Dwi Lestari Zulkarnain

Dwi Lestari Zulkarnain Bismillahirrahmanirrahim, Insya Allah berisi konten Islami berupa quote, tahsin tilawah, video Ai tilawah. Jika tidak, skip tanpa menghujat. ❤️

Semoga bermanfaat🥰 Jika suka: like, komen, share dan subscribe.

"Baru sehari kerja jadi pembantu sudah kena omel a anak maji kan. Gara-gara jas ma halnya ketumpahan air dan aku lap pak...
26/12/2025

"Baru sehari kerja jadi pembantu sudah kena omel a anak maji kan. Gara-gara jas ma halnya ketumpahan air dan aku lap pakai kain lap. Apa aku salah?"

Bab :1

Mami, papi, aku ingin pulang. Aku nggak betah. Tak kuasa aku menahan air mata yang mengalir terus dari tadi. Di rumah aku di la yani, di sini aku harus mela yani.

“Ina, kenapa nangis?” Tanya Mbok Darmi, asisten rumah tangga yang di tuakan di rumah ini.

“Capek, Mbok.” Sambil kuseka air mata menggunakan baju seragam yang kupakai.

“Namanya kerja ya capek, lagian kamu kenapa ngelamar jadi pembantu? Kenapa nggak kerja di toko atau di pabrik? Lagian kerjaan pembantu kurang cocok denganmu yang masih muda dan cantik ini.” jawab Mbok Darmi.

Aku masih tersedu, kala mengingat kejadian pagi tadi saat di suruh menyiapkan baju kantor a nak maji kanku.

“Inaa... siapkan baju kerjaku.” Teriak Mas Ferdy, putra pak Angga dan Bu sarah, maji kanku.

“Bajunya yang seperti apa ya mas?” tanyaku kurang paham. Memang aku tidak paham.

“Astaga Ina, kamu bisa kerja nggak sih! Sana, tanya sama Mbok Darmi.” Suruhnya dengan kesal.

Aku segera menghampiri Mbok Darmi yang sedang memasak di dapur.

“Mbok, Mas Ferdy minta di ambilin baju kerja. Aku nggak paham yang seperti apa.” Keluhku pada wanita paruh baya yang bekerja bersamaku saat ini.

Mbok Darmi bangkit sambil menatapku dengan heran. Tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju kamar Mas Ferdy, dan aku pun mengikuti dari belakang.

“Ya Allah... belum genap sehari kerja, rasanya sudah lelah begini.” Gumamku dalam hati.

Mbok Darmi membuka lemari Ferdy, mengambil satu jas, kemeja lengan panjang dan dasi.

“Ina, sini Mbok kasih tahu letak baju-bajunya Den Ferdy. Yang ini khusus jas dan dasi, pintu satunya ini khusus kemeja dan baju resmi lainnya. Sedangkan sebelah sini untuk baju santai seperti kaos dan celana pendek, rak bawahnya khusus pakaian dalam.” Ucap Mbok Darmi sambil menunjukkan tata letaknya.

Bagaimana aku bisa paham, sedangkan di rumah saja, aku tidak pernah mengatur pakaian, bahkan pakaian dalamku pun selalu di siapkan oleh Mbok Jum, asisten rumah tangga mami.

Setelah menjelas semuanya, Mbok Darmi kembali lagi kedapur, sedang aku masih mempelajari letak pakaian a nak ma jikan ini.

“Mana bajuku, bawa sini.” Pekik Ferdy yang baru keluar dari ka mar mandi.

Aku yang masih mempelajari letak-letaknya tadi, kaget mendengar panggilannya.

“Eh, itu mas,” jawabku sambil menunjuk pakaian yang di siapkan Mbok Darmi tadi. Setelah itu, aku segera nyelonong keluar, nggak mungkin juga nungguin dia pakai baju.

Namaku Sandrina Elvaretta Maheswari, putri tunggal dari keluarga Maheswari, konglo merat pemilik jaringan hotel bintang lima di kota Surabaya. Sengaja kupakai nama Ina, untuk menyembunyikan identitasku.

“Sudah, jalani saja dulu. Nanti lama-lama juga terbiasa. Sekarang bantu simbok menyiapkan sarapan. Sebentar lagi mereka akan turun.” Ucap Mbok Darmi.

Duh, aku belum pernah nyiapin sarapan, apalagi untuk orang sebanyak ini.

“Maaf, Mbok. Aku nggak bisa nyiapin sarapan, aku belum pernah memasak apalagi menyajikan menu di meja makan.” Jawabku panik.

“Tadi nyiapin baju nggak bisa, masak nggak bisa, menyajikan menu di atas meja juga nggak bisa. Terus, bisamu apa?” Tanya Mbok Darmi dengan geram.

Aku hanya diam menunduk sambil memilin ujung bajuku. Memang kenyataannya seperti itu.

“Orang tuamu nggak pernah ngajarin?” lanjutnya.

Aku menggeleng sambil terus menunduk.

Tiba-tiba, terdengar derap langkah kaki. Pasti pemilik rumah ini akan segera sarapan. Astaga! Bagaimana ini.

“Mbok, aku harus nyiapin apa? Nasi, lauk atau apa? Tanyaku dengan nada frustasi.

“Ina...Ina... kali ini simbok bantu, seterusnya kamu kerjakan sendiri.”

Aku memperhatikan dengan teliti apa saja yang di siapkan simbok. Mulai dari roti, buah dan terakhir nasi goreng. Di sini aku baru tahu kalau Pak Angga dan Bu Sarah s**a sarapan roti, Mas Varo, kakaknya Mas Ferdy sarapannya buah, hanya Ferdy sendiri yang sarapa nasi goreng. Aduh, ribetnya.

“Ina, kamu harus banyak belajar dari simbok. Di sini ada tiga ART, kalian harus bagi-bagi tugas.” Ucap Bu Sarah.

Mendengar penjelasan Bu sarah, aku jadi ingat Mami. Beliau tidak pernah memarahiku. Hampir air mataku tumpah karena merindukannya.

“Dengerin, itu.” Ledek Ferdy.

“Mah, masa dia nggak tahu yang namanya pakaian kerja. Aku jadi heran, jangan-jangan dia juga nggak bisa masak air.” Imbuhnya.

Ini cowok lemez banget mulutnya, belum pernah coba jitakanku , dia belum tahu saja siapa aku ini.

Aku hanya nyengir sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Sabar... sabar... demi sebuah cita-cita, aku harus rela di perlakukan seperti pembantu. Lah, tapi memang benar pembantu.

Papi sama Mami hanya menguji, seberapa keras keinginanku untuk kuliah di Jepang. Sebenarnya mereka tak ingin jauh dari putrinya, makanya memberikan syarat, agar aku menjadi pembantu dulu, supaya ketika jauh dari rumah nanti, sudah mandiri.

“Woi, ngalamun,” sentak Ferdy.

“Eh, iya, Mas.”

“Ambilkan air putih, dan taruh bekas piring ini kedapur.” Lanjutnya.

Sepertinya hanya dia doang yang bawel, beda dengan Mas Varo yang kalem.

Segera kuambilkan air putih yang ia minta. Tapi, tanpa sengaja gelas yang kupegang terasa licin dan jatuh mengenai jasnya.

“Innaaaa....”

Bersambung ke aplikasi KBM

Judul :Bukan Pelayan Biasa
Penulis : Kusuma Riyanti

Beruntung rapat tidak terlalu lama. Jadi mereka bisa segera berkemas untuk pulang. Tapi tidak dengan Nazwa dan Niken. Me...
26/12/2025

Beruntung rapat tidak terlalu lama. Jadi mereka bisa segera berkemas untuk pulang. Tapi tidak dengan Nazwa dan Niken. Mereka berdua masih mempunyai tanggungan menunggu buku yang rencananya datang hari ini.

Buku majalah TK yang sudah dipesan oleh seluruh Tk yang ada di kecamatan kota. Buku itu memang hanya akan di turunkan di satu sekolah, sehingga besok pasti akan ramai guru-guru dari satu kecamatan datang untuk mengambilnya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan harian mereka kedua wanita itu duduk lesehan dilantai sambil menunggu kedatangan buku, mereka menggunakan waktu untuk curhat. Lebih tepatnya mendengarkan masalah yang tengah dihadapi Nazwa.

Ai r mata Nazwa telah menga nak sungai setelah selesai menceritakan dil ema yang dialami. Niken terdiam. Sedikit banyak ia tahu tentang problem sisahabat tapi dia baru tahu kisah lengkapnya hari ini. Nazwa orang yang sangat tertutup kalau belum benar-benar tidak kuat dia tidak akan bercerita kecuali kepada kedua orang tu anya.

Namun kali ini ia ingin menceritakan pada orang lain. Dia benar-benar butuh bantuan. Karena dia baru tersadar sepertinya selama ini orang tua wanita itu menyembu nyikan sesuatu darinya.

Ma lam itu sepulang dari pa sar ma lam Nazwa bercerita kepada sang bunda tentang semuanya. Tentang la ki-la ki asi ng yang tiba-tiba mampu mengisi keko songan hati dan juga tentang perasaannya pada le laki itu.

Tapi respon dari sang bunda membuatnya curiga. Sang bunda sama sekali tidak menanggapi cerita Nazwa, beliau justru menganggap itu semua terjadi karena Nazwa le lah dan menyuruhnya gegas isti rahat.

Nazwa sadar raut muka sang bunda ketika mendengarkan ceritanya itu berubah. Walau berusaha bersikap biasa wanita itu masih sanggup merasakannya. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat pikirannya semakin bertambah berat.

Dan kejadian kembali berulang saat sarapan, ketika Nazwa menying gung la ki-la ki asing itu sangat bunda juga seolah pura-pura tidak mendengar. Bahkan hingga dua hari berlalu bundanya tidak mempertanyakan apapun.

Belum lagi sang Ayah yang di tolak men tah-men tah untuk tes psikolog atau ke psikiater . Ditambah beban keju lid-an teman-teman mengajarnya.

"Jujur Naz, aku ngga ngerti mau menanggapi masalahmu itu bagaimana. " Lirih Niken dengan nada menyesal. " Tapi kalau menurut pandanganku, kamu harus beranikan diri untuk dekat minimal kenal dengan la ki-la ki itu. Sementara kesampingkan dulu masalah tante. Mau aku bantu untuk kenalan dengan le laki itu? Apa butuh bantuan dari mas Ibra? Tapi ya nunggu minggu pas dia pulang." Tawar Niken.

"Dan untuk tes psikologi atau ke psikiater kita berangkat sendiri saja gimana? Dan kalau untuk orang-orang ju lid itu tinggal kamu kasih tahu kamu siapa aku yakin mereka akan menempel ke kamu kayak prangko." Lanjut Niken di akhiri dengan candaan.

Wa nita beranak satu itu tidak tega melihat kondisi Nazwa. Dimatanya Nazwa adalah perempuan yang baik. Tidak aneh-aneh. Terlebih sudah berkali-kali ia dan keluarganya di bantu oleh keluarga sahabatnya itu. Bahkan sekarang suaminya telah bekerja dengan gaji tinggi itu berkat ayah Nazwa beberapa bulan lalu. Dan ia juga baru tahu saat itu kalau ayah Nazwa orang yang sangat ka ya raya.

Nazwa memang sangat pendiam dan tertutup. Maka tidak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Mungkin karena itu banyak yang mengecap nya som b**g.

Yang sering di ju lidkan para rekannya adalah pakaian dan berbagai aksesoris yang Nazwa pakai. Memang yang di pakai Nazwa bukan barang bermerek dengan harga pul uhan ju ta. Hanya barang me rek lokal dengan ha rga ratu san ri bu atau mungkin sa tu ju taan, yang menurut beberapa orang terlalu berlebihan mengingat yang mereka tahu dia an ak seorang sopir.

Tapi bila mereka tahu kalau Nazwa an ak seorang pengusaha mereka pasti akan memandang wa nita itu dengan berbeda. Wan ita yang sangat sederhana, bagaimana tidak gaj inya sebagai PNS pasti tidak lebih tinggi dari ua ng pemberian ayahnya.

Tapi persahabatan mereka terjalin tulus. Niken yang bebeda umur beberapa bu lan diatas Nazwa sudah menganggap wanita itu adalah adiknya. Dan kini ketika sang adik terkena masalah dia ingin ganti membantu Nazwa walau hanya sebisanya.

"Ahh entah lah kapan-kapan mungkin bisa di coba ke psikiaternya, kalau masalah mau buka jati diri, kayak nggak penting sih ya. Entar dikira som b**g lagi. Aku hanya menya yangkan kenapa mereka menilai tanpa tanya-tanya dulu asal menyimpulkan saja." Keluh Nazwa dengan nada penuh kecewa.

"Kalau soal kenalan, ngga dulu lah, aku mau coba dulu sendiri. Terimakasih sudah mau mendengar curhatan ku. Ju jur itu sangat sangat membantu." Ujar Nazwa sambil kembali meme luk Niken.

Sebenarnya Nazwa sangat ingin meminta bantuan Niken. Tapi dia sadar sepulang sekolah Niken mempunyai tang gung ja wab yang lain. Seorang an ak yang dijaga ibu mertuanya yang sudah se puh menunggunya di rumah. Inipun kalau tidak terpaksa dia tidak akan bercerita ke siapapun, tapi kali ini dia benar-benar bingung mau cerita kemana lagi.

"Naz, kamu nggak kepengen beli tas chanel, dior atau apalah, tapi yang asli. Wah pasti rame tuh terus nanti pada tujuh hari tujuh malem nggak bisa tidur." Tawa Niken membahana membayangkan omongannya sendiri.

Nazwa yang sedari tadi mengerutkan kening karena sedang memikirkan masalahnya pun terlihat tersenyum lebar. Tiba-tiba di otaknya tergambar reaksi para manusia julid itu saat dia menggunakan tas dengan hrga berkali-kali lipat dari gaji mereka sebulan.

"Nggak ahh sayang uangnya. Mending buat jajan soto di mbok Nah, sama-sama bikin panas tapi enak. Soalnya ditambah kecap, sambal dan acar juga tempe medoan." Jawab Nazwa menimpali candaan sahabatnya itu.

"Waaahhh kalau itu di tutup dengan segelas esteh atau es jeruk tambah nikmat."

Curhatan itupun berakhir dengan tawa. Melihat tawa Nazwa hati Niken sedikit tenang setidaknya sang sahabat masih bisa diajak bercanda.

Karena terkadang masalah tidak butuh solusi basa-basi cukup keluarkan masalah itu dari dalam kep ala.

Obrolan keduanya terus berlanjut dengan seru. Mereka menceritakan banyak hal termasuk bagaimana bahagianya Zira setelah pulang dari pasar ma lam kemarin lusa.

Obrolan itu terhenti saat terdengar adzan ashar. Keduanya bergegas ke mushola sekolahan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah.

"Udah jam segini kok nggak muncul-muncul ya," Kel uh niken entah untuk ke berapa kalinya.

"Sabar buk, kayak nggak hafal mas Joko, kecamatan kota terakhir" Ingat Nazwa dangan nada bercanda. Kemudian tangannya menyambar segelas es teh manis yang tadi dibelinya didepan sekolahan.

Mendengar jawaban temannya membuat bibir Niken reflek mengeluarkan keluhan panjang, kemudian ba dannya tum bang tergel etak dilantai berubin putih dikelasnya.

Pukul lima kurang sepuluh menit barulah terdengar suara mobil bok tua memasukki halaman sekolah.

"Itu dia. " Ucap dia wanita itu bersamaan. Mereka bergegeas membenarkan hijab yang sudah sedikit berantakan dan menyambar buku berisi rincian pembayaran beserta ua ngnya.

Tepat saat mereka berbalik akan keluar kelas Bu Ais datang yang mengintruksi untuk bergegas. Tidak lama muncul seorang yang membawa setumpuk buku di belakang bu Ais, tumpukkan buku yang tinggi membuat mereka tidak bisa melihat wajah la ki-la ki itu.

Hingga kemudian dia meletakkan buku dimeja paling depan dan paling ujung barulah terlihat seorang pemu da tampan beriria coklat tu a yang dibingkai diwajah putih bersih dan terlihat terawat.

Menatap Wajah dan ma ta asing itu membuat Nazwa tiba-tiba gemetaran karena ketakutan lalu pingsan seketika.

Judul : Perawan Tua Ekslusif
Penulis ; Dwi Okta

Baca selengkapnya disini:

Aku mem b e n c i suamiku, pilihan ibuku. Segala cara kulakukan untuk meman cing e m o s i nya, bahkan di am-di am menja...
26/12/2025

Aku mem b e n c i suamiku, pilihan ibuku. Segala cara kulakukan untuk meman cing e m o s i nya, bahkan di am-di am menjalin kasih dengan cinta pertamaku. Aku pikir suamiku mur ka. Ternyata suamiku ... (6)

🌷6🌷

"Abang mau ngapain?" tanyaku cepat, dengan nada sedikit ke tus, cengkeramanku di pergelangan tangannya pun semakin kuat dan erat, mungkin kuku panjangku ini juga sudah m e n u s u k kulit tebalnya.

Bang Ali menoleh lembut, senyumnya tipis. Tangannya terulur menge lus punggung tanganku, hangat sekali.
"Kenapa, S a y a n g?" suaranya rendah, lirih, begitu menenangkan. "Cuma sebentar, Adek tunggu di mobil, ya."

Seketika aku terdiam. Speechless. Bukan karena suara Bang Ali yang lembut penuh kasih, tapi kata-kata yang keluar dari m u l u t nya, 'Sa yang', 'Adek'. Terasa aneh di indera pendengaranku. Apa aku tak salah dengar?

Jan tungku berdegup kencang, antara malu, senang, dan bingung jadi kesatuan utuh.
Tapi ego ini juga nomor satu. Sok tak acuh.
"Abang mau ngapain, sih! Ke sini?" nada suaraku naik, agak ke tus. Em o s i yang kuta han akhirnya mel e d a k juga.

Bang Ali menatapku sabar. "Mau be li in Mak obat, Dek. Tadi Mak sempet mengeluh pusing. Abang sekalian beliin vitamin juga, biar ada persediaan obat untuk beberapa hari ke depan. Kasihan Mak tinggal sendirian di ru mah."

Aku tercekat.
Oh Tuhan … Mak sa kit? Kenapa Mak nggak cerita apa-apa ke aku, a n a k nya sendiri. Kenapa harus Bang Ali yang tahu duluan? Sebel! Baru sehari jadi suamiku, tapi sudah cu ri perhatian Mak.

Aku menunduk, wa jahku terasa panas. "I-ya, Bang … maaf." suaraku kecil, menyesal.

Bang Ali tersenyum lembut, menge lus tanganku sekali lagi. "Sebentar aja, ya. Abang nggak lama."
Aku mengangguk pelan. Senyum ramahnya membuat hatiku makin campur aduk. Ia lalu turun dari mobil, berjalan mantap menuju Fikri Mart yang terlihat ramai pengunjung.

Saat termenung di mobil, tak sengaja m a ta ini menangkap sosok wanita paruh baya di depan parkiran Fikri Mart. Terlihat wa jahnya cantik terawat, riasannya menor, gamis mahal melekat di tubuhnya, sungguh anggun, pergelangan tangannya dipenuhi per h i a s a n . Penampilan me wah Bu Ratih bikin siapa saja yang melihatnya pasti geleng-geleng.

Aku menghela napas, menata hati lalu mendekatinya.
"Assalamualaikum," sapaku lembut sambil meraih punggung tangannya, lalu menciumnya dengan penuh hormat.

"Waalaikumsalam, Fatimah," balasnya dengan suara yang terdengar dibuat-buat manja. Ah, Bu Ratih. Mantan calon mertua yang dulu hampir jadi calon ibu mertuaku.

"Aku dengar kamu menikah, ya. Selamat ya, Fatimah. Semoga ru mah tanggamu langgeng dan bahagia," ucap Bu Ratih sinis sambil mem i ci ngkan mata, bi b ir, dan kepala yang bergoyang ke kanan ke kiri seolah doa itu tidak ikhlas diberikan kepadaku.

"Makasih, Bu," jawabku sambil men a h an getir.

Lalu, kalimat berikutnya membuatku tercekat.
"Maaf ya, Fatimah. Lamaran Mak Lela buat Fikri dulu kami to lak. Ibu tahu kalian saling s**a, tapi Ibu, kan, cuma minta hak kami."

Aku mengerutkan kening. "Hak, Bu? Maksudnya apa, ya?"

Bu Ratih mengangkat dagu. "Kamu, kan, tahu adat desa Pati ini. Pihak perempuan yang melamar, sekaligus memberi ma har ke pihak laki-laki."

Aku menelan ludah. "I-iya, Bu. Saya tahu."

"Nah, berarti nggak salah kan kalau kami sekeluarga memin ta sepuluh j u ta buat ma har Fikri—a n ak sema ta wayang kami."

Deg!

Aku hampir pingsan mendengarnya. "Se-sepuluh … ju ta?" Aku mengulangi ucapan Bu Ratih.

"Iya, sepuluh ju ta. Kenapa? Keluarga kami memilih nominal paling rendah, loh, Fatimah. Mak Lela nggak bilang? Atau nominal segitu terlalu besar buat keluargamu?"

Aku tercekat. Besar? Itu bukan besar lagi, bagi kami itu luar biasa! Angka yang fantastik untuk Mak yang bekerja cuma sebagai buruh tani, itu mustahil. Bahkan bi a y a sekolahku saja ditopang beasiswa.

"Maaf, Bu. Mak nggak pernah bilang apa-apa." suaraku mulai bergetar.

Bu Ratih tersenyum si nis. "Pantas kamu cepat move on dari Fikri. Mungkin suamimu itu cukup dib a y ar dengan ma har lima ribu, ya? Maklum lah, katanya dia dari desa pelosok di Jawa Tengah. Ma har segitu sudah mewah buatnya. Aku jadi penasaran wa jah suamimu, jangan-jangan kusut, kucel dan nggak seganteng a na k Ibu. Fikri itu idola kampung sini, Fatimah. Mak Lela pasti menyesal nolak. Seharusnya Mak Lela berpikir cuma sepuluh ju ta, apa artinya jika untuk kebahagiaan putri semata wayangnya."

Aku mena han napas, tenggorokanku kering. Lidahku kelu ingin membela diri ini, h a r g a di r i suamiku, bahkan ibuku. Akhirnya aku pilih diam, menunduk, demi menyamarkan ma ta yang mulai mengembun sempurna.

Tiba-tiba, suara berat yang sudah sangat kukenal terdengar dari belakang.
"Terima kasih ya, Bu. Karena keluarga ibu minta ma har fantastis itu, saya akhirnya bisa nikahin Fatimah—kembang desa yang cantik ini—dengan sangat mudah dan lancar."

Aku menoleh. Bang Ali berdiri tegap sambil membawa plastik belanjaan. Senyumnya tipis tapi mantap.

Bu Ratih melongo, wa jahnya memerah. Aku hanya bisa melirik sekilas, antara terharu dan semakin penasaran. Siapa sebenarnya Bang Ali, sampai Mak begitu yakin menjo dohkanku dengannya?

Bang Ali lalu menggenggam tanganku tanpa ragu. "Ayo, Sa yang. Kita balik. Aku sudah selesai belanja."

Aku terhuyung mengikuti langkahnya menuju mobil. Kata itu lagi—'Sa yang'. Membuat diriku membeku.

Jantungku berdebar nggak karuan. Dari ekor mata, aku bisa melihat Bu Ratih menatap kami dengan wa jah merah padam, terlihat jelas sekali jika beliau kesal. Tapi Bang Ali? Ia tenang, cool, cuek seolah nggak peduli renspon Bu Ratih.

Ia membukakan pintu mobil untukku, gesturnya sopan dan penuh wibawa. Aku masuk, duduk, dan tanpa sadar bi birku melengkung.

Ternyata begini rasanya … diratukan.

Mobil mulai melaju meninggalkan halaman parkir Fikri Mart. Aku bersandar di jok penumpang dengan d a d a yang masih se sak. Antara malu, heran, dan ... entah apa lagi, perasaan yang sulit aku uraikan ini. Tadi itu ... sikap Bang Ali barusan, benar-benar seperti tokoh pria utama dalam novel romansa, yang tahu betul kapan harus masuk adegan dan menyelamatkan marta bat istri di saat paling genting.

"Kenapa melongo begitu?" ucap Bang Ali, matanya fokus ke jalanan namun senyumnya terasa menyelinap dalam suara lembutnya. Menenangkan jiwa.

Aku hanya menggeleng pelan. Tidak sanggup menjawab dengan kata-kata, tak ut tangis yang kuta han ini pe cah.

"Maaf kalau Abang terlalu lancang, tapi tadi Abang enggak ta h a n lihat kamu diren dahkan begitu. Kamu itu istri Abang, kehor ma tan kamu sekarang juga tanggung jawab Abang."

Kalimat itu meno hok hatiku lebih dalam dari yang bisa aku du ga. Seumur hidup, belum pernah ada laki-laki yang berkata seperti itu kepadaku. Bahkan Mas Fikri dulu, statusnya sebagai kekasihku, yang katanya mencintai setengah ma ti, tak pernah menyuarakan pembelaan begitu terang dan tegas di hadapan keluarganya.

"Aku ... makasih, Bang," ucapku pelan sambil menunduk.

"Tapi, Bang," lanjutku, memberanikan diri bertanya, "apa Abang kenal sama Bu Ratih sebelumnya?"

Bang Ali tersenyum, lalu mengangguk singkat. “Kenal. Waktu kecil dulu, keluarga Abang sempat tinggal di desa ini selama dua tahun. Ibu Ratih itu merasa Mak Lela selalu jadi saingannya dalam hal apapun,” ungkap Bang Ali sambil terkekeh.

Aku melongo. Ternyata dunia ini memang seribet itu. Cuma perkara iri, takut tersaingi, berimbas ke cerita cintaku. Dasar emak-emak zaman purba, sudah tahu usia tak lagi muda, bukannya fokus memdekatkan diri pada Tuhan, malah ikut campur dengan kisah cinta a n ak remaja yang lagi bucin-buncinnya.

“Jadi … Abang tahu semua ini? Tentang h u b u nganku dengan Mas Fikri, tentang mah ar sepuluh j u ta, tentang semua yang terjadi?”

Bang Ali menghela napas, menepikan mobil ke pinggir jalan. Ia me m a t i kan mesin dan menoleh padaku, menatap dengan sorot yang dalam dan penuh selidik. Lalu mengangguk samar sambil memandang wajahku, kemudian melajukan mobilnya lagi.

Aku melongo. Cuma itu. Gitu aja. Tuhan ... Aku pikir dia me m a t i kan mobil untuk menjelaskan panjang kali lebar.

"Gitu aja."

Lagi-lagi Bang Ali mengangguk.

"Lalu untuk apa berhenti, pakai menepikan mobil segala."

"Untuk melihat wa jahmu, Dek."

"Haaah! Apa h u b u ngannya?"

Bang Ali menoleh, " memandangmu harus tenang biar nyetirnya aman."

"Enggak nyambung." Aku mengerucutkan bi bir.

"Cuma bercanda, tapi kayaknya enggak lucu." Seketika tawaku meledak, Bang Ali menatapku dalam sambil tersenyum.

"Maaf." Aku menu tup m u l ut ku.

"Gimana perasaanmu sudah enakan?" tanya Bang Ali. Aku mengangguk.

“Kenapa Mak selama ini hanya diam?” tanyaku lagi dengan suara lirih.

“Mak Lela lebih cerdas dari yang kamu kira. Beliau enggak diam, mungkin tak ingin menyakiti perasaanmu. Fikri mencintaimu namun Fikri tak bisa berbuat apa-apa di hadapan keluarganya. Beliau tahu kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari Fikri dan Abang …” Bang Ali terdiam, seperti ragu melanjutkan.

“Abang ...?” desakku. Penasaran.

"Enggak pa-pa."

"Kenapa tak dilanjutkan, Bang?"

“Abang dulu pernah dit o l o ng Mak Lela, waktu Bapak Abang kecelakaan dan enggak punya bi a y a ru mah sakit. Mak Lela rela ju al cin cin satu-satunya yang ia miliki itu. Abang janji dalam hati, kalau suatu hari nanti jika bisa b a l a s budi, Abang bakal lakukan apapun untuk Mak Lela.”

Deg.

Ternyata ini bukan hanya kisah cinta. Ini kisah u t a n g b u di. Tapi kenapa hatiku malah merasa … hangat?

“Jadi ... pernikahan ini ... cuma ba las budi?”

Baca selengkapnya di KBM App. Sudah TAMAT.
Judul : Bukan Jodoh Impian
Penulis : Rieda Ahmad

26/12/2025

Quote romantis

Aku pikir ua ng cukup untuk mengikatnya dan semua luka akan jadi milik gadis itu. Namun aku keliru. Pernikahan ini tak m...
26/12/2025

Aku pikir ua ng cukup untuk mengikatnya dan semua luka akan jadi milik gadis itu. Namun aku keliru. Pernikahan ini tak membuatnya hancur, justru membuka rahasia besar yang akhirnya menghan tam hidupku sendiri.

______

"Nalita! Bukain pintunya! Kamu tuh kerjanya mol or mulu, ya?!"

Ged oran ker as itu membuat kaca jendela kamarku bergetar. Aku terbangun dengan kepala berden yut hebat. Baru jam 07.13 pagi. Aku baru saja memejamkan mata pukul tiga tadi setelah begadang mengejar tenggat waktu. Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, aku men ye ret langkah membuka pintu depan.

Begitu pintu terbuka, dua wajah yang paling sanggup menaikkan tensi da rahku sudah berdiri di sana: Bibi dan Dhea. Tanpa permisi, Bibi nyel on ong masuk dengan blus kuning men yala dan bedak yang tidak merata, diikuti Dhea yang menatapku dengan senyum ej ekan.

"Cewek kok jam segini masih mol or? Harusnya sudah nyapu, masak!" semp rot Bibi sambil mengamati ruang tamuku yang berantakan.

Aku menarik napas panjang, mencoba tetap waras. "Tumben pagi-pagi ke sini, Bi. Ada apa?"

Bibi duduk dengan gaya seolah dia adalah hakim agung yang sedang melakukan si dak. "Ada urusan keluarga penting. Kamu harus bantu biaya nikahan Dhea."

Aku terte gun. "Hah?"

"Kamu satu-satunya keluarga dari pihak almarhum ibumu. Masa kamu tinggal diam sepupumu butuh bantuan?" lanjutnya tanpa rasa bersalah.

"Tapi Bi, bukannya biaya nikah itu tanggung jawab pihak laki-laki?" tanyaku pelan.

Dhea mend**gak dari ponselnya, menci bir. "Mas Davin itu penghasilannya biasa saja, Kak. Aku mau resepsi yang bagus d**g. Masa bunga desa kayak aku nikahannya cuma kayak syukuran khitanan?"

Bunga desa? Aku hampir tertawa mi ris. Kalau dia bunga, akan aku tanaman asal di pojok teras

"Terus, Bibi minta aku bantu berapa?" tanyaku akhirnya, berharap angkanya masih masuk akal.

"150 juta," jawab Bibi ringan. Tanpa ragu. Seolah dia hanya memintaku meminjamkan sebuah sendok makan.

"Seratus lima puluh juta?!" Aku sontak berdiri. "Bi, itu tidak masuk akal! Mana aku punya ua ng sebanyak itu?"

"Halah, jangan bo hong. Katanya kamu baru dapat honor be sar dari menulis novel." Bibi menatapku dengan tatapan me nyeli dik.

Aku terce kat. Aku hanya menceritakan soal honor itu pada satu orang. Mataku beralih pada Dhea yang tiba-tiba sibuk memperhatikan kukunya. Peng khia natan kecil ini mulai terasa nyata.

"Ua ng itu untuk masa depanku, Bi! Bukan untuk membiayai orang lain menikah!"

Wajah Bibi berubah sen git. Ia berdiri dan men yem buran ulti mat um yang membuat jantungku mence los. "Kalau kamu tidak mau bantu pakai ua ng itu, ada jalan lain! Menikahlah."

"Maksud Bibi?"

"Ada keluarga kaya yang mencari istri untuk anaknya yang lum puh. Kalau kamu mau, mereka akan kasih 200 juta. Ua ngnya bisa dipakai buat nikahan Dhea. Enak, kan? Kamu dapat suami kaya, Dhea dapat pelaminan mewah."

Duniaku serasa berhenti berputar. "Bi... maksud Bibi, aku diju al?"

"Jangan lebay! Daripada kamu nulis tidak jelas dan jadi per awan tua, mending nikah. Umurmu sudah 22 tahun!" Bibi melangkah keluar, diikuti Dhea yang melempar senyum kemenangan. "Dua hari. Kalau dalam dua hari kamu tidak kasih ua ngnya, Bibi anggap kamu setuju menikah dengan pria lum puh itu."

Pintu ditutup dengan ban tin gan ker as. Aku jatuh terduduk di sofa tua yang berderit. Tanganku dingin, kepalaku berden yut. Di depanku hanya ada dua pilihan, dan keduanya terasa seperti cara yang sama untuk bu nuh diri secara perlahan.

***
Selengkapnya di KBM app

Judul: Menjadi Pengantin Untuk Lelaki Berduka
Penulis: Syakila Nazma

Link novel

Aku menikahi wanita muda tanpa diketahui istri pertamaku, hal ini didukung oleh putra dan putriku. Namun, setelah istri ...
26/12/2025

Aku menikahi wanita muda tanpa diketahui istri pertamaku, hal ini didukung oleh putra dan putriku. Namun, setelah istri pertamaku keluar dari rumah, sebuah rahasia terb**gkar. Ternyata dia ....

Bab: Madu Untukku?

“Kenalkan, Ma. Dia ini Mama tiriku, istri kedua dari Ayah, dan ... madu untuk Mama.” Elang senyum miring menatap Bia, Mamanya. Bia masih bingung dengan sikap putr anya itu, tetapi memilih untuk tidak menanggapi. A nak nya itu memang s**a sekali bercanda.

“Ups!” Elang menutup mu lutnya. Bia pun merasa lega karena benar, pu tra sulungnya itu memang bercanda.

“Kalian sudah kenal, kok aku bilang kenalkan lagi, sih?” Elang memutari tu b uh Bia yang masih berdiri di depan pintu. Wanita paruh baya itu, belum mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah. Jantung Bia berdebar tak karuan, walau pun candaan, tidak pantas seorang pu tra berkata begitu kepada ibunya.

“Halo, Mbak.” Rena, wanita yang disebut mama tiri oleh Elang menyapa Bia.

“Halo, Nak Rena,” sapa Bia ramah.

“Ma, bukan Nak! Tetapi, adik madu.” Elang membenarkan ucapan mamanya.

“Apa, sih, Lang? Enggak lucu.” Bia mel empar senyum walau da d anya tiba-tiba terasa sesak. Firasatnya beberapa hari ini, mungkin saja benar. Pasalnya, sang suami mengatakan tidak pulang dua hari dan lelaki itu sulit dihubungi. Tidak biasanya Syahrul seperti itu.

“Ini serius, Ma. Bukan candaan!” Elang mengencangkan suaranya. Bia heran, karena Elang tak pernah bert eriak. Tutur katanya selalu lembut, seperti yang wanita itu ajarkan. Lalu, kenapa hari ini malah mem b entak?

Bia tersenyum, rasanya tidak percaya akan ucapan putr anya itu. Bagaimana bisa, put ra yang begitu sayang padanya akan melakukan hal ini? Membawakannya madu ke rumah? Oh, siapa yang percaya?

“Mama aneh, malah senyum. Di mana-mana, orang akan ma rah jika dikenalkan dengan madunya.” Elang menatap Bia heran.

“Lang, kamu kenapa, Nak? Mama ‘kan sudah kenal Rena sejak lama? Dia sering main ke sini bersama kamu. Kenapa harus dikenalkan lagi?” tatapan Bia masih seteduh biasanya. Elang mem be nci situasi ini. Hal itu tersirat dari tatapannya kepada Bia.

“Kenyataannya, dia bukan Rena yang dulu. Dia sekarang menjadi Mama Rena. Mama tiri aku, istri muda Ayah.” Elang menegaskan. Bia masih tersenyum berdiri di depan pintu rumah. Entah kenapa, dia tidak memiliki pikiran sama sekali akan peng khiana tan suaminya itu. Apa pun alasannya, rasanya tak mungkin. Keluarganya adalah keluarga yang harmonis.

“Lang, jangan bercanda, Sayang. Rena ini, lebih cocok jadi istrimu, Nak. Ayo, ajak calon menantu mama masuk.” Bia tersenyum senang menerima kedatangan anak sulungnya yang sudah enam bulan ini merantau.

Ini kali pertama dia pulang, sejak mendapatkan pekerjaan di kota sebelah. Apalagi, dia datang bersama gadis yang selama ini juga sudah dia kenal sebelumnya. Maka, dengan senang hati Bia mengajak Rena ma suk ke dalam rumah.

“Aku tidak bercanda, Ma. Ini kenyataan. Ayah yang memintaku membawanya ke rumah.” Rena melipat tangan di d ad a. Perdebatan Elang dan Bia merupakan drama seru baginya. Dia tersenyum penuh kemenangan di dalam hati.

“Lang?” Bia menggeleng. Tatapan Elang sangat pu a s melihat perubahan wajah Bia. Wanita paruh baya itu rasanya tidak percaya, tetapi dia pun tak menemukan kebo hongan di wajah putra pertamanya. Sesuatu terasa nyeri di ulu hati Bia, tetapi dia masih mencoba tersenyum menyikapi keadaan ini.

“Nak Rena, ayo, kita masuk dulu.”

Bia mempersilakan tamunya masuk, kemudian menggandeng lengan wanita yang disebut-sebut sebagai madunya itu ke dalam rumah. Biar bagaimana pun, Bia sangat sulit percaya ucapan Erlangga Permana, putra pertama Bianca Putri dengan Syahrul Ansyari, suaminya.

“Ayo, Sayang. Silakan duduk.” Bia menuntun wanita cantik dengan wajah oval itu duduk di sofa ruang tamu.

“Sebentar, ya .... Tante buatkan minum dulu.”

“Tidak usah repot-repot, Mbak. Aku bisa ambil sendiri.” Rena menjawab dengan menutup mul utnya seakan tersipu malu. Bia belum menyadari perubahan panggilan yang disematkan oleh Rena kepadanya.

Elang pun mengambil posisi duduk dengan tatapan pu a s. Dia sangat senang melihat perubahan wajah Bia walau pere mpuan itu menyembunyikan sebisa mungkin agar tidak ketahuan se onggok dagi ng di da danya terasa sakit. Biar bagaimana pun, ucapan putr anya tadi tetap mengganggu pikirannya.

“Yakin deh, setelah ini, Mama akan menyesal memperlakukannya dengan baik.” Batin Elang, tatapannya lekat ke arah Bianca, ibunya.

“Selamat datang di rumah, Ma.” Elang mempersilakan dengan menatap Rena penuh senyuman.

“Lang, jangan kete rlaluan, Nak. Bercanda itu, ada batasnya. Nak Rena ini masih g a dis, jangan selalu mengatakan bahwa dia ini Mama tiri kamu. Tidak baik begitu.” Bia menasihati putranya pelan-pelan, senyumannya terus mengembang. Dia berusaha setenang mungkin.

“Maafkan a n ak Tante, Rena. Jangan diambil hati, ya, Nak.” Senyum Bia diarahkan ke Rena, lalu mengu sap lutu tnya lembut. Posisi keduanya sedang duduk bersebelahan.

“Tidak apa-apa, Mbak. Elang benar, aku memang sudah menikah dengan Mas Syahrul beberapa hari yang lalu. Karena belum mendapatkan rumah yang cocok, dan kebetulan Elang juga pulang, Mas Syahrul menyuruh Elang yang menjemput aku tadi di stasiun.”

Bak disa mbar petir di siang bolong. Jan tung Bia tiba-tiba berdebar tak karuan. Tubu hnya gem etar hebat menerima kenyataan ini. Wanita paruh baya itu menatap Elang dan Rena bergantian. Tatapan Rena datar dan biasa saja, sedangkan tatapan Elang, tatapan pemba lasan de ndam atas sesuatu. Tanpa disadari, netra Bia mulai berkabut.

“Masih belum percaya? Apa perlu buku nikahnya dikeluarkan juga?” Elang mema nasi Bia.

“Kalian bercanda, ‘kan? Mama enggak sedang ulang tahun, Lang. Jangan bercanda sama mama. Leluconnya tidak lucu.” Suara wanita itu mulai terbata karena hatinya sangat sa kit mendengar ucapan putranya.

Air mata sudah luruh membasahi wajah wanita yang masih terlihat cantik itu. Bia memang tidak menggunakan skincare, tetapi dia rajin perawatan untuk wa jah dan tub uhnya menggunakan rempah-rempah resep wari san dari keluarga turun-temurun.

“Sayangnya, kami tidak sedang bercanda, Mbak.”

Rena yang menjawab, dan panggilan wanita cantik itu telah berubah. Bia baru saja menyadarinya, ternyata sejak tadi Rena memanggil dirinya dengan sebutan mbak. Syahrul pun, disebut wani ta itu dengan panggilan mas.

“Lang, kenapa?” Bia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangannya ikut basah bersama dengan wajahnya yang terus dibasahi oleh air mata.

“Kenapa? Mama masih bertanya kenapa?” Elang bersandar ke sofa, merent angkan kedua tangannya, lalu menatap Bia penuh eje kan. Wanita yang mel ahirkan Elang itu menurunkan kedua tangannya. Menatap putranya masih dengan cinta, kasih dan sayang. Tatapan ini yang sangat di b enci oleh Elang.

“Lang, kenapa harus kamu, Nak? Orang lain akan sangat melindungi mamanya ketika ada wanita yang mengganggu rumah tangga orang tuanya. Sedangkan kamu ...?” Bia menggeleng tak sanggup melanjutkan ucapannya. Air mata terus saja mengalir membasahi wajahnya. Dia berusaha mengu sapnya dengan punggung tangan. Air mata itu menghalangi pandangannya.

“Hahaha ... Mama, Mama. Ini belum seberapa, tunggu saja hal yang lebih berat dari ini. Masih ada kejutan lainnya.” Si nis Elang menatap Bia penuh keb en cian.

“Apa maksudmu, Elang?” Bia menatap putranya tak percaya.

Bersambung.
Rahasia di Balik Pernikahan Kedua - Nezbrebie

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:

Address

Purworejo

Telephone

+6281578051081

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dwi Lestari Zulkarnain posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Dwi Lestari Zulkarnain:

Share