965 β laporan sezaman mengenai penemuan intan 166,75 karat dan rencana pemerintah terhadapnya.
- Angkatan Bersenjata, 11 September 1967 β laporan mengenai pengambilalihan dan pengiriman Intan Trisakti ke Jakarta.
- Tajuddin Noor Ganie, Tragedi Intan Trisakti (2011).
- Hermanu, Borneo 1843 (2010), mengenai catatan pendulangan di Kalimantan pada abad ke-19.
- Tirto, Kisah Tragis Mat Sam, Penemu Intan yang Dirampok Pemerintah.