25/04/2026
Dari pedalaman yang sunyi, dari tanah yang masih diselimuti kabut gunung dan bisik rimba, aku hantarkan sebuah suara kecil kepada dunia sastra.
Aku hanyalah penyair dari pedalaman Jangkat Timur, Jambi. Kata-kata yang kutulis lahir dari alam, dari tradisi, dari sunyi yang panjang di antara bukit dan sungai. Di tempat yang jauh dari pusat-pusat sastra, aku tetap menulis—membawa jiwa kampung dan warisan budaya ke bentuk baru: puisi, musik, dan sinematik yang kuolah bersama teknologi.
Ini bukanlah permintaan belas kasihan, melainkan undangan.
Jika karya-karya ini berkenan di hati, jika suara dari pedalaman ini masih memiliki tempat di telinga dunia, aku akan merasa terhormat bila kalian sudi menyaksikan perjalanan kecil ini.
Kadang-kadang, suara yang paling jauh justru membawa cerita yang paling tua.
DENDAM SIJUNDAI
di depan d**a nan mewangi misteri
bunga rampai nan semerbak dimensi
kau menatap malam dengan dendam maharani
mendamba jadi seorang putri
dari puncak bukit dan gunung
dendam membakar cinta nan dibuang di lereng lereng
pekik sang kasih hitam hatam petir tepat
ke jantung sang malam
ini sebuah ritual
bukan upacara adat dan seremonial
di wajah kasih gumanti nan sesal kesal
menyeru kekasih balik ke asal
dendam cinta sepasang kekasih
dalam kelam mimpi menyisih
asah asuh harap dan rintih
sumpah serapah melati putih
amarah rindu mata nan sayu
menabur abu abu cinta nan lalu
di mantra mantra sakti nan pilu
ada laluan lama membeku
dan cinta sang maha cinta
terbakar amarah insan nan fana
meratap tatap pilu ke merah bejana
persembahan suci nan salah arahnya
kekasihku
amarah bukan jawaban
tersisih
pulang ke azali dan berserah serahan
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
The Vengeance of Sijundai
before incense veils its mystery
fragrant petals drift through hidden dimensions
you gaze upon the night with a queen’s vengeance
longing to be a daughter of the stars
from peaks of mountains and ridges
vengeance burns the love abandoned on slopes
the cry of passion, thunder’s black decree
strikes the heart of night
this is a ritual
not ceremony nor tradition
upon the face of love’s regretful mask
calling the beloved back to origin
vengeful love of two souls
in the shadow of dreams cast aside
sharpening hope, nurturing lament
swearing upon the white jasmine
wrathful longing in weary eyes
scattering ashes of bygone love
within sacred chants of sorrow
an ancient passage freezes still
and love, the great eternal love
consumed by mortal rage
weeping into the crimson vessel
a sacred offering astray
my beloved,
wrath is not the answer
cast away,
return to the primordial surrender
Wiko Antoni