Katalog Buku Ombak

Katalog Buku Ombak Segala info tentang buku-buku yang telah diterbitkan penerbit Ombak
(9)

Preorder
22/05/2020

Preorder

13/05/2020
Info buku baru
13/05/2020

Info buku baru

PAKET RAMADAN OMBAKKami menyiapkan beragam paket buku dengan DISKON ISTIMEWA + GRATIS ONGKIR seperti berikut.Kontak kami...
28/04/2020

PAKET RAMADAN OMBAK
Kami menyiapkan beragam paket buku dengan DISKON ISTIMEWA + GRATIS ONGKIR seperti berikut.
Kontak kami 082137666614 (wa)

Ramadan penuh berkahMulai hari ini, 28 April-15 Mei 2020, Ombak membebaskan biaya kirim [GRATIS ONGKIR] ke seluruh Indon...
28/04/2020

Ramadan penuh berkah
Mulai hari ini, 28 April-15 Mei 2020, Ombak membebaskan biaya kirim [GRATIS ONGKIR] ke seluruh Indonesia dengan pembelian minimal Rp 100.000. Juga kami menyiapkan berbagai paket dengan DISKON ISTIMEWA + GRATIS ONGKIR
kontak kami 082137666614 (wa)

info buku[seri pustaka klasik]pemesanan via wa 082137666614
15/04/2020

info buku
[seri pustaka klasik]

pemesanan via wa 082137666614

Pustaka Tionghoa
14/04/2020

Pustaka Tionghoa

Info buku baru
14/04/2020

Info buku baru

Info buku-buku baru Ombak
13/04/2020

Info buku-buku baru Ombak

Buku-buku baru (terbitan) Ombak
26/03/2020

Buku-buku baru (terbitan) Ombak

Info buku baruJudul: Nusantara Semasa RafflesPenulis: Annabel Teh Gallop, dkk.Tebal: 301 (indeks) hlmHarga: Rp 100.000Pe...
26/03/2020

Info buku baru

Judul: Nusantara Semasa Raffles
Penulis: Annabel Teh Gallop, dkk.
Tebal: 301 (indeks) hlm
Harga: Rp 100.000

Pemesanan via WA 082137666614

Peluncuran dan diskusi buku"Sejarah dan Budaya Maritim Indonesia" karya Abd. Rahman Hamid 11 Maret 2020, Menara Pinisi U...
05/03/2020

Peluncuran dan diskusi buku
"Sejarah dan Budaya Maritim Indonesia" karya Abd. Rahman Hamid
11 Maret 2020, Menara Pinisi UNM, Makassar

Resensi buku"Banjir di Kota Surabaya Paruh Kedua Abad ke-20" karya Sarkawi B Husain (Jawa Pos, 1 Maret 2020).
01/03/2020

Resensi buku
"Banjir di Kota Surabaya Paruh Kedua Abad ke-20" karya Sarkawi B Husain (Jawa Pos, 1 Maret 2020).

Dapatkan buku-buku perkuliahan di bidang:- Sejarah- Geografi- Geologi- Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia- PPKN & Hu...
25/02/2020

Dapatkan buku-buku perkuliahan di bidang:
- Sejarah
- Geografi
- Geologi
- Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia
- PPKN & Hukum
- PGSD
- Kependidikan
- Daras (perguruan tinggi agama Islam)

Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS/WA ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

21/02/2020
20/02/2020
Katalog Buku Ombak's cover photo
20/02/2020

Katalog Buku Ombak's cover photo

Terbit akhir Februari 2020Buku-buku Ombak ini akan terbit akhir Februari 2020.
20/02/2020

Terbit akhir Februari 2020

Buku-buku Ombak ini akan terbit akhir Februari 2020.

BUKU-BUKU SEJARAHSalam hormat,Berikut kami kirimkan poster buku-buku sejarah Penerbit Ombak Yogyakarta. Untuk informasi ...
13/02/2020

BUKU-BUKU SEJARAH
Salam hormat,
Berikut kami kirimkan poster buku-buku sejarah Penerbit Ombak Yogyakarta. Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS/WA ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

BUKU-BUKU DARAS (PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM)Salam hormat,Berikut kami kirimkan poster BUKU-BUKU DARAS (PERGURUAN TINGG...
13/02/2020

BUKU-BUKU DARAS (PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM)
Salam hormat,
Berikut kami kirimkan poster BUKU-BUKU DARAS (PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM) Penerbit Ombak Yogyakarta.
Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

BUKU-BUKU PENDIDIKAN (BAHASA) DAN SASTRA INDONESIASalam hormat,Berikut kami kirimkan poster buku-buku PENDIDIKAN (BAHASA...
13/02/2020

BUKU-BUKU PENDIDIKAN (BAHASA) DAN SASTRA INDONESIA
Salam hormat,
Berikut kami kirimkan poster buku-buku PENDIDIKAN (BAHASA) DAN SASTRA INDONESIA Penerbit Ombak Yogyakarta.
Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS/WA ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

BUKU-BUKU PPKN & HUKUMSalam hormat,Berikut kami kirimkan poster buku-buku PPKN & HUKUM Penerbit Ombak Yogyakarta.Untuk i...
13/02/2020

BUKU-BUKU PPKN & HUKUM
Salam hormat,
Berikut kami kirimkan poster buku-buku PPKN & HUKUM Penerbit Ombak Yogyakarta.
Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS/WA ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

BUKU-BUKU GEOLOGISalam hormat,Berikut kami kirimkan poster buku-buku geologi Penerbit Ombak Yogyakarta.Untuk informasi d...
13/02/2020

BUKU-BUKU GEOLOGI
Salam hormat,
Berikut kami kirimkan poster buku-buku geologi Penerbit Ombak Yogyakarta.
Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

BUKU-BUKU GEOGRAFI  Salam hormat,Berikut kami kirimkan poster buku-buku geografi Penerbit Ombak Yogyakarta.Untuk informa...
13/02/2020

BUKU-BUKU GEOGRAFI

Salam hormat,
Berikut kami kirimkan poster buku-buku geografi Penerbit Ombak Yogyakarta.
Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

Catatan dari Peluncuran buku "Membongkar yang Terkubur"Pada Jumat, 7 Februari 2020 lalu, bertempat di Aula Magister Komu...
09/02/2020

Catatan dari Peluncuran buku "Membongkar yang Terkubur"

Pada Jumat, 7 Februari 2020 lalu, bertempat di Aula Magister Komunikasi Undip, Semarang, dilaksanakan peluncuran novel "Membongkar yang Terkubur" karya Dewi Anggraeni.

Harjanto Halim, salah satu peserta dan sponsor acara ini membuat tulisannya mengenai Membongkar yang Terkubur serta situasi acara yang berlangsung hampir empat jam itu, seperti di bawah ini.
***
1695 MEMBONGKAR YANG TERKUBUR
Saya mengikuti acara peluncuran buku yang telah saya nantikan. Judulnya 'Membongkar Yang Terkubur'. Kisahnya tentang sejarah keluarga keturunan Tionghoa yang penuh intrik, keharuan, pengorbanan, kekerasan, serta 'hal tabu' lainnya.

Penulisnya seorang perempuan, mantan jurnalis yang kini tinggal di Australia. Saya pernah membaca salah satu novelnya yang berlatar belakang Targedi Mei' 98. Saya suka caranya bertutur, yang runtut, terbuka, dan 'subtle'. Kayak orangnya yang lemah lembut. Hehehe.

Acara peluncuran digawangi tiga pakar, seorang doktor sastra Belanda, seorang penulis dan sastrawan yang telah mendunia, seorang wartawan sekaligus sejarahwan. Semuanya setuju bahwa 'membongkar yang terkubur' sangat penting dan dibutuhkan untuk menyemai perdamaian, mengikis perbedaan, untuk saling belajar dan saling mengenal.

Ibu doktor mengungkapkan, melalui novel Belanda kuno, kita belajar - ternyata orang Belanda memiliki sikap 'benci tapi rindu' terhadap orang-orang Tionghoa. Mereka meerendahkan tapi membutuhkan orang Tionghoa. Mereka menyebut orang Tionghoa sebagai kelompok kafir 'pemakan anjing dan pemuja setan', tapi bermanfaat sebagai penarik pajak dan pedagang-antara hasil bumi yang berfaedah mengisi kas kolonial.

Hmm.

Sebuah novel sejarah bukan sekedar buku sejarah yang berisi deretan angka dan fakta yang dingin membosankan; bukan pula historigrafis yang kaku. Sebuah novel sejarah bersifat lentur, memberi ruang terbuka untuk bermain bagi penulisnya, untuk mengungkapkan apa yang selama ini terkubur, baik mau pun buruk.

Seperti yang dikatakan sang wartawan sejarahwan, "Sejarah kelam adalah luka. Agar bisa sembuh, ia harus dirawat dan dan diobati, bukan malah dibebat kain hitam. Peristiwa-peristiwa muran harus diungkapkan jujur. Bukan untuk mengorek luka lama tapi mengambil pelajaran agar tidak kembali terulang. Bukankah cicero (106-43 SM) pernah berpetuah: 'historia vitae magistra', sejarah adalah guru kehidupan?"

Sebuah diskusi nan apik dan bernas.

Banyak pertanyaan dan pernyataan dilontarkan. Salah satu pertanyaan menarik dilontarkan seorang Kepala Sekolah sebuah sekolah di Pecinan kepada sang wartawan sejarahwan.
"Apa benar Pak R ini wartawan yang dulu pernah mewawancarai saya tahun 2005?," tanya Ibu Kepala Sekolah.
"Dulu tidak mau dipanggil 'Pak', maunya 'Mas'. Kok sekarang dipanggil 'Pak'?"

Kami semua tertawa. Demikian pula Pak R, sang wartawan sejarahwan.

"Saya penasaran sekali," imbuh Ibu Kepala Sekolah. "Saya ingin membongkar yang terkubur."
HªHŪHÁª. Kami tertawa. Ternyata membongkar yang terkubur tidak hanya untuk 'menyemai perdamaian' tapi juga untuk mengusir kegalauan, memercikkan kelegaan.

Hehehe.

Melalui bingkai sejarah, tutur sang penulis yang bertubuh mungil, ia berkesempatan untuk berkreasi dalam koridor kejadian yang pernah terjadi, menyuarakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannnya, sekaligus memaknai ulang, menginterpretasi, sebuah kejadian, melalui alur cerita, penokohan baik fiksi maupun fakta dari orang-orang yang dikenalnya, sehingga menimbulkan sebuah kesan, sebuah pelurusan, sebuah dialektika.

"Sebuah gaung," ujar sang sastrawan yang buku-bukunya telah diterjemahkan di berbagai belahan dunia.

Saya mengangguk setuju. Novel adalah salah satu medium untuk mengungkap fakta dan pemikiran baru, mengubah persepsi orang-orang di sekitar yang selama ini cenderung sinis dan 'prejudice' serta rasis terhadap kelompok minoritas, dalam hal ini Tionghoa.

"Bukan Cina atau China," ungkap saya di dalam forum diskusi.
Memang bagi sebagian orang Tionghoa, istilah 'Cina', 'China', 'Cino', atau 'Tionghoa', sama saja. Orang Tionghoa yang masih mempermasalahkan istilah tersebut, dianggap belum 'move-on', masih terkooptasi belenggu rejim 'Orde Baru'.

Hehehe, ada benarnya.

Tapi saya menolak tela'ah tersebut. Kenyataannya masih banyak kelompok Tionghoa yang miris dan sensi mendengar istilah 'Cina' dan 'Cino' yang dianggap melecehkan dan merendahkan mereka selama puluhan tahun. Mereka adalah kelompok yang trauma telah mengalami dan melihat sendiri berbagai kerusuhan rasial yang terjadi di depan mata mereka, di tengah keluarga mereka. Tidak hanya sekali, ada yang hingga 3-4 kali.

Ini juga upaya 'membongkar yang terkubur', saling belajar, mengikis perbedaan, mengisi saling pengertian. Hehehe. Ternyata istilah bisa memantik masalah. Istilah 'Tionghoa' terdengar lebih enak.

Kembali ke pembahasan novel, saya jadi teringat sebuah novel legendaris karya Tjamboek Berdoeri atau Kwee Thiam Tjing, seorang wartawan senior, yang menulis roman sejarah tentang kekacauan yang terjadi saat Tentara Jepang masuk ke Kota Malang. Pembantaian, kekerasan, penjarahan terjadi di rumah orang-orang Tionghoa.

Cara bertutur Kwee lancar, enak, dan empuk, dengan taburan Bahasa Belanda, Hokkian dan Jawa di sana sini yang menyebabkan kita tersenyum, meringis, mengerutkan kening, mengharu-biru. Kwee berhasil memotret sekaligus menyajikan sebuah peristiwa sejarah nan miris dan tragis dalam bingkai yang tak kan terlupakan, melalui sebuah novel, bukan historiografis.

Sebuah novel, sebuah komik, bahkan sebuah sinetron, bisa digunakan untuk membongkar apa pun (sejarah) yang terkubur, terutama yang kelam dan sengaja dikubur dan dilupakan, demi menutup aib, Pemerintah maupun keluarga, atau diri.

Dulu ada sintron 'Si Doel Anak Sekolah' yang laris manis, yang berhasil mengangkat kehidupan orang Betawi dengan cara yang sangat manis dan humanis, sehingga tingkah polah, gaya hidup dan keberadaan mereka menjadi sebuah kewajaran.

Mendadak terbersit ide, gimana kalau bikin sintron 'Acong Anak Pecinan' yang manis dan humanis?

Februari 2020

BESOK JUMAT, 7 FEBRUARI 2020OMBAK HADIR DI SEMARANGPembaca Ombak yang budiman,Pada Jumat, 7 Februari 2020, pukul 13.30-1...
06/02/2020

BESOK JUMAT, 7 FEBRUARI 2020
OMBAK HADIR DI SEMARANG

Pembaca Ombak yang budiman,

Pada Jumat, 7 Februari 2020, pukul 13.30-17.00 di Aula Magister Komunikasi Universitas Diponegoro, Semarang, akan diadakan peluncuran dan diskusi novel MEMBONGKAR YANG TERKUBUR KARYA DEWI ANGGRAENI. Adapun info lengkap dari acara ini bisa dibaca pada poster di bawah ini.

Pada acara ini, Ombak akan membuka lapak buku. Bagi pembaca Ombak yang ada di Semarang silakan merapat di acara, sekaligus bisa memesan buku dan bukunya diambil pada saat acara berlangsung. Terima kasih.

Berita IAGI, Edisi XVIII/Desember 2019 mengulas resensi empat buku Ir. Soetoto, SU, ahli geologi UGM, hlm. 48-49. Direse...
05/02/2020

Berita IAGI, Edisi XVIII/Desember 2019 mengulas resensi empat buku Ir. Soetoto, SU, ahli geologi UGM, hlm. 48-49. Diresensi oleh Prof. Adjat Sudrajat, Guru Besar Universitas Padjajaran.

Untuk informasi dan pembelian buku-buku Kelompok Penerbit Ombak (KPO) pemesanan langsung ke KPO melalui SMS/WA ke 082221483637 dan atau WA 082137666614. Terima kasih.

OMBAK HADIR DI SEMARANGPembaca Ombak yang budiman,Pada Jumat, 7 Februari 2020, pukul 13.30-17.00 di Aula Magister Komuni...
05/02/2020

OMBAK HADIR DI SEMARANG

Pembaca Ombak yang budiman,

Pada Jumat, 7 Februari 2020, pukul 13.30-17.00 di Aula Magister Komunikasi Universitas Diponegoro, Semarang, akan diadakan peluncuran dan diskusi novel MEMBONGKAR YANG TERKUBUR KARYA DEWI ANGGRAENI. Adapun info lengkap dari acara ini bisa dibaca pada poster di bawah ini.

Pada acara ini, Ombak akan membuka lapak buku. Bagi pembaca Ombak yang ada di Semarang silakan merapat di acara, sekaligus bisa memesan buku dan bukunya diambil pada saat acara berlangsung. Terima kasih.

Info buku baruJudul: Membongkar yang TerkuburPenulis: Dewi AnggraeniPemesanan via WA 082137666614
30/01/2020

Info buku baru
Judul: Membongkar yang Terkubur
Penulis: Dewi Anggraeni

Pemesanan via WA 082137666614

JOHN CRAWFURD DAN DUA ABAD IDE TENTANG ‘KEPULAUAN INDIA’Muhammad Yuanda Zara‘Kawasan besar di dunia ini, yang para ahli ...
22/01/2020

JOHN CRAWFURD DAN DUA ABAD IDE TENTANG ‘KEPULAUAN INDIA’
Muhammad Yuanda Zara

‘Kawasan besar di dunia ini, yang para ahli ilmu bumi Eropa menamainya dengan sebutan Kepulauan India, menjadi kian dikenal oleh bagian umat manusia yang lebih beradab, dan untuk pertama kali menjadi lebih sering dikunjungi oleh mereka pada saat yang hampir bersamaan dengan saat mereka menemukan dan mengenal Amerika’. Demikianlah kata-kata pertama John Crawfurd (1783-1868), pegawai medis East India Company (EIC), orientalis Skotlandia dan residen Inggris di Yogyakarta, di dalam pendahuluan untuk jilid pertama bukunya, History of the Indian Archipelago. Terbit pertama kali pada tahun 1820, buku ini telah menjadi kajian klasik dalam studi mengenai sejarah, budaya, hukum, agama, ekonomi dan geografi penduduk dan wilayah yang kala itu dikenal sebagai Kepulauan India, suatu wilayah yang sebagian besarnya kini telah bertransformasi menjadi sebuah negara bernama Indonesia.

Kalimat pertama Crawfurd yang dikutip di atas memberikan beberapa gagasan penting yang menggambarkan pandangan bangsa Eropa pada kaum pribumi yang mendiami Kepulauan India, atau yang dikenal juga sebagai Kepulauan Melayu. Frasa ‘Kawasan besar di dunia ini’ (dalam teks aslinya: that great region of the globe) memperlihatkan kekaguman seorang dokter lulusan Edinburgh yang sebenarnya juga berasal dari kepulauan, tapi dalam skala yang jauh lebih kecil, British Isles, yang ‘hanya’ terdiri atas Britania Raya, Irlandia, dan beberapa pulau kecil. Sejak umur 20 tahun Crawfurd telah ditempatkan di belahan dunia Timur (India, Penang, Jawa, Thailand dan Vietnam), ribuan kilometer dari kampung halamannya, dan dari pengalaman itulah lahir rasa takjubnya pada rantai pulau-pulau skala besar, menengah dan kecil di Nusantara.

Namun, di balik kekaguman itu, tampak pula sikap khas bangsa Eropa di zaman itu dalam melihat kehidupan kaum pribumi di Asia: perasaan superior dan lebih beradab. Crawfurd memandang bahwa Eropa telah mencapai kemajuan dan tingkat peradaban yang tinggi, ditandai dengan teknologi maritim, kelihaian diplomasi, kekuatan ekonomi, dan penguasaan ilmu pengetahuan. Tak heran bila di dalam buku ini ditemukan cara penggambaran yang kontras antara orang Inggris, yang selalu dianggap sebagai ‘gentleman’ atau berasal dari kelas sosial atas, dengan kaum pribumi di Kepulauan India, yang dipersepsikan ‘rude’ (kasar) bahkan ‘primitive’ (primitif).

Memang, seperti dikatakan sejarawan John Bastin dalam tulisannya, ‘Sir Stamford Raffles’s and John Crawfurd’s Idea of Colonizing the Malay Archipelago’ (1953), setelah mendirikan koloni di belahan dunia Barat (Amerika), Inggris juga berniat untuk membuat tanah jajahan di Timur, dalam hal ini Kepulauan India, sebuah ide yang dalam tahap awal sudah dipraktikkan geografer Skotlandia, Alexander Dalrymple, dengan mendirikan sebuah gudang penyaluran barang di Borneo Utara pada 1764. Pembukaan hubungan dagang dengan para penguasa pribumi di berbagai titik di Kepulauan serta kemudian dengan penempatan residen-residen Inggris di sana, terang Bastin, merupakan cara Inggris, di bawah Thomas Stamford Raffles, untuk menanamkan dan menyebarkan pengaruhnya di antero Kepulauan.

Ide tentang menjajah Kepulauan India sudah hadir di buku Crawfurd ini. Di dalam jilid 3, Crawfurd menyebut bahwa dalam kondisinya sekarang (maksudnya, di dekade-dekade awal abad ke-19 itu), tidak mungkin orang Eropa bisa berinteraksi dengan aman, saling memahami dan saling menguntungkan dengan kaum pribumi yang masih serba terbelakang itu. Jadi, dibutuhkan satu kelas perantara, yang hanya bisa diwujudkan dengan pembentukan sebuah koloni. Mengkolonisasi Kepulauan India, tulis Crawfurd, sudah sesuai dengan ‘natural justice’ (keadilan alamiah) dan juga merupakan sebuah ‘moral duty’ (kewajiban moral) bagi Eropa.
Meskipun penuh dengan representasi perasaan supremasi kulit putih dan kurangnya apresiasi terhadap kaum pribumi, buku Crawfurd ini tetap merupakan sebuah lensa penting untuk meneropong perikehidupan penduduk di Kepulauan India. Di Jawa, Crawfurd ditunjuk sebagai residen Inggris di istana Yogyakarta setelah penaklukkan Inggris atas Jawa, peristiwa yang membawa Crawfurd ke Jawa bersama dengan Lord Minto dan Raffles. Meski berasosiasi dengan EIC, Crawfurd juga seorang peneliti yang memiliki ketertarikan pada adat kebiasaan penduduk pribumi serta, yang tak kalah pentingnya, potensi ekonomi Kepulauan India yang bisa dimanfaatkan oleh saudagar dan administrator Inggris. Audiens yang ditujunya terutama sekali adalah mereka yang berkepentingan di Inggris: para pemegang saham perdagangan yang menanamkan modal di kapal-kapal kargo yang dikirim berlayar, para pedagang bebas yang hendak mencari barang dengan harga termurah ke lokasi produksinya, dan para bangsawan yang ingin tahu tentang betapa sulitnya mendapatkan komoditas asing yang mahal yang mereka sukai sebagai bagian dari penanda kelas mereka, seperti teh. Maka, bagi orang Eropa, konten buku ini sangat padat dengan pengetahuan berharga tentang nyaris semua elemen kehidupan masyarakat pribumi.

Meski dalam judul aslinya, History of the Indian Archipelago, buku ini membawa tema ‘history’ atau sejarah, isinya bukan hanya tentang berbagai peristiwa tertentu di suatu kurun waktu di Kepulauan India. Ini adalah sebuah buku yang bersifat ensiklopedis, disusun secara tematik, membentang selama ratusan tahun (dalam beberapa topik bahkan hingga ke masa awal abad Masehi), dan mengupas hampir semua unsur penting dalam kehidupan masyarakat Kepulauan India, mulai dari bentuk fisik penduduk, pakaian, gaya hidup, pemerintahan, hukum, aktivitas dagang, praktik beragama, komoditas ekonomi, hingga persenjataan.

Buku ini bisa dikatakan sebagai karya pertama yang memakai nama ‘Indonesia’ dalam pengertian aslinya (‘Indos’, India dan ‘nesos’, pulau; atau ‘pulau India’). Dalam judul aslinya, Crawfurd memakai istilah ‘Indian archipelago’, atau bila diterjemahkan secara harfiah berarti Kepulauan India. Para birokrat, atau orientalis Eropa, atau birokrat-orientalis seperti Crawfurd memandang bahwa di Asia terdapat dua India, yakni Benua India (kini sebagian besarnya menjadi India) dan Kepulauan India (sekarang sebagian besarnya menjadi Indonesia). Ide Crawfurd tentang ‘Kepulauan India’ ini lalu diikuti (dan juga dikritik) oleh beberapa sarjana Eropa lainnya di sepanjang abad ke-19, memperlihatkan kuatnya pengaruh buku ini.

Walau buku ini berisi informasi yang melimpah, ia juga tidak luput dari serangan. Bagi Raffles, informasi-informasi yang disodorkan Crawfurd sebenarnya tidak ada yang baru, sebuah pandangan yang bisa dipahami untuk konteks Raffles, mengingat Raffles adalah penulis History of Java yang tak kalah kompletnya. John Bastin, dalam ‘English sources for the modern period of Indonesian history’ (1965) mengkritik pendekatan Crawfurd yang dipengaruhi oleh filsafat sejarah yang merasa perlu mengetengahkan semua aspek pengetahuan (karakter, seni, pertanian, dsb) sebelum benar-benar berbicara tentang sejarah.

Karena buku ini berbicara tentang Indonesia, maka penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia sudah tentu memiliki alasan yang kuat. Pengalihbahasaan merupakan upaya yang membutuhkan tidak hanya kemampuan menerjemahkan bahasa sumber ke bahasa sasaran, tapi terlebih lagi, memerlukan upaya untuk menghadirkan suatu zaman yang berbeda dari yang kita alami sekarang. Pekerjaan ini menjadi lebih menantang dengan penerjemahan buku John Crawfurd ini. Buku ini terbit hampir dua abad yang lalu, atau sekitar delapan generasi silam. Bila satu generasi saja sudah menghasilkan begitu banyak perubahan, maka bisa dibayangkan dengan apa yang terjadi selama delapan generasi. Hampir semua elemen manusia Kepulauan India telah berubah, meski ada pula yang stabil, terutama dalam hal geografis. Sejumlah kosakata yang dipakai Crawfurd merupakan kosakata yang kini tidak digunakan lagi, dan dalam kamus biasanya ditandai dengan istilah ‘archaic’ atau kuno.

Crawfurd adalah seorang birokrat-orientalis yang tertarik dengan studi masyarakat Asia. Crawfurd hidup di masa tatkala orientalisme tengah berkembang luas di Eropa sebagai metode yang dipakai ilmuwan dan administrator Eropa untuk memahami berbagai masyarakat Asia dengan siapa mereka terutama sekali menjalankan perdagangan. Maka, tak heran apabila Crawfurd dan sejawatnya kerap memandang Eropa, terutama Eropa Barat, dan Asia, khususnya Asia Tenggara (yang peradabannya dianggap lebih rendah dibanding Cina dan India) sebagai oposisi biner yang bertentangan, berlawanan, dan saling mengecualikan satu sama lainnya. Dalam buku ini, Crawfurd sering menggunakan istilah yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai primitif, liar atau kasar, dalam menggambarkan penduduk pribumi Asia, termasuk Indonesia, dan istilah yang bermakna maju, progres, dan tercerahkan untuk mengilustrasikan Eropa. Penggunaan bahasa semacam ini dapat dipahami dalam konteks bagaimana Crawfurd sebagai seorang birokrat-orientalis, bersama sejawatnya di EIC, memiliki tujuan untuk mendominasi perdagangan di Asia demi imperium Inggris. Oleh sebab itu, suatu pembacaan yang kritis merupakan cara terbaik untuk mendapatkan esensi dan manfaat dari buku yang sudah berusia dua abad namun masih tetap krusial ini.

Address

Perum. Nogotirto III, Jl. Progo B-15
Yogyakarta City
55292

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Katalog Buku Ombak posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Katalog Buku Ombak:

Videos

Nearby media companies


Other Yogyakarta City media companies

Show All

Comments

kota lama kota baru
Pijat Urat Tarif Pijat Di Tempat 70rb,Di Panggil 80rb Alamat:Jl.Sawahan No:14 Nogotirto Gamping,Sleman,Yogyakarta(Belakang Kampus Universitas Aisyiyah Yogyakarta Jl.Ring road barat) Ponsel/Wa:085107012982
Min, buku sejarah Indonesia resmi tulisa Michael Wood sekarang berapa harganya ya?