mendidik anak dengan islami

  • Home
  • mendidik anak dengan islami

mendidik anak dengan islami 👩‍👧‍👦membantu mengembalikan peran MULIA dan fungs ibu sebagai pencetak generasi TANGGUH

08/01/2026

Banyak ibu merasa marahnya muncul tiba-tiba
saat anak berbuat salah.
Padahal, seringkali bukan karena anaknya,
tapi karena emosi ibu sudah penuh lebih dulu.

Kalau ini dibiarkan:
Ibu mudah meninggi suaranya
Anak jadi defensif atau makin menolak
Hubungan terasa renggang
Lalu ibu menyalahkan diri sendiri setelahnya
Padahal niatnya ingin mendidik, bukan melukai.

Masalahnya, banyak ibu:
Tahu harus lebih sabar
Tapi tidak tahu harus mulai dari mana
Tidak paham apa yang terjadi di otak saat emosi naik
Dan akhirnya mengulang pola yang sama
Bukan karena ibu kurang niat,
tapi karena belum punya panduan yang jelas.

Karena itu, Magic Parenting menyusun
panduan praktis pengasuhan sadar emosi
Bukan teori berat.
Tapi langkah yang bisa dipakai setiap hari
saat emosi mulai naik
setelah konflik dengan anak
dan ketika ibu ingin memperbaiki hubungan

Kalau ibu sering berhenti sejenak setelah marah lalu berpikir:

“aku pengin berubah tapi nggak tahu mulai dari mana…”

👉 Tulis “MAU TENANG” di komentar.
Kami kirim panduanya lewat Dm

Kadang anak bukan menolak nasihat.Mereka hanya belum merasa ditemani.Rasulullah ď·ş hadir dulu,baru membimbing.Karena hati...
06/01/2026

Kadang anak bukan menolak nasihat.
Mereka hanya belum merasa ditemani.

Rasulullah ď·ş hadir dulu,
baru membimbing.

Karena hati yang tenang
lebih mudah menerima arah.

Dan sering kali,
yang anak butuhkan bukan banyak kata…
tapi ibu yang benar-benar hadir 🤍

Kalau kita ingin belajar
hadir lebih tenang sebelum mengoreksi,
tulis “HADIR” di komentar 🤍

04/01/2026

Ada luka yang tidak terlihat,
Tidak meninggalkan bekas fisik,

namun ikut tumbuh bersama anak.
Bukan dari kekerasan besar.
Bukan dari hukuman berat.
Melainkan dari kalimat yang keluar
saat orang tua lelah,

“Kenapa sih kamu selalu salah?”
“Kok kamu nggak bisa apa-apa?”
“Harusnya gampang, kan?”

Sering kali diucapkan tanpa emosi.
Tanpa niat melukai.
Bahkan terasa biasa saja.

Namun bagi anak,
kalimat itu bisa berubah menjadi suara di dalam dirinya:
“Aku memang salah.”
“Aku nggak cukup.”
“Aku harus hati-hati supaya tidak dimarahi.”

Di Magic Parenting, kami sering melihat pola ini:
anak tidak hanya mengingat peristiwa,
tetapi menyimpan rasa dari kata-kata.

Dan rasa itu,
jika tidak disadari,
ikut terbawa hingga dewasa.

Yang paling mengkhawatirkan
bukan kata yang terucap sekali dua kali,
melainkan saat anak mulai mempercayainya
sebagai kebenaran tentang dirinya.

Kami tidak melihat ini sebagai kegagalan orang tua.
Bukan karena kurang sabar.
Bukan karena kurang iman.
Sering kali, ini adalah kelelahan emosi
yang tidak pernah mendapat ruang untuk dipulihkan.

Karena itu, perubahan tidak selalu dimulai
dari menjadi lebih kuat.
Sering kali dimulai dari kesadaran kecil:

berhenti sejenak sebelum bicara,
mengatur napas,
dan memilih respon dengan lebih sadar.

Kami menyiapkan panduan sederhana
untuk menemani ibu di momen-momen genting—
sebelum kata terlanjur keluar
dan meninggalkan luka.

Jika kamu merasa sedang belajar
agar pola ini berhenti di kamu,
dan tidak diteruskan ke anak,

tulis “BERHENTI” di komentar 🤍
Kami akan mengirimkan panduan yang bisa dipelajari
pelan-pelan, dari rumah.

03/01/2026

Kadang yang kita lakukan terlihat sepeleh.
Menaikkan suara karena capek.
Mendengus saat anak rewel.
Bilang, “Ih, jangan gitu dong,” dengan nada kesal.

Di kepala kita:
“Ah, biasa aja. Dia juga masih kecil.”
Tapi di tubuh anak,
itu direkam sebagai rasa tidak aman.

Bukan karena satu bentakan.
Tapi karena sering terjadi di saat anak sedang butuh ditenangkan.

Anak usia kecil belum bisa mikir:
“Oh, ibu capek.”

Yang mereka rasakan cuma:
– “Aku bikin ibu marah.”
– “Aku salah.”
– “Kalau aku nangis, ibu berubah.”

Dari sinilah pelan-pelan terbentuk:
anak jadi penakut,
mudah cemas,
atau terlalu hati-hati takut salah.

Dan ini penting:
bukan karena ibunya jahat.
Tapi karena ibu sendiri sudah terlalu lama capek
dan tidak pernah benar-benar pulih.

Di Magic Parenting,
kami melihat masalahnya bukan di anak,
bukan juga di kurang sabar.

Masalahnya ada di reaksi otomatis ibu saat lelah
yang terus terulang tanpa disadari.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan ceramah panjang.
Tapi cara berhenti sebentar sebelum reaksi keluar.

Kalau kamu sering merasa:
“Aku nggak niat nyakitin anak, tapi kok kejadian terus…”

tulis “BERHENTI” di komentar 🤍

Kami kirimkan panduan sederhana
yang bisa dipakai langsung
saat emosi mulai naik di rumah.

Ada satu alasan kenapa anak kelihatan malas,padahal sebenarnya tidak.Sering kali bukan karena dia tidak mau bertanggung ...
02/01/2026

Ada satu alasan kenapa anak kelihatan malas,
padahal sebenarnya tidak.

Sering kali bukan karena dia tidak mau bertanggung jawab,
tapi karena dia sedang takut.
Takut salah.
Takut dimarahi.
Takut mengecewakan.

Anak tidak belajar tanggung jawab dari tekanan,
tapi dari rasa aman.
Dalam Islam, amanah tumbuh dari ketenangan hati.
Dan sering kali, sebelum anak dikuatkan,
ibu perlu dipulihkan dulu.

Kalau kalimat ini terasa dekat,
tulis “SIAP” di komentar 🤍
Kami akan kirim lewat DM,

22/12/2025

Banyak orang tua merasa dirinya “terlalu keras”.
Padahal sering kali, yang terjadi bukan karena kurang cinta, melainkan karena kelelahan yang dipendam sendirian.

Dalam pendampingan kami sering menemui cerita yang mirip:
Anak melakukan kesalahan kecil.
Orang tua kaget, panik, lalu bereaksi keras.
Bukan karena kejadiannya besar,
tapi karena tubuh sudah terlalu lelah
dan emosi penuh.

Yang membekas pada anak
sering bukan peristiwanya,
melainkan rasa takut di momen itu.

Di sinilah banyak orang tua mulai sadar:
“Kenapa reaksiku selalu berlebihan
di hal-hal kecil?”

Jawabannya bukan karena orang tua buruk.
Sering kali karena ada bagian emosi
yang belum sempat dipulihkan.

Perubahan tidak harus dimulai
dari jadi orang tua sempurna.
Tapi dari jadi lebih sadar sebelum emosi mengambil alih.

Masalahnya, di momen genting,
orang tua tidak butuh nasihat panjang.
Yang dibutuhkan adalah pegangan sederhana
yang bisa dipakai saat emosi mulai naik.

Beberapa langkah kecil yang sering membantu:
🔸berhenti sejenak sebelum menegur
🔸mengenali pemicu emosi pribadi
🔸memberi ruang untuk perasaan sendiri

Pelan-pelan, suasana rumah bisa terasa lebih aman.
Orang tua lebih tenang.
Anak pun lebih dekat.

Kami merangkum proses ini dalam panduan sederhana
yang dirancang untuk menemani orang tua
di momen-momen kecil yang menentukan.

Jika sedang berada di fase
ingin tetap lembut,
tapi sering panik atau marah refleks
saat anak melakukan kesalahan kecil.

tulis “BUTUH” di komentar 🤍
Kami akan mengirimkan panduannya lewat DM.
Kita belajar pulih, pelan-pelan, bersama.

Semakin ingin jadi orang tua sabar,kadang justru makin sering meledak.Bukan karena niatnya salah.Tapi karena caranya bel...
20/12/2025

Semakin ingin jadi orang tua sabar,
kadang justru makin sering meledak.
Bukan karena niatnya salah.
Tapi karena caranya belum sesuai

dengan kondisi tubuh yang sedang capek.
Saat emosi naik, tubuh kita bereaksi lebih cepat
dari pada pikiran.

Makanya marah sering keluar duluan,
baru nyesel setelahnya.
Perubahan tidak selalu dimulai
dari “harus lebih sabar”.

Sering kali dimulai dari
punya cara berhenti sebentar
sebelum emosi mengambil alih.

Kalau ini sering terjadi di rumah,
tulis “TENANG” di komentar 🤍

Kami kirim panduan sederhana
yang bisa langsung dipakai
saat momen sulit datang.

14/12/2025

banyak ibu kaget kenapa suara anak apalagi saat rewel bisa bikin badan langsung panas, tegang, dan marah. Padahal sebenarnya bukan karena kita “ibu yang buruk”.

Yang bikin berat adalah:
reaksi itu bukan cuma mempengaruhi emosi kita…
tapi juga cara anak merasa aman.

Setiap kali kita meledak:
• bonding jadi renggang,
• anak makin takut salah,
• rumah terasa tegang,
• dan kita makin merasa bersalah.

Dan kalau dibiarkan, pola itu bisa turun ke anak—persis seperti yang dulu melukai kita.

Masalahnya, banyak ibu berusaha “nahan marah”,
tapi nggak sadar apa penyebab sebenarnya.
Karena sumber emosinya
bukan anak yang rewel…
tapi memori masa kecil yang tubuh kita simpan.

Perubahan baru terjadi setelah kita mulai belajar:
• kenapa suara tertentu memicu tubuh,
• bagaimana bedakan trigger & kesalahan anak,
• gimana cara nenangin tubuh sebelum respon,
• dan gimana membangun pola baru yang lebih aman.

Dan ini sebenarnya bisa dipelajari lewat panduan yang ringan dan mudah dipahami.

Banyak ibu yang baca panduan ini bilang:
“Pantes aku gampang meledak… ternyata ini akar lukaku.”
Dan setelah paham, hubungan sama anak jauh lebih lembut.

Kalau Bunda nggak mau pola emosi dari masa kecil menetes ke anak,

tulis PAHAM di komentar.
Nanti aku kirim panduan yang bantu Bunda ngerti pola ini, pelan, lembut, dan bikin napas lebih lega. đź’›

Address

Jalan Raya Padi

65175

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when mendidik anak dengan islami posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to mendidik anak dengan islami:

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share