05/06/2026
SELAMATKAN TANAH & BANGUN PERSATUAN KELAS.!
“HARI LINGKUNGGAN SEDUNIA TEPAT PADA TANNGGAL 05 JUNI 1972- 05 JUNI 2026”
Oleh : Jalan Sunyi
kapitalisme telah merusak keseimbangan alamiah.Metabolisme Sosial vs. Alam: Menurut Marx, manusia bermetabolisme dengan alam melalui proses produksi dan kerja. Manusia mengambil nutrisi dari alam untuk bertahan hidup dan seharusnya mengembalikan limbah tersebut sebagai pupuk untuk menjaga kesuburan tanah.
Kritik terhadap Kapitalisme dibawah sistem kapitalis, terjadi urbanisasi besar-besaran yang memusatkan penduduk di kota. Makanan dan serat diproduksi secara massal di pedesaan, lalu dikirim ke kota. Namun, sisa-sisa limbah manusia dari konsumsi tersebut menumpuk di kota sebagai polusi dan tidak pernah dikembalikan ke tanah pertanian.
Dampak Keretakan Akibat arus satu arah ini, tanah pertanian mengalami penipisan unsur hara (degradasi tanah), sementara kota mengalami pencemaran. Marx menyebut ini sebagai “irreparable rift” (keretakan yang tak dapat diperbaiki) antara manusia dan bumi akibat kerakusan sistem kapitalis yang hanya berfokus pada akumulasi keuntungan.
Hari Lingkungan Sedunia lahir di Stockholm, Swedia, pada tahun 1972 selama Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia.Sementara itu, meskipun bukan ahli ekologi murni, Karl Marx memiliki teori lingkungan yang dikenal sebagai “Metabolic Rift” (Keretakan Metabolisme).
Sejarah Lahirnya Hari Lingkungan Sedunia Lokasi & Waktu Lahir tepat waktu Ditetapkan pada Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia (Pembukaan Konferensi Stockholm) di Stockholm, Swedia, pada tanggal 5-16 Juni 1972.Tanggal Peringatan: 5 Juni dipilih sebagai hari pertama konferensi tersebut, dan perayaan pertamanya dilaksanakan pada tahun 1974 dengan tema “Only One Earth”.Inisiator Resolusi ini diajukan oleh negara Senegal dan Jepang. Peringatan ini kemudian dikoordinasikan oleh United Nations Environment Programme (UNEP).
SELAMATKAN TANAH PAPUA DARI EKSPANSI MODAL DAN KOLONIALISME MODERN.!
Karl Marx dan Friedrich Engels menjelaskan ”bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas”. Dalam setiap zaman, selalu terdapat pertentangan antara kelompok yang menguasai alat produksi dengan kelompok yang dieksploitasi. Dalam masyarakat kapitalis modern, kekuasaan ekonomi berada di tangan pemilik modal yang terus memperluas wilayah akumulasi keuntungan melalui penguasaan tanah, sumber daya alam, dan tenaga kerja.
Dalam karya-karya Marx dan Engels, negara tidak berdiri netral di atas semua kepentingan sosial. Negara sering berfungsi sebagai alat politik yang menjaga kepentingan kelas yang berkuasa. Melalui kebijakan pembangunan, investasi, dan proyek-proyek ekonomi berskala besar, negara dapat menjadi instrumen yang memfasilitasi ekspansi kapitalisme ke wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di luar sirkulasi modal.
Papua merupakan salah satu wilayah yang mengalami tekanan tersebut. Kekayaan hutan, mineral, sungai, dan tanah adat menjadikan Papua sasaran berbagai proyek ekstraktif. Atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, ruang hidup masyarakat adat semakin terdesak oleh pertambangan, perkebunan skala besar, pembukaan kawasan industri, dan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Marx menyebut proses ini sebagai bagian dari akumulasi kapital, yaitu upaya terus-menerus untuk memperluas keuntungan dengan menguasai sumber-sumber kehidupan masyarakat. Dalam perkembangannya, para pemikir Marxis melihat bahwa imperialisme merupakan tahap lanjut kapitalisme ketika modal membutuhkan wilayah-wilayah baru untuk dieksploitasi. Oleh karena itu, eksploitasi terhadap tanah, hutan, dan manusia tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonomi global.
Dalam perspektif historis materialisme historis, kerusakan lingkungan bukanlah sekadar kesalahan individu atau lemahnya kesadaran masyarakat. Kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi dari sistem ekonomi yang menempatkan keuntungan di atas keberlanjutan hidup manusia dan alam. Ketika hutan dipandang sebagai komoditas dan tanah dipandang sebagai aset investasi, maka masyarakat adat yang bergantung pada alam akan menjadi kelompok pertama yang menanggung dampaknya.
Friedrich Engels dalam kajiannya mengenai hubungan manusia dan alam mengingatkan bahwa setiap kemenangan manusia atas alam pada akhirnya dapat berbalik menjadi bencana apabila dilakukan tanpa memperhitungkan keseimbangan ekologis. Pengrusakan hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan akan melahirkan krisis sosial dan ekologis yang mengancam generasi mendatang.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus menjadi momentum untuk menolak segala bentuk perampasan tanah adat, penghancuran lingkungan, dan praktik pembangunan yang mengabaikan hak-hak masyarakat adat Papua. Perjuangan menjaga lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari perjuangan mempertahankan tanah, identitas budaya, dan hak menentukan masa depan sendiri.
TUNTUTAN RAKYAT BENTUK PERLAWANAN SEBAGAI BERIKUT:
1. Hentikan perampasan tanah adat atas nama investasi dan pembangunan.
2. Evaluasi seluruh proyek yang mengancam lingkungan dan hak masyarakat adat Papua.
3. Akui dan lindungi wilayah adat sebagai ruang hidup rakyat Papua.
4.. Hentikan kriminalisasi terhadap pembela lingkungan dan masyarakat adat.
5. Wujudkan pembangunan yang berkeadilan sosial dan ekologis.
6. Hutan papua bukan untuk komoditas
7. Tanah papua bukan barang dagangan
8. Lingkungan hidup adalah hak rakyat
9. lawan kolonialisme imperialisme-kapitalisme
10. Selamatkan Papua, selamatkan masa depan Generasi akan mendatang
Referensi dari tulisan:
Karl Marx, Das Kapital (1867).
The Communist Manifesto, Karl Marx & Friedrich Engels.
The German Ideology, Karl Marx & Friedrich Engels.
The Origin of the Family, Private Property and the State, Friedrich Engels.
Dialectics of Nature.
Historical Materialism.
Political Ecology.
Di terbitkan 5 Juni 2026 waktu Indonesia Barat
Gulingkan Kapitalisme dan wujudkan sosialisme sekarang juga.!!
Bagikan ini: baca selengkapnya.!
https://jalansunyi8.wordpress.com/2026/06/04/selamatkan-tanah-bangun-persatuan-kelas/