Sari Berita Penting

Sari Berita Penting Mengabarkan berita dan informasi lain yg mungkin belum pernah anda dengar

SKANDAL PERTAMINA 1975,KETIKA PERUSAHAAN TERKAYA INDONESIA NYARIS BANGKRUT DAN MENGGOYANG EKONOMI ORDE BARUPada awal dek...
21/08/2026

SKANDAL PERTAMINA 1975,
KETIKA PERUSAHAAN TERKAYA INDONESIA NYARIS BANGKRUT DAN MENGGOYANG EKONOMI ORDE BARU

Pada awal dekade 1970-an, Pertamina bukan sekadar perusahaan minyak. Di bawah kepemimpinan Jenderal Ibnu Sutowo, Pertamina menjelma menjadi simbol kebangkitan ekonomi Indonesia. Berkat melonjaknya harga minyak dunia setelah Krisis Minyak 1973, perusahaan milik negara ini menikmati pemasukan yang luar biasa besar.

Saat itu, banyak orang bahkan menyebut Pertamina sebagai "negara di dalam negara". Pengaruhnya begitu besar hingga mampu menjalankan berbagai proyek yang biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Di bawah Ibnu Sutowo, Pertamina tidak hanya mengelola minyak dan gas. Perusahaan ini membangun rumah sakit, hotel mewah, kompleks perumahan, kapal tanker, kilang minyak, hingga mendirikan maskapai penerbangan Pelita Air Service. Pertamina juga memiliki armada tanker sendiri dan berinvestasi di berbagai sektor industri.

Ekspansi tersebut membuat nama Pertamina dikenal hingga tingkat internasional. Namun, di balik kemegahan itu, tersimpan persoalan besar.

Sebagian besar proyek dibiayai melalui pinjaman luar negeri dalam jumlah sangat besar. Ibnu Sutowo beranggapan bahwa pendapatan minyak akan terus meningkat sehingga utang tersebut dapat dilunasi dengan mudah. Selama harga minyak tinggi, strategi itu tampak berhasil.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Banyak proyek Pertamina tidak menghasilkan keuntungan yang cukup cepat untuk membayar utang. Di sisi lain, pengawasan terhadap keuangan perusahaan sangat lemah. Sistem pencatatan utang juga dinilai tidak transparan sehingga pemerintah sendiri kesulitan mengetahui besarnya kewajiban yang harus ditanggung Pertamina.

Masalah mulai mencuat pada 1975.

Para kreditur internasional mulai menagih pembayaran utang. Ketika dilakukan pemeriksaan, pemerintah dikejutkan oleh besarnya kewajiban finansial Pertamina. Berbagai sumber memperkirakan total utang perusahaan mencapai lebih dari US$10 miliar, jumlah yang sangat besar pada masa itu dan bahkan mendekati nilai seluruh anggaran pembangunan Indonesia.

Krisis ini langsung mengancam stabilitas ekonomi nasional. Jika Pertamina gagal membayar utangnya, kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia dapat runtuh. Pemerintah juga khawatir negara akan kesulitan memperoleh pinjaman luar negeri yang saat itu sangat dibutuhkan untuk membiayai pembangunan.

Presiden Soeharto akhirnya turun tangan.

Pemerintah mengambil alih pengelolaan keuangan Pertamina, melakukan restrukturisasi utang, serta menegosiasikan kembali pembayaran kepada para kreditur internasional. Berbagai proyek yang dianggap tidak berkaitan dengan bisnis inti mulai dihentikan atau dialihkan kepada pemerintah.

Di tengah krisis tersebut, Ibnu Sutowo akhirnya dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama Pertamina pada Maret 1976. Penggantinya diberi tugas untuk menyehatkan kondisi keuangan perusahaan dan mengembalikan fokus Pertamina pada bisnis minyak dan gas.

Meski Indonesia berhasil menghindari gagal bayar, skandal ini menjadi salah satu pukulan terbesar terhadap citra pengelolaan BUMN pada masa Orde Baru. Banyak pengamat menilai krisis tersebut menunjukkan bahaya ekspansi tanpa pengawasan yang memadai, terutama ketika sebuah perusahaan negara diberi kewenangan yang sangat luas.

Namun, hingga kini masih terdapat perdebatan di kalangan sejarawan dan ekonom.

Sebagian menilai Ibnu Sutowo adalah sosok visioner yang berani membangun industri energi Indonesia ketika negara masih memiliki keterbatasan modal. Menurut pandangan ini, banyak aset strategis Pertamina lahir berkat keberaniannya mengambil risiko.

Di sisi lain, banyak p**a yang menilai gaya kepemimpinannya terlalu terpusat, kurang transparan, dan terlalu bergantung pada utang, sehingga pada akhirnya membawa Pertamina ke ambang krisis.

Skandal Pertamina 1975 kemudian menjadi salah satu pelajaran penting dalam sejarah ekonomi Indonesia. Peristiwa ini mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap BUMN, memperbaiki tata kelola perusahaan negara, dan membatasi kewenangan yang terlalu besar pada satu individu.

Hingga kini, krisis tersebut masih dikenang sebagai salah satu skandal korporasi terbesar dalam sejarah Indonesia, sekaligus pengingat bahwa keberhasilan ekonomi harus selalu diimbangi dengan transparansi, akuntabilitas, dan pengelolaan risiko yang baik.

πŸ“Œ Sumber:

- Richard Robison, Indonesia: The Rise of Capital
- Howard Dick dkk., The Emergence of a National Economy
- Encyclopaedia Britannica
-M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1200
- Arsip Tempo dan Kompas mengenai krisis Pertamina 1975.

KISAH CINTA SOEHARTO DAN SITI HARTINAH, DARI PERNIKAHAN SEDERHANA HINGGA MENJADI KELUARGA PALING BERKUASA DI INDONESIABa...
21/08/2026

KISAH CINTA SOEHARTO DAN SITI HARTINAH, DARI PERNIKAHAN SEDERHANA HINGGA MENJADI KELUARGA PALING BERKUASA DI INDONESIA

Bagian 3 (Tamat): Menjadi Ibu Negara, Menghadapi Kontroversi, dan Berpisah Setelah Hampir 49 Tahun Menikah

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi titik balik dalam kehidupan Soeharto dan keluarganya. Sebagai Panglima Kostrad, Soeharto mengambil alih kendali Angkatan Darat setelah enam jenderal dan seorang perwira pertama gugur dalam peristiwa tersebut. Dalam beberapa bulan berikutnya, pengaruh politiknya terus menguat hingga pada 11 Maret 1966 ia menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Sukarno.

Setahun kemudian, melalui Sidang Istimewa MPRS, Soeharto ditetapkan sebagai Pejabat Presiden, lalu pada 27 Maret 1968 resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Sejak saat itu, Siti Hartinah menjadi Ibu Negara.

Berbeda dengan banyak istri kepala negara yang aktif berpidato atau terlibat langsung dalam politik, Ibu Tien lebih sering tampil melalui kegiatan sosial. Ia memimpin berbagai organisasi, seperti Tim Penggerak PKK, menjadi pelindung berbagai yayasan, serta aktif dalam pelestarian budaya Indonesia. Salah satu gagasannya yang paling dikenal adalah pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Menurut Ibu Tien, Indonesia memiliki keragaman budaya yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat dalam satu kawasan. Gagasan itu mendapat dukungan Soeharto dan mulai diwujudkan pada awal 1970-an. TMII kemudian diresmikan pada 20 April 1975.

Namun sejak awal, proyek tersebut memunculkan perdebatan. Sejumlah mahasiswa, aktivis, dan ekonom menilai dana yang digunakan seharusnya lebih diprioritaskan untuk mengatasi kemiskinan dan memperbaiki pendidikan. Pemerintah menjelaskan bahwa pembangunan TMII banyak didukung oleh sumbangan berbagai pihak dan bertujuan menjadi pusat pelestarian budaya nasional. Perdebatan mengenai proyek itu masih menjadi bagian dari kajian sejarah hingga sekarang.

Selain TMII, keluarga Cendana juga semakin sering menjadi perhatian publik. Ketika pembangunan ekonomi Indonesia berkembang pesat pada 1970-an dan 1980-an, anak-anak Soeharto mulai dikenal sebagai pengusaha di berbagai sektor. Kedekatan mereka dengan pusat kekuasaan memunculkan tuduhan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dari kalangan akademisi, aktivis, dan media, terutama menjelang berakhirnya Orde Baru. Di sisi lain, pemerintah saat itu menegaskan bahwa berbagai proyek yang dijalankan telah mengikuti ketentuan yang berlaku. Perdebatan mengenai pengaruh keluarga Cendana terhadap dunia usaha tetap menjadi salah satu topik yang banyak dibahas dalam studi sejarah Indonesia modern.

Di tengah berbagai dinamika tersebut, orang-orang yang pernah bekerja bersama Soeharto menggambarkan bahwa hubungan Soeharto dan Ibu Tien tetap terjaga. Dalam otobiografinya, Soeharto menulis bahwa istrinya sering menjadi tempat berbagi pandangan mengenai urusan keluarga, sementara keputusan pemerintahan tetap menjadi tanggung jawabnya sebagai presiden.

Pada 28 April 1996, Ibu Tien meninggal dunia di Jakarta setelah menjalani perawatan akibat penyakit jantung. Kepergiannya mengakhiri hampir 49 tahun perjalanan rumah tangga mereka.

Beberapa tokoh yang dekat dengan Soeharto, termasuk B.J. Habibie dan sejumlah pembantunya, pernah mengenang bahwa sejak wafatnya Ibu Tien, Soeharto terlihat lebih pendiam dibanding sebelumnya. Meski tetap menjalankan tugas sebagai presiden, orang-orang di lingkungan Istana melihat perubahan pada kehidupan pribadinya.

Dua tahun kemudian, Indonesia menghadapi krisis moneter Asia 1997–1998 yang berkembang menjadi krisis politik. Gelombang demonstrasi mahasiswa terjadi di berbagai daerah, disertai tuntutan agar Soeharto mengundurkan diri. Pada 21 Mei 1998, setelah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade, Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia.

Perjalanan Soeharto dan Siti Hartinah memperlihatkan bagaimana sebuah rumah tangga yang dimulai dari kehidupan sederhana seorang perwira pada masa Revolusi Kemerdekaan akhirnya berada di pusat kekuasaan Indonesia selama puluhan tahun. Bersamaan dengan itu, keduanya juga menjadi bagian dari berbagai keberhasilan, kritik, dan kontroversi yang hingga kini masih terus dibahas dalam sejarah Indonesia.

πŸ“Œ Sumber singkat:
Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya; Robert Elson, Suharto: A Political Biography; O.G. Roeder, The Smiling General; David Jenkins, Suharto and His Generals; ANRI; M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia.

DARI BATALYON INGGRIS KE PLAT NOMOR INDONESIA, KENAPA HURUF B, D, L, DAN AB MASIH BERTAHAN?Setiap hari kita melihat plat...
20/08/2026

DARI BATALYON INGGRIS KE PLAT NOMOR INDONESIA, KENAPA HURUF B, D, L, DAN AB MASIH BERTAHAN?

Setiap hari kita melihat plat seperti B 1234, D 5678, L 9012, atau AB 3456. Kelihatannya hanya kombinasi huruf dan angka untuk mengenali kendaraan.

Tapi di balik huruf-huruf itu tersimpan sejarah yang jauh lebih tua daripada Republik Indonesia. Bahkan, akar sistem kode wilayah yang sekarang kita kenal ternyata berkaitan dengan pendudukan Inggris atas Jawa pada awal abad ke-19.

Namun ada satu hal penting yang perlu diluruskan: cerita bahwa β€œpelat nomor Indonesia langsung berasal dari kode 26 batalyon Inggris pada 1811” memang populer dan banyak diberitakan, tetapi detail sejarahnya tidak semuanya terdokumentasi dengan kuat dalam sumber primer. Karena itu, lebih aman menyebutnya sebagai versi sejarah yang banyak dikutip, bukan fakta yang seluruh rinciannya sudah terbukti tanpa perdebatan.

πŸ”³ DARI BATAVIA DAN BATALYON B

Pada 1811, Inggris menyerbu Jawa yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Belanda. Pasukan Inggris datang dalam jumlah besar dan berhasil merebut Batavia.

Dalam kisah yang banyak beredar, pasukan ekspedisi tersebut dibagi dalam batalyon-batalyon yang diberi kode huruf. Batavia dikaitkan dengan huruf B, karena wilayah tersebut dikuasai oleh Batalyon B.

Dari sinilah kemudian muncul cerita mengapa Jakarta sampai sekarang menggunakan kode B.

Wilayah lain juga memiliki kode yang berbeda. Banten dikaitkan dengan A, Surabaya dengan L, dan Madura dengan M. Sementara daerah seperti Yogyakarta dan Surakarta memiliki dua hurufβ€”AB dan ADβ€”yang dalam penjelasan populer dikaitkan dengan keterlibatan lebih dari satu kesatuan.

Tetapi jangan membayangkan pada 1811 sudah ada mobil dengan pelat seperti yang kita kenal sekarang.

Kendaraan bermotor bahkan belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang digunakan ketika itu terutama adalah kereta dan kendaraan yang ditarik hewan. Jadi, kalau istilah β€œpelat nomor kendaraan” digunakan untuk periode tersebut, konteksnya harus dipahami sebagai tanda identifikasi kendaraan, bukan sistem TNKB modern.

πŸ”³ RAFFLES DAN PERUBAHAN ADMINISTRASI

Setelah Inggris menguasai Jawa, Thomas Stamford Raffles melakukan reorganisasi pemerintahan.

Sistem wilayah kemudian dikembangkan melalui pembagian administratif yang dikenal sebagai karesidenan. Jejak pembagian wilayah inilah yang jauh lebih jelas hubungannya dengan sistem kode wilayah yang berkembang kemudian.

Ketika Belanda kembali menguasai Jawa pada 1816, berbagai warisan administrasi Inggris tidak serta-merta dihapus. Sebagiannya justru dipertahankan dan dikembangkan.

Menariknya, huruf pada pelat kendaraan modern tidak selalu merupakan peninggalan langsung dari nama kota.

Huruf B, misalnya, bukan sekadar singkatan β€œBatavia”. Demikian p**a D pada Bandung bukan berarti huruf awal nama Bandung. Sistemnya berkaitan dengan sejarah pembagian wilayah administratif dan kemudian berkembang menjadi sistem registrasi kendaraan.

πŸ”³ KETIKA MOBIL MULAI MEMENUHI JALANAN

Perubahan besar terjadi ketika kendaraan bermotor mulai berkembang di Hindia Belanda.

Pada awalnya, sistem penandaan kendaraan belum seragam. Bentuk, ukuran, bahan, warna, dan posisi tanda kendaraan masih dapat berbeda.

Seiring bertambahnya jumlah kendaraan, kebutuhan pemerintah untuk mendaftarkan dan mengidentifikasi kendaraan juga semakin besar.

Menurut penjelasan sejarawan Syaiful Amin yang dikutip detik, pada tahap awal kode kendaraan bahkan tidak sesederhana sistem wilayah yang sekarang. Pernah digunakan identitas seperti B untuk Batavia, SR untuk Surabaya, SM untuk Semarang, dan CH untuk Cirebon. Ketika jumlah kendaraan bertambah dan muncul persoalan seperti pemalsuan pelat, sistem kemudian diarahkan berdasarkan wilayah keresidenan.

Jadi, sistem yang kita lihat sekarang bukanlah aturan yang langsung jadi pada 1811.

Ia merupakan hasil evolusi panjang.

πŸ”³ BUKAN SEKADAR WARISAN INGGRIS

Ada fakta menarik lainnya.

Secara global, sistem pelat kendaraan memang berkembang pada akhir abad ke-19. Kepolisian Paris memperkenalkan sistem identifikasi kendaraan pada 1893, sementara Belanda kemudian menjadi salah satu negara pertama yang menerapkan kewajiban registrasi kendaraan secara nasional pada awal abad ke-20.

Artinya, ketika kendaraan bermotor mulai berkembang di Hindia Belanda, pemerintah kolonial sudah memiliki contoh dari perkembangan sistem registrasi kendaraan di Eropa.

Maka, sistem pelat nomor di Indonesia sebenarnya merupakan pertemuan antara warisan pembagian wilayah kolonial dan kebutuhan modern untuk mengidentifikasi kendaraan.

πŸ”³ DARI HINDIA BELANDA KE REPUBLIK INDONESIA

Yang menarik, ketika Indonesia merdeka pada 1945, sistem administrasi kendaraan tidak serta-merta dibongkar dan dibuat dari awal.

Sebagian sistem yang telah digunakan sebelumnya tetap dipakai, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan negara baru.

Inilah sebabnya kita masih menemukan kode-kode yang memiliki akar sejarah sangat tua.

B untuk Jakarta.
D untuk Bandung.
L untuk Surabaya.
AB untuk Yogyakarta.
AD untuk Surakarta dan sekitarnya.

Tetapi kode-kode tersebut juga mengalami perubahan dan penambahan. Tidak semuanya bisa ditarik lurus sampai 1811.

Contohnya W untuk Sidoarjo merupakan kode yang relatif jauh lebih baru. RRI mencatat kode W ditetapkan ketika wilayah Sidoarjo dan Gresik mulai menggunakan sistem kode tersendiri pada era yang jauh lebih modern.

Jadi, tidak semua huruf pada pelat Indonesia adalah β€œwarisan batalyon Inggris”.

πŸ”³ SISTEM ITU TERUS BERUBAH

Pelat nomor Indonesia kemudian mengalami berbagai perubahan: dari bentuk fisik, warna, susunan angka-huruf, hingga sistem registrasinya.

Pada era modern, pelat nomor bukan lagi sekadar penanda daerah. Ia menjadi bagian dari registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor yang dikelola kepolisian.

Bahkan warna pelat pun berubah mengikuti perkembangan regulasi. Sistem yang dahulu identik dengan dasar hitam dan tulisan putih kemudian mulai bergeser ke dasar putih dengan tulisan hitam untuk mendukung sistem identifikasi elektronik.

Dengan demikian, pelat nomor yang kita lihat hari ini adalah hasil perjalanan panjang selama lebih dari dua abad.

Dari kereta kuda zaman kolonial, berkembang menjadi sistem registrasi kendaraan bermotor, kemudian diwarisi Republik dan terus diperbarui sesuai kebutuhan zaman.

Dan mungkin sekarang, ketika melihat B, D, L, AB atau AD di jalan, kita bisa melihatnya dengan cara berbeda.

Itu bukan sekadar huruf di atas selembar pelat logam.

Di baliknya ada jejak perang, kolonialisme, perubahan administrasi, perkembangan teknologi, dan sejarah panjang bagaimana sebuah negara belajar mengatur kendaraan yang terus memenuhi jalan-jalannya.

πŸ“Œ Catatan sejarah

Kisah tentang kode pelat yang berasal langsung dari 26 batalyon Inggris sangat populer dalam berbagai publikasi Indonesia. Namun, sumber yang tersedia sekarang lebih kuat dalam menunjukkan bahwa pembagian administratif dan sistem keresidenan kolonial berperan besar dalam pembentukan kode wilayah, sementara hubungan langsung setiap huruf dengan batalyon tertentu perlu diperlakukan secara hati-hati karena tidak seluruhnya didukung dokumen primer yang mudah diverifikasi. Karena itu, sejarah pelat nomor Indonesia lebih tepat dipahami sebagai proses panjang, bukan satu keputusan tunggal pada 1811.

πŸ“Œ Sumber:
- ANTARA, β€œAsal-usul kode huruf pada pelat nomor kendaraan di Indonesia” (2025).
- RRI, β€œSejarah Plat Nomor Kendaraan di Indonesia” (2024).
- detikJateng, wawancara dengan sejarawan Syaiful Amin mengenai sejarah kode pelat kendaraan (2023).
- detikOto, sejarah pelat nomor dan perkembangan TNKB Indonesia.

7 PENEMU INI MENYESAL DENGAN HAL YANG DIA CIPTAKAN, Siapa dan Kenapa?Semua teknologi modern yang kita miliki saat ini ia...
20/08/2026

7 PENEMU INI MENYESAL DENGAN HAL YANG DIA CIPTAKAN, Siapa dan Kenapa?

Semua teknologi modern yang kita miliki saat ini ialah hasil dari kerja keras para penemu. Maka, kita perlu berterima kasih pada mereka karena sudah sangat berjasa. Namun, tidak semua penemu merasa senang dengan hal yang ia ciptakan. Justru, beberapa penemu sangat menyesal atas benda yang ia ciptakan dan berharap bisa memutar waktu kembali.

Siapa saja penemu yang dimaksud dan mengapa mereka menyesal atas temuan yang mereka ciptakan sendiri? Let's get closer!

1. Mikhail Kalashnikov, pencipta AK-47

AK-47 adalah salah satu senapan paling kuat dan mematikan di dunia. Penciptanya adalah Mikhail Kalashnikov, seorang jenderal, penemu dan insinyur asal Rusia. AK-47 dirancang untuk menjadi senapan otomatis sederhana yang bisa diproduksi secara massal, terang laman Mental Floss.

Kalashnikov meninggal di tahun 2014 pada usia 94 tahun di Rusia. Ia menulis surat yang ditujukan pada kepala gereja Ortodoks Rusia di tahun 2010 dan mengungkapkan rasa penyesalannya menciptakan AK-47. Senapannya telah membunuh banyak orang dan ia takut disalahkan atas kematian mereka.
_

2. Tom Karen, penemu Raleigh Chopper

Sebelum sepeda BMX muncul, Raleigh Chopper adalah sepeda yang cukup populer. Ini karena sepeda ini memiliki pelana yang nyaman, posisi duduk yang santai dan mempunyai setang besar seperti Harley Davidson. Di tahun 1970-an, sepeda Raleigh Chopper adalah sepeda yang cukup laris penjualannya, ungkap laman Mental Floss.

Namun, justru pencipta Raleigh Chopper, Tom Karen, tidak antusias ketika Chopper akan diproduksi lagi. Menurutnya, Chopper bukan sepeda yang bagus karena sangat berat dan akan merepotkan jika dibawa ke tempat yang jauh. Ia mengatakan bahwa ada orang yang mengendarainya dari Land's End ke John O'Groats, tetapi berujung dengan penyesalan.
_

3. Julius Robert Oppenheimer dan Albert Einstein sebagai penemu bom atom

Bom atom adalah senjata perang yang paling mematikan dan membawa kehancuran. Penciptanya adalah Julius Robert Oppenheimer dan Albert Einstein. Di bulan Agustus tahun 1945, bom atom ini dipakai untuk meledakkan dua kota di Jepang, yakni Hiroshima dan Nagasaki. Tak kurang dari 250 ribu orang tewas akibat ledakan bom atom itu.

Oppenheimer menyesali ciptaannya. Ia mengutip kata-kata dari Bhagavad Gita yang berbunyi, "Sekarang saya menjadi kematian dan penghancur dunia." Sementara, Einstein ikut berperan dengan teori relativitasnya. Einsten turut menyesal berkontribusi dalam menciptakan bom atom karena kerusakan masif yang ditimbulkan olehnya.
_

4. Ethan Zuckerman, pencipta iklan pop-up

Pernah merasa kesal ketika ada iklan pop-up yang muncul di layar dan membuat tulisan yang sedang kita baca tertutupi? Sosok yang bertanggung jawab atas hal itu adalah Ethan Zuckerman, pencipta iklan pop-up. Tujuan awal iklan pop-up dibuat adalah untuk meningkatkan pendapatan dari halaman website gratis, ujar laman Mental Floss.

Tetapi, kebanyakan dari kita menganggap iklan itu mengganggu dan tidak berminat untuk mengklik iklan tersebut. Sebagian orang menganggap bahwa iklan pop-up itu useless dan tidak meningkatkan pendapatan mereka. Ethan Zuckerman pun menyatakan permintaan maaf terbuka dan berkata bahwa ia hanya berniat baik kala menciptakan iklan pop-up.
_

5. D**g Nguyen, kreator game Flappy Bird

Saat awal kemunculannya, game Flappy Bird sangat meledak dan populer. Seharusnya, ini membuat senang D**g Nguyen, pencipta game Flappy Bird. Namun, nyatanya ia justru menerima komentar negatif yang penuh kebencian dari warganet. Bahkan, ia juga menerima ancaman pembunuhan. Ngeri!

Pada 10 Februari 2014, D**g Nguyen menarik game ini dari AppStore dan Google Playstore, tutur laman Mental Floss. Ini dilakukan bukan karena ancaman yang ia terima, tetapi ia menyesal bahwa Flappy Bird menjadi game yang sangat adiktif. Setelah game ini dihapus, muncul banyak game sejenis yang meniru konsepnya.
_

6. Bob Propst, penemu kubikel perkantoran

Di tahun 1960-an, Bob Propst bekerja sebagai konsultan untuk Herman Miller. Saat itu, ia memperkenalkan kantor terbuka dengan bilik-bilik yang disebut sebagai kubikel. Menurut Bob pada New York Times di tahun 1997, tujuannya adalah untuk memberi pekerja fleksibilitas dan mempermudah interaksi daripada ruang-ruang perkantoran biasa.

Namun, para perusahaan melihat idenya sebagai cara untuk menghemat uang. Maka, banyak perusahaan yang menghilangkan kantor dan menggantinya dengan kubikel. Bob Propst lalu menyesali penemuannya sendiri, ungkap laman Mental Floss. Menurutnya, penemuan ini membuat pekerja menjadi individual dan kehilangan privasi.
_

7. Kamran Loghman, pencipta semprotan merica

Semprotan merica banyak digunakan oleh perempuan sebagai alat untuk melindungi diri dari kejahatan. Kamran Loghman adalah penemu semprotan merica. Ia bekerja untuk FBI di tahun 1980-an dan mengubah semprotan merica menjadi bahan sekelas senjata. Namun, penyalahgunaan semprotan merica membuatnya menyesal.

Para aparat kepolisian sering kali sewenang-wenang menyemprot demonstran dengan semprotan merica. Hal ini untuk membuat demonstran patuh dan tidak membuat keonaran. Tetapi, hal ini dianggap sebagai pelanggaran hak sipil. Padahal, demonstran tidak melawan, tetapi polisi tetap menyemprot matanya dengan semprotan merica.

𝗠𝗔𝗧 𝗦𝗔𝗠 𝗗𝗔𝗑 π—œπ—‘π—§π—”π—‘ 𝗧π—₯π—œπ—¦π—”π—žπ—§π—œ, π—žπ—˜π—§π—œπ—žπ—” 𝗛𝗔π—₯𝗧𝗔 π—§π—˜π—₯π—•π—˜π—¦π—”π—₯ π—–π—˜π— π—£π—”π—žπ—” 𝗝𝗨𝗦𝗧π—₯𝗨 π— π—˜π—‘π—π—”π——π—œ π—Ÿπ—¨π—žπ—”Pada 26 Agustus 1965, kawasan Sungai Tiung,...
16/08/2026

𝗠𝗔𝗧 𝗦𝗔𝗠 𝗗𝗔𝗑 π—œπ—‘π—§π—”π—‘ 𝗧π—₯π—œπ—¦π—”π—žπ—§π—œ,
π—žπ—˜π—§π—œπ—žπ—” 𝗛𝗔π—₯𝗧𝗔 π—§π—˜π—₯π—•π—˜π—¦π—”π—₯ π—–π—˜π— π—£π—”π—žπ—” 𝗝𝗨𝗦𝗧π—₯𝗨 π— π—˜π—‘π—π—”π——π—œ π—Ÿπ—¨π—žπ—”

Pada 26 Agustus 1965, kawasan Sungai Tiung, Cempaka, Kalimantan Selatan, mendadak menjadi pusat perhatian. Sekelompok pendulang tradisional menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas yang biasa mereka cari: sebutir intan mentah seberat 166,75 karat.

Orang yang kemudian paling dikenal dari penemuan itu adalah Haji Madsalam alias Mat Sam, pemimpin kelompok pendulang.

Batu tersebut berwarna kebiruan bercampur kemerahan dan disebut berukuran hampir sebesar telur burung merpati. Kabar penemuannya segera menyebar. Pikiran Rakjat edisi 31 Agustus 1965 bahkan membandingkannya dengan Koh-i-Noor, intan legendaris yang menjadi bagian dari koleksi mahkota Inggris.

Bagi Mat Sam dan kawan-kawannya, awalnya ini mungkin tampak seperti keberuntungan terbesar dalam hidup.

Namun sejarah justru mencatat kisah yang berbeda.

Intan itu kemudian diambil alih pemerintah.

Dan sejak saat itulah, penemuan yang seharusnya mengubah kehidupan para pendulang tersebut berubah menjadi salah satu kisah paling getir dalam sejarah pertambangan rakyat Kalimantan Selatan.

πŸ”³ π—–π—˜π— π—£π—”π—žπ—”, π—žπ—”π— π—£π—¨π—‘π—š π—¬π—”π—‘π—š π—›π—œπ——π—¨π—£ 𝗗𝗔π—₯π—œ 𝗧𝗔𝗑𝗔𝗛 π—œπ—‘π—§π—”π—‘

Untuk memahami kisah Mat Sam, kita harus melihat Cempaka bukan sekadar sebagai lokasi penemuan Intan Trisakti.

Pendulangan intan di kawasan ini memiliki sejarah yang jauh lebih panjang.

Catatan mengenai aktivitas pendulangan di wilayah Kalimantan Selatan sudah muncul dalam sumber-sumber abad ke-19. Penjelajah Belanda Carl A.L.M. Schwaner, yang melakukan perjalanan penelitian di Kalimantan pada 1840-an, mencatat kegiatan pendulangan emas dan intan oleh masyarakat setempat.

Tradisi tersebut dilakukan menggunakan peralatan sederhana, termasuk linggangan, alat tradisional untuk memisahkan material berat dari pasir dan tanah.

Artinya, ketika Mat Sam dan kelompoknya mendulang di Sungai Tiung pada 1965, mereka bukanlah orang yang tiba-tiba datang untuk membuka tambang baru. Mereka bekerja dalam tradisi pendulangan yang telah lama hidup di kawasan Cempaka.

πŸ”³ π—π—”π——π—œ, π—”π—£π—”π—žπ—”π—› 𝗠𝗔𝗧 𝗦𝗔𝗠 π—£π—˜π—‘π——π—”π—§π—”π—‘π—š?

Ini bagian yang menarik sekaligus harus dijawab hati-hati.

Dari sumber yang berhasil ditelusuri, belum ditemukan bukti primer yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa Mat Sam dan keluarganya adalah pendatang dari daerah lain yang datang ke Cempaka khusus untuk menjadi penambang.

Sumber-sumber yang membahas penemuan Intan Trisakti menyebut Mat Sam sebagai pendulang dari Kampung Cempaka dan menggambarkan Sungai Tiung sebagai tempat kelompoknya biasa melakukan pendulangan.

Namun, sumber yang tersedia juga belum memberikan keterangan biografis lengkap mengenai tempat kelahiran Mat Sam, asal-usul orang tuanya, atau sejak kapan keluarganya menetap di Cempaka.

Jadi, kurang tepat jika kita menyebutnya dengan pasti sebagai β€œpenduduk asli Cempaka”, tetapi juga tidak memiliki dasar kuat untuk menyebutnya sebagai pendatang.

Jadi yang bisa dikatakan dengan lebih aman adalah:

| Mat Sam merupakan bagian dari komunitas pendulang tradisional Cempaka dan hidup dari aktivitas pendulangan di Sungai Tiung.

Ini penting karena sejarah sering kali membuat tokoh seperti Mat Sam hanya muncul ketika menemukan sesuatu yang besar, sementara kehidupan mereka sebelum peristiwa tersebut justru jarang dicatat.

πŸ”³ π—œπ—‘π—§π—”π—‘ 𝟭𝟲𝟲,𝟳𝟱 π—žπ—”π—₯𝗔𝗧 π— π—˜π—‘π—šπ—šπ—˜π— π—£π—”π—₯π—žπ—”π—‘ π—œπ—‘π——π—’π—‘π—˜π—¦π—œπ—”

Berita mengenai penemuan tersebut segera masuk surat kabar.

Pikiran Rakjat memberitakan bahwa intan tersebut diperkirakan bernilai puluhan miliar rupiah pada masa itu. Nilai tersebut tentu harus dipahami dalam konteks ekonomi 1965, bukan dibandingkan begitu saja dengan harga sekarang.

Yang membuatnya semakin menarik, batu tersebut kemudian diberi nama Intan Trisakti.

Nama itu dikaitkan dengan gagasan Trisakti Soekarno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam suasana politik Indonesia yang sedang penuh ketegangan pada 1965, nama tersebut tentu bukan sekadar nama batu permata.

Intan itu menjadi simbol kekayaan alam Indonesia yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembangunan.

Namun, persoalan justru muncul setelah batu itu berada di tangan pemerintah.

πŸ”³ π—œπ—‘π—§π—”π—‘ π——π—œπ—”π— π—•π—œπ—Ÿ, 𝗣𝗔π—₯𝗔 π—£π—˜π—‘π——π—¨π—Ÿπ—”π—‘π—š π— π—˜π—‘π—¨π—‘π—šπ—šπ—¨ π—π—”π—‘π—π—œ

Salah satu sumber sezaman yang sangat penting adalah pemberitaan Angkatan Bersenjata, 11 September 1967.

Dua tahun setelah penemuan, koran tersebut memberitakan bahwa Intan Trisakti telah diamankan oleh Pantjatunggal Kabupaten Banjar dan kemudian dibawa ke Jakarta.

Yang menarik, laporan itu menyebut proses pengambilalihannya dilakukan β€œbertentangan dengan keinginan para penemu/pemilik.”

Dengan kata lain, gambaran bahwa intan itu sekadar β€œdiserahkan secara sukarela” perlu diperlakukan dengan hati-hati.

Sumber sezaman justru menunjukkan adanya keberatan dari pihak penemu.

Pemerintah ketika itu memiliki alasan sendiri.

Menurut pemberitaan Pikiran Rakjat, intan tersebut direncanakan untuk mendukung pembangunan Kalimantan Selatan dan pengembangan teknologi penggalian intan agar produksi dapat ditingkatkan.

Sebagai bentuk penghargaan, muncul kabar bahwa Mat Sam dan beberapa rekannya akan mendapatkan fasilitas untuk menunaikan ibadah haji.

Tetapi janji tersebut kemudian menjadi persoalan.

πŸ”³ π—₯π—£πŸ―,𝟱 π— π—œπ—Ÿπ—œπ—”π—₯ π—¬π—”π—‘π—š π—•π—˜π—₯𝗨𝗕𝗔𝗛 π— π—˜π—‘π—π—”π——π—œ π—₯π—£πŸ―,𝟱 𝗝𝗨𝗧𝗔

Di sinilah kisahnya semakin rumit.

Menurut kajian Tajuddin Noor Ganie dalam Tragedi Intan Trisakti, pemerintah memberikan uang balas jasa yang disebut mencapai Rp3,5 miliar uang lama.

Namun pada akhir 1965 terjadi sanering (kebijakan pemerintah memotong nilai uang yang sedang beredar. Daya beli atau nilai nominal uang lama dikurangi. Contoh Indonesia pada 1959 dan 1965), yang mengubah nilai nominal uang secara drastis.

Akibatnya, angka tersebut menjadi sekitar Rp3,5 juta dalam uang baru.

Sebagian dana juga dikaitkan dengan biaya perjalanan haji bagi para penemu dan keluarga mereka.

Bagi masyarakat sekarang, angka Rp3,5 juta mungkin terdengar kecil. Tetapi membandingkan nominal tersebut langsung dengan harga barang sekarang juga tidak tepat.

Yang lebih penting adalah persoalan yang dirasakan Mat Sam dan kawan-kawannya:

mereka merasa imbalan yang diterima tidak sebanding dengan nilai penemuan dan janji yang sebelumnya disampaikan.

πŸ”³ 𝗗𝗨𝗔 𝗧𝗔𝗛𝗨𝗑 π—žπ—˜π— π—¨π——π—œπ—”π—‘, 𝗠𝗔𝗧 𝗦𝗔𝗠 π—žπ—˜π— π—•π—”π—Ÿπ—œ π— π—˜π—‘π—¨π—‘π—§π—¨π—§ π—›π—”π—žπ—‘π—¬π—”

Pada 1967, Mat Sam dan beberapa rekannya kembali bersuara.

Ironisnya, ketika mereka menjadi pemberitaan, kehidupan mereka ternyata tidak berubah menjadi kehidupan orang kaya.

Laporan-laporan mengenai kisah tersebut justru menggambarkan para penemu masih hidup sederhana.

Mat Sam dan empat rekannya kemudian meminta pemerintah meninjau kembali persoalan penghargaan dan hak mereka.

Namun situasi politik Indonesia sudah berubah.

Soekarno kehilangan kekuasaan.
Soeharto muncul sebagai pemimpin baru.

Pergantian rezim membuat persoalan Mat Sam semakin tidak jelas ujungnya.

π——π—œ 𝗠𝗔𝗑𝗔 π—œπ—‘π—§π—”π—‘ 𝗧π—₯π—œπ—¦π—”π—žπ—§π—œ π—¦π—˜π—žπ—”π—₯π—”π—‘π—šβ“

Inilah bagian yang sampai sekarang belum memiliki jawaban meyakinkan.

Setelah dibawa ke Jakarta, jejak Intan Trisakti menjadi kabur.

Tidak ada bukti terbuka yang cukup kuat untuk memastikan bahwa intan tersebut benar-benar berada di museum tertentu di Belanda.

Cerita mengenai keberadaannya di luar negeri lebih tepat disebut sebagai dugaan atau kesaksian tidak terverifikasi, bukan fakta yang sudah terbukti.

Karena itu, kalimat seperti β€œIntan Trisakti pasti disimpan di Belanda” sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta sejarah.

Yang dapat dipastikan dari sumber yang tersedia adalah: batu itu dibawa dari Kalimantan ke Jakarta dan kemudian keberadaannya tidak lagi jelas dalam catatan publik.

πŸ”³ π—£π—˜π—‘π—œπ—‘π—šπ—šπ—”π—Ÿπ—”π—‘ 𝗠𝗔𝗧 𝗦𝗔𝗠

Haji Madsalam alias Mat Sam akhirnya meninggal pada 1993.

Ia tidak menjadi orang kaya seperti yang mungkin dibayangkan orang ketika mendengar kisah penemuan intan raksasa.

Justru namanya kemudian dikenang sebagai simbol ironi pertambangan rakyat:

orang kecil menemukan kekayaan luar biasa dari tanah tempat mereka hidup, tetapi tidak otomatis menjadi orang yang menikmati kekayaan tersebut.

Dan di sinilah kisah Mat Sam menjadi lebih besar daripada sekadar cerita tentang sebuah batu permata.

Ini adalah cerita tentang hubungan rakyat, kekayaan alam, dan negara.

Tentang bagaimana sebuah penemuan yang semestinya menjadi berkah dapat berubah menjadi sumber kekecewaan ketika hak orang-orang yang menemukan dan mengusahakannya tidak jelas.

Cempaka sendiri terus hidup dengan tradisi pendulangan intan yang telah berlangsung sangat lama.

Intan Trisakti mungkin telah menghilang dari pandangan sejarah. Tetapi cerita tentang Mat Sam tetap tinggal.

Sebab terkadang, yang paling berharga dari sebuah harta karun bukanlah batunya, melainkan cerita tentang siapa yang menemukannyaβ€”dan siapa yang akhirnya memilikinya.

πŸ“· : H Salman, salah seorang saksi hidup, yang menemukan Intan Trisakti di tahun 1965.

πŸ“Œ Sumber
- Pikiran Rakjat, 31 Agustus 1965 β€” laporan sezaman mengenai penemuan intan 166,75 karat dan rencana pemerintah terhadapnya.
- Angkatan Bersenjata, 11 September 1967 β€” laporan mengenai pengambilalihan dan pengiriman Intan Trisakti ke Jakarta.
- Tajuddin Noor Ganie, Tragedi Intan Trisakti (2011).
- Hermanu, Borneo 1843 (2010), mengenai catatan pendulangan di Kalimantan pada abad ke-19.
- Tirto, Kisah Tragis Mat Sam, Penemu Intan yang Dirampok Pemerintah.

Address

Tegal
Tegal

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+6285201068709

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sari Berita Penting posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sari Berita Penting:

Shortcuts

Share