19/02/2025
KUBERIKAN GAJIKU PADA IBUKU, SEMENTARA ISTRIKU BERJUALAN KUE. KUKIRA ISTRIKU MARAH, TETAPI TERNYATA SELAMA INI ISTRIKU... (10)
"Kamu benar-benar menyebalkan, ya!"
Hampir saja aku menamparnya. Kalau ponselku tidak berdering. Entah dari siapa lagi ini.
Aku melirik Ani sekilas, kemudian mengangkat telepon. Siapa tau ada yang mau menawarkanku pekerjaan.
"Dengan Pak Reyhan, Abangnya Nisa, ya?"
"Iya. Saya Abangnya Nisa. Ini siapa, ya?" tanyaku pada orang di seberang sana.
"Ah iya, ini gurunya Nisa, Pak. Nisanya habis kecelakaan, Pak di dekat sekolahan. Bapak bisa ke sini sekarang?"
Mataku langsung melebar mendengarnya. Nisa kecelakaan? Astaga, kabar buruk.
"Baik. Saya langsung kesana sekarang, Pak."
Setelah mematikan telepon, aku langsung menyambar jas di kursi, kemudian melangkah meninggalkan Ani sendirian.
Sampai di ruang tamu, langkahku terhenti. Ini akan bilang ke Ibu atau tidak usah dulu?
Astaga, kalau Ibu malah marah-marah bagaimana? Aku menghelan napas pelan, tapi tidak mungkin juga.
"Bu."
Ibu yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh.
"Reyhan. Kamu mau bilang ke Ibu kalau kamu mau ngizinin Ibu ke luar negeri, kan? Udah Ibu duga. Langsung aja, nanti biar Ibu yang urusin semuanya, kamu cukup sediain tiket sama uang aja buat Ibu jajan di sana."
Astaga, bisa-bisanya Ibu berpikir soal makanan.
"Bu, Nisa kecelakaan. Mana sempat aku mikirin makanan." Akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulutku. Ibu harus tau juga.
"Hah?!" Ibu tampak kaget.
Aku mengurut kening, kemudian menganggukkan kepala. "Iya. Mau ikut ke rumah sakit gak?"
Jelas saja Ibu mengangguk. Aku melangkah duluan. Kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan yang aku bisa.
"Kok bisa, sih? Adek kamu gak hati-hati atau gimana? Nyebelin banget. Kalau sampai dia kenapa-napa, kamu yang salah, Rey."
"Iya. Reyhan yang salah."
Entah apa kesalahanku. Padahal tadi, aku masih di rumah, memikirkan semuanya dari awal. Eh, malah ada beginian.
Sudah penuh masalahku, bertambah p**a.
"Gimana kondisi kamu?" tanyaku sampai di dalam ruangan Nisa. Aku menatapnya dari kepala sampai ujung kaki, lecet-lecet semua.
"Baik, Bang. Cuma sakit sedikit."
Aku menganggukkan kepala. Pikiranku terbagi sekali sekarang. "Maka nya hati-hati, jangan asal-asalan d**g."
"Kamu beliin buah sama makanan yang banyak sana." Ibu menyenggol lenganku pelan.
Astaga, ini masalah besar. Aku menatap Ibu yang mendelik padaku. Pasti ini semua dianggap sebagai kesalahanku. Menyebalkan sekali.
"Tapi—"
"Halah, kebanyakan bicara kamu itu. Sana, jangan kebanyakan janji. Kasian sama Nisa."
Dengan lunglai, aku keluar dari ruangan rumah sakit. Ah, aku paksa saja Ani. Pasti dia maish ada simpanan, bohong saja kalau dia tidak punya simpanan uang.
"Loh, lo ngapain di sini, Dul?"
Langkah teman kantorku itu terhenti. Dia langsung menoleh, kemudian tampak terkejut sekali melihatku.
"Lo yang ngapain di sini?"
Wajah Abdul tampak sekali panik. Dia menoleh sebentar ke kiri, kemudian melangkah ke dekatku.
"Ngapain?" tanyanya lagi.
"Adek gue kecelakaan. Lo ngapain?" tanyaku sambil menoleh ke arah tadi.
Abdul menggelengkan kepala. "Istri gue lagi sakit. Adek lo di mana? Aduh, gue mau jenguk, deh."
"Gue duluan aja yang jenguk."
"Enggak usah. Dia lagi gak mau ketemu siapa-siapa. Ayo. Ah, kita beli buahan dulu."
Keningku terlipat ketika Abdul menarik tanganku. Entah kenapa, aku merasa ada yang disembunyikan olehnya. Entah apa itu.
Kami sampai di toko buah. Lumayan, aku tidak perlu mengeluarkan uang dan pusing memikirkan bagaimana caranya mendapatkan buah lagi.
"Makasih, Mbak."
Ketika kami keluar dari toko buah, aku dan Abdul berpapasan dengan pria yang tadi ada di kantor bos. Aku melebarkan mata.
Pria itu tampak tidak jauh umurnya dariku. Mungkin berbeda beberapa tahun. Aku mengarahkan pandangan ke dia.
"Maaf, Pak." Buru-buru aku menghadangnya.
Dia terlihat aneh melihatku. Kemudian mengarahkan pandangan ke Abdul.
"Iya. Siapa ya?" tanyanya.
"Em, saya Reyhan. Yang tadi ada di perusahaan yang bekerja sama dengan Bapak. Saya yang tadi dipecat, Pak."
Beberapa detik terdiam, dia kemudian menganggukkan kepala.
"Ya. Saya ingat. Ada apa?"
"Bisa saya tau perusahaan Bapak di mana?"
Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu dengan pria itu.
"Apa hubungannya dengan anda?"
"Siapa tau saya bisa berkunjung, Pak."
"Maaf. Itu privasi bagi saya."
"Em, mungkin saya bisa melamar di sana, Pak. Kebetulan saya sedang mencari pekerjaan."
"Udahlah, Rey. Nanti lo kena masalah lagi." Abdul berbisik ke aku.
Ponselku berdering. Dari Ibu. Aku mengembuskan napas kesal, kemudian permisi sebentar ke pria tadi.
"Kenapa, Bu?" tanyaku kesal.
Apakah Ibu tidak bisa sedikit saja jangan menggangguku?
"Haduh, kamu itu beli buah di pasar atau di luar negeri, hah?! Lama banget perasaan."
"Sebentar, Bu."
"Ini ada tamu datang. Cepetan ke rumah sakiy lagi."
Aku mengacak rambut. "Iya-iya. Reyhan p**ang sekarang."
Buru-buru aku mematikan telepon, kemudian bergabung kembali dengan pria tadi dan Abdul yang menatapku heran.
"Yaudah, kalau Bapak gak mau kasih. Maaf udah ganggu waktunya, Pak."
Buru-buru aku menarik tangan Abdul sambil senyum-senyum malu. Bisa nanti-nanti saja aku cari tau sendiri.
Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu.
***
"Saya permisi dulu." Abdul pamit padaku, Ibu, dan Nisa.
"Makasih, Abdul. Kamu itu beda banget dari Reyhan."
Dibandingkan lagi. Aku hanya bisa tersenyum, kemudian berterima kasih pada Abdul. Setelah Abdul pergi, aku menoleh ke Nisa.
"Abang kayaknya p**ang dulu, deh. Masih ada kerjaan di rumah."
Sebenarnya, aku ingin melihat apa yang dikerjakan oleh Ani di rumah. Entah dia lagi ngapain sekarang.
"Jangan lupa bawa bajunya Nisa."
Untung saja aku sudah membuatkan asuransi kesehatan untuk Nisa. Jadi, tidak perlu pusing memikirkan dari mana tanggungan biaya rumah sakitnya.
"Iya."
Aku mengendarai mobil dengan segala pikiran. Memikirkan besok juga, aku sepertinya harus mulai mencari pekerjaan lagi.
Hei!
Buru-buru aku menginjak rem. Menyipitkan mata, melihat di depan sana. Itu Ani sedang bersama siapa?
Wanita itu sedang berdiri di dekat mobil mewah. Aku menatapnya tanpa berkedip. Dia dengan siapa?
Beberapa detik, seorang pria keluar dari mobil mewah itu. Mataku melebar seketika.
Pria yang ada di ruangan bos tadi!
***
Baca selengkapnya di KBM App.
Judul : Luka yang Disembunyikan Istriku
Penulis ; rahmalaa