09/06/2026
Tempatmu berapa Derajat Celcius lur, lumayan dingin malam ini.
Memasuki bulan Juni hingga puncaknya di Juli dan Agustus, hawa bediding ini biasanya mulai makin terasa. Lucunya, siang hari bisa terasa panas menyengat, tapi begitu menjelang tengah malam sampai subuh, suhunya bisa drop drastis hingga belasan derajat Celsius (bahkan di dataran tinggi bisa sampai memicu embun es atau embun upas).
Ada alasan ilmiah yang logis di balik fenomena ini, jadi ini bukan karena cuaca ekstrem yang aneh:
1. Angin Monsun Australia (Angin Timuran)
Saat ini, belahan bumi selatan—khususnya Australia—sedang mengalami musim dingin. Tekanan udara yang tinggi di sana meniupkan massa udara yang dingin dan sangat kering menuju Asia, melewati jalur Indonesia (terutama bagian selatan katulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara).
2. Langit “Gundul” Tanpa Awan
Pada musim kemarau, tutupan awan di langit sangat minim. Awan itu sebenarnya berfungsi seperti selimut bumi.
Siang hari: Karena tidak ada awan, sinar matahari langsung menghantam bumi tanpa penghalang, makanya terasa terik dan gerah.
Malam hari: Bumi melepaskan energi panas yang diserapnya siang tadi kembali ke angkasa. Karena langit bersih tanpa awan yang menahan (memantulkan balik) panas tersebut, radiasi panas langsung lolos begitu saja ke atmosfer luar. Akibatnya, suhu permukaan bumi mendingin dengan sangat cepat menjelang dini hari.
3. Udara Kering (Kelembapan Rendah)
Kurangnya uap air di udara membuat kapasitas udara untuk menyimpan panas menjadi sangat rendah. Udara yang kering jauh lebih cepat kehilangan suhu panasnya dibandingkan udara yang lembap (seperti saat musim hujan).
Tips Menghadapi Bediding:
Karena perubahan suhu yang kontras antara siang (panas) dan malam (dingin), imunitas tubuh sering kali diuji. Jangan lupa siapkan jaket ekstra atau udeng-udeng hangat untuk ronda malam atau perjalanan dini hari, jaga hidrasi kulit karena udara kering rawan bikin kulit pecah-pecah, dan perbanyak minum air putih atau wedang hangat.