22/06/2026
Namaku Daniel, tiga puluh satu tahun. Seorang petualang cinta dengan jam terbang tinggi, aku melihat dengan seksama wanita yang berada di depan kamar hotel yang sudah aku pesan. Aku mengenalnya karena mamaku adalah fansnya.
"Siapa kamu?”
Wanita itu bertanya padaku. Aku heran kenapa dia seperti orang teler, bukankah seharusnya dia sadar agar bisa meladeniku dengan baik?
"Apa kamu sengaja bersikap begini agar bisa lebih membuatku puas?"
Aku tersenyum sambil memapahnya. Tak lupa, aku mengunci pintu sebelum membawa gadis itu naik ke tempat tidur.
Malam itu aku bersenang-senang dengannya.
Jangan ditanya melakukan apa, kalian bisa bayangkan sendiri.
Hari berikutnya aku bekerja seperti biasa di kantor, aku sibuk memeriksa dokumen perusahaan saat asisten sekaligus sekretarisku yang bernama Jim masuk ke dalam ruangan.
"Jim, Darimana kamu bisa mendapatkan kontak seorang artis? Wah ... sepertinya kamu sekarang mulai berteman dengan banyak kalangan," pujiku.
"Artis? Maksud Bapak?" tanya Jim keheranan.
"Kamu tahu? Dia itu ternyata masih ori, berapa yang kamu bayarkan untuknya semalam? Aku sangat penasaran."
"Tapi wanita yang seharusnya menemani bapak semalam, dia tidak jadi datang,” balas Jim tergagap.
"Apa?" Aku terkesiap dan langsung meletakkan pulpen di tangan. "Apa maksudmu?"
Aku kebingungan, kalau dia bukan wanita bayaran, lalu apa semalam aku sudah salah sasaran?
Untuk menghindari masalah yang lebih besar aku meminta Jim menghubungi wanita itu, tapi ternyata karena pekerjaannya dia sangat susah untuk ditemui, hingga dengan segala cara akhirnya aku bisa bertemu dengan wanita itu.
Saat bertemu dia malah seperti tidak ingat padaku.
Aku berkata padanya malam itu aku dan dia sudah melakukan one night stand, dan dia malah memintaku untuk tidak mengungkitnya.
Aku memberikan sebuah surat perjanjian padanya untuk tidak menuntut apapun di kemudian hari jika terjadi sesuatu.
Dia setuju bahkan menandatanganinya tanpa membaca lebih dulu.
Namun, dua bulan kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi, wanita itu yang bernama Ghea, dia pingsan saat sedang tampil di depan penggemarnya. Ada gosip yang menyebutkan dia tengah berbadan dua.
Aku merasa Ghea sedang mengandung anakku, dan di saat yang bersamaan mantan kekasihku kembali dari luar negeri. Tak ingin mantanku berpikir aku masih mengharapkannya aku memutuskan untuk menemui Ghea untuk mengajaknya menikah.
Tapi lagi-lagi saat akan aku ajak bertemu Ghea menolak. Dia tiba-tiba menghilang dan mundur dari dunia yang membesarkan namanya.
Aku kehilangan jejak, tentu saja hanya untuk beberapa saat karena setelah itu aku tahu kalau Ghea ternyata pulang ke rumah ayahnya di Jogja.
Oh … ya ayah Ghea memiliki sebuah toko batik di daerah Bantul.
Aku mendatangi toko batik ayahnya siang itu, aku langsung bilang mencari keberadaan Ghea. Tentu saja kedatanganku membuat karyawan ayah Ghea kaget. Salah satu karyawan itu mengantarku ke belakang toko di mana banyak pekerja yang sedang melakukan proses pembatikan.
Aku menyapa Ghea, mulut wanita itu menganga tak percaya melihat kedatanganku.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ghea dengan mimik wajah ketakutan.
“Karena kamu tidak bisa dihubungi,” jawabku.
Aku menunduk di dekat telinganya lalu berbisik,” Aku datang untuk menemui ayahmu, aku tahu saat ini kamu sedang hamil anakku.”
Mata Ghea melebar, dia menengok ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang mendengar omonganku.
Melihat Ghea yang ketakutan seperti ini, aku semakin percaya diri bahwa rencanaku mengajaknya menikah pasti akan berhasil.
Namun, wanita ini memang sedikit aneh, dia malah memintaku pergi dari sana.
"Aku tidak ingin menambah masalah dengan menikahi pria yang tidak aku kenal, jadi urus sendiri urusanmu, aku bisa bertanggung jawab sendiri," kata Ghea.
"Bertanggung jawab sendiri? Apa kamu sejenis amoeba? Berkembang biak dengan membelah diri," ketusku pada wanita aneh ini.
Ghea diam, dia sadar sudah menjadi perhatian karyawan ayahnya.
Tak ingin berdebat lagi, aku memutuskan pergi ke depan, aku sengaja menemui ayah Ghea dan langsung memperkenalkan diri sebagai pacarnya.
Ghea menyusul dan aku kembali berbisik," Aku akan bilang ke ayahmu kalau kamu sedang hamil anakku."
“Jangan coba-coba kamu-“
Ghea terlihat ketakutan.
“Pikirkan! dengan menikah denganku kamu masih bisa mendapatkan uang dengan kembali menyanyi, membintangi iklan, bahkan syuting.” Aku mencoba mempengaruhi pendirian Ghea.
“Aku masih tidak percaya dengan alasanmu menginginkan kita menikah," ketus gadis itu.
“Ghe- jika kamu tidak mempercayai alasanku, bisakah kamu pikirkan saja status bayi di dalam kandunganmu itu? Bayangkan orang akan menyebutnya apa jika terlahir tanpa ayah?”
“Anak haram,” gumam Ghea.
Gadis itu memandang dan mengusap perutnya dengan tatapan iba, tapi tak lama wajahnya berubah marah dan menatap tajam padaku.
“Tidak ada anak haram di dunia ini, yang haram adalah perbuatan orang dewasa seperti kita," ucap Ghea.
“Pikirkan lagi! Kita bisa bercerai setelah bayi itu lahir.”
Aku masih membujuk, tapi Ghea ....
***
Selengkapnya di KBM app
Judul : Hamil Karena Salah Sasaran (Bayi Miliarder)
Penulis : Adinasya Mahila