08/01/2026
Ukung Wangko dari Selatan
Part 11. Kemenangan misterius dan Kehidupan Baru.
BAB 1. KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN
Setelah kelopak mata Ecy bergetar dan terbuka lebar, energi mistis yang membawanya keluar dari meditasi langsung mengantarkannya p**ang ke Kamp Suku Tembo. Langkahnya terengah-engah, matanya masih terpaku pada bayangan pertempuran yang baru saja terjadi. Tapi ketika kaki menyentuh tanah kamp halaman, pandangannya tiba-tiba membeku.
Di tengah halaman adat yang biasanya ramai dengan aktivitas warga, ada sebuah peti kayu besar yang ditutupi kain putih bersulam warna merah tua – jenazah Panglima Onde sudah berada di sana.
"Tuhan..." ucap Ecy dengan suara gemetar, tubuhnya langsung melengkung ke depan menyentuh peti kayu. Air mata tak bisa lagi ditahan, mengalir deras di pipinya. "Kakak Onde... kau telah berkorban untuk kita semua..."
Kepala Suku Tembo mendekat dengan langkah pelan, tangannya menepuk bahu Ecy dengan penuh kasih sayang.
"Ukung Wangko," ucapnya dengan suara rendah, penuh kesedihan. "Raja Laloda telah menyampaikan pesan. Dia akan menghentikan semua serangan selama 7 hari untuk menghormati jasa besar Panglima Onde. Beliau juga mengingat Panglima Hak dari Kerajaan Bolo yang gugur di perbatasan Suku Tounda. Dan yang terpenting – Raja Laloda ingin membuka jalur negosiasi untuk berdamai dengan Aliansi kita."
Ecy mengangkat wajahnya, mata merah karena menangis tapi sudah mulai menunjukkan ketegasan.
"Panggil semua panglima dari perbatasan selatan dan barat!" perintahnya dengan suara yang mulai kembali kuat. "Panglima Onde layak mendapatkan upacara pemakaman yang mulia. Siapkan segala sesuatunya!"
BAB 2: PERJANJIAN DAN AWAL PERDAMAIAAN
Dua hari berlalu dalam suasana berkabung yang mendalam. Saat itu, Kepala Suku Pasak datang dengan membawa beberapa pemuda sukunya, wajahnya penuh penghormatan.
"Ukung Wangko," ucapnya dengan tunduk rendah. "Suku Pasak tidak akan pernah melupakan bantuan Panglima Onde ketika ketika suku pasak terdesak oleh pasukan kerajaan bolo di wilayah perbatasan. Kami ingin mengajukan permohonan – izinkanlah kami memakamkan beliau di wilayah Suku Pasak, sebagai bentuk rasa terima kasih yang tak terhingga dari seluruh suku kami."
Ecy mengangguk perlahan, matanya kembali berkaca-kaca.
"Panglima Onde selalu menganggap Suku Pasak sebagai keluarga sendiri. Tentu saja aku mengizinkan. Biarkan tanah Pasak menjadi tempat tinggal terakhirnya yang damai."
Di hari ketiga, prosesi pemakaman berjalan dengan penuh kehormatan. Seluruh warga dari keempat suku Aliansi dan bahkan beberapa utusan dari Kerajaan Bolo hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.
Hari keempat, meskipun rasa duka masih menyelimuti hatinya, Ecy tidak bisa menunda lagi. Dia memanggil Utusan, yang paling dipercaya.
"Pergilah ke Istana Kerajaan Bolo," perintahnya. "Sampaikan kepada Raja Laloda bahwa aku, Ecy sang Ukung Wangko, bersedia untuk bertemu dan bernegosiasi demi perdamaian."
Tak butuh waktu lama, utusan itu kembali dengan pesan yang juga di sampaikan oleh Raja Laloda.
"Ukung Wangko, Raja Laloda telah menetapkan waktu pertemuan – 5 hari setelah kematian Panglima Onde, di wilayah netral bagian barat, jam 2 siang tepat. Beliau menunggu kedatanganmu dengan penuh harapan."
BAB 3: PERTEMUAN DI WILAYAH NETRAL
Pada hari yang ditentukan, Raja Laloda beserta para panglimanya dan Panglima Sikela sudah berada di lokasi pertemuan lebih dulu. Ketika suara langkah kuda terdengar dari kejauhan, semua mata berbalik ke arah melihat kearah rombongan perwakilan Aliansi yang masuk ke wilayah pertemuan.
Ecy muncul dengan duduk megah di atas tunggangan putihnya, mengenakan pakaian adat berwarna Merah yang dihiasi mutiara dan anyaman rotan emas. Rambutnya diikat rapi dengan jepit rambut berbentuk bunga bulan, dan wajahnya yang cantik memancarkan aura kekuasaan yang tak bisa diabaikan.
Raja Laloda terpana sejenak sebelum bisa bergerak maju.
"Ukung Wangko Ecy," ucapnya dengan suara yang penuh kagum. "Rumor tentang kecantikan dan keanggunanmu ternyata masih kurang untuk menggambarkan sosokmu yang sebenarnya. Kamu benar-benar seorang wanita luar biasa."
Ecy hanya mengangguk dengan tatapan yang tenang tapi dingin.
"Terima kasih atas pujianmu, Raja Laloda. Tapi mari kita fokus pada tujuan kita berkumpul di sini – mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik yang telah merenggut banyak nyawa."
Diskusi berlangsung panjang dan sengit. Setiap pihak mengemukakan kepentingannya, hingga akhirnya sebuah kesepakatan besar tercapai:
"kami para penasehat dan Tua tua Aliansi Ukung Wangko mengusulkan kepada Raja Laloda dan Ukung Wangko untuk menyatukan diri dalam ikatan pernikahan," ucap salah satu perwakilan Tua tua. "Sebagai syarat, wilayah perbatasan akan sepenuhnya menjadi milik Aliansi. Namun, jika rakyat Kerajaan Bolo ingin bekerja di sana, Aliansi harus mengizinkannya dengan mengikuti aturan yang telah disepakati. Dengan ini, Kerajaan Bolo dan Aliansi Ukung Wangko resmi berdamai dan akan bekerja sama."
Saat kata-kata kesepakatan itu keluar, suara besi yang menyentuh tanah terdengar keras. Panglima Sikela berdiri dengan wajah memerah marah, lalu berbalik dan keluar dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
BAB 4: KEBOHONGAN YANG TERUNGKAP
Dua hari setelah kesepakatan dibuat, Ecy yang sudah kembali ke Suku Tounda sedang sedang merencanakan persiapan pernikahan ketika seorang utusan dari Suku Tembo datang dengan nafas terengah-engah.
"Ukung Wangko! Darurat!" teriaknya. "Bangsa Sikela menyerang dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya! Mereka tidak hanya menyerang Suku Tembo, tapi juga menyerang wilayah Kerajaan Bolo! Kami baru tahu – mereka hanya berpura-pura bekerja sama dengan Kerajaan Bolo untuk menghancurkan Aliansi. Tujuan sebenarnya mereka adalah mengambil kekayaan alam dari kedua wilayah ini!"
Ecy berdiri dengan cepat, matanya menyala dengan api kemarahan dan kekhawatiran.
"Panggil semua panglima segera!" perintahnya dengan suara yang menggelegar. "Kita harus membantu pasukan kita dan Kerajaan Bolo! Kali ini kita berperang bersama-sama!"
Namun, para tua-tua suku segera datang menghadangnya.
"Ukung Wangko," ucap salah satu tua-tua dengan suara tegas. "Kamu tidak bisa ikut berperang. Kamu sedang dalam masa persiapan pernikahan, dan menurut adat kita, calon pengantin tidak boleh terlibat dalam pertempuran. Ini adalah larangan yang tidak bisa dilanggar."
Ecy melihat wajah para tua-tua yang penuh kekhawatiran, lalu mengangguk dengan berat hati. "Baiklah, aku akan mengikuti nasihat kalian."
Namun, malam itu Ecy tidak bisa tidur tenang. Pikirannya selalu terbang ke medan perang, memikirkan para panglima dan pasukannya yang sedang berjuang. Keesokan harinya, rasa gelisah itu semakin tak tertahankan.
BAB 5: KEKUATAN MISTERIUS
Saat sore menjelang malam, Ecy berdiri dan menuju ruang penyimpanan pusaka. Dia mengambil baju perang sakral yang hanya dikenakan oleh pemimpin suku pada saat-saat kritis, lalu mengenakannya dengan hati-hati.
Ketika dia keluar dari rumah adat, sosok Panglima Runcing sudah menunggu di luar – dia ditugaskan untuk mengawal Ecy selama masa persiapan pernikahan.
"Ukung Wangko... kamu mau kemana?" tanya Panglima Runcing dengan suara rendah.
"Panglima Runcing," jawab Ecy dengan tatapan yang tegas. "Jangan halangi aku. Aku tidak bisa tinggal diam sementara saudara-saudaraku berperang dan mungkin kehilangan nyawa!"
Panglima Runcing menghela napas dalam-dalam, matanya penuh penghormatan.
"Ukung Wangko... aku juga merasakan hal yang sama. Pergilah saja. Anggap saja kita tidak pernah bertemu di sini. Aku akan menjawab segala pertanyaan dari para tua-tua nanti. Sekarang – pergilah! Aku tidak melihatmu!"
Tanpa berlama-lama, Ecy berlari menuju arah Gunung Sakral Suku Tounda. Di puncak gunung yang ditutupi kabut tipis, dia berdiri tegak menghadap matahari yang mulai terbenam. Dia membacakan doa kuno yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, lalu menghentakkan tongkat kayu pusaka miliknya ke tanah dengan kekuatan penuh.
"Demi tanah air dan saudara-saudaraku – berikanlah kekuatan padaku!" teriaknya.
Seketika itu juga, cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, dan dia perlahan-lahan terangkat ke udara. Tanpa ragu, dia melayang terbang menuju arah medan perang, dengan tongkat pusaka di tangannya yang memancarkan kilatan cahaya.
BAB 6: KEMENANGAN YANG MISTIS
Setelah sekitar 15 menit terbang, Ecy melihat medan perang yang kacau balau di bawahnya. Pasukan Aliansi dan Kerajaan Bolo sedang terjebak, dikelilingi oleh kapal dan pasukan Bangsa Sikela yang jauh lebih banyak. Melihat kondisi itu, bayangan Panglima Onde muncul di benaknya.
"Aku tidak ingin kehilangan orang tersayang lagi!" teriak Ecy dengan suara yang terdengar seperti guntur.
Para pejuang yang sedang bertempur melihat ke atas dan terkejut melihat sosok seorang wanita yang melayang di udara, dikelilingi oleh aura kekuatan yang luar biasa.
"Serang dia!" teriak seorang pemimpin Bangsa Sikela. Segera, meriam dan senjata api mereka diarahkan ke arah Ecy.
Namun, ketika peluru ditembakkan, sesuatu yang ajaib terjadi. Peluru meriam meledak tepat di ujung meriam, dan senjata api justru meledak di tangan yang memegangnya – menghancurkan kapal dan perlengkapan milik Bangsa Sikela sendiri.
Ecy mengangkat tongkat pusaka ke atas, dan kilat besar menyambar dari langit yang mendung. Ombak tinggi muncul dari belakang kapal musuh, sementara angin kencang bertiup dengan keras dari depan. Dalam sekejap, kapal-kapal Bangsa Sikela porak-poranda, sebagian terbakar dan sebagian terbalik ke dalam air.
Beberapa pasukan Sikela yang masih hidup langsung menyerah dengan takut, sementara yang lain kabur ke dalam hutan tanpa arah. Dalam waktu singkat saja, pertempuran usai dengan kemenangan yang gemilang.
Tanpa berlama-lama, Ecy melayang kembali ke Suku Tounda seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
BAB 7: PERNIKAHAN DAN KEDAMAIAN ABADI
Keesokan paginya, utusan dari medan perang datang dengan membawa kabar gembira – Bangsa Sikela telah dikalahkan dan kembali ke wilayah mereka. Meskipun sebagian pasukan Raja Laloda mengenali sosok yang membantu mereka, Raja Laloda segera memberikan perintah tegas:
"Jaga rahasia ini dengan baik. Menurut adat, calon pengantin tidak boleh terlibat dalam pertempuran. Jangan sampai berita ini menyebar dan mengganggu prosesi pernikahan."
Setelah 3 bulan berlalu dengan penuh persiapan, hari besar akhirnya tiba. Pernikahan antara Raja Laloda dan Ecy sang Ukung Wangko dilaksanakan dengan meriah di Istana Kerajaan Bolo, dihadiri oleh seluruh warga dari keempat suku Aliansi dan rakyat Kerajaan Bolo. Pada saat itu juga,gelarnya menjadi Ratu Ecy.
Bertahun tahun kemudian, mereka hidup bahagia dan dikaruniai dua orang anak – Oppo yang kemudian menggantikan Raja Laloda sebagai pemimpin Kerajaan Bolo, dan Aser yang memilih kembali ke tanah ibunya di Suku Tounda untuk melanjutkan tradisi adat.
Wilayah Aliansi (Tounda, Tembo, Pasak, Posuma) dan Kerajaan Bolo hidup dalam damai dan kemakmuran, dengan Ratu Ecy sebagai sosok pemimpin yang dihormati oleh semua pihak – seorang ratu yang tidak hanya cantik dan anggun, tapi juga memiliki kekuatan dan keberanian untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.
TAMAT
Berdasarkan Cerita Rakyat Suku Toundanow/Tonsawang sekarang ini wilayah Tombatu Kab. Minahasa Tenggara.
Cerita Rakyat Ratu Oki yang alur ceritanya tetap sama seperti cerita rakyat pada umumnya hanya sedikit perubahan menyesuaikan dengan cerita cerita zaman sekarang.