Mama Alfiyra

Mama Alfiyra penyuka warna pink jadi apapun tentang tema pink saya suka...yuk yang mau berteman di follow ya nanti ku follback terima kasih ya

Alhamdulillah ya Allah atas nikmat dan kebaikan kebahagiaan yg kau limpahkan terimakasih untuk smua nya, bismillah untuk...
01/01/2026

Alhamdulillah ya Allah atas nikmat dan kebaikan kebahagiaan yg kau limpahkan terimakasih untuk smua nya, bismillah untuk 2026 ya Allah beri umur panjang sehat bahagia kaya raya untuk kami smua smoga lebih full kumpul lagi ditahun depan lebih komplit lagi aamin ❤️ #2026プレ花嫁 ❤️

Alina yang sedang menunaikan ibadahnya mendengar handphone yang berada di atas nakas bergetar, menandakan adanya pesan m...
02/07/2025

Alina yang sedang menunaikan ibadahnya mendengar handphone yang berada di atas nakas bergetar, menandakan adanya pesan masuk.

Alina segera membuka pesan tersebut, mengira itu dari ibu mertuanya. Namun, setelah melihat ada nomor baru, dahinya mengernyit. "Nomor siapa ini?" ucapnya dalam hati.

Lalu, Alina pun membuka isi pesan tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat suaminya sedang bersama wa nita lain dalam posisi yang sangat in tim.

Handphone Alina terjatuh di atas sajadah. Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan berbuat menjijikan seperti itu di belakangnya.

Air mata Alina menetes tanpa diminta. Baginya, tidak dicintai bukanlah masalah. Dia bisa menerima karena cinta tidak bisa dipaksakan. Baginya, tahta tertinggi dalam mencintai adalah melihat orang yang dicintai bahagia.

Alina hanya bisa menangis tergugu. Baru saja ia merasakan kebahagiaan meskipun hanya sebentar, kini ia harus jatuh lagi ke dalam kenyataan pahit bahwa suaminya telah mengkhianatinya.

Lalu untuk apa perubahan kemarin?

"Kenapa, Mas? Kenapa harus begini? Kenapa kamu tidak membicarakan baik-baik? Aku ikhlas, Mas, jika rumah tangga kita sampai di sini. Aku rela jika kamu bersama dia. Tapi tolong, bicaralah, Mas." Tangis Alina.

"Jika kamu bicara, aku pun akan mendengarkan. Jika hanya dia yang bisa membuatmu bahagia, aku ikhlas, Mas. Aku akan pergi." Putus Alina.

"Aku akan mengurus surat perce raian kita. Kamu tidak usah khawatir, Mas. Aku yang akan menjelaskan semuanya kepada Papa dan Mama suatu saat nanti. Semoga kamu bahagia, Mas, bersama dia." Imbuhnya lagi.

Tanpa ingin berlama-lama memikirkan semuanya, Alina segera membereskan pakaian yang ia bawa, memasukkannya ke dalam koper.

Setelah semuanya selesai, Alina duduk di atas ranj ang yang selama enam bulan ini menjadi tempat ternyamannya.

Ia mengusap seprai, memindai ruangan itu, mengenang momen ketika ia menyiapkan segala kebutuhan suaminya, merawatnya saat sak it, dan banyak hal lainnya. Tak terasa air matanya kembali menetes, segera ia usap dengan punggung tangannya.

Alina pun berdiri, mendekati nakas di samping tempat tidur, memandangi foto pernikahan mereka. Ia tersenyum pahit.

"Aku ikhlas, Mas, melepasmu demi kebahagiaanmu. Jika kebahagiaanmu tidak bersamaku, pergilah, cari di mana kebahagiaanmu berada. Tidak mungkin kita membangun rumah tangga jika hanya satu pondasi yang berdiri." Alina menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya kembali.

"Rumah tangga itu tidak akan bertahan lama. Aku juga tidak bisa memaksa kehendak ku sendiri. Jika kebahagiaan mu bukan bersamaku. Aku ikhlas melepasmu, Mas."

"Aku juga ingin melihatmu tersenyum bahagia bersama wan ita yang kamu cintai, Mas. Cukup aku yang mencintaimu dalam diamku. Aku ikhlas, Mas." Ucap Alina lirih.

Untuk pertama dan terakhir kalinya, Alina menci um foto Arkan. Lalu, ia meletakkan kartu A T M, handphone yang pernah diberikan suaminya, cincin pernikahan mereka, serta sepucuk surat yang telah ia siapkan. Alina tinggalkan di atas nakas miliknya.

Alina segera keluar dari kamar tersebut. Sesampainya di depan pintu, ia menoleh ke kamar untuk terakhir kalinya.

"Hufff... Aku pamit, Mas. Semoga kamu bahagia bersama dia."

Alina lalu menutup pintu kamar, berjalan menuruni ana k tangga satu per satu. Tidak banyak kenangan yang bisa ia simpan, karena pernikahan mereka baru berjalan beberapa bulan.

Tapi bagi Alina, itu sudah lebih dari cukup untuk mencintai seseorang yang selama ini ia kagumi dalam diamnya.

Baca selengkapnya di KBM.
Judul : CINTA YANG KUPENDAM TELAH BERSEMI
Penulis : Najwashakila

Bagi yang belum instal silahkan download di Samsung Galaxy Store dan Amazone Store atau juga bisa di app store.

Save sini lah moment hari ke 3 berbuka ramadhan 3 Maret 2025 Ramadhan kali ini dirumah Umeh Ugok meskipun Ramadhan kali ...
05/03/2025

Save sini lah moment hari ke 3 berbuka ramadhan 3 Maret 2025 Ramadhan kali ini dirumah Umeh Ugok meskipun Ramadhan kali ini jauh dari si PP tapi Alhamdulillah sama ugok dan Umeh sehat selalu buat kalian semua ya semoga ramadhan tahun depan bisa kumpul smua

Nisa kembali duduk pada tempatnya, setelah sebelumnya menatapku dengan senyum penuh arti. Ah! Aku tak tahu apalagi yang ...
19/02/2025

Nisa kembali duduk pada tempatnya, setelah sebelumnya menatapku dengan senyum penuh arti. Ah! Aku tak tahu apalagi yang akan ia lakukan.

"Makanlah, makanlah!" tawar Nisa pada semua yang ada di sana. Para laki-laki tersenyum dan menikmati hidangan. Hanya aku dan Syasya yang masih belum menyentuh makanan itu. Bahkan Bisa saja sudah mulai menyendok makanannya kemulut.

"Ngomong-ngomong semua yang disini, siapa yang paling lama pacaran dengan Syasya?" Lagi, Nisa membuka percakapan yang tak terduga. Seketika para lelaki yang aku yakin buaya semua itu menghentikan aktifitas makanya sejenak.

"Aku cuma kuat, 4 bulan."

"Aku hanya satu bulan, tapi walau satu bulan tetap bisa menikmatinya kok!"

"Aku 7 bulan." Akhirnya hanya satu orang yang menjawab tujuh bulan. Aku sendiri makin tak mengerti tapi penasaran dengan apa yang mereka sampaikan.

Mereka saling bersuara, memamerkan setiap hal yang mereka pernah lewati dengan istri baruku ini. Sungguh aku malu tapi sepertinya aku terlambat.

Kini apa yang bisa aku banggakan pada Nisa tentang Syasya jika ternyata Nisa saja tahu semua borok Syasya.

Aku ternyata tertipu perempuan murahan, yang hanya modal dempul untuk menggaet lelaki berduit dan memeras.

Cerita para lelaki di hadapanku sungguh membuat aku pusing. Mereka dengan tanpa Tedeng aling-aling mengatakan semua dan apa saja tentang Syasya. Ada yang bilang jika mereka merugi banyak saat berpacaran dengan Syasya yang doyan belanja dan ada juga yang berucap syukur dapat terlepas dari wanita matre satu ini.

Aku heran, saat semua manusia yang ada di hadapanku ini mengutarakan tentang kejelekan Syasya. Dia diam tanpa membantah. Apa itu artinya semua nyata adanya?

Kulirik wanita yang duduk tak jauh dariku. Matanya tertunduk, sendok dan garpu masih ia pegang dengan tangan gemetar. Apa dia merasa malu?

"Sya!" Panggilku, berusaha melihat rona wajahnya agar sedikit terangkat. Dia diam tanpa kata. Sedangkan celotehan para buaya terus aku dengar, bahkan Nisa terlihat antusias menanggapinya.

"Nis, sudah hentikan!" Akhirnya kuberanikan diri untuk berkata dengan tegas pada Nisa. Dia sudah kelewatan mempermalukan Syasya. Walau kenyataan ini juga membuat hatiku pilu dan malu.

"Kenapa, Mas. Ini hanya tentang masa lalu Syasya saja. Kenapa, Mas. Ngga terima?" Nisa mengajukan pertanyaan yang membuat aku tak mampu menjawab.

"Oh ya, diantara kalian siapa yang putus paling akhir?" tanya Nisa membuat aku muak sekali. Terlebih melihat kondisi Syasya yang sudah sangat malu.

"Saya, Mbak. Saya baru putus sama Syasya satu minggu yang lalu. Tepatnya saat Syasya menikah dengan suami Mbak."

Aku terbelalak kaget, bagaimana bisa? Sedangkan aku menjalin hubungan dengan Syasya sudah tiga bulan hingga akhirnya aku mantap menikahinya.

"Itu saja kami sebelum putus sempat pergi ke Villa di puncak dua hari. Eh, dua harinya ia bilang ingin putus. Hanya karena aku tak membelikan tas branded yang harganya 15 juta."

Apa? I-itu artinya sebelum aku menikahi Syasya dia berkencan dengan laki-laki yang disebutnya dengan sebutan Rais? Aku meremas wajah dengan kasar. Apa-apaan ini!

"Sya ... Bantah semua perkataan mereka!" gerutuku, masih berusaha menghibur diri jika semua ini hanya lelucon konyol saja.

Nyatanya!

Syasya tak mengucapkan sepatah katapun, aku makin tak mengerti dibuatnya. Jadi benar adanya apa yang mereka katakan?

Tiba-tiba Syasya menangis kencang. Membuat kami tersentak kaget. Kenapa? Aku ingin dengar bantahannya bukan tangisannya.

Dia menangis makin histeris, membuat kami panik. Beberapa laki-laki berusaha membujuk namun hasilnya nihil.

"Mas, tolongin Syasya d**g! Kamu kan suaminya!" Perintah Nisa, aku yang sempat terpaku akhirnya berusaha mendekat. Menepuk-nepuk punggungnya agar segera tangisnya reda.

"Kamu kenapa, Sya?" tanyaku pelan begitu dia mulai reda dengan tangisnya.

"Semua yang dikatakan mereka bohong kan, Sya? Ka-kamu bilang memang tak perawan karena dulu terlalu sering main sepeda hingga selaput itu robek dan apa maksud kamu dari rintihan malam pertama kita?" Aku benar-benar tak tahan untuk segera menginterogasinya.

Sunyi tanpa jawaban, hanya isakannya saja yang masih kudengar walau pelan. Bahkan ia tak berani menaikan wajahnya.

Kudengar Nisa masih asik mengobrol dengan para buaya-buaya itu, mereka memang sudah pindah duduk tapi masih bisa aku lihat dari sini karena ruang keluarga dengan ruang makan bersebelahan tanpa pemisah.

Aku cemburu melihat Nisa tengah tersenyum dan tertawa dengan para mantan Syasya yang memang penampilan mereka kelas atas semua, ah! Kenapa ada rasa perih seperti ini di ulu hati.

Sabar, Man! Dia hanya istri malas yang tak pandai berdandan mana mungkin dia .... Hati ini berkata menolak untuk berkata cemburu.

Ting ... Tong!

===!!??!!===

PESTA KEJUTAN DARI ISTRIKU (TAMAT) - Pipit Aisyafa

L 1 n k dikolom komentar ya.

Aku tak menyangka anak gadis yang ku manjakan akan mempermalukan ku di Rumah sakit.Sakit Magh Ko, Keluar Bayi?Masih POV ...
19/02/2025

Aku tak menyangka anak gadis yang ku manjakan akan mempermalukan ku di Rumah sakit.

Sakit Magh Ko, Keluar Bayi?

Masih POV Bu Sri ya.

Bab 7

Saaat Dokter datang untuk memeriksa Mia, mau tak mau baju yang tadi ditahan Mia langsung disingkap. Dan alangkah terkejutnya aku! saat perkataan Suster itu benar ternyata Mia memakai korset, dan dokter segera membuka korset itu.

Betapa hancur hatiku saat melihat perut buncit Mia, penglihatan ku seolah gelap aku hampir saja terjatuh karna limbung sangking kagetnya.

Aku tak menyangka Mia anak gadis yang sangat aku manjakan tega, tega berbuat seperti itu, seolah-olah melempar kotoran diwajahku.

Dokter segera membawa Mia keruang persalinan dan sebelum masuk, aku berpas-pas'san dengan Bu Mira tetanggaku yang sedang melihat saudaranya.

"Eh, eh itu si Mia kenapa Bu Sri? ko dibawa buru-buru gitu?" tanya Bu Mira sambil terus memperhatikan Suster yang buru-buru membawa Mia.

"Eh, ko itu...." belum selesai Bu Mira ngomong aku langsung memotongnya, karna tak mau Bu Mira semakin banyak tanya.

"Sudah dulu ya Bu Mira, saya kesana dulu!" Potongku, aku yakin pasti nanti dikampung heboh karna Bu Mira tau Mia dibawa ke ruang persalinan.

Setelah sampai diruang persalinan, aku disuruh menunggu diluar oleh Dokter. Tak lama kemudian Fadli datang dengan wajah sedikit bingung.

"Bu kenapa Mia dipindahkan ke ruang persalinan? jangan bilang Mia...." tanya Fadli dengan wajah merah seperti menahan amarah.

"I-iya Fadli sebenarnya Mia itu ha-mil!" Jawabku sambil menangis karna tak tahan dan juga bingung harus bagaimana.

"Brengsek! jadi selama ini dia membohongi kita Bu? dan juga mempermalukan kita!" marah Fadli sambil menonjok tembok.

"Tenang Fadli, jangan seperti itu! malu, ini di Rumah sakit."

"Masa bodo Bu, kita sudah terlanjur malu oleh anak itu. Brengsek Mia! awas saja nanti!"

Aku gak tau harus bagaimana lagi meluluhkan amarah Fadli, aku juga marah dan kecewa, tapi mau bagaimanapun juga aku seorang Ibu. Semarah-marahnya aku, tapi masih bisa mengontrol emosiku.

POV author.

Bu Sri dan Fadli sedang menunggu di luar ruang persalinan, Fadli terlihat tidak bisa menyembunyikan amarahnya setelah tau bahwa adiknya itu ternyata mau melahirkan bukan sakit magh.

"Brengsek! jadi anak itu membohongi kita Bu? dan dia juga mempermalukan kita!" kata Fadli sambil menonjok dinding tembok saking emosinya.

"Tenang Fadli, malu ini dirumah sakit!" kata Bu Sri menenangkan Fadli yang terlanjur marah.

"Tenang, tenang! apa Ibu gak marah? Apa Ibu gak malu nanti? pasti orang kampung semua akan membicarakan Ibu dan juga aku malu sama istri dan Mertuaku Bu!" kata Fadli tanpa sengaja membentak Bu Sri.

"Huh! awas saja anak itu kalau sudah dirumah." kata Fadli sambil menahan suaranya agar tidak berteriak seperti barusan.

Tak lama kemudian terdengar suara bayi dari dalam, Bu Sri dan Fadli saling pandang. Bu Sri dengan wajah linglung sedangkan Fadli dengan wajah merah menahan amarah.

Bu Sri seolah-olah tak percaya kembali dengan suara bayi yang ada didalam.

"Bu ,apa si brengsek Mia sudah memberitahu Ibu siapa yang menghamilinya?" kata Fadli sambil menahan emosinya supaya tidak meledak lagi.

"Ibu tidak tau, karna tadi Dokter langsung membawa Mia kesini setelah membuka korset yang menutupi perut Mia." kata Bu Sri sambil menangis.

Tak lama kemudian Suster yang membantu dokter menangani Mia keluar.

"Ini Bu anaknya perempuan, silahkan jika mau diadzani." kata Suster sambil memberikan bayi dalam gend**gannya. Suster itu tau dari temannya yang tadi curiga dengan Mia, bahwa Mia belum menikah dan yang sedang menunggunya itu Ibu serta Kakaknya. Jadi dia tidak memberikan selamat karna takut menyinggung Bu Sri dan juga Fadli.

Bu Sri menyuruh Fadli untuk mengadzani anaknya Mia.

Setengah terpaksa dan juga menahan emosi, Fadli menerima bayi yang disodorkan Suster dan langsung mengadzani nya.

"Maaf Sus, apa say boleh masuk ke dalam?" tanya Bu Sri karna ingin segera masuk.

"Silahkan Bu sekalian dibawa bayi nya ya, dan mohon untuk tidak membuat pasien tertekan dulu ya Bu, karna pasien kondisinya masih lemah." kata Suster mempersilahkan Bu Sri dan juga Fadli serta menyuruhnya membawa bayi yang sudah diadzani barusan kedalam. Suster juga mengingatkan agar jangan dulu membuat Mia tertekan karna kondinya masih lemah.

Setelah itu Fadli dan Bu Sri yang menggend**g anaknya Mia masuk kedalam menemui Mia.

Mia yang melihat Ibu dan Kakaknya langsung menangis ketakutan. Apalagi melihat wajah Kakaknya yang sepertinya menahan amarah.

Setelah Dokter selesai menangani Mia keluar, Fadli yang tak tahan lagi menahan emosinya langsung menampar Mia. Bu Sri terkejut karna tak tahu Fadli akan langsung menampar adiknya.

"Fadli sudah! kasian adik kamu yang sudah melahirkan, liat kondisi dia masih lemah Fadli!" tegas Bu Sri.

Bersambung....

Selengkapnya baca di KBM app.

Judul: Sakit Magh Ko, Keluar Bayi?
Penulis: Lisaomii

KUBERIKAN GAJIKU PADA IBUKU, SEMENTARA ISTRIKU BERJUALAN KUE. KUKIRA ISTRIKU MARAH, TETAPI TERNYATA SELAMA INI ISTRIKU.....
19/02/2025

KUBERIKAN GAJIKU PADA IBUKU, SEMENTARA ISTRIKU BERJUALAN KUE. KUKIRA ISTRIKU MARAH, TETAPI TERNYATA SELAMA INI ISTRIKU... (10)

"Kamu benar-benar menyebalkan, ya!"

Hampir saja aku menamparnya. Kalau ponselku tidak berdering. Entah dari siapa lagi ini.

Aku melirik Ani sekilas, kemudian mengangkat telepon. Siapa tau ada yang mau menawarkanku pekerjaan.

"Dengan Pak Reyhan, Abangnya Nisa, ya?"

"Iya. Saya Abangnya Nisa. Ini siapa, ya?" tanyaku pada orang di seberang sana.

"Ah iya, ini gurunya Nisa, Pak. Nisanya habis kecelakaan, Pak di dekat sekolahan. Bapak bisa ke sini sekarang?"

Mataku langsung melebar mendengarnya. Nisa kecelakaan? Astaga, kabar buruk.

"Baik. Saya langsung kesana sekarang, Pak."

Setelah mematikan telepon, aku langsung menyambar jas di kursi, kemudian melangkah meninggalkan Ani sendirian.

Sampai di ruang tamu, langkahku terhenti. Ini akan bilang ke Ibu atau tidak usah dulu?

Astaga, kalau Ibu malah marah-marah bagaimana? Aku menghelan napas pelan, tapi tidak mungkin juga.

"Bu."

Ibu yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh.

"Reyhan. Kamu mau bilang ke Ibu kalau kamu mau ngizinin Ibu ke luar negeri, kan? Udah Ibu duga. Langsung aja, nanti biar Ibu yang urusin semuanya, kamu cukup sediain tiket sama uang aja buat Ibu jajan di sana."

Astaga, bisa-bisanya Ibu berpikir soal makanan.

"Bu, Nisa kecelakaan. Mana sempat aku mikirin makanan." Akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulutku. Ibu harus tau juga.

"Hah?!" Ibu tampak kaget.

Aku mengurut kening, kemudian menganggukkan kepala. "Iya. Mau ikut ke rumah sakit gak?"

Jelas saja Ibu mengangguk. Aku melangkah duluan. Kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan yang aku bisa.

"Kok bisa, sih? Adek kamu gak hati-hati atau gimana? Nyebelin banget. Kalau sampai dia kenapa-napa, kamu yang salah, Rey."

"Iya. Reyhan yang salah."

Entah apa kesalahanku. Padahal tadi, aku masih di rumah, memikirkan semuanya dari awal. Eh, malah ada beginian.

Sudah penuh masalahku, bertambah p**a.

"Gimana kondisi kamu?" tanyaku sampai di dalam ruangan Nisa. Aku menatapnya dari kepala sampai ujung kaki, lecet-lecet semua.

"Baik, Bang. Cuma sakit sedikit."

Aku menganggukkan kepala. Pikiranku terbagi sekali sekarang. "Maka nya hati-hati, jangan asal-asalan d**g."

"Kamu beliin buah sama makanan yang banyak sana." Ibu menyenggol lenganku pelan.

Astaga, ini masalah besar. Aku menatap Ibu yang mendelik padaku. Pasti ini semua dianggap sebagai kesalahanku. Menyebalkan sekali.

"Tapi—"

"Halah, kebanyakan bicara kamu itu. Sana, jangan kebanyakan janji. Kasian sama Nisa."

Dengan lunglai, aku keluar dari ruangan rumah sakit. Ah, aku paksa saja Ani. Pasti dia maish ada simpanan, bohong saja kalau dia tidak punya simpanan uang.

"Loh, lo ngapain di sini, Dul?"

Langkah teman kantorku itu terhenti. Dia langsung menoleh, kemudian tampak terkejut sekali melihatku.

"Lo yang ngapain di sini?"

Wajah Abdul tampak sekali panik. Dia menoleh sebentar ke kiri, kemudian melangkah ke dekatku.

"Ngapain?" tanyanya lagi.

"Adek gue kecelakaan. Lo ngapain?" tanyaku sambil menoleh ke arah tadi.

Abdul menggelengkan kepala. "Istri gue lagi sakit. Adek lo di mana? Aduh, gue mau jenguk, deh."

"Gue duluan aja yang jenguk."

"Enggak usah. Dia lagi gak mau ketemu siapa-siapa. Ayo. Ah, kita beli buahan dulu."

Keningku terlipat ketika Abdul menarik tanganku. Entah kenapa, aku merasa ada yang disembunyikan olehnya. Entah apa itu.

Kami sampai di toko buah. Lumayan, aku tidak perlu mengeluarkan uang dan pusing memikirkan bagaimana caranya mendapatkan buah lagi.

"Makasih, Mbak."

Ketika kami keluar dari toko buah, aku dan Abdul berpapasan dengan pria yang tadi ada di kantor bos. Aku melebarkan mata.

Pria itu tampak tidak jauh umurnya dariku. Mungkin berbeda beberapa tahun. Aku mengarahkan pandangan ke dia.

"Maaf, Pak." Buru-buru aku menghadangnya.

Dia terlihat aneh melihatku. Kemudian mengarahkan pandangan ke Abdul.

"Iya. Siapa ya?" tanyanya.

"Em, saya Reyhan. Yang tadi ada di perusahaan yang bekerja sama dengan Bapak. Saya yang tadi dipecat, Pak."

Beberapa detik terdiam, dia kemudian menganggukkan kepala.

"Ya. Saya ingat. Ada apa?"

"Bisa saya tau perusahaan Bapak di mana?"

Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu dengan pria itu.

"Apa hubungannya dengan anda?"

"Siapa tau saya bisa berkunjung, Pak."

"Maaf. Itu privasi bagi saya."

"Em, mungkin saya bisa melamar di sana, Pak. Kebetulan saya sedang mencari pekerjaan."

"Udahlah, Rey. Nanti lo kena masalah lagi." Abdul berbisik ke aku.

Ponselku berdering. Dari Ibu. Aku mengembuskan napas kesal, kemudian permisi sebentar ke pria tadi.

"Kenapa, Bu?" tanyaku kesal.

Apakah Ibu tidak bisa sedikit saja jangan menggangguku?

"Haduh, kamu itu beli buah di pasar atau di luar negeri, hah?! Lama banget perasaan."

"Sebentar, Bu."

"Ini ada tamu datang. Cepetan ke rumah sakiy lagi."

Aku mengacak rambut. "Iya-iya. Reyhan p**ang sekarang."

Buru-buru aku mematikan telepon, kemudian bergabung kembali dengan pria tadi dan Abdul yang menatapku heran.

"Yaudah, kalau Bapak gak mau kasih. Maaf udah ganggu waktunya, Pak."

Buru-buru aku menarik tangan Abdul sambil senyum-senyum malu. Bisa nanti-nanti saja aku cari tau sendiri.

Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria itu.

***

"Saya permisi dulu." Abdul pamit padaku, Ibu, dan Nisa.

"Makasih, Abdul. Kamu itu beda banget dari Reyhan."

Dibandingkan lagi. Aku hanya bisa tersenyum, kemudian berterima kasih pada Abdul. Setelah Abdul pergi, aku menoleh ke Nisa.

"Abang kayaknya p**ang dulu, deh. Masih ada kerjaan di rumah."

Sebenarnya, aku ingin melihat apa yang dikerjakan oleh Ani di rumah. Entah dia lagi ngapain sekarang.

"Jangan lupa bawa bajunya Nisa."

Untung saja aku sudah membuatkan asuransi kesehatan untuk Nisa. Jadi, tidak perlu pusing memikirkan dari mana tanggungan biaya rumah sakitnya.

"Iya."

Aku mengendarai mobil dengan segala pikiran. Memikirkan besok juga, aku sepertinya harus mulai mencari pekerjaan lagi.

Hei!

Buru-buru aku menginjak rem. Menyipitkan mata, melihat di depan sana. Itu Ani sedang bersama siapa?

Wanita itu sedang berdiri di dekat mobil mewah. Aku menatapnya tanpa berkedip. Dia dengan siapa?

Beberapa detik, seorang pria keluar dari mobil mewah itu. Mataku melebar seketika.

Pria yang ada di ruangan bos tadi!

***

Baca selengkapnya di KBM App.
Judul : Luka yang Disembunyikan Istriku
Penulis ; rahmalaa

Cuplikan... Belahan jiwa yang hilang... Note :ingat!! jangan Comot naskah/gambar tanpa ijin, Dnda ber l4ku  ... .... Kel...
19/02/2025

Cuplikan... Belahan jiwa yang hilang...

Note :ingat!! jangan Comot naskah/gambar tanpa ijin, Dnda ber l4ku
... ....

Kelopak mata Ammar langsung terbuka mendengar nama yang disebut lelaki itu. Sontak ia menoleh.

Matanya meneliti wajah tak asing yang duduk di barisan kursi yang sama dengannya.



Meskipun baru beberapa kali melihatnya di masa lalu, tetapi Ammar masih ingat sosok lelaki itu. Lelaki yang pernah dilihatnya bersama Nindy beberapa kali.

Lelaki yang kata Sevia adalah ayah biologis dari anak dalam kandungan Nindy.



Jika dia sedang mencari Nindy, lalu siapa wanita yang duduk di sebelahnya? Mereka tidak terlihat seperti teman atau pun saudara, melainkan terlihat seperti sepasang kekasih.

Bahkan tangan mereka
saling menggenggam satu sama lain.



“Memangnya sama sekali gak ada petunjuk, ya?” tanya wanita itu.



“Gak ada. Dia tiba-tiba pergi dari rumah. Waktu itu bilangnya mau p**ang ke panti aja jenguk Bu Desy yang lagi sakit. Ternyata malah gak pernah balik lagi.”



Wanita itu masih tersenyum menatapnya. “Hito, kamu sayang banget sama Nindy, ya?”



“Ya sayanglah, Ra. Dia sepupu perempuanku satu-satunya dan udah kuanggap adikku sendiri. Kasihan dia dari kecil hidupnya gak mudah. Ditinggal orang tuanya sejak kecil dan harus hidup di panti asuhan.”



Dalam sekejap tvbvh Ammar seperti membeku. Matanya seketika mengembun.



“Sepupu? Bukan pacarnya? Berarti selama ini Sevia bohong?" Ammar bergumam dalam hati.



"Kalau begitu, apa ini artinya anak yang dikandung Nindy itu benar-benar adalah … anakku?”

***

Judul : Belahan Jiwa Yang Hilang
Author : Kolom Langit
Selengkapnya bisa dibaca di kbm.. App..

Jasprom : ADillah Wibisana

Pada malam pernikahan, Kaisar menggunakan gagang belati untuk menekan bagian bawah tubuhku. Dia berucap sambil tersenyum...
19/02/2025

Pada malam pernikahan, Kaisar menggunakan gagang belati untuk menekan bagian bawah tubuhku. Dia berucap sambil tersenyum dingin, "Kudengar, Ratu bukan lagi seorang wanita perawan. Aku mau periksa sendiri untuk membuktikannya."
Sebenarnya, Ratu yang asli adalah adik kembarku, Nadine. Menjelang hari pernikahannya, dia diculik dan dilecehkan hingga tewas oleh sekelompok perampok gunung. Dalang di balik tragedi itu adalah Selir Utama, wanita yang paling disayangi Kaisar saat ini!
Demi membalas dendam, aku yang merupakan seorang jenderal muda diam-diam menggantikan posisi Nadine sebagai Ratu. Dalam hatiku, aku bersumpah akan menghancurkan semua musuh hingga tak bersisa dan memberi makan anjing dengan tubuh mereka!...
Malam pernikahan tiba. Kaisar Edgar menatapku dengan dingin dan penuh kebencian ketika berujar, "Dengar-dengar, ratuku pernah diculik sebelum nikah dan kini sudah nggak perawan lagi."
Aku membalas dengan tenang sambil mengangguk, "Rumor belum tentu benar. Kalau Kaisar mau tahu, silakan periksa sendiri."
Kaisar menimpali, "Baiklah. Kalau begitu, kita periksa sekarang."
Saat berikutnya, tubuhku langsung ditekan ke ranjang. Kekuatannya benar-benar besar hingga aku tidak bisa melawan.
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang keras menyentuh bagian bawah tubuhku. Lebih menjijikkan lagi, pria ini memaksaku untuk menggenggam benda itu dengan tanganku sendiri. Benda dingin itu adalah ... gagang belati.
Di telingaku, terdengar suara rendahnya yang jahat seperti bisikan iblis. "Aku merasa jijik. Ratu, kamu lakukan sendiri saja."
Amarahku meledak seketika. Tanganku yang menggenggam gagang belati mulai bergetar karena emosi. Namun, Kaisar terus memaksaku, "Ratu, kalau kamu nggak segera melakukannya, aku nggak keberatan untuk membantumu."
Setelah menguatkan hati, aku membuka ikatan bajuku dengan tegas, merobek sepotong kain dari rokku, dan menggunakannya sebagai alas.
Kemudian, aku mengangkat rok dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang belati secara terbalik. Aku mencoba menenangkan diri, anggap saja ini hanya luka biasa.
Sebagai seorang jenderal muda, luka seperti ini tidak ada apa-apanya dibandingkan luka-luka lain yang pernah aku alami. Kemudian, aku mulai mengerahkan tenaga ....
Dalam sekejap, sebuah kekuatan besar tiba-tiba menghentikan pergerakanku. Pergelangan tanganku mendadak digenggam erat. Alisku langsung berkerut.
Edgar merebut belati dari tanganku, lalu berbicara dengan nada yang lebih dingin dan tajam daripada sebelumnya, "Benar-benar wanita bodoh."
Cerita kelanjutan nya silahkan klik
https://www.facebook.com/share/v/1Bv4G5s9C6/

Nah loh haha   SEMUA ORANG
10/02/2025

Nah loh haha
SEMUA ORANG

Mau cek jangkauan ahhDah smpe mana postingan kuSalam interaksi     SEMUA ORANG
08/02/2025

Mau cek jangkauan ahh
Dah smpe mana postingan ku
Salam interaksi



SEMUA ORANG

SEMUA ORANG
13/01/2025

SEMUA ORANG

Address

Bali

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mama Alfiyra posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share