29/11/2025
Banjir itu datang tiba-tiba.
Airnya keruh, deras, dan membawa apa saja yang dilaluinya.
Tapi di antara lumpur dan gelombang, ada sesuatu yang tak bisa diabaikan:
gelondongan kayu.
Besar. Berat. Utuh.
Kayu yang seharusnya masih berdiri di hutan, bukan mengalir seperti bangkai yang kehilangan tempat pulang.
Sebagian orang menyebutnya “takdir.”
Sebagian lagi bilang, “Ini ulah alam.”
Tapi mungkin…
ini bukan sekadar bencana.
Mungkin ini adalah pengakuan sunyi dari hutan yang hilang perlahan.
Satu tebasan.
Satu truk.
Satu izin.
Satu pembiaran.
Air banjir akhirnya surut.
Rumah akan diperbaiki.
Jalan akan dibuka kembali.
Tapi pertanyaan tentang kayu-kayu itu…
tidak ikut hanyut.