Majalah Basis

Majalah Basis Majalah kebudayaan dan filsafat yang terbit dua bulanan. Terbit sejak tahun 1951. Menembus Fakta.

Pada awal kelahirannya, tahun 1954, BASIS diasuh oleh dua pemikir besar Indonesia, prof. Dr. Driyarkara, SJ dan Prof. Dr. Piet Zoetmulder, SJ. Pada periode selanjutnya, BASIS berkembang di bawah pimpinan sejarawan G. Vriens, SJ. Kemudian, selama 20 tahun, budayawan Dick Hartoko, SJ menjadi redaktur BASIS. Sejak 1994, BASIS terbit dua bulanan dengan format baru, diasuh oleh filsuf sekaligus sastrawan dan wartawan, Dr. G. P. Sindhunata, SJ. PEMIMPIN REDAKSI: Dr. A. Setyo Wibowo, SJ WAKIL PEMIMPIN REDAKSI: Prof. Dr. A. Sudiarja, SJ REDAKTUR PELAKSANA: Dr. A. Bagus Laksana, SJ WAKIL REDAKTUR PELAKSANA: Francisca Purnawijayanti REDAKSI: Dr. B. Hari Juliawan, SJ Dr. Heru Prakosa, SJ C. Bayu Risanto, SJ B. Rahmanto REDAKTUR ARTISTIK: Hari Budiono, Francisca Purnawijayanti

Majalah Basis's cover photo
26/04/2020

Majalah Basis's cover photo

Majalah Basis
26/04/2020

Majalah Basis

Majalah Basis
26/04/2020

Majalah Basis

Segera terbit! Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-69, 2020. Membahas Pandemi Covid-19 dari berbagai sudut pandang ilmu secara mendalam.

Harga Rp25.000. Terbit sangat terbatas. Bila masih ada permintaan akan disediakan POD dengan harga menyesuaikan.

Pesan dari sekarang via 081225225423

Segera terbit! Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-69, 2020. Membahas Pandemi Covid-19 dari berbagai sudut pandang ilmu se...
26/04/2020

Segera terbit! Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-69, 2020. Membahas Pandemi Covid-19 dari berbagai sudut pandang ilmu secara mendalam.

Harga Rp25.000. Terbit sangat terbatas. Bila masih ada permintaan akan disediakan POD dengan harga menyesuaikan.

Pesan dari sekarang via 081225225423

Majalah Basis
04/03/2020

Majalah Basis

04/03/2020
Pengisahan kisah pedih aneka wabah oleh Kabut
21/02/2020

Pengisahan kisah pedih aneka wabah oleh Kabut

Majalah Basis's cover photo
20/02/2020

Majalah Basis's cover photo

Majalah Basis
20/02/2020

Majalah Basis

Politik ... hoaks ... politik ... hoaks ... Kayak neverending gitu ya ... Bersama Haryatmoko, mari kita telusuri "kisah ...
14/02/2020

Politik ... hoaks ... politik ... hoaks ... Kayak neverending gitu ya ... Bersama Haryatmoko, mari kita telusuri "kisah keduanya" dan "cara kerjanya" dalam Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-68, 2019.

12/02/2020
Siapakah Aidit dalam dunia sastra dan seni Indonesia? Apa perannya? Bagaimana pengaruhnya? Bandung Mawardi menguraikanny...
11/02/2020

Siapakah Aidit dalam dunia sastra dan seni Indonesia? Apa perannya? Bagaimana pengaruhnya? Bandung Mawardi menguraikannya dalam Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-68, 2019.
.
Dapatkan dengan memesan via WA 081225225423 .

https://www.tokopedia.com/tokopringgo/majalah-basis-05-06-2019 .

#majalahbasis #majalahbasis2019 #majalahkebudayaan #sastraindonesia #aidit

"Berbeda dengan analisis Marxis yang menganggap agama melulu sebagai sebuah kesadaran palsu dan alienasi, agama ternyata...
07/02/2020

"Berbeda dengan analisis Marxis yang menganggap agama melulu sebagai sebuah kesadaran palsu dan alienasi, agama ternyata adalah sebuah gejala yang kompleks sekali. Di dalamnya ada kekayaan, ambiguitas, dan ketegangan," A. Bagus Laksana , “Sesudah 200 Tahun Karl Marx:
Bersatu Melawan Kaisar”,
Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-68, 2019.

Sindhunata menguraikan perjalanan irasionalitas, sebagai buah Aufklarung, menuju irasionalitas, dari optimisme menuju pe...
05/02/2020

Sindhunata menguraikan perjalanan irasionalitas, sebagai buah Aufklarung, menuju irasionalitas, dari optimisme menuju pesimisme dalam Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-69, 2019.

Sama dengan panggung pertunjukkan, sebuah buku pun lahir dari dinamika belakang layar yang riuh rendah, mulai dari pergu...
03/02/2020

Sama dengan panggung pertunjukkan, sebuah buku pun lahir dari dinamika belakang layar yang riuh rendah, mulai dari pergulatan editor, peta pasar buku, termasuk di dalamnya adalah birokrasi beserta para birokrat perbukuan. Ditulis oleh editor senior, Mirna Yulistianti, yang telah puluhan tahun membidani lahirnya banyak buku sastra penting Indonesia, tulisan ini mengajak kita sejenak menikmati kisah di balik kisah-kisah yang selama ini telah kita baca. Kisahnya tak kalah seru ternyata. Selamat menikmatinya dalam Majalah Basis No. 01-02, Tahun ke-69, 2020.

Majalah Basis's cover photo
29/01/2020

Majalah Basis's cover photo

Majalah Basis
29/01/2020

Majalah Basis

Lebih dari jumlah karyanya yang begitu banyak, yang telah telah menemani hari-hari kita dalam hujan dan panas, dalam sed...
29/01/2020

Lebih dari jumlah karyanya yang begitu banyak, yang telah telah menemani hari-hari kita dalam hujan dan panas, dalam sedih dan bahagia, dalam jatuh cinta dan patah hati, Sapardi mewariskan sesuatu yang begitu penting. Sebagai buah tangannya sendiri, seolah dengan penuh nikmat Sapardi menuliskan perjalanannya sebagai penulis yang jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi sebagai bagian dari legacy-nya agar kita pun bisa menikmati jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi yang mesti jadi milik kita sendiri.

Buah tangan Sapardi Djoko Damono tentang kisahnya sendiri ini dapat Anda nikmati dalam Majalah Basis No. 01-02, Tahun ke-69, 2020.

https://www.tokopedia.com/tokopringgo/majalah-basis-no-01-02-2020

Mengurai sengkarut agraria di Flores: Emilianus Yakob Sese Tolo, Majalah Basis No. 11-12, 2019.
10/11/2019

Mengurai sengkarut agraria di Flores: Emilianus Yakob Sese Tolo, Majalah Basis No. 11-12, 2019.

Barangkali watak manusia yang kekal adalah lupa, sebagai pasangan serasi dari kesukaannya mempertanyakan segala sesuatu....
09/11/2019

Barangkali watak manusia yang kekal adalah lupa, sebagai pasangan serasi dari kesukaannya mempertanyakan segala sesuatu. Dalam kisah Adam, konstruksi firdaus hanya dijadikan tempelan. Latar peristiwa yang berfungsi sebagai pewarna cerita. Kita alpa membincang surga sebagai sebuah tanah pijak. Aneka tumbuhan dan binatang yang hidup di dalamnya adalah muasal nama firdaus disematkan.
(Uun Nurcahyanti, “Imajinasi Pangan Surga”, Majalah Basis No. 11-12, 2019)

https://www.tokopedia.com/tokopringgo/majalah-basis-no-11-12-2019

. .... Tahun 2019 merupakan peringatan ke-28 atas meninggalnya Freddie Mercury. Sayangnya, stigma dan diskriminasi (sert...
09/11/2019

. .... Tahun 2019 merupakan peringatan ke-28 atas meninggalnya Freddie Mercury. Sayangnya, stigma dan diskriminasi (serta homophobia) pada orang dengan status HIV+ masih dapat kita jumpai di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun perlu diingat bahwa virus HIV tidak mendiskriminasi manusia. Anda dan saya, tanpa memandang jenis kelamin, orientasi seksual, suku bangsa, usia, apalagi agama, dapat tertular HIV. Virus ini menyerang kekebalan tubuh dan dapat diperparah dengan stigma dan diskriminasi karena mereka menyerang mental dan semangat hidup sang penyintas.... (Andrian Liem, "Stigma HIV: Apakah Ini Kehidupan Nyata? Atau Fantasi?, Majalah Basis No. 11-12, 2019)

https://www.majalahbasis.com/post/stigma-hiv-apakah-ini-kehidupan-nyata-atau-hanya-fantasi

Majalah Basis's cover photo
08/11/2019

Majalah Basis's cover photo

Majalah Basis
08/11/2019

Majalah Basis

Coming soon .... Basis No. 11-12, 2019 ...
05/11/2019

Coming soon .... Basis No. 11-12, 2019 ...

Maslihar di #pasarela
30/09/2019

Maslihar di #pasarela

@majalahbasis x @periplusid, .31 Agustus 2019 .@stf.driyarkara .pukul 08.00-17.00 wib#majalahbasisxperiplus#majalahbasis
22/08/2019

@majalahbasis x @periplusid, .

31 Agustus 2019 .
@stf.driyarkara .
pukul 08.00-17.00 wib

#majalahbasisxperiplus
#majalahbasis

Address

Jalan Pringgokusuman No.35
Yogyakarta City
55272

Opening Hours

Monday 09:00 - 15:30
Tuesday 08:00 - 15:30
Wednesday 08:00 - 15:30
Thursday 08:00 - 15:30
Friday 08:00 - 15:30
Saturday 08:00 - 12:00

Telephone

+6281225225423

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majalah Basis posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Majalah Basis:

Videos

Category

Nearby media companies


Other Magazines in Yogyakarta City

Show All

Comments

BUKAN SAMPUL MAJALAH * SANG SUKMANBRATA Di istana Indonesia yang hingar Beberapa hari kebun dan kolamnya senyap Meninggalkan lapar Bogor Jakarta Menuju Riau sedang galau meradang Dunia terkepung bara Tak ada lagi canda ketika berkata Blingsatan para pejabat pen*sta akal sehat "Entah kemana kalian waktu tiba Batari Kali?" Pohon tumbang menjadi abu, tanah mengering Flora fauna habis sudah dimakan api Antara kasih di sekeliling benci api melata di rongga tanah ibu Pertiwi "Lalu siapa menjaga merawat ini negeri?" Ketika sibuk mencuci tangan, dan sembunyi Pagi ke malam asap menyamarkan dengki dendam kuasa ini laksana banci amarah Sarpakenaka itu kobaran api Rama yang putih tetaplah putih Cinta Sita perkasa lulus uji Dunia Kekayi masihlah iri Melepas zona nyaman Masuk kota penuh penjahat Bibir palsu gigi bercabang meniupkan rajabara Hutan dibakar atau terbakar sama saja Bukan mainan gambar majalah "Basuh mukamu, mandilah kawan biar tenang" Kemarahan Dewa Agni menghancurkan hutan Bangsa siluman sudah memuja teramat dalam Lupa asal lahir tanah air ibu bapa "Bunuh ketakutan itu, hanyalah fana! Kemenangan tak sekedar teriakan. Bukan pula permainan sampul majalah." Pusss padamlah kau api Naga Taksaka ! Aku tak butuh muka yang kerap menipu rakyat ditutup asap di rimba api menyala seraut wajah ## Kabuyutan Rajamandala KBB, 2019Sept.17
SANG SUKMANBRATA : SASTRA BEROMBAK 1 Sastra lahir dari pohon hidup Akarnya cinta, lingkar kenangan, lumut rindu Batangnya kekuatan jiwa, tak peduli titik umur Hasrat dahan mengikat ranting kuat banting Bernyanyilah daun dipelukan ciuman musim Sastra menjelma apa saja Jadi manusia bijak sedikit tawa Orang-orangan sawah mainan anak kota Jadi samudera kesukaan kapal pesiar Erofa Bersajaklah di deburan ombak dari mulai riak Sastra lahir di tanah air manusia Indah dalam waktu yang digantang senyap Sekedar canda, rayuan tak kan punya rupa Alamat pun selamanya di layar bahtera Berceritalah selama dunia liar menolak benar Sastra pun sering lapar Jika kenyang penderitaan jadi sajian nikmat Tak ada terminal dosa tak ada stasion sesal Sastra meski dicinta biar selamanya dewa Bersyairlah sejak pagi sampai petang Sastra bukanlah tipuan atau pen*staan Ia adalah kejujuran Kemerdekaan dan ikatan lentur Sebaiknya duka kala iman hancur Sastra siap menghibur berpelukanlah biar dingin melebur tangan menghangat #Kabuyutan Rajamandala, 12 Muharam 1441
Tulisan Odi Shalahuddin : SAYA MENGENALNYA SEBAGAI AKTIVIS NGO UNTUK ANAK-ANAK, TERNYATA PENYAIR MUDA DI TAHUN 1980..... JANG SUKMANBRATA adalah nama penanya, dan nama aslinya itu SATYARIGA SUKMAN, yang lebih dikenal di dunia pergerakan NGO/LSM itu sebagai perintis aksi pendampingan anak berbasis kampung bersama kawan2 yg lebih tuanya di Yayasan Anak Merdeka (sebelum di legalkan namanya Kelompok Olah Seni Anak-Anak MeRdEkA, kakak-kakak pendirinya semua alumni ITB), itu sekitar tahun 1986-awal 1990. Satyariga Sukman bukan hanya menyandang sebagai pekerja sosial biasa melainkan juga sebagai inovator publik yang adaftip serta sangat kreatif menemukan dan mengolah metoda pendidikan alternatifnya lewat sarana senirupa, sastra, teater, problematik sosial lokal dan lingkungan hidup serta budaya - potensi lokal untuk anak-anak miskin; anak-anak urban slum. Sedangkan kiprahnya di pendidikan unt penanganan anak2 jalanan basis komunitas, anak gelandangan dan anak2 petani miskin ), dimulai di tahun 1990-an, dan itu awal saya baru mengetahui dan mengenalnya sebagai seorang aktivis yang bekerja untuk anak-anak jalanan di kota Bandung, yang pada masa itu belum ada satu pun individu, kelompok atau NGO/LSM yg bekerja dan peduli untuk memberdayakan anak2 jalanan lebih-lebih anak gelandangan kaburan; baru tahun 1994 muncul 2 LSM di Bandung di bidang advokasi-penanganan anak jalanan itu berkat dorongan-gugahan Bung Sukman ke beberapa ormas dan yayasan anak yang ada di kota Bandung. Ketika saya baru masuk dunia NGO dengan bekerja di SAMIN (Sekertariat Anak Merdeka Indonesia) yang berpusat di Yogya; saya bekerja sebagai staf Dokumentor Program LSM Penanganan Pekerja Anak, sehingga saya selama 1 tahun penuh itu banyak melakukan kunjungan ke LSM-LSM di tiap kota dan desa, dan diantara - nya ya Bung Sukman selaku Direktur Program Yayasan L'KRAPIN sekaligus Pendamping -Pendidik Anak Jalanan. Dan saya beberapa kali tidur di rumahnya dekat stasiun Kiara Condong kota Bandung, dan saya diajak keliling ke per - kampungan-perkampungan kumuh yang menjadi basis tempat tinggal anak jalanan. Bung Sukman, Bang Aries M.Sirait, Ahmad Taufan Damanik, Alm.Mohammad Farid, Seto Mulyadi dan individu2 dari NGO Anak bersama-sama mendirikan Komisi Nasional Hak Anak (KOMNAS HAN) yang didirikan di Jakarta. Ketika membongkar dokumen-arsip media cetak koran-koran di Yogya tahun 1980an, saya baru tahu ternyata Bung Satyariga Sukman itu pernah nyantrik di Sanggar Teater Alam (saya sempat kaget berjumpa di WAg Kadang Teater Alam tahun 2018). Kernanya saya terdorong membuka arsip koran BERNAS dan koran MASAKINI tahun 1980an diketemukan jejak-jejak Bung Sukman sebagai penyair muda yang karya puisinya khas, punya keunikan diksi tersendiri. Mas Sunardian Wirodono penjaga gawang kolom puisi RENAS koran BerNas tentu lebih tahu... Satyariga Sukman, nama di aktivitas kesenian dan penanya itu lebih dikenal dengan SUKMANBRATA kini berdomisili di Padalarang Kabupaten Bandung Barat. RINNO ARNA, bukan laki-laki, tapi seorang puan aktivis hak anak yang menyusul kemudian, Rinno tidak sedikit kontribusinya bagi gerakan hak anak di Indonesia. Melalui YPHA, aktif mempromosikan tentang hak anak termasuk mempengaruhi lahirnya kebijakan di tingkat nasional. Alm Mohammad Farid (aktivis Hak Anak-Pendiri Yayasan Samin bersama Mas Yayak Kencrit) pernah menyatakan bahwa Rinno orang yang dapat memahami hak anak dengan baik. Kedua Aktivis hak-hak anak di tahun 1990an ini sangat giat bergelut di dalam gerakan hak anak bersama aktivis hak-hak anak lainnya di belah - an provinsi Indonesia. Dan baru saya ketahui kedua aktivis hak anak ini pun pernah aktif menulis di koran-koran Yogyakarta, utamanya karya puisi. Saya tampilkan masing-masing dua puisi mereka, yang termuat di media Yogya awal 1980-an...... (cari dan clik di Odi Shalahuddin ll).*****
Salam rahayu, Saya mau bertanya: majalah Basis masih ada kolom untuk karya sajak? Bila ada, saya bisakah mengirim beberapa karya puisi? Dan sekaligus saya meminta email untuk pengiriman puisi. Ada pun saya ketika tinggal di Yogya tahun 1978-1981 dan kembali ke Bandung sampai tahun 2000 adalah pembaca Majalah Basis lewat membeli di toko Gramedia. Semua rubrik Basis saya tahu semua kala masih editorialnya Tanda-Tanda Zaman yang ditulis Pak Dick Hartoko yang sangat saya sukai seperti saya menyukai Catatan Pinggirnya Pak GM. Demikianlah. Mohon jawaban dari admin majalah Basis FB ini. Terima kasih. Salam hormat, Satyariga Sukmanbrata
Dunia lebih memilih Kemanusiaan dibanding harus memilih kediktatoran iman ***
SUATU KEMUNGKINAN Oleh Agus Safrudinnur Mungkin aku sesuatu yang jelek agar kau mendapat pembanding yang bagus Mungkin aku sesuatu yang buruk agar kau mendapat pembanding yang baik Mungkin aku sesuatu yang kotor agar kau mendapat pembanding yang bersih Mungkin aku sesuatu yang najis agar kau mendapat pembanding yang suci Mungkin aku sesuatu yang salah agar kau mendapat pembanding yang benar Jika tiada aku kau punya pembanding atau pembeda ***
KISAH 1001 MACAM (67) 1001 MACAM KISAH WAJAH KITA Oleh Agus Safrudinnur Di tubuh pelacur Wajah kita Begitu babak belur ***
POHON Oleh Agus Safrudinnur Konon sebuah pohon besar yang dimitoskan dan tidak pernah berbuah bahkan kini untuk berteduh pun terasa gerah apalagi untuk berlindung tak bisa menjadi betah akar akarnya dari para bedebah ***
MENGHALAU GETIR Oleh Agus Safrudinnur Sebab zaman sedang dikulum oleh kelam bergumul kehampaan Sajak kembali hadir hendak menghalau getir dari sandera takdir ***