Ngopidiyyah

Ngopidiyyah Belajar agama, sejarah, politik, gak bikin bosan ! di ngopidiyyah semuanya asyik dengan meme lucu.
(1)

02/01/2026

Pukul 09.00 pagi, Pesantren Walisongo di Poso menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga Muslim.

Organisasi Kelelawar Hitam, Kristen berpakaian serba hitam. Wajah-wajah mereka tertutup, bak ninja mengepung kawasan pesantren.

Lalu tiba-tiba ——BRAAAK!
Gerbang pesantren jebol.

“Allāhu akbar! Allāhu akbar!”
“Ya Allāh… tolong…!”

Mereka yang menerobos masuk sambil menebas siapapun, sementara dari kejauhan terdengar

dor!
dor! dor!

Peluru menghantam tembok,

Dor ! Dor ! kaca pecah

Dor dor dor !
kerumunan santri berjatuhan.

Anak-anak bersembunyi sambil menangis, suara meraung raung.

Sebagian santri maju dengan tangan kosong, namun sayang kekuataan masa Kristen sangat besar dan bersenjatakan lengkap.

Mereka berlarian menuju masjid sebagai tempat persembunyian terakhir. Pintu dibanting tertutup. Masjid yang sudah penuh disesaki orang itu bergema bersamaan:
“Allāhu akbar… Allāhu akbar… ya Allāh lindungi kami…”

Dan di Masjid itu… tragedi mencapai puncaknya keganasan.

Sebanyak 165 warga Muslim secara resmi dinyatakan wafat mayoritas santri smp dan sma. mayat mayat itu ditumpuk dimasjid.

sekali lagi ini korban satu masjid, belum ditempat lain (sumber Sahih: Wikipedia dll)

Di media, saat itu Gus Dur yang sedang menjabat menjadi Presiden, ketika ditanya “gimana pendapat bapak konflik agar cepat tuntas di Poso.”

“Itu dibesar-besarkan, Lah korbannya cuman 5”

( saya lupa konteks pernyataan ini untuk konflik poso atau ambon, namun keduanya sama sama umat Islam korbannya)

Beberapa tahun kemudian, Gus Dur lengser, SBY menjabat kasus ini dibuka kepengadilan.

Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu Don, ditangkap karena dicurigai mengatur pembantaian. Gus Dur membela dan memperjuangkan mereka, “kalau masih ragu jangan dieksekusi.” (sahih, dari NU online dan Antaranews)

Tekanan internasional terjadi kepemerintahan SBY, bahkan Paus sempat mengirim surat dua kali memohon agar tidak dieksekusi.

Dipengadilan terbukti, ketiganya dalang pembantaian Poso dan alhamdulillah mereka dijatuhi hukuman mati. (sumber : buku SBY dipersimpangan Jalan)

Namun meski begitu, banyak pelaku masih berkeliaran, Sebagian bahkan hidup tenang, seolah tak ada apa-apa.

Sebagian umat Islam, merasa “tak mengapa sudah” yang penting kita bisa berdamai.

Tapi bagi sebagian kalangan Muslim lainnya, ketidakpuasan hukum ini memunculkan sosok-sosok seperti Santoso, Ali Kalora, ( dikisahkan orang tua ali Kalora di eksekusi didepan dia ) dan lain-lain semakin membuat konflik ini semakin panjang.

Maunya pemerintah melarang narkoba,tapi pada saat yang sama membuka konser dan diskotik.Maunya mengampanyekan tidak hami...
31/12/2025

Maunya pemerintah melarang narkoba,
tapi pada saat yang sama membuka konser dan diskotik.

Maunya mengampanyekan tidak hamil di luar nikah,
tapi Jokowi membagikan kon-d_mb kepada siswa sekolah.

Maunya memberantas korupsi,
tapi tapi ada aturan hukuman mati.

Maunya menjaga moral generasi muda,
tapi konten syahwat, dibiarkan bebas di media sosial dan hiburan.



Akhirnya semua hanya menjadi:
wacana,
slogan,
program setengah hati,

Selama air tetap menetes dari atap,
melap lantai seribu kali pun tetap akan basah.

Begitu juga:
selama ikhtilat, pacaran, dan normalisasi zina dibiarkan, meski kampanye moral dibuat sebanyak apa pun,

masalah tidak selesai.

Karena sumber bocornya tidak ditutup yaitu tidak ditegakkannya hukum Islam.

Maka meski KUHP kita 2026 baru, tetap saja toh itu hukum sekuler, hukum warisan penjajah kolonial Belanda.

Suatu hukum disebut solusi jika tidak hanya menghukum akibat, tetapi juga menutup semua sebab yang membuat masalah itu muncul.

Sekarang yang terjadi:
narkoba dilarang
Aborsi dilarang
korupsi dilarang

tetapi penyebabnya tetap dibuka:
diskotik, miras, pesta
pacaran dan campur-baur dinormalisasi
budaya materialisme dan hidup mewah dipromosikan, tayangan barat dan korea diproduksi masal. Perayaan valentine dan tahun baru justru di fasilitalisi

Maka wajar masalah tidak selesai, karena akar masalah dibiarkan hidup.

Sementara hukum Islam berbeda.

Islam tidak hanya berkata “jangan lakukan”, tetapi:

menutup pintu menuju kemaksiatan (sadd az-zari’ah)

Pada kasus zina

Sistem sekarang: pacaran normal → zina terjadi → baru panik saat hamil.

Islam:
melarang khalwat
mengatur aurat
membatasi campur-baur
memudahkan nikah
menghukum zina jika tetap dilakukan

Jadi jalan menuju zina ditutup sebelum terjadi.

Pada kasus narkoba

Sistem sekarang: narkoba dilarang, tetapi diskotik & pesta tetap ada.

Islam:
melarang semua yang memabukkan
menutup ekosistemnya
menghukum keras pengedar

Jadi sebabnya diputus, bukan cuma akibatnya.

Pada kasus korupsi

Sistem sekarang: hukuman mencuri ayam lebih berat daripada korupsi

Masalahnya: pejabat hidup mewah dianggap wajar, uang menjadi ukuran harga diri, meskipun gaji dinaikan, toh pejabat tetap korupsi.

Solusi Islam:
membangun akidah: takut dosa & hisab
mendidik masyarakat untuk tidak matrealis
memberi hukuman mati bagi pelaku korupsi dengan cara di salib agar memalukan didepan umum agar pelaku akan berfikir ribuan kali sebelum melakukannya.

Kesimp**annya:

Hukum sekarang memadamkan asap sambil membiarkan api.

Hukum Islam memadamkan api dan menutup sumber bensin.

Hari ini mungkin bukan kita yang bermaksiat.
Tapi bila sistem ini dibiarkan, besok yang bermaksiat bisa jadi anak–anak kita.

Selama hukum sekuler tetap dipakai, pintu menuju maksiat tetap terbuka: Kita mungkin bisa menjaga diri hari ini, tetapi mereka anak-anak kita — tumbuh dalam lingkungan yang mendorong mereka jatuh.

Karena itu, perubahan tidak bisa ditunda.
Hukum sekuler tidak cukup menahan arus kerusakan.

Ini demi anak dan generasi kita kedepan…..

Banyak Muslim hanya mendengar bahwa Nabi Isa ‘alaihissalām (Yesus) adalah nabi mulia yang lahir tanpa ayah. Tetapi mungk...
31/12/2025

Banyak Muslim hanya mendengar bahwa Nabi Isa ‘alaihissalām (Yesus) adalah nabi mulia yang lahir tanpa ayah. Tetapi mungkin belum banyak yang tahu bahwa dalam sebagian tradisi Kristen, kisah kelahiran Yesus diceritakan dengan sangat dramatik.

Dalam cerita gereja, kelahiran Yesus bukan hanya kelahiran seorang nabi, tetapi dikisahkan membawa kegemparan politik. Raja yang berkuasa saat itu, yang disebut Herodes, merasa takut akan kehilangan kekuasaan karena mendengar berita bahwa “Seorang raja baru orang Yahudi telah lahir.”

Di sinilah muncul cerita yang terkenal itu:
Herodes disebut memerintahkan pembunuhan bayi-bayi laki-laki di Betlehem. Peristiwa ini dikenal sebagai:

Massacre of the Innocents
Atau “Pembantaian Anak-anak Tak Berdosa”

Bagi orang Kristen, kisah ini dipakai untuk menggambarkan bahwa sejak bayi, Yesus sudah dianggap berbahaya bagi penguasa zalim. Bagi Muslim yang awam, penting untuk tahu dulu bahwa:
a. kisah ini berasal dari Injil Matius
b. tidak ada dalam Al-Qur’an

Kemudian pertanyaan selanjutnya, apakah perstiwa sebesar ini benar dan pernah terjadi ?



jumlah bayi yang dikatakan terbunuh berbeda-beda tergantung tradisi gerejanya:
a. tradisi Gereja Bizantium: 14.000 bayi
b. tradisi Gereja Suriah: 64.000 bayi
c. tradisi Koptik Mesir: 144.000 bayi
d. beberapa kitab non-kanonik: sekitar 3.000 bayi

Perlu dicatat:

angka-angka ini bukan hasil sensus
bukan data pemerintah Romawi
bukan catatan sejarah resmi

Tetapi berasal dari:
doa-doa gereja
cerita orang suci
tradisi keagamaan yang berkembang belakangan

Semakin lama diceritakan, biasanya angkanya makin dibesarkan.



Apa kata sejarawan?

Ketika para sejarawan meneliti dengan metode ilmiah, hasilnya berbeda.

Banyak sejarawan modern mengatakan:

“kisah ini sulit dibuktikan secara sejarah”

Mengapa?
1. Cerita itu hanya ada di Injil Matius saja Injil lain, Lukas, Markus, Yohanes tidak menyebutnya
2. Tidak ada Catatan dokumen lain.
3. Betlehem dulu hanyalah desa kecil, bukan kota besar

Para sejarawan memperkirakan bahwa penduduk Betlehem pada masa Herodes hanya beberapa ratus orang saja, tidak sampai ribuan. Dengan jumlah sekecil itu, bayi laki-laki usia di bawah dua tahun pun otomatis tidak banyak.

Karena itu banyak sejarawan menilai bahwa kisah pembantaian bayi:

• lebih merupakan cerita keagamaan / teologis
• bukan laporan sejarah yang bersifat faktual seperti berita peristiwa

Mereka berargumen: kalau benar terjadi pembunuhan bayi secara besar-besaran, tentu peristiwanya akan sangat heboh pada zamannya. Misalnya dikisahkan sampai ratusan atau ribuan bayi dibunuh, sudah pasti:

• penulis sejarah Yahudi akan mencatatnya
• penulis sejarah Romawi akan menyebutnya
• itu akan menjadi peristiwa besar dalam sejarah Palestina kuno

Namun kenyataannya, tidak ada catatan sezaman yang menceritakan hal itu.

Padahal, hal-hal yang jauh lebih kecil saja dicatat para penulis sejarah, misalnya:

urusan pajak, konflik keluarga Herodes, munculnya bintang di langit, gosip politik di istana

Sebagai contoh, Flavius Josephus (sejarawan Yahudi abad pertama) menulis secara detail tentang karakter Herodes, proyek bangunannya, pajak, intrik istana, dan lain-lain. Kalau benar ada perintah membunuh banyak bayi, itu seharusnya menjadi peristiwa besar dan hampir pasti ia catat. Tetapi tidak ada.

——————

Ketika dikritik seperti ini dilontarkan, sebagian sejarawan Kristen memang agak “mentok”. Mereka tidak bisa menunjukkan bukti tambahan di luar Injil semisal catatan sejarawan sezaman atau apa.

Karena itu, jawaban mereka biasanya seperti ini:

kemungkinannya peristiwa itu memang ada,
tapi jumlah bayinya sekitar 12 orang atau lebih sedikit,
jadi kemungkinan luput dari sorotan sejarah.

Jadi kalangan Kristen:
-mereka tidak bisa membuktikan terjadi besar-besaran
-tidak mau juga mengatakan kisah itu tidak terjadi

akhirnya mengambil jalan tengah:
👉 pernah terjadi, tapi kecil sekali jumlahnya

Itu posisi kompromi sebagian sejarawan Kristen hari ini.

(Baca karya Michael Grant, A. H. M. Jones dll)


Cerita ini mirip dengan kisah Nabi Musa

Kalau kita bandingkan, polanya hampir sama:
ada penguasa zalim (Fir‘aun/Herodes) kemudian muncul kabar “juru selamat” oleh karena itu bayi-bayi diperintahkan dibunuh

sang juru selamat justru selamat

Dalam Al-Qur’an, memang ada kisah Fir‘aun membunuh bayi-bayi Bani Israil pada masa Nabi Musa ‘alaihissalām.

Karena kemiripan ini, banyak peneliti berpendapat jika penulis Injil ingin menggambarkan Yesus sebagai “Musa yang baru”

jadi pola ceritanya dibuat mirip

Kesimp**annya.

Kisah ini minim data sejarah, dan lebih cocok disebut jiplakan kisah Nabi Musa Alaihisalam.

Sebenarnya bukan jualannya dilarang hanya saja  jualan ditunda sebentar aja. Biasanya buka pagi, dimohon untuk buka nant...
26/12/2025

Sebenarnya bukan jualannya dilarang hanya saja jualan ditunda sebentar aja. Biasanya buka pagi, dimohon untuk buka nanti sore, sekitar jam dua, jam tiga:

Malah di bulan Ramadhan, banyak orang yang biasanya nggak dagang jadi dapat rezeki dengan ikut jualan makanan buka. Jadi tetap ada peluang rezeki juga. Bahkan ditiktok tiktok ada kan nonis chinese yang war takjil bahkan ikut dagang.

Yang bagus itu bukan saling nyalahin atau nuntut satu pihak doang buat toleransi. Dua-duanya sama-sama ngerti kondisi. Yang Muslim sementara nggak keluar dulu pas Nyepi, yang non-Muslim dan yang Ngaku Ngaku Islam juga bisa jaga sikap, misalnya nggak makan di tempat umum.

25/12/2025

kapan yesus lahir ?

Injil memberi dua keterangan waktu berbeda:

Injil Matius: Yesus lahir saat masa pemerintahan Herodes Agung

Injil Lukas: Yesus lahir saat adanya sensus Kirenius

Masalahnya kesaksian Josephus Flavius dalam Antiquities of the Jews (Yunani: Ἰουδαϊκὴ Ἀρχαιολογία) sebagai saksi mata, reporter, jurnalis, sumber primer, catatan sejarawan Yahudi abad pertama:

Herodes mati pada 4 SM,
sementara sensus Kirenius baru terjadi 10 tahun kemudian.

Jadi jika mengikuti:

Matius → Yesus lahir sebelum 4 SM

Lukas → Yesus lahir sekitar 6–7 M

→ selisih sekitar 10 tahun.

Jika kedua data ini dipakai:

tidak mungkin satu orang lahir sekaligus:

pada zaman Herodes (Matius)

pada zaman Kirenius (Lukas)

Artinya:

❌ tidak mungkin kedua Injil benar secara sekaligus.
artinya ada yang benar, ada yang salah.

maka jelas bahwa Injil tidak menunjukkan karakter kitab yang bebas dari kesalahan. Ini menunjukkan bahwa Injil yang ada sekarang bukan sepenuhnya firman Tuhan, tetapi teks manusia yang memuat unsur keimanan, teologi, bahkan kekeliruan sejarah.

24/12/2025

Pindah Agama Karena Menikah ?

Jangan samakan memilih agama seperti milih baju.

Baju yang tidak cocok masih bisa diganti.
Model bisa disesuaikan.
Ukuran bisa ditukar.

Kalaupun salah memilih baju, konsekuensinya “hanya” rasa malu, tidak percaya diri, atau komentar orang lain. Itu pun sementara, besok bisa berganti baru lagi.

Agama berbeda.

Beda agama, itu beda yang disembah.
Misalnya Islam, menyembah Tuhan yang satu, Maha Berkuasa, yang tak serupa Makluknya. Tidak mirip apapun.

Satunya menyembah batu, ada yang menyembah sapi, yang lain menuhankan manusia yang lemah.

Jadi ini bukan perbedaan kecil.
Ini perbedaan pada hal yang paling dasar: kepada siapa kita sujud, berdoa, dan berharap keselamatan.

Karena itu, memilih agama bukan keputusan ringan.
Kalau salah memilih agama, artinya:
salah menempatkan penghormatan
salah memberi penyembahan
salah menentukan kepada siapa hidup dan mati diserahkan

Salah memilih baju mungkin membuat kita tidak nyaman satu hari.
Tetapi Salah memilih agama.
Yang dipertaruhkan itu nasib kita selamanya, akhir kehidupan kita

Apakah di surga atau di neraka.

Maka tak layak agama dipilih hanya karena ikut-ikutan.
lingkungan, tren, pergaulan atau semata-mata karena cinta kepada seseorang.

Ingat…
Pasangan tidak pernah menjamin selamanya.
Cinta manusia bisa berubah.
Janji bisa patah.
Bahkan pernikahan pun bisa berakhir.

Tetapi agama akan tetap bersamamu
sampai napas terakhir—

Karena itu, jangan pertaruhkan agamamu demi siapa pun.
Jika ada yang benar-benar layak dipertahankan sekuat tenaga,
itu bukan hubungan dengan manusia,
melainkan keyakinan dengan Tuhan.

Hari ini, ketika Aceh dilanda banjir, gempa, atau bencana alam lainnya, yang pertama dimintai tolong adalah Jakarta. Itu...
22/12/2025

Hari ini, ketika Aceh dilanda banjir, gempa, atau bencana alam lainnya, yang pertama dimintai tolong adalah Jakarta. Itu wajar, karena Aceh kini adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun sejarah mencatat satu fakta penting: ketika Aceh dijajah, diancam, dan diperangi kekuatan asing non-Muslim, yang dimintai tolong bukan India, bukan ke Negeri Negeri Asia tapi Khilafah Turki Utsmani.

Sekali lagi, Ini bukan klaim ideologis, bukan p**a romantisme politik, melainkan fakta sejarah yang terdokumentasi dalam kronik Aceh, arsip Utsmani, dan catatan sejarawan modern.



Ancaman Portugis dan Kesadaran Dunia Islam

Sejak Portugis merebut Melaka pada 1511, kawasan Selat Melaka berubah menjadi medan perang antara Islam dan imperium Kristen Eropa. Portugis:
-Menyerang kapal dagang Muslim
-Mengganggu jamaah haji dari Asia Selatan dan Nusantara
-Menjadikan Melaka basis militer dan misionaris

Aceh Darussalam, sebagai kekuatan Islam terbesar di Sumatera, tidak memandang masalah ini sebagai konflik lokal, melainkan ancaman terhadap umat Islam secara global.

Karena itu, Aceh melakukan langkah yang pada zamannya sangat logis:
meminta bantuan kepada Khalifah kaum Muslimin, yaitu Sultan Turki Utsmani di Istanbul.

Dan Khalifah Sulayman al-Qanuni yang mengetahui itu, akhirnya mengirim surat ancaman kepada Raja Portugis di Lisbon, Dom Sebastião, dengan mengatakan,

"Telah dilaporkan kepada saya bahwa jamaah haji dan para pedagang Muslim yang datang dari India melalui laut telah dianiaya. Jika engkau masih membangkang, maka dengan pertolongan Allah yang Maha Agung, kami akan melakukan segala hal yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban di negeri-negeri itu, dan tiada guna lagi bagi engkau untuk
memprotesnya!" (Casale, 2010: 125).


Bukti 1: Utusan Resmi Aceh ke Istanbul (Abad ke-16)

Pada masa Sultan ‘Ala’uddin Ri‘ayat Syah al-Qahhar (w. 1571), Aceh mengirim utusan resmi ke Istanbul sekitar tahun 1566.

Peristiwa ini dicatat oleh Syaikh Nūruddīn ar-Rānīrī dalam Bustan as-Salathin:

“Ialah yang mengadakan segala istiadat kerajaan Aceh Darussalam dan menyuruh utusan kepada Sultan Rum, ke negeri Istanbul, kerana meneguhkan agama Islam. Maka dikirim Sultan Rum daripada jenis utus dan pandai yang tahu menuang bedil. Maka pada zaman itulah dituang orang meriam yang besar." (Iskandar, 1966: 31-32).

Ini Artinya:
- Turki Utsmani mengirim ahli militer
- Mengirim insinyur artileri
- Mengajarkan teknologi pengecoran meriam besar

Sejarawan modern mencatat bahwa sejak periode ini, daya tembak Aceh melonjak drastis, dan serangan Aceh terhadap Portugis menjadi jauh lebih serius dibanding sebelumnya.



Bukti 2: Bantuan Militer Nyata, Bukan Sekadar Doa

Catatan Eropa dan Utsmani menyebutkan bahwa Aceh menerima:
- Meriam besar bergaya Utsmani
- Senjata api
- Pelatihan militer
- Konsultan strategi perang laut

Bahkan armada Aceh pada akhir abad ke-16 sering disebut sebagai yang terkuat di Asia Tenggara, dan Portugis sendiri mengakui bahwa Aceh mendapat bantuan “Turks”.

Bukti 3: Pengakuan Resmi Aceh dalam Arsip Utsmani (Abad ke-19)

Memori hubungan ini tidak hilang. Pada abad ke-19, saat Aceh kembali terancam, kali ini oleh Kafir Kristen Belanda—Sultan Aceh ‘Ala’uddin Manshur Syah kembali menulis surat kepada Khalifah Utsmani. dan meminta kapal-kapal Turki untuk memerangi Belanda, selain itu beliau menyatakan sebuah ungkapan, yang ini t ini tersimpan dalam Başbakanlık Osmanlı Arşivi (BOA) dan berbunyi (lengkap):

وبعد تقبيل الأعتاب السامية التي هي ملجأ العفاة ومحل الكرم الذي ما خاب من اقتفاه فالمنهي إلى المسامع الكريمة والعواطف الرحيمة إننا معاشر سكان إقليم اشي بل وجميع سكان جزيرة سماطرا كلهم محسوبين من رعايا الدولة العلية العثمانية جيلا بعد جيل من مدة مولانا المرحوم السلطان سليم خان ابن المرحوم مولانا السلطان سليمان خان ابن المرحوم مولانا سلطان سليم أبي الفتوح خان عليهم من المولى الرحمة والرضوان وذلك مثبوتا في الدفاتر السلطانية

Setelah mengecup "Jenjang jenjang tangga yang tinggi" yang merupakan tempat perlindungan bagi para pencari kebaikan dan tempat kemurahan yang tidak akan kecewa orang yang mendatanginya, maka telah sampai kepada
"Pendengaran yang mulia dan Perasaan yang penuh kasih sayang" bahwa sesungguhnya kami seluruh penduduk Negeri ACEH, bahkan seluruh penduduk Pulau SUMATERA tergolong sebagai rakyatnya Negara Adidaya Utsmaniyyah, dari generasi ke generasi semenjak zaman Tuan kami al-Marhum Sultan Selim Khăn anak al-Marhum Tuan kami Sultān Süleyman Khăn anak al-Marhum Tuan kami Sultān Selim Abù al-Futüh Khān, semoga terlimpah rahmat dan ridha Allah atas mereka semuanya.

Dan itu telah tercantum dalam arsip kesultanan (BOA. I.HR, 73/3511).

Menurut Sultan Manshur Syah, bahwa seluruh penduduk Aceh atau bahkan seluruh penduduk p**au Sumatera "tergolong sebagai rakyatnya Negara Adidaya Utsmaniyyah dari generasi ke generasi" (kulluhum mahsubina min riayà al-Daulah al'Aliyyah al-Usmaniyyah jilan ba'da jil). dan menyebutkan bahwa hubungan antara Khilafah dengan Aceh sudah terjalin dari masa leluhur leluhur Sultan Manshur Syah.



Penutup: Jakarta Hari Ini, Istanbul Dulu

Hari ini Aceh meminta bantuan ke Jakarta karena Jakarta adalah pusat kekuasaan negara.
Dulu, Aceh meminta bantuan ke Istanbul karena Istanbul adalah pusat kekuasaan dunia Islam. Meskipun Aceh dan Sumatera mengakui diri sebagai rakyatnya Daulah Khilafah, namun secara resmi Khilafah Turki Ustmani menolak mereka menjadi bagian Khilafah atas berbagai pertimbangan seperti jauhnya jarak dengan pusat ibu kota.
ini jelas membuktikan bagaimana umat Islam di Nusantara punya hubungan sangat erat dengan pusat kekuasaan Islam.

bahkan berdasarkan pengakuan Buya Hamka, dulu masjid masjid disana senantiasa memuji dan mendoakan Khilafah di Turki untuk senantiasa berdiri dan kokoh.

tulisan ini disari rangkum dari mas Niko Pandawa
—————-

Ada loker kerja jaga stand dinsum lokasi Bogor, gaji 1,8, jika sudah dua bulan jadi 2 juta. Dibutuhkan yang istiqomah dan biisa kerja langsung sebelum tanggal 25 desember ini. untuk wanita difasilitasi tempat tinggal.

Terimakasih

20/12/2025

Apa yang Dirasakan di Usia 70 an ?

Di usia tua, dunia tidak lagi terasa panjang.
Tidak ada lagi bayangan masa depan yang luas.
Tidak ada lagi mimpi besar yang menunggu diwujudkan. Kata nanti sudah jarang mereka gunakan.

Yang ada hanyalah hari ini.
Dan besok—jika masih diberi waktu.

Orang-orang di usia itu tidak lagi menghitung tahun.
Mereka menghitung hari.
Satu hari terlewati, satu hari semakin dekat pada akhir.

Tubuh mulai melemah.
Langkah melambat.
Penglihatan kabur.
Tenaga yang dulu berlimpah kini cepat habis.

Kenangan masa muda yang dulu terasa panjang, Puluhan tahun hidup ternyata hanya cukup diceritakan dalam beberapa jam.
Lima jam. Enam jam.
Itu saja yang tersisa dari masa yang dulu disebut “panjang”.

Harta yang pernah dikejar tidak ikut menua bersama mereka.
Anak anak yang dulu dibanggakan kini tak bisa menemaninya dihari tua karena kesibukannya.
Kecantikan dan ketampanan yang pernah dipuji telah pudar.
Semua itu tetap tinggal di dunia—bukan ikut ke liang kubur.

Lalu muncul pertanyaan yang dulu tak pernah dipikirkan:

Untuk apa semua ini?
Apa yang benar-benar kubawa pergi?
Apakah amalku cukup?

Ditambah dia seringkali membayangkan betapa sakitnya sakaratul maut

Dia membayangkan nafas mulai tersendat—pendek, berat, terpotong-potong.

Dada terasa seperti ditekan dari dalam, seolah udara semakin sedikit, semakin jauh.
Mulut terbuka, ingin menghirup lebih dalam, tetapi paru-paru sudah tak mampu.

Bersamaan dengan itu, orang orang berusia dihantui ketakutan
bukan takut pada manusia,
bukan takut kehilangan dunia,
tetapi takut pada hari ketika harus berdiri di hadapan Allah. Dimana segala perbuatan mereka, dari masa muda hingga tua akan ditanya.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 57)

Di titik itu, manusia yang lalai, yang masa mudanya dihabiskan dengan senda gurau, hiburan, meninggalkan ibadah, menipu, berbohong, berzina,
Dan segala dosa tanpa memedulikan agama.

baru memahami satu hal:
hidup tidak pernah benar-benar panjang.
Yang panjang hanyalah kelalaian.

Dan penyesalan…
selalu datang terlambat.

18/12/2025

Kamu tak kan bisa Memuaskan Semua Orang

Seenak apa pun masakan yang kita buat,
tetap akan ada pelanggan yang berkata, “kurang asin”,
ada yang mengeluh “terlalu pedas”,
bahkan ada yang berkata, “bukan selera saya.”

Sejujur apa pun seseorang bersikap,
tetap ada yang menuduhnya pura-pura,
terlalu polos, atau justru terlalu keras.

Semurah apa pun harga barang ditetapkan,
ada yang bilang masih mahal,

Bahkan dalam hal yang paling pribadi:
ketika kita diam, ada yang menuduh tak peduli;
ketika kita bicara, ada yang menilai terlalu banyak suara.

Begitulah hidup.
Manusia berbeda kepentingan, selera, dan sudut pandang.
Maka mencari ridha semua orang
hanyalah jalan menuju kelelahan.

Benar kata Imam Asy-Syafi’i

‎إنك لاتقدر أن ترضي الناس كلهم، فأصلح ما بينك وبين الله، ولاتبال بالناس

‎Kamu tidak akan mampu membuat semua manusia senang, maka perbaikilah hubungan antara dirimu dengan Allah, dan jangan pedulikan apa kata manusia.”

Setiap kita berbuat baik dan menyenangkan Allah—dengan menunaikan shalat tepat waktu, bersikap jujur, bersedekah, atau menolong orang—Allah pasti membalas dengan cara-Nya.

Bisa berupa ketenangan hati, kelapangan rezeki, kemudahan urusan, perlindungan dari musibah, atau pahala yang akan kembali di akhirat.

Misalnya: seorang pedagang yang jujur dalam berdagang meski dikecam sebagian orang, Allah menjamin keberkahan rezekinya.
Seorang siswa yang belajar sungguh-sungguh demi ilmu yang bermanfaat, meski diejek teman, Allah memberi ilmu itu keberkahan dan kesuksesan.

Hukum-Nya jelas: yang menyenangkan Allah tidak akan sia-sia. Manusia boleh menilai, memuji, atau mencela, tetapi ridha Allah tetap pasti bagi yang tulus.

——————

Ngopidiyyah

18/12/2025

kalau pemerintahnya peduli dengan Islam.

kenapa mereka lebih memilih mengimport daging dari Australia, padahal jelas penyembelihannya tak sesuai syariat. lagi-lagi alasannya daging disana harga murah, didalam negeri mahal.

kenapa mereka membeli loyang mbg dari China yang jelas-jelas terbuat dari minyak babi, lagi lagi karena murah, food tray buatan lokal mahal.

perkara didemo gampang, sewa ulama untuk membela.

nanti ulama ulama itu akan buat fatwa,
misal, kita tau membunuh hewan buruan dengan panah dibolehkan dalam Islam tanpa harus disembelih,
ditariklah dan disamakan dengan proses Pistol besi (bolt).

terus gimana kan yang membunuhnya/ menyembelihnya bukan orang Islam ? dicari lagi pembenaran, bahwa non muslim Australia, Amerika, Belanda itu kristen itu ahli kitab sehingga sembelihannya halal.

sehingga halalah daging import...

kemudian soal loyang mbg yang prosesnya dari minyak babi. ulama ulama jahat itu akan bilang,

loyang asalnya kan suci, bukan najis, hanya dalam prosesnya diolesi minyak babi artinya itu benda Mutanajjis, karena mutanajis, masih bisa disucikan.

kalau masyarakat masih protes, "kan najisnya babi harus dibersihkan dengan air dan tanah ?

ulama ulama itu akan lihai, dicarilah dikitab kitab, ternyata ketemu boleh menganti tanah pakai sabun.
mbg kan prosedurnya pakai sabun.

sehingga piring mbg itu sudah suci karena tiap pemakaiannya secara prosedur disucikan dengan sabun

ya begitulah nasib negeri ini, ulama ulama hanya diperalat untuk membenarkan segala tindak tanduknya.

jadi masalahnya ada pada minset, selama murah mereka akan beli meski haram sekalipun.
mereka gak akan peduli mensupport karya anak bangsa lokal misalnya.

negara tau dari pada beli vaksin halal, food tray mbg yang suci, daging yang halal itu harganya tinggi. mereka pilih pilih murah, perkara untungnya lebih banyak sebagian untungnya bisa untuk sewa ahli agama untuk membela kan biayanya lebih murah.

gak usah jauh jauh, wong pemerintah kita saja masih import garam, dan beras, kan juancok iku.....

16/12/2025

Agama melarang memandang perempuan karena ujung pasti penyesalan. kok bisa ?

percayalah, Pandangan tidak pernah berhenti sebagai pandangan.
Ia akan berubah menjadi keinginan.
Dan keinginan, jika tidak memiliki jalan,
akan berubah menjadi luka di dalam.

Misalnya, kita scroll beranda facebook, atau Berjalan di mal, di tempat umum,
Ada perempuan cantik.

Awalnya cuma lihat.
Sekilas.
Biasa.

Tapi diulang.
Dan diulang.

Lalu muncul rasa s**a.

“Cantik juga ya.”
“Kok menarik.”
“Seandainya…”
“Kapan ya….”

Lalu kita sadar:
dia bukan milik kita.
Tak bisa dimiliki.
Tak halal untuk didekati.

Di situlah masalah dimulai.

Rasa kagum, ingin berkumpul dengan “tak mungkin”
itu menyiksa pelan-pelan.
Dan perih yang mendalam.

Semakin sering dipandang,
semakin kuat keinginan.
Dan semakin kuat keinginan,
semakin sakit saat sadar:
“Ini bukan milikku.”

Bukan sekali.
Tapi berkali-kali.

Dan rasa itu tidak selesai di tempat umum.
Ia ikut p**ang.

Dibawa ke rumah.
Ke dalam pikiran.
Ke dalam perasaan.

Dan bagi yang sudah beristri, dampaknya sadis….
munculah rasa membanding mbandingkan....

“Yang ini lebih menarik.”
“Yang ini lebih segar.”
“Yang ini lebih sesuai selera.”

Lalu tanpa sadar,
pikiran itu dibawa p**ang ke rumah.

Istri tidak lagi dipandang sebagai nikmat,
tetapi sebagai pembanding yang kalah.

Di sinilah syukur mulai runtuh.

Yang halal terasa biasa,
yang haram terasa istimewa.
Yang dekat terasa membosankan,
yang jauh terasa menggoda.

akhirnya
hati sulit bersyukur,
mudah mengeluh,
dan pelan-pelan mematikan cinta.

Karena itu agama menutup pintu ini sejak awal.
Bukan di zina,
tetapi sejak pandangan pertama.

Mengapa Rakyat Sumatera Pernah Memberontak?Hari ini kita mendengar kabar banjir besar di Sumatera.Hutan ditebang, sungai...
15/12/2025

Mengapa Rakyat Sumatera Pernah Memberontak?

Hari ini kita mendengar kabar banjir besar di Sumatera.
Hutan ditebang, sungai meluap, ratusan nyawa melayang.

Tidak ada tanggung jawab Negara yang jelas, tidak ada langkah tegas yang terasa.

begitulah nasib Sumatera, bedanya hari ini rakyat Sumatera sangat sabar menerima alamnya di ekspoitasi.

namun tidak dengan Sumatera yang dulu.

Ya.. PRRI Sumatera....Bagi sebagian orang, lahirnya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang pada tahun 1958 sering dianggap semata-mata sebagai pemberontakan daerah yang kecewa kepada Jakarta.

Penjelasan semacam ini sebenarnya terlalu sederhana dan menyesatkan.

Kenapa ?
PRRI tidak lahir dari satu sebab tunggal, apalagi hanya karena ambisi elite daerah. Ia lahir dari ketidakadilanyang dirasakan bertahun-tahun oleh masyarakat Sumatera terhadap pemerintah pusat.

(siapkan kopi dulu, tenang... baca pelan pelan ya soalnya materinya berat)

diantaranya alasan memberontak karena :

Republik yang Terlalu Jawa-sentris

Sumber kekecewaan paling mendasar adalah sentralisasi kekuasaan dan pembangunan yang berpusat di Jakarta dan Pulau Jawa. Setelah hampir sepuluh tahun Indonesia merdeka, masyarakat Sumatera—khususnya Sumatera Tengah—merasa tidak menikmati hasil kemerdekaan secara layak.

Tokoh nasional asal Sumatera, Mohammad Yamin, pernah menggambarkan kondisi yang sangat kontras:

"di Sumatera Tengah, jalan raya berlubang dan rusak berat, gelap sementara di Pulau Jawa jalan-jalan baik, terang."

akhirnya berdampak langsung pada mandeknya ekonomi rakyat. Hasil bumi sulit diangkut, biaya logistik mahal, dan perdagangan tidak berkembang.

Ironisnya, Sumatera justru merupakan tulang punggung ekonomi Republik.

BUKTINYA APA ?

Data yang dicatat oleh S. Takdir Alisjahbana (1956) menunjukkan fakta yang mencengangkan:

71% ekspor Indonesia berasal dari Sumatera

Sumatera Utara: 21%

Sumatera Tengah: 15%

Sumatera Selatan: 35%

Pulau Jawa hanya menyumbang 17% ekspor nasional

Namun dalam pembagian anggaran pembangunan, keadaannya terbalik:

Sumatera yang menghasilkan 71% devisa, hanya menikmati sekitar 17% dana pembangunan

Pulau Jawa yang hanya menyumbang 17% ekspor, justru menyerap hingga 75% anggaran pembangunan

Bagi masyarakat Sumatera, republik ini terasa seperti menghisap daerah penghasil untuk membiayai pusat. Sumatera bekerja keras, tetapi hasilnya dinikmati di tempat lain. Tidak berlebihan jika muncul perasaan bahwa Sumatera diperlakukan seperti sapi perah: diperah terus-menerus, tanpa diberi perawatan yang layak.

Coba bayangkan logika paling dasar.

Sebuah daerah:

punya karet, kopi, timah, minyak, hasil bumi menghasilkan lebih dari separuh devisa negara, rakyatnya bekerja di tanahnya sendiri

Lalu datang Republik dan berkata:

“Semua hasil ini harus disetor ke pusat. Nanti kami atur pembagiannya untuk seluruh republik.”

Secara teori, ini terdengar adil.
Tapi logika keadilan itu gugur ketika fakta di lapangan berkata sebaliknya.

Yang terjadi pada Sumatera waktu itu adalah:

Hasil alam diambil ke pusat
Daerah tidak diberi wewenang mengelola
Dana pembangunan kembali ke daerah sangat minim

Maka logika awam bertanya:

“Kalau kami menghasilkan 71%, kenapa jalan kami rusak?
Kenapa sekolah, pasar, dan pelabuhan kami tertinggal?”

Pertanyaan ini bukan ideologi, tapi akal sehat.

Kalau:

sapi diperah setiap hari tapi tidak diberi pakan yang cukup
tidak dirawat kandangnya dibiarkan rusak Maka sapi itu akan mati.

Begitulah perasaan Sumatera terhadap Republik:

diperas kekayaannya
tidak diberi timbal balik pembangunan
tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan

Republik terasa bukan sebagai rumah bersama, tapi tuan yang menagih setoran.

Lalu Orang Daerah Bertanya (dan Ini Rasional)

Pertanyaannya sangat logis:

“Kalau kekayaan ini kami kelola sendiri,
jalan bisa kami bangun,
sekolah bisa kami perbaiki,
rakyat bisa kami sejahterakan.

Lalu buat apa ikut Republik, mending buat negara sendiri, kita kelola sendiri.

Ini bukan pikiran separatis, tapi logika ekonomi-politik yang jujur.

Kesimp**an Sederhana

PRRI bukan sekadar “pemberontakan daerah”,
melainkan protes keras terhadap republik yang terasa Jawa-sentris.

Jika republik hanya berarti:

setor kekayaan → menunggu belas kasihan pusat

maka wajar jika daerah bertanya:

“Apa bedanya kami merdeka dengan kami dijajah?”

Pertanyaan itu yang melahirkan PRRI.

Selain ketimpangan anggaran dan eksploitasi ekonomi, kemarahan Sumatera juga dipicu oleh kedekatan politik Soekarno dengan PKI, sebuah kekuatan yang dipandang anti-agama. Bagi masyarakat Sumatera—terutama Minangkabau yang dikenal sebagai basis Islam dan Masyumi—hal ini terasa sebagai pengkhianatan agama.

Ketegangan itu berujung tragedi. Dalam operasi penumpasan PRRI, ribuan putra daerah Minang gugur di tangan tentara Republik. Peristiwa yang dikenang sebagai Tragedi Jam Gadang meninggalkan luka kolektif yang panjang. Ironisnya, Ahmad Yani, tokoh nasionalis Republik yang hari ini diperingati sebagai pahlawan, tercatat memimpin operasi berdarah-darah itu.

Qadarullah, tujuh tahun kemudian, Ahmad Yani justru tewas dibunuh PKI—kekuatan politik pusat yang sebelumnya dibela dan dirangkul negara.

Sejarah pun mencatat ironi itu: yang dibela, akhirnya menghabisi nyawanya sendiri.

terlepas dari alasan alasan itu semua. coba kita renungkan, hari ini Sumatera, Aceh tak hanya kebun karet saja yang diambil, tak hanya hutan saja yang dirampas, tapi ulah penebangan elite republik sudah memakan ribuan korban, ini nyawa putera daerah loh.....

masak kita hanya diam dan sabar....

minimal berdoa semoga Allah menjatuhkan mensungkurkan singgasana singgasana pemimpin dzalim

—————-

ikuti Ngopidiyyah untuk tulisan menarik lainnya.

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ngopidiyyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share