05/06/2026
Apakah kamu, atau teman kamu, kategori orang yang uangnya tidak banyak, masih sulit mencari tambahan pendapatan, tapi kalau untuk ngopi, rogohkan kocek Rp20ribuan hingga Rp30 ribuan setiap hari, masih slow-slow saja. Kok bisa begitu ya?
Ternyata ini tidak melulu persoalan hobi atau gaya-gayaan. Kamu mungkin terkena dampak Lipstick Effect
Lipstick Effect adalah fenomena psikologi ekonomi, dimana masyarakat cenderung menahan pembelian barang mewah berharga besar, namun tetap membeli barang-barang kecil yang terjangkau namun bernilai emosional atau estetis untuk menghibur diri di tengah ketidakpastian atau krisis ekonomi.
Belum bisa membeli mobil, tak bisa mengganti handphone terbaru, namun bisa membeli segelas kopi setiap hari karena merasa saat menyeruput kopi, kamu merasa ada sensasi, tenang dan makin konsentrasi untuk melakukan banyak hal.
Istilah Lipstick Effect dipopulerkan oleh Leonard Lauder (mantan pimpinan Estée Lauder) pada tahun 2008. la mencatat bahwa penjualan lipstik perusahaannya justru melonjak setelah peristiwa serangan teroris tahun 2001.
Pada masa resesi atau krisis ekonomi, seseorang mungkin tidak sanggup membeli baju desainer atau mobil mewah, tetapi mereka masih memiliki anggaran untuk membeli lipstik kelas atas sebagai bentuk self-reward atau pelipur lara. Gimana, kamu masuk dalam kategori ini?