25/03/2026
Hari ini dalam sejarah, 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi Faisal mati dibunuh dengan ditembak oleh Pangeran Faisal bin Musaid, putra saudara seayahnya, Musaid bin Abdulaziz.
Ketika menjadi raja Arab Saudi, Faisal melakukan modernisasi dan reformasi. Kebijakan luar negeri utamanya adalah pan-Islamisme, anti-komunisme, dan pro-Palestina.
Faisal mendukung Palestina sejak menjadi menteri luar negeri Arab Saudi. Setelah menjadi raja, dia semakin gencar mendukung Palestina dan kesucian Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat muslim sedunia. Raja Faisal menjadi salah satu pemimpin dunia Arab yang pertama berkunjung ke Yerusalem dan salat di Masjid Al-Aqsa.
Ketika pecah Perang Enam Hari (5-10 Juni 1967) antara Israel melawan negara-negara Arab (Mesir, Suriah, Yordania, Irak, dan Lebanon), Raja Faisal memobilisasi 20 ribu prajurit untuk ditempatkan di Yordania.
Kendati dikeroyok, Israel yang dibekingi Amerika, menang dan mencaplok berbagai wilayah termasuk situs-situs suci Islam. Jatuhnya Palestina dan Yerusalem, di mana Masjid Al-Aqsa berada, ke tangan Israel menjadi pukulan bagi Raja Faisal.
Ketika pecah Perang Arab-Israel Keempat atau Perang Yom Kippur (6-25 Oktober 1973) antara Israel lawan Mesir dan Suriah, Raja Faisal tak hanya memobilisasi 20 ribu prajurit, tetapi juga memberlakukan embargo minyak.
Negara-negara Barat kelabakan. Harga minyak dunia meroket tiga kali lipat. Krisis minyak itu terjadi karena kemarahan Raja Faisal setelah mendengar kabar Amerika memberi bantuan senjata untuk Israel.
Dua tahun berselang, Raja Faisal ditembak mati oleh keponakannya, Pangeran Faisal bin Musaid, yang belum lama kembali dari Amerika. Pangeran Faisal kemudian dieksekusi mati.
Ada beberapa teori motif pembunuhan Raja Faisal oleh Pangeran Faisal. Pangeran Faisal balas dendam atas kematian saudaranya, Pangeran Khalid bin Musaid, atau balas dendam terhadap turun takhtanya Raja Saud. Pangeran Faisal diduga agen CIA (intelijen Amerika) atau Mossad (intelijen Israel) karena kekasihnya, Christine Surma, ditengarai aset Mossad.
Kematian membuat Raja Faisal tidak bisa mewujudkan mimpinya untuk kembali salat di Masjid Al-Aqsa.*