19/05/2026
Di ujung pematang sawah belakang rumah Mbah Suro, berdiri sebatang pohon pisang kepok yang tak pernah ditebang.
Batangnya lebih besar dari pohon pisang biasa. Daunnya selalu tampak hijau gelap, mengkilat meski musim kemarau panjang. Tidak ada yang berani memetik buahnya. Tandan pisang yang muncul selalu ganjil, jumlahnya tak pernah genap, dan akan menghitam sebelum sempat menguning.
Setiap malam Jumat Kliwon, bau melati menyeruak dari rumpunnya. Bukan dari bunga, melainkan dari pelepah yang meneteskan embun kental. Tanah di bawahnya tak pernah kering. Selalu basah dan berlumpur, padahal sawah di sekitarnya retak kehausan.
Konon, puluhan tahun lalu seorang perempuan menanam bonggol pisang itu sambil menangis. Sejak saat itu, ia tak pernah terlihat lagi. Hanya selendang merahnya yang ditemukan tersangkut di pelepah paling atas, dan tak pernah luruh meski hujan dan angin silih berganti.
Anak-anak dilarang bermain layangan di dekatnya. Katanya, benang akan tersangkut tanpa sebab, lalu layangan ditarik pelan-pelan ke arah daun pisang, menghilang di antara pelepahnya. Esoknya, rangka layangan akan tergeletak di pematang, basah dan anyir.
Suara gamelan kadang terdengar dari arah pohon itu lewat tengah malam. Bukan dari desa, bukan dari radio. Hanya tabuhan lirih, seperti dipukul di dalam batang pisang yang berongga. Semakin didekati, semakin jauh suaranya.
Pohon itu tidak pernah beranak. Tidak ada tunas baru di sekitarnya. Hanya satu batang, berdiri sendiri, semakin tinggi dan membungkuk ke arah jalan setapak. Pelepahnya sering melambai meski tidak ada angin.
Orang-orang yang melintas malam hari bersumpah melihat perempuan duduk di bawahnya, membelakangi jalan, menyisir rambut panjang sambil menunduk. Jika disapa, ia tak menoleh. Jika dilewati, bulu kuduk meremang dan terdengar suara seperti orang mengunyah pisang mentah.
Hingga kini, pohon pisang itu masih ada. Tidak ditebang, tidak ditumbangkan. Hanya dibiarkan, menjadi penanda batas desa dan cerita yang tak perlu diucapkan.