Binjai kotaku

  • Home
  • Binjai kotaku

Binjai kotaku Mengulas tentang Sejarah Kota Binjai , Sejarah Kota2 Di Indonesia, Tokoh2 Pahlawan, Sejarah lainnya Binjai Kotaku, kotamu, kota kita semua

Nama nama Marga Batak yang ada di Indonesia:
29/06/2025

Nama nama Marga Batak yang ada di Indonesia:

Woning van D. van Laren, administrateur van de Timbang Langkat onderneming van de Deli Batavia Maatschappij te Bindjai c...
30/05/2025

Woning van D. van Laren, administrateur van de Timbang Langkat onderneming van de Deli Batavia Maatschappij te Bindjai ca 1930.

Rumah D. van Laren, pengurus perusahaan Timbang Langkat milik Perusahaan Deli Batavia di Bindjai sekitar tahun 1930.

"Saya bertarung bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membuktikan bahwa anak desa juga bisa jadi juara dunia."~ Suw...
08/03/2025

"Saya bertarung bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk membuktikan bahwa anak desa juga bisa jadi juara dunia."
~ Suwito Lagola ~
------------------------------------------------------------------------------------
Suwito Lagola
Sang Juara Dunia yang Kembali ke Akar

Lahir dari tanah subur Sumatra Utara, Suwito Lagola adalah legenda tinju Indonesia yang mengukir nama di kancah internasional sebagai Juara Dunia Kelas Welter WBF (1995–1997). Dengan pukulan keras dan tekad baja, pria asal Langkat ini membuktikan bahwa petinju dari pelosok desa bisa mengguncang dunia.

Menggebrak Dunia dengan TKO

Pada 21 Oktober 1995, Suwito menorehkan sejarah dengan mengalahkan petinju Filipina, William Magahin, melalui kemenangan TKO (Technical Knockout) di ronde ke-10. Gelar juara dunia itu ia rebut dengan gigih, mengubahnya dari petinju lokal menjadi kebanggaan nasional. Tak berhenti di situ, ia mempertahankan gelarnya tiga kali, termasuk duel sengit melawan Danny Pierce yang berakhir imbang. Prestasi ini menempatkannya sebagai salah satu petinju Indonesia paling disegani di era 90-an.

Kekecewaan dan Keputusan Pahit

Di puncak karier, Suwito justru memilih mundur dari tinju profesional pada 1997. Penyebabnya adalah janji-janji manis yang tak ditepati oleh pihak tertentu, baik dukungan finansial maupun pengembangan karir. "Saya lelah dipermainkan. Lebih baik pulang dan hidup tenang," ujarnya dengan nada getir. Keputusan ini mengejutkan dunia tinju, tetapi menunjukkan integritasnya yang tak mau tunduk pada kepentingan pragmatis.

Hidup Baru di Tengah Kebun Karet

Kembali ke kampung halamannya, Suwito banting setir menjadi petani karet di lahan hibah dari Pemerintah Kabupaten Langkat. Meski jauh dari sorot lampu ring, ia tetap dikenang sebagai simbol ketangguhan. "Saya bahagia mengurus kebun. Ini cara saya memberi makan keluarga dan tetap dekat dengan alam," katanya. Kehidupan barunya menjadi bukti bahwa jiwa petarung tak harus selalu diukur dengan trofi, tapi juga keteguhan hati.

Warisan yang Tak Terlupakan

Meski jarang muncul di publik, nama Suwito Lagola masih harum dalam sejarah tinju Indonesia. Ia menginspirasi generasi muda bahwa prestasi tak mengenal batas geografis. Sayangnya, hingga kini belum ada petinju Indonesia yang mampu mengulangi kesuksesannya di kelas welter WBF.

PSMS Medan 1997 :Berdiri ki-ka: Edwin Daud, Sahari Hultom, Ardi Mulyono, (? ),Saphou Lassy , Selamet Riyadi Jongkok ki-k...
02/03/2025

PSMS Medan 1997 :
Berdiri ki-ka:
Edwin Daud, Sahari Hultom, Ardi Mulyono, (? ),Saphou Lassy , Selamet Riyadi
Jongkok ki-ka:
Meiyadi Rakasiwi, Alain Mabenda , Mukhlis, Mahadi dan Lilik Suheri .

NOBON-------------Sosok Nobon Kayamuddin pernah kental mewarnai perjalanan PSMS Medan dan Tim Nasional Indonesia era 197...
01/03/2025

NOBON
-------------

Sosok Nobon Kayamuddin pernah kental mewarnai perjalanan PSMS Medan dan Tim Nasional Indonesia era 1970-an. Bersama PSMS, Nobon meraih trofi juara Perserikatan pada 1971 dan 1975 plus Piala Soeharto 1972.

Di level timnas, Nobon Kayamuddin jadi pilar skuad Garuda yang nyaris lolos ke Olimpiade Montreal 1976. Di mana Indonesia harus takluk dari Korea Utara via adu penalti di Stadion Utama Senayan.

Ciri khas yang melekat pada diri Nobon Kayamuddin adalah gelandang bertipe petarung dan tanpa kompromi untuk memutus serangan lawan. Tak hanya itu, mobilitas dan totalitasnya di lapangan hijau membuatnya kerap berkeliaran di kotak penalti lawan. Itulah mengapa Nobon mendapat julukan 'Si Biang Kerok'.

Nobon Kayamuddin menceritakan perjalanan panjangnya di sepak bola yang dimulai pada 1960. Nobon yang saat itu masih berusia sembilan tahun berlatih sepak bola di kawasan Brayan Bengkel bersama tim PJKA Medan.

"Kebetulan ayah saya juga adalah pesepak bola yang juga pegawai PJKA Medan. Beliau yang mengenalkan saya pada sepak bola," kenang Nobon.

Peruntungan Nobon di sepak bola mulai terbuka ketika bergabung di tim PS AMS yang berkiprah pada kompetisi internal PSMS pada akhir 1960-an. Dari kompetisi internal, nama Nobon terpantau untuk memperkuat PSMS yang kemudian meraih trofi juara 1971.

Sejak itu, Nobon jadi bagian penting sukses PSMS menjuarai berbagai turnamen seperti Soeharto Cup 1972, Marah Halim Cup 1972 dan 1973, Jusuf Cup 1974 dan turut membawa PSSI Wilayah I yang didominasi bintang PSMS meraih Runner Up President Cup 1974 di Seoul.

Bersama Nobon, ada sejumlah nama seangkatannya yang mencuat ke level nasional seperti Parlin Siagian, Wibisono, Ronny Pasla, Anwar Ujang dan Tumsila. Momen spesial Nobon bersama timnas terjadi ketika Indonesia beruji coba dengan Uruguay di Stadion Utama Senayan pada 19 April 1974.

Pada laga itu, Nobon yang berperan sebagai pemutus serangan lawan membawa timnas menekuk Uruguay dengan skor 2-1.Penasaran dengan kekalahan itu, Uruguay meminta ujicoba ulang dua hari kemudian.

Uruguay memang menang dengan skor 3-2. Tapi, penampilan Nobon tetap dinilai istimewa karena mampu mencetak satu dari dua gol timnas pada laga ulang itu.

Anshari Lubis ----------------------Ansyari Lubis yang dikenal pesepak bola elegan timnas Indonesia yang pernah berstatu...
24/02/2025

Anshari Lubis
----------------------

Ansyari Lubis yang dikenal pesepak bola elegan timnas Indonesia yang pernah berstatus sebagai pemain termahal di Tanah Air.

Besar dan tumbuh dan membela tim junior PSKTS Tebingtinggi, Ansyari Lubis menjadi pesepak bola yang menjanjikan pada pertengahan 1980-an.

Akhirnya pada 1989, Ansyari Lubis mendapatkan kesempatan besar untuk ikut seleksi Medan Jaya.

Medan Jaya adalah klub swasta di Sumatera Utara yang akan berkompetisi liga non-amatir Galatama.

"Saya bersama PSKTS mampu lolos ke putaran nasional Piala Soeratin. Lalu, saya dapat tawaran seleksi di Medan Jaya," ujar Ansyari Lubis kepada Skor.id.

"Kala itu, Bang Nobon yang menangani Medan Jaya yang juga pelatih tim Sumut untuk PON," katanya menambahkan.

Akhirnya, Ansyari Lubis juga menjadi bagian tim Sumut untuk PON 1989 dan meraih emas sepak bola putra.

"Itu emas terakhir Sumut di PON. Tim itu saya paling muda dan ada pemain seperti Iwan Karo-karo serta kiper Syahril Nasution," tutur lelaki kelahiran 1970 ini.

Selepas PON 1989, Medan Jaya berkompetisi di Galatama dan Ansyari Lubis yang baru lulus SMA langsung jadi andalan.

Bermain dengan para senior di tim dengan julukan Kijang Sumatera tak membuatnya turun nyali.

Bahkan di Galatama musim 1990, adik bungsu kiper timnas Indonesia di Kualifikasi Olimpiade 1976, Taufik Lubis ini tampil memukau.

"Saya sempat bersaing dengan Bambang Nurdiansyah di papan atas daftar pencetak gol Galatama," ujar Ansyari Lubis.

"Pada saat itu, saya juga sudah dipantau pelatih timnas Indonesia, Anatoli Polosin. Saya pun pada tahun yang sama dapat panggilan pertama ke skuad Garuda."

Empat musim membela Medan Jaya, Ansyari Lubis makin moncer sebagai pesepak bola muda. Akhirnya, Pelita Jaya menginginkannya.

Pelita Jaya kala itu adalah salah satu klub elite Galatama yang bermarkas di Jakarta milik Nirwan D Bakrie.

"Saya diinginkan Pelita Jaya karena tim itu melakukan perombakan. Sebenarnya tidak ada yang istimewa," ujarnya.

"Namun, saya pindah dengan mekanisme transfer karena masih punya kontrak dengan Medan Jaya."

"Mekanisme itu yang membuat banyak pemberitaan di media nasional, karena baru kali itu sistem perpindahan seperti itu diterapkan di Indonesia," ucap Ansyari Lubis.

Perpindahan asisten pelatih PSS Sleman ini juga makin absolut dengan nilai transfernya yang mencapai Rp25 juta.

Itu adalah harga termahal untuk pemain Indonesia. "Ya, nilai transfer saya kala itu 25 juta, uang besar pada era tersebut," tutur Ansyari Lubis

Team sepakbola PSMS Medan ketika mengikuti kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI tahun 1980 di Stadion Utama Senayan ...
22/02/2025

Team sepakbola PSMS Medan ketika mengikuti kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI tahun 1980 di Stadion Utama Senayan Jakarta.

Berdiri dari kiri kekanan : Ulil Amri, Zulkarnaen Lubis, Adi Sakiman, Taufik Lubis ( kiper), M.Yusuf, Nobon Kayamuddin.
Jongkok dari kiri kekanan : Supardi, Bambang Usmanto, Amansyah, Abdi Wijaya, Sunardi A.

Ronny Pasla--------------------Sepak bola Indonesia memiliki banyak pemain istimewa di berbagai lini. Salah satunya penj...
19/02/2025

Ronny Pasla
--------------------

Sepak bola Indonesia memiliki banyak pemain istimewa di berbagai lini. Salah satunya penjaga gawang. Peranan penting seorang penjaga gawang bagi sebuah tim untuk menjaga gawang agar tidak kebobolan.

Sosok pemain sepak bola Indonesia legendaris salah satunya adalah yaitu Ronny Pasla. Ia lahir di Medan pada 15 April 1947. Ia berkiprah di dunia sepak bola pada pertengahan 1960-an hingga awal 1970. Ronny Pasla mempunyai julukan, yaitu Macan Tutul.

Ronny Pasla memiliki postur jangkung, yaitu 183 cm. Ketika bermain ia sangat kuat dalam penguasaan bola-bola atas. Ronny juga disebut memiliki kemampuan dan kelenturan badan setara kiper legendaris Uni Soviet, Lev Yashin.

Ronny Pasla memulai debut di dunia olahraga dari cabang tenis. Ia terdaftar sebagai atlet tenis mewakili Provinsi Sumatra Utara pada Pekan Olahraga Nasional VII tahun 1965. Namun, PON VII itu tidak terlaksana karena suatu hal.

Dua tahun kemudian, Ronny mengikuti kejuaraan nasional cabang tenis tingkat junior di Malang dan berhasil meraih juara pertama.

Ronny Pasla kemudian berpindah haluan dari cabang tenis ke sepak bola berkat saran ayahnya, yaitu Felix Pasla.

Ia mulai menjalani latihan bersama klub Dinamo Medan. Selang setahun kemudian, ia langsung dipercaya untuk menjadi penjaga gawang tim utama klub Dinamo Medan.

Bersama klub Dinamo Medan, Ronny Pasla berlaga di Piala Soeratin dan langsung meraih juara di kompetisi bergengsi pada saat itu. Dengan penampilannya yang memukau, Ronny Pasla dipanggil Tim Nasional Indonesia pada usia 20 tahun.

Ketika Ronny Pasla dipanggil tim nasional Indonesia, terdapat satu momen yang tidak terlupakan bagi fans sepak bola Indonesia di era 70-an dan Ronny Pasla sendiri.

Dikutip dari Bola.com, pada tahun 1972, Timnas Brasil telah melakoni tur Asia yang saat itu diperkuat oleh pemain mega bintang, Pele. Dalam laga persahabatan itu, Indonesia kalah tipis dengan skor 1-2.

Pada laga itu, Brasil mendapatkan hadiah penalti dari hakim lapangan dan Pele yang akan mengeksekusinya. Secara mengejutkan, tendangan Pele dari titik putih itu berhasil di tepis Ronny.

Tiga tahun setelahnya, tim nasional Indonesia melakoni uji coba dengan klub Manchester United (MU) yang diperkuat oleh Tommy Docherty dan Ronny Pasla juga tampil begitu memukau.

Berkat penampilannya, Manchester United begitu kesulitan membobol gawangnya dan berakhir dengan skor kacamata.

Tidak dipungkiri prestasi yang ditorehkan oleh Ronny bersama tim nasional Indonesia, di antaranya juara Piala Aga Khan di Bangladesh pada tahun 1967, kemudian juara Merdeka Games di tahun yang sama, peringkat ketiga Saigon Cup tahun 1970 dan juara Pesta Sukan Singapura tahun 1972.

Ronny Pasla pensiun pada umur 40 tahun.

Peri Sandria --------------------Bagi pecinta sepak bola pada era 1990-an pasti terkesima dengan sosok Peri Sandria. Pem...
17/02/2025

Peri Sandria
--------------------

Bagi pecinta sepak bola pada era 1990-an pasti terkesima dengan sosok Peri Sandria. Pemain lokal asal Sumatra Utara itu memiliki karier yang melesat baik di level klub maupun Timnas Indonesia.

Sederet prestasi gemilang berhasil ditorehkannya, seperti menyabet medali emas SEA Games 1991 di Manila bersama Timnas Indonesia.

Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak bersama Bandung Raya pada kompetisi Liga Indonesia pertama pada 1994. Kemudian ia sukses membawa klubnya itu menjadi juara satu musim kemudian.

Peri Sandria memang cukup fenomenal pada era tersebut. Lahir di Binjai, Sumatra Utara pada 24 September 1969, Peri Sandria adalah pesepak bola dengan penuh talenta sejak masih kecil. Ada cerita menarik tentang masa lalunya berkecimpung di dunia sepak bola.

Mulai dari awal kariernya sejak masih junior, berbagai pencapaian luar biasa, hingga kenangan demi kenangan yang sulit dilupakannya saat masih aktif bermain.

Setelah sukses bersama Timnas Indonesia di SEA Games 1991 Manila, maupun di klub sebelumnya, yaitu Krama Yudha Tiga Berlian, Peri Sandria pun hijrah ke Bandung Raya. Klub inilah yang membantu Peri Sandria naik daun.

Pada Liga Indonesia edisi pertama pada 1994/1995, Bandung Raya melajut ke babak delapan besar. Kendati demikian, ia menjadi topscorer dengan 34 gol, yang rekornya baru terpecahkan pada 2007.

Namun, pada Ligina 1995/1996, Bandung Raya diantarnya menjadi juara dengan mengalahkan PSM Makassar. Duetnya di lini depan, Dejan Glusevic menjadi pencetak gol terbanyak.

Bandung Raya kembali tampil di final pada musim berikutnya, meski harus mengakui keunggulan Persebaya Surabaya di laga puncak. Hingga pada beberapa musim berikutnya, Bandung Raya kemudian membubarkan diri.

Taufik Lubis--------------------Salah satu keistimewaan yang dimilki oleh PSMS Medan adalah kemampuan melahirkan kiper-k...
15/02/2025

Taufik Lubis
--------------------

Salah satu keistimewaan yang dimilki oleh PSMS Medan adalah kemampuan melahirkan kiper-kiper hebat. Tak cuma sukses mengawal gawang PSMS tapi menjaga gawang Timnas Indonesia. Salah satu yang kiper yang menonjol dari PSMS Medan adalah Taufik Lubis.

Taufik Lubis kelahiran Tanjung Balai 12 Februari 1955 adalah kiper legendaris PSMS Medan dan Timnas Indonesia pada pertengahan 70-an dan awal 80-an.

Taufik Lubis memulai karirnya di PSKTS Tebing Tinggi. Bakatnya dilihat seorang penggila bola bernama (Alm) Abdul Aziz. Melalui Aziz, Taufik Lubis dikenalkan dengan pelatih (Alm) M. Saleh yang menangani PS Tebing Putra. Mulailah Taufik Lubis berlatih di stadion Kampung Durian yang saat itu satu-satunya lapangan sepak bola standard di kota itu.

Di usia 18 tahun, Taufik Lubis memantapkan diri sebagai penjaga gawang. Kala itu, Taufik bersekolah di SMAN 1 Kota Tebingtinggi. Taufik Lubis memperkuat klub PSKTS, bersama Effendi Maricho Ashari, Mhd Zein, Iskandar Ramlan, Fudhail Dega, dan beberapa pemain lainnya.

Di bawah skuad itu, PSKTS dikenal sebagai klub yang disegani di Sumut. Meski tak pernah juara Sumut, tapi penampilan Taufik Lubis, selalu jadi ingatan pecandu si kulit bundar di mana pun mereka bertanding.

Penampilan Taufik Lubis pun menjadi perhatian suhu sepak bola Sumut (Alm) Kamaruddin Panggabean (Ompung Kamrud) yang kelimpungan mencari kiper pengganti untuk memperkuat PSSI Wilayah I di Kejuaraan Antar Wilayah/Regional PSSI pada 1974 ketika kiper utama PSMS Medan Ronny Pasla hijrah ke Persija Jakarta.

Taufik pun direkrut Ompung Kamrud menjadi kiper PSSI Wilayah I Sumut mendampingi kiper asal Langkat Pariman. Sejak itu Taufik pun pindah ke Medan. Ternyata Taufik Lubis tampil menawan walau bergantian dengan Pariman dalam mengawal gawang PSSI Wilayah I hingga akhirnya sukses membawa PSSI Wilayah I yang didominasi pemain-pemain PSMS Medan menjadi Juara Kejuaraan Antar Wilayah/Regional PSSI 1974 dan mewakili Indonesia di President Cup 1974 yang berlangsung di Seoul Korea Selatan.

Dalam turnamen President Cup 1974 ini PSSI Wilayah I tampil sebagai Runner Up setelah di Final kalah dari tuan rumah Korea Selatan. Pada 7 Juni 1975 klub besar Belanda dan Eropa Ajax Amsterdam bertandang ke Medan dan bertanding dengan PSSI Wilayah I.Pada pertandingan ini Taufik Lubis yang masuk mneggantikan kiper PSMS Pariman ketika PSSI Wilayah I tertinggal 2-1 dari Ajax tampil prima mengawal gawang PSSI Wilayah I dari gempuran bintang – bintang Ajax seperti Jhony Rep,Ruud Krol,Wim Suurbier dll hingga akhirnya sukses membawa PSSI Wilayah I menang 4-2 atas Ajax.

Seusai pertandingan melawan Ajax ini Taufik Lubis pindah ke PSMS Medan.Saat berkiprah di Medan, Taufik Lubis tercatat sebagai pemain PS Perisai. Kemudian, dia juga terpilih sebagai penjaga gawang utama PSMS Medan.

Karir sebagai penjaga gawang terus melesat. Setelah malang melintang di PSMS Medan, Taufik Lubis kiper PSSI Garuda yang dipersiapkan untuk Pra Olimpiade 1976.Saat itu dalam rangka persiapan Pra Olimpiade 1976 Timnas dibagi menjadi 2 yaitu PSSI Harimau dan PSSI Garuda.Rekan seangkatannya di Timnas Garuda adalah Nobon,
Suhatman Imam, Timo Kapisa, Simson Rumahpasal, Johanis Auri dan lainnya.

Tim ini tampil gemilang dalam berbagai turnamen dan pertandingan ujicoba baik di dalam maupun luar negeri. Kecemerlangannya dalam mengawal gawang PSSI Garuda membuat pelatih Timnas asal Belanda Will Coerver menjadikan Taufik Lubis sebagai kiper yang tampil memperkuat Timnas di Pra Olimpiade 1976 mendampingi seniornya yang sebelumnya memperkuat PSMS Medan yaitu Ronny Pasla.

Sayang walau tampil gemilang di Pra Olimpiade 1976 Timnas gagal lolos ke Olimpiade 1976 karena di putaran akhir kalah adu penalti dari Korea Utara. Kelebihan Taufik Lubis di bawah mistar, adalah instinknya yang tajam dan mampu membaca arah bola yang dibawa lawan, di samping tinggi badannya mencapai 175 cm.

Bahkan, penonton seolah-olah melihat jika dia terbang menangkap bola, sepertinya berhenti sejenak di udara baru jatuh dengan bola dalam pelukan ketat.Kehadirannya di PSMS Medan membuat pecinta PSMS melupakan kepindahan Ronny Pasla ke Persija.

Prestasinya yang paling diingat bersama PSMS Medan adalah ketika membawa membawa PSMS menjadi Runner Up Divisi Utama Perserikatan 1979 dan Runner Up Marah Halim Cup 1978,Juara Tugu Muda Cup 1979 dan Juara Fatahillah Cup 1982.

Pada tahun 1975 hingga 1982, nama Taufik Lubis populer sebagai Kiper Nasional. Tak terhitung berapa kali sudah sosok yang mengidolakan kiper legendaris Timnas Yudo Hadianto ini menyelamatkan gawang Tim Nasional lewat keahliannya menangkap si kulit bundar.

Seusai membawa PSMS Medan menjuarai Fatahillah Cup 1982, Taufik Lubis mundur dari PSMS Medan dan tongkat estafet diserahkan ke juniornya yaitu Ponirin Meka. Namun walau begitu Taufik Lubis sesekali masih turun membela Perisai di kompetisi Divisi Utama PSMS Medan.

Salah satu kemampuan yang dimiliki oleh Taufik Lubis adalah kemampuannya membimbing juniornya baik di Perisai maupun PSMS.Benny Van Breukelen dan Fidel Ganis Siregar 2 juniornya di Perisai dan PSMS mengaku banyak menimba ilmu dari Taufik Lubis.

Benny Van Breukelen dalam penuturannya kepada saya menyebut satu momen spesial dalam karirnya yaitu ketika Perisai bertanding melawan Medan Utara dalam kompetisi Divisi Utama PSMS pada 1980. Medan Utara waktu itu diperkuat Ponirin Meka dan Mamek Sudiono.

Awalnya Yuswardi sebagai pelatih Perisai mempersiapkan Taufik Lubis untuk tampil dan sudah melakukan pemanasan. Tapi kemudian Taufik Lubis berujar “Bang Yuswardi aku mau Benny yang main sore ini” dan memanggil Benny sambil membuka kostumnya.

Benny terkejut tapi langsung bersiap dan dengan mantap memasuki lapangan. Taufik Lubis dan Parlin Siagian menepuk pundaknya dan berujar “Benny kau pasti bisa”. Ternyata sore itu Benny tampil gemilang mematahkan serangan dari para pemain Medan Utara termasuk beberapa peluang emas dari Mamek Sudiono yang dipatahkannya dengan gemilang.

Seusai pertandingan Taufik Lubis memeluk dirinya dan berkata “Benny abang yakin kelak kau akan jadi kiper yang sukses dan bisa membela Timnas” dan Benny dengan air mata haru berkata “Semua ini karena Bang Taufik yang selama ini sudah membimbingku dan mohon doakan aku ya Bang”. Dan ternyata kelak memang terbukti Benny Van Breukelen menjadi salah satu kiper yang sukses dan bisa menembus Timnas.

Demikian juga dengan Fidel Ganis Siregar yang secara terus terang mengakui Taufik Lubis sebagai sosok yang menjadi panutannya baik di Perisai maupun di PSMS.”Bang Taufik adalah guru saya” begitu sosok yang kini menjabat Sekretaris Universitas Sumatera Utara ini berkata kepada saya. Dalam keseharian mereka juga begitu akrab.

Tak jarang mereka berangkat bersama menuju tempat latihan Perisai dan PSMS.Melihat permainannya di bawah mistar banyak yang menyebut Fidel Ganis Siregar mempunyai kemiripan dengan Taufik Lubis.

Taufik Lubis juga pernah menekuni karir di dunia kepelatihan. Sebagai pelatih Taufik Lubis pernah membawa PSMS Medan menjadi Juara Piala Walikota Padang Tahun 1994.Di Divisi Utama Liga Indonesia I musim 1994/1995 Taufik Lubis dan Wibisono tampil menangani PSMS Medan.Sayang akibat penampilan PSMS yang tidak stabil membuat
keduanya kemudian mengundurkan diri pada pertengahan musim.

Taufik Lubis adalah abang kandung dari mantan bintang Medan Jaya, Pelita Jaya dan Timnas Indonesia yang juga menjadi pelatih PSMS di Liga 2 musim lalu Ansyari Lubis.

Taufik Lubis meninggal dunia pada tanggal 23 Desember 2012 di Rumah Sakit Malahayati Medan. Jasa dan kemampuannya sebagai kiper PSMS Medan akan selalu dikenang dan diingat oleh supporter sejati PSMS Medan.

Skuad kesebelasan PSMS Medan tahun 1981.Dari kiri kekanan. : Ronny Pasla (kiper), Sarman Panggabean, Wibisono, Tumpak Ul...
15/02/2025

Skuad kesebelasan PSMS Medan tahun 1981.

Dari kiri kekanan. : Ronny Pasla (kiper), Sarman Panggabean, Wibisono, Tumpak Uli Sihite, Nobon Kayamuddin, Suwarno, Saleh Harahap, Sunarto, Zulham Yahya, Sukiman dan Anwar Ujang.

MARDI LESTARI--------------------------Lahir di Binjai, Sumatera Utara pada tanggal 19 Januari 1968 dengan nama Afdihart...
14/02/2025

MARDI LESTARI
--------------------------

Lahir di Binjai, Sumatera Utara pada tanggal 19 Januari 1968 dengan nama Afdiharto Mardi Lestari.

Prestasi atletiknya dimulai ketika dirinya meraih medali perunggu pada Kejuaraan Atletik Yunior Asia yang dihelat di Jakarta pada tahun 1986.

Pada ajang SEA Games 1987 Jakarta, Mardi Lestari meraih medali perak untuk nomor 100 meter putra. Dirinya juga meraih perak di nomor estafet 4x100 meter putra.

Dirinya membuat kejutan saat berlaga di Olimpiade Seoul 1988. Mardi menjadi satu-satunya wakil Asia yang menembus semifinal atau 16 besar di nomor 100 meter putra.

Mardi dijuluki Manusia Tercepat di Asia setelah mencatat rekor baru Asia untuk nomor 100 meter atletik putra.

Rekor tersebut dia buat di ajang PON XII 1989 Jakarta dengan catatan waktu 10,20 detik, Mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang pelari Cina, Li Tao dengan catatan waktu 10,26 detik.

Setahun kemudian, rekor Mardi dipecahkan oleh pelari Qatar, Talal Mansour dengan catatan waktu 10,18 detik.

Pada ajang PON, Mardi menyabet emas untuk nomor lari 100 meter dan 200 meter pada PON 1989 dan PON 1993.

Mardi Lestari merebut medali emas lari 100 meter secara beruntun di ajang SEA Games tahun 1989, 1991, 1993. Dirinya juga menyabet emas untuk nomor 200 meter SEA Games 1989 Malaysia.

Sedikit sekali literasi yang memberitakan kondisi Mardi Lestari terkini. Kabarnya, Mardi Lestari sekarang tinggal di Binjai. Menjalani hari tuanya sembari berjuang melawan penyakit kelenjar getah bening yang dideritanya.

Pada sebuah liputan di salah satu media televisi beberapa bulan lalu. Mardi Lestari mengaku kecewa dengan apresiasi pemerintah yang tak mengundangnya di acara PON XXI Aceh-Sumut 2024.

"Jadi mungkin sudah dianggap tidak ada lah. Jadi prestasi yang kita toreh hari itu, ya hilang gitu aja", kata Mardi Lestari.
(Pernyataan nya ada dikolom komentar)


Address


Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Binjai kotaku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Binjai kotaku:

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share