26/12/2025
"Baru sehari kerja jadi pembantu sudah kena omel a anak maji kan. Gara-gara jas ma halnya ketumpahan air dan aku lap pakai kain lap. Apa aku salah?"
Bab :1
Mami, papi, aku ingin pulang. Aku nggak betah. Tak kuasa aku menahan air mata yang mengalir terus dari tadi. Di rumah aku di la yani, di sini aku harus mela yani.
“Ina, kenapa nangis?” Tanya Mbok Darmi, asisten rumah tangga yang di tuakan di rumah ini.
“Capek, Mbok.” Sambil kuseka air mata menggunakan baju seragam yang kupakai.
“Namanya kerja ya capek, lagian kamu kenapa ngelamar jadi pembantu? Kenapa nggak kerja di toko atau di pabrik? Lagian kerjaan pembantu kurang cocok denganmu yang masih muda dan cantik ini.” jawab Mbok Darmi.
Aku masih tersedu, kala mengingat kejadian pagi tadi saat di suruh menyiapkan baju kantor a nak maji kanku.
“Inaa... siapkan baju kerjaku.” Teriak Mas Ferdy, putra pak Angga dan Bu sarah, maji kanku.
“Bajunya yang seperti apa ya mas?” tanyaku kurang paham. Memang aku tidak paham.
“Astaga Ina, kamu bisa kerja nggak sih! Sana, tanya sama Mbok Darmi.” Suruhnya dengan kesal.
Aku segera menghampiri Mbok Darmi yang sedang memasak di dapur.
“Mbok, Mas Ferdy minta di ambilin baju kerja. Aku nggak paham yang seperti apa.” Keluhku pada wanita paruh baya yang bekerja bersamaku saat ini.
Mbok Darmi bangkit sambil menatapku dengan heran. Tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju kamar Mas Ferdy, dan aku pun mengikuti dari belakang.
“Ya Allah... belum genap sehari kerja, rasanya sudah lelah begini.” Gumamku dalam hati.
Mbok Darmi membuka lemari Ferdy, mengambil satu jas, kemeja lengan panjang dan dasi.
“Ina, sini Mbok kasih tahu letak baju-bajunya Den Ferdy. Yang ini khusus jas dan dasi, pintu satunya ini khusus kemeja dan baju resmi lainnya. Sedangkan sebelah sini untuk baju santai seperti kaos dan celana pendek, rak bawahnya khusus pakaian dalam.” Ucap Mbok Darmi sambil menunjukkan tata letaknya.
Bagaimana aku bisa paham, sedangkan di rumah saja, aku tidak pernah mengatur pakaian, bahkan pakaian dalamku pun selalu di siapkan oleh Mbok Jum, asisten rumah tangga mami.
Setelah menjelas semuanya, Mbok Darmi kembali lagi kedapur, sedang aku masih mempelajari letak pakaian a nak ma jikan ini.
“Mana bajuku, bawa sini.” Pekik Ferdy yang baru keluar dari ka mar mandi.
Aku yang masih mempelajari letak-letaknya tadi, kaget mendengar panggilannya.
“Eh, itu mas,” jawabku sambil menunjuk pakaian yang di siapkan Mbok Darmi tadi. Setelah itu, aku segera nyelonong keluar, nggak mungkin juga nungguin dia pakai baju.
Namaku Sandrina Elvaretta Maheswari, putri tunggal dari keluarga Maheswari, konglo merat pemilik jaringan hotel bintang lima di kota Surabaya. Sengaja kupakai nama Ina, untuk menyembunyikan identitasku.
“Sudah, jalani saja dulu. Nanti lama-lama juga terbiasa. Sekarang bantu simbok menyiapkan sarapan. Sebentar lagi mereka akan turun.” Ucap Mbok Darmi.
Duh, aku belum pernah nyiapin sarapan, apalagi untuk orang sebanyak ini.
“Maaf, Mbok. Aku nggak bisa nyiapin sarapan, aku belum pernah memasak apalagi menyajikan menu di meja makan.” Jawabku panik.
“Tadi nyiapin baju nggak bisa, masak nggak bisa, menyajikan menu di atas meja juga nggak bisa. Terus, bisamu apa?” Tanya Mbok Darmi dengan geram.
Aku hanya diam menunduk sambil memilin ujung bajuku. Memang kenyataannya seperti itu.
“Orang tuamu nggak pernah ngajarin?” lanjutnya.
Aku menggeleng sambil terus menunduk.
Tiba-tiba, terdengar derap langkah kaki. Pasti pemilik rumah ini akan segera sarapan. Astaga! Bagaimana ini.
“Mbok, aku harus nyiapin apa? Nasi, lauk atau apa? Tanyaku dengan nada frustasi.
“Ina...Ina... kali ini simbok bantu, seterusnya kamu kerjakan sendiri.”
Aku memperhatikan dengan teliti apa saja yang di siapkan simbok. Mulai dari roti, buah dan terakhir nasi goreng. Di sini aku baru tahu kalau Pak Angga dan Bu Sarah s**a sarapan roti, Mas Varo, kakaknya Mas Ferdy sarapannya buah, hanya Ferdy sendiri yang sarapa nasi goreng. Aduh, ribetnya.
“Ina, kamu harus banyak belajar dari simbok. Di sini ada tiga ART, kalian harus bagi-bagi tugas.” Ucap Bu Sarah.
Mendengar penjelasan Bu sarah, aku jadi ingat Mami. Beliau tidak pernah memarahiku. Hampir air mataku tumpah karena merindukannya.
“Dengerin, itu.” Ledek Ferdy.
“Mah, masa dia nggak tahu yang namanya pakaian kerja. Aku jadi heran, jangan-jangan dia juga nggak bisa masak air.” Imbuhnya.
Ini cowok lemez banget mulutnya, belum pernah coba jitakanku , dia belum tahu saja siapa aku ini.
Aku hanya nyengir sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Sabar... sabar... demi sebuah cita-cita, aku harus rela di perlakukan seperti pembantu. Lah, tapi memang benar pembantu.
Papi sama Mami hanya menguji, seberapa keras keinginanku untuk kuliah di Jepang. Sebenarnya mereka tak ingin jauh dari putrinya, makanya memberikan syarat, agar aku menjadi pembantu dulu, supaya ketika jauh dari rumah nanti, sudah mandiri.
“Woi, ngalamun,” sentak Ferdy.
“Eh, iya, Mas.”
“Ambilkan air putih, dan taruh bekas piring ini kedapur.” Lanjutnya.
Sepertinya hanya dia doang yang bawel, beda dengan Mas Varo yang kalem.
Segera kuambilkan air putih yang ia minta. Tapi, tanpa sengaja gelas yang kupegang terasa licin dan jatuh mengenai jasnya.
“Innaaaa....”
Bersambung ke aplikasi KBM
Judul :Bukan Pelayan Biasa
Penulis : Kusuma Riyanti