Cerita Indah

Cerita Indah Update setiap hari cerita menarik
dan seru, menemani waktu bersantai

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (14) Masih  mau lanjut di FB gak bab berikutnya? Kalau mau lanjut, bantu bagikan, komen dan li...
16/04/2026

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (14)

Masih mau lanjut di FB gak bab berikutnya?
Kalau mau lanjut, bantu bagikan, komen dan like bab ini di wall kalian biar tembus 10k like.

Kalau like dah 10 rb baru aku posting bab berikutnya

Di wall aku ini baru post ya, kalian yang udah baca mungkin di wall author sebelah.

******

“Maaf, Mbak … a—aku, aku h4m1l.” Aku meletakkan tespeck itu ke pangkuannya.

Hening, tak ada reaksi. Aku melirik wajah Mbak Nira, tapi dia terlihat datar saja.

“Oh, h4m1l? Jadi selama ini kamu bukan pergi kuliah, tapi pergi pacaran?” kekehnya sambil melempar benda itu ke lantai, seolah tak penting.

“Padahal Mbak banting tulang biar kehidupan kamu, ayah sama Ibu lebih terjamin di masa depan. Eh, malah gini hasilnya. Kurang bel4ian kamu, ya!”

Astagaaa, kenapa jadi malah dia yang nyerang aku? Aku melirik ayah dan Mas Indra, kenapa mereka pada diam saja.

“Mbak, jaga mulut kamu! Aku juga terjebak!” bentakku tak tahan.

“Terjebak atau sama-sama, nyari enak?” tanyanya ringan. Diluar dugaan, dia begitu santai menanggapi semua ini.

“Ini salah aku, Nira. Aku yang khilap.” Ah, syukurlah Mas Indra membuka suara. Aku melirik wajahnya, berharap dia shock, menjerit, menangis.

Namun, diluar dugaan. Dia hanya menaikkan satu alisnya ke atas dan menatapku dan Mas Indra bergantian dengan pandangan j*jik.

“Oh, jadi dia h4m1l anak kamu, Mas! Semurah itu ya, kamu. Macarin kakaknya bertahun-tahun, eh diam-diam h4m1li adiknya. Nggak punya harga diri banget ya kamu jadi cowok,” tuturnya tanpa teriakkan, tanpa tangisan, tanpa kehancuran seperti yang kubayangkan.

Aku dan Mas Indra saling bertukar pandang. Ekspresi Mbak Nira, diluar dugaan.

“Maafkan ayah, Nira. Ayah nggak bisa didik Dinar sebaik ayah mendidik kamu.” Suara ayah serak, menatap Mbak Nira dengan penuh rasa bersalah.

“Ayah nggak salah. Ayah jangan menyalahkan diri. Lalat itu memang akan tertariknya pada kotoran atau bangkai dari pada berlian yang bersinar.”

Huek, muak banget dengar kata-katanya. Masih sempat-sempatnya dia ngatain aku dan Mas Indra, lalat dan bangkai. Sial.

“Jadi, karena aku sudah mengandung anak Mas Indra. Besok, aku yang harus dia nikahin, Mbak. Aku nggak mau besarin anak ini tanpa ayah.”

Gemas, aku segera menyela kalimat sok bijaknya. Pasti mendengar itu, dia terpukul. Semua persiapan yang sudah matang ini, mau tak mau harus diserahkan padaku. Dia nggak ada pilihan ‘kan?

“Oh, ya sudah, silakan saja! Silakan kalian nikah … tapi.”

Mbak Nira berdiri santai sambil menjilati es krimnya, lalu membagi pandangan padaku dan Mas Indra bergantian. Ayah dan Ibu pun tampak heran dengan ketenangan Mbak Nira, mereka saling bertukar pandang.

“Tapi apa, Nira?” Mas Indra terlihat tak sabar.

“Tapi, silakan kalian cari gedung resepsi, catering dan pelaminan sendiri. Jangan pakai semua paket pernikahan yang sudah aku bayar dan aku lunasi.”

Hah? G*la? Ngurus semuanya sendiri? Mana sempat. Ini tinggal sehari. G*l4, Mbak Nira benar-benar g1l4. Bisa-bisanya dia malah menyerang balik aku dan Mas Indra setenang itu.

“Kamu jangan pelit gitu sama adik sendiri d**g, Nira! Lagian sayang, paket pernikahan semewah itu kalau nggak kepake. Mubadzir,” hardik Mas Indra, mulai naik pitam.

“Adik? Emang masih pantas dia disebut adik. Rasanya enggak. Dia lebih pantas disebut perempuan murah, yang rela melakukan apa saja demi u4n9!” kekehnya sambil menatapku tajam.

Aku mengepalkan tangan, darahku mendidih. Tapi anehnya … Mbak Nira malah tersenyum.

Tipis. Tenang. Menyeramkan.

“Silakan kalau kalian memaksa mau ikut memakai paket pernikahan yang sudah kubayar besok,” lanjutnya ringan.

“Pernikahanku besok, akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kalian.”

Dadaku mendadak berdebar. Ada yang salah. Sangat salah.

“Karena bagaimanapun .…” Ia menatapku dan Mas Indra bergantian, “besok akan tetap jadi hari yang tak akan pernah terlupakan.”

Senyum itu masih ada. Namun, senyuman tenang yang terasa menakutkan. Aku yang awalnya tak sabar melihatnya hancur, kini justru mulai merasa seakan aku yang akan dihancurkan.

Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya, yuk baca di KBM App

"DEK! Mas izin nikah lagi boleh?""Ya boleh Mas. Kelamaan jomblo juga gak baik. Takut karatan jadi duda lapuk.”"Baiklah! ...
16/04/2026

"DEK! Mas izin nikah lagi boleh?"
"Ya boleh Mas. Kelamaan jomblo juga gak baik. Takut karatan jadi duda lapuk.”
"Baiklah! Tapi nikahnya sama kamu yah?”

Ehhhhhhhh.... Yang bener saja. Soak gak sih mantan kakak ipar tiba-tiba bilang begitu. Mana dia udah 35 tahun. Dan aku baru 21 tahun. Aku menarik nafas kasar dan ku jawab..

BAB 9

“Tidak apa-apa tidak cinta, jatuh cinta harusnya memang setelah menikah. Biar Mas saja yang lancang. Kamu jangan.”

“Tapi kita tidak akan menikah. Kenapa Mas percaya diri sekali seolah-oleh kita akan menikah. Aku bahkan belum menjawab apapun tentang itu.” Dia sudah masuk kedalam mobil. Dari kaca depan aku melihat dia tersenyum tipis. Satu tangannya mengelus Bumi. Aku balas dengan sedikit berteriak.

Mobil Mas Wira jalan. Tapi kembali berhenti di depan motorku. Dia kembali menoleh padaku sambil tersenyum. Yakin, kenapa dia jadi senang tebar pesona begitu didepanku. Biasanya juga dia jaim dingin kayak kulkas, ngomong seadanya. Sekarang dih, malah senyum-senyum begitu. Bikin aku merinding saja.

“Adek yang s**a nyuruh Mas untuk nikah lagi. Sekarang Mas turuti. Jadi adek tanggung jawab. Karena didunia ini tidak akan ada yang bisa menggantikan Najwa selain Adek.”

“Mas perempuan itu banyak. Nanti Adek carikan yang baik ustadzahku di tempat ngaji mau?” Aku masih mencoba nego. Habis Mas Wira terkesan maksa banget. Nyebelin.

“Tidak usah repot-repot. Orang Mas maunya Adek.”

“Dih Maksa! Aku masih kuliah, masih kecil juga. Masih harus kerja bahagiain Ummi sama Abi.”

“Kalau gak maksa. Adek tidak akan peduli. Kita bisa sama-sama bahagian ummi sama Abi sama-sama. Apa susahnya? Gimana? Bagiku kamu sudah dewasa, bukan anak remaja lagi. Buktinya Mas s**a.”

“Tapi … Arg nyebelin …” Aku mengumpat kesal. Dia malah tersenyum melihat aku yang uring-uringan.

“Kamu gak s**a yang sudah tua seperti Mas.” Dia menyindirku lagi.

“Bukan begitu. Udahlah. Pokoknya aku gak mau.”

Aku ingin kabur cepat dari hadapannya, dengan cepat naik ke motor lalu pergi dari halaman depan rumah. Jujur hati gak tenang. Apa yang diucapkan oleh Mas Wira kuanggap hanya candaan. Besok juga jika Mas Wira sadar. Dia pasti akan lupa dengan apa yang dia katakan padaku saat ini. Bukankah lelaki lebih gampang jatuh cinta pada perempuan. Nanti kalau dia lihat yang seksi dan cantik juga berpaling.

Dia mengekor di belakang dengan mobilnya. Sengaja ku percepat laju motor masuk jalan kecil supaya bisa bawa motor dengan tenang. Dan akhirnya dia kehilangan jejakku juga.

“Aira gituh! Haha! Aku gak sekalem Mbak Najwa Mas. Penampilan memang alim. Tapi jiwaku preman.” Aku tertawa sendiri saat mobil Mas Wira benar-benar tidak ada di belakangku. Puas sekali. Biarin aja dia nyari-nyari.

Satu jam kemudian aku sampai di rumah sakit tempat Abi di rawat. Aku berharap Mas Wira tidak ada di sana. Dia p**ang saja ke rumah dengan Bumi. Dengan cepat aku berjalan ke arah kamar Abi. Ada di lantai lima. Aku naik lift. Sampai detik ini mataku tak melihat Mas Wira. Sampai akhirnya aku sampai di kamar Abi. Dan disana juga tak ada Mas Wira.

Alhamdulilah.

Aku cengengesan, menarik nafas lega menghampiri Abi dan Ummi. Abi terbaring di ranjang. Dan Ummi duduk di kursi yang ada di sampingnya. Mereka menyambutku dengan senyuman. Untung saja Abi tidak kenapa-napa. Wajahnya juga sudah terlihat segar lagi.

“Abi gimana Mi?”

“Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Untung Mas Wira langsung bawa ke dokter. Jadi gak ada hal serius sama Abi.” Ummi yang menjawab. Entah kenapa aku malah tak s**a saat Ummi memuji Mas Wira. Lagi kesel aja denger namanya.

“Tapi kaki Abi ada sedikit masalah Ra. Abi belum bisa berdiri. Dan dokter bilang membutuhkan beberapa bulan untuk pulih.” Aku mendekat ke kaki Abi, memijatnya sambil duduk di tepi ranjang. Bagian kaki kanan sedikit bengkak.

“Yang penting Abi sehat Mi. Kita jalani semuanya pelan-pelan. InsyaAllah sembuh.”

“Tapi kalau Abi sakit, Abi gak bisa kerja Ra.” Abi berusaha untuk duduk. Ia berkata penuh kesedihan. Aku diam sesaat. Abi selama ini guru di sebuah sekolah. Menghidupi aku dan Ummi dari gaji hanya jadi guru.

“Aira nyari kerja nanti Bi. Selesai KKN nanti aku kuliah sambil kerja. Abi istirahat saja.” ucapku dengan begitu mudah. Seolah mencari pekerjaan itu tidak susah.

Abi dan Ummi saling menatap canggung. Seolah ada yang ingin disampaikan kepadaku. Tapi mereka masih diam.

“Kenapa?”

“Beneran kamu mau kerja? Tidak mau menikah?” Abi menatapku. Aku langsung tertawa ringan.

“Enggak Bi. Nanti nikahnya kalau udah bisa bahagiain Abi sama Ummi. Tenang saja Bi.”

“ Boleh Abi bertanya.”

“Tentu saja.”

“Sebenarnya. Mas Wira lamar Adek sama Abi. Abi harus jawab apa?”

~tbc~

Judul : Mas Perwira
Penulis Qasya
Baca di KBM

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (14) “Maaf, Mbak … a—aku, aku h4m1l.” Aku meletakkan tespeck itu ke pangkuannya. Hening, tak a...
15/04/2026

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (14)

“Maaf, Mbak … a—aku, aku h4m1l.” Aku meletakkan tespeck itu ke pangkuannya.

Hening, tak ada reaksi. Aku melirik wajah Mbak Nira, tapi dia terlihat datar saja.

“Oh, h4m1l? Jadi selama ini kamu bukan pergi kuliah, tapi pergi pacaran?” kekehnya sambil melempar benda itu ke lantai, seolah tak penting.

“Padahal Mbak banting tulang biar kehidupan kamu, ayah sama Ibu lebih terjamin di masa depan. Eh, malah gini hasilnya. Kurang bel4ian kamu, ya!”

Astagaaa, kenapa jadi malah dia yang nyerang aku? Aku melirik ayah dan Mas Indra, kenapa mereka pada diam saja.

“Mbak, jaga mulut kamu! Aku juga terjebak!” bentakku tak tahan.

“Terjebak atau sama-sama, nyari enak?” tanyanya ringan. Diluar dugaan, dia begitu santai menanggapi semua ini.

“Ini salah aku, Nira. Aku yang khilap.” Ah, syukurlah Mas Indra membuka suara. Aku melirik wajahnya, berharap dia shock, menjerit, menangis.

Namun, diluar dugaan. Dia hanya menaikkan satu alisnya ke atas dan menatapku dan Mas Indra bergantian dengan pandangan j*jik.

“Oh, jadi dia h4m1l anak kamu, Mas! Semurah itu ya, kamu. Macarin kakaknya bertahun-tahun, eh diam-diam h4m1li adiknya. Nggak punya harga diri banget ya kamu jadi cowok,” tuturnya tanpa teriakkan, tanpa tangisan, tanpa kehancuran seperti yang kubayangkan.

Aku dan Mas Indra saling bertukar pandang. Ekspresi Mbak Nira, diluar dugaan.

“Maafkan ayah, Nira. Ayah nggak bisa didik Dinar sebaik ayah mendidik kamu.” Suara ayah serak, menatap Mbak Nira dengan penuh rasa bersalah.

“Ayah nggak salah. Ayah jangan menyalahkan diri. Lalat itu memang akan tertariknya pada kotoran atau bangkai dari pada berlian yang bersinar.”

Huek, muak banget dengar kata-katanya. Masih sempat-sempatnya dia ngatain aku dan Mas Indra, lalat dan bangkai. Sial.

“Jadi, karena aku sudah mengandung anak Mas Indra. Besok, aku yang harus dia nikahin, Mbak. Aku nggak mau besarin anak ini tanpa ayah.”

Gemas, aku segera menyela kalimat sok bijaknya. Pasti mendengar itu, dia terpukul. Semua persiapan yang sudah matang ini, mau tak mau harus diserahkan padaku. Dia nggak ada pilihan ‘kan?

“Oh, ya sudah, silakan saja! Silakan kalian nikah … tapi.”

Mbak Nira berdiri santai sambil menjilati es krimnya, lalu membagi pandangan padaku dan Mas Indra bergantian. Ayah dan Ibu pun tampak heran dengan ketenangan Mbak Nira, mereka saling bertukar pandang.

“Tapi apa, Nira?” Mas Indra terlihat tak sabar.

“Tapi, silakan kalian cari gedung resepsi, catering dan pelaminan sendiri. Jangan pakai semua paket pernikahan yang sudah aku bayar dan aku lunasi.”

Hah? G*la? Ngurus semuanya sendiri? Mana sempat. Ini tinggal sehari. G*l4, Mbak Nira benar-benar g1l4. Bisa-bisanya dia malah menyerang balik aku dan Mas Indra setenang itu.

“Kamu jangan pelit gitu sama adik sendiri d**g, Nira! Lagian sayang, paket pernikahan semewah itu kalau nggak kepake. Mubadzir,” hardik Mas Indra, mulai naik pitam.

“Adik? Emang masih pantas dia disebut adik. Rasanya enggak. Dia lebih pantas disebut perempuan murah, yang rela melakukan apa saja demi u4n9!” kekehnya sambil menatapku tajam.

Aku mengepalkan tangan, darahku mendidih. Tapi anehnya … Mbak Nira malah tersenyum.

Tipis. Tenang. Menyeramkan.

“Silakan kalau kalian memaksa mau ikut memakai paket pernikahan yang sudah kubayar besok,” lanjutnya ringan.

“Pernikahanku besok, akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kalian.”

Dadaku mendadak berdebar. Ada yang salah. Sangat salah.

“Karena bagaimanapun .…” Ia menatapku dan Mas Indra bergantian, “besok akan tetap jadi hari yang tak akan pernah terlupakan.”

Senyum itu masih ada. Namun, senyuman tenang yang terasa menakutkan. Aku yang awalnya tak sabar melihatnya hancur, kini justru mulai merasa seakan aku yang akan dihancurkan.

Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya, yuk baca di KBM App

Hadiah Dari Mertua Cuplikan bab 16Sementara itu, Bu Saidah terus saja memanggil dua pria di sampingnya, suaranya gemetar...
15/04/2026

Hadiah Dari Mertua
Cuplikan bab 16

Sementara itu, Bu Saidah terus saja memanggil dua pria di sampingnya, suaranya gemetar di antara cemas dan lelah.

“Siapa kalian? Ke mana kalian mau bawa aku? Aku harus p**ang … nanti anakku capek mencariku ….”

Tangannya yang renta menepuk pelan bahu salah satu dari mereka, seolah mencari kepastian di tengah kebingungan.

“Tenang, Bu …,” ujar pria bertubuh kekar itu dengan suara ditahan lembut, “kami akan membawa Ibu ke tempat yang aman.”

“Tempat aman di mana?” Bu Saidah menggeleng pelan. “Rumahku sudah paling aman, Nak … Jangan jual aku. Aku sudah tua … organku juga nggak laku … sudah alot ….”

Kedua pria itu tak bisa menahan tawa, meski berusaha tetap sopan.

“Bukan begitu, Bu,” sahut yang satu lagi, masih tersenyum. “Kami hanya ingin mempertemukan Ibu dengan seseorang. Seseorang yang sangat merindukan Ibu.”

Kerutan di dahi Bu Saidah makin dalam. “Siapa? Hana?”

“Bukan. Nanti Ibu juga tahu.”

Mobil melaju perlahan, memasuki kawasan perumahan elit yang tenang dan rapi. Pepohonan berjajar, rumah-rumah berdiri megah dengan pagar tinggi. Namun, Bu Saidah tak benar-benar memerhatikannya. Pandangannya kosong, pikirannya dipenuhi tanya yang tak terjawab.

Sesampainya di depan sebuah rumah minimalis yang luas, mobil berhenti.

Pintu dibuka. Dua pria itu membantu Bu Saidah turun dengan hati-hati.

Langkahnya pelan, nyaris terseret. Tubuhnya tampak ringkih di antara kemewahan rumah yang asing baginya.

“Ini di mana, Nak …?” gumamnya lirih. “Jangan bawa ibu ke sini … ini rumah orang … Ibu belum dandan ….”

Kedua pria itu kembali tersenyum, kali ini lebih lembut.

“Tenang, Bu …,” ujar salah satu dari mereka. “Ibu akan bertemu dengan malaikat di dalam.”

Bu Saidah langsung membelalak.

“Hah? Malaikat? Ibu belum salat Ashar … jangan dulu ketemu malaikat ….”

"Hahahaha."

Tawa pecah lagi, ringan, mencairkan suasana yang sempat tegang.

Namun, saat pintu rumah itu perlahan terbuka…

Tawa mereka terhenti.

Langkah Bu Saidah pun ikut terhenti.

Matanya membesar, napasnya tercekat di tenggorokan.

Di ambang pintu, berdiri sosok yang begitu ia kenal, wajah yang selama ini hanya hadir dalam doa dan rindu yang tak pernah padam.

Dia adalah ....

Next?

Di kbm app udah bab 51.
judul HADIAH DARI MERTUA

Penulis Linda M

Baca lewat link juga bisa

"GEDE BANGET, MAS!" AKU BERTERIAK KENCANG SAAT MALAM PERTAMA KAMI. SIAPA SANGKA, BUJANG TUA YANG MENIKAHIKU DENGAN MAHAR...
15/04/2026

"GEDE BANGET, MAS!" AKU BERTERIAK KENCANG SAAT MALAM PERTAMA KAMI. SIAPA SANGKA, BUJANG TUA YANG MENIKAHIKU DENGAN MAHAR FANTASTIS INI MEMBUATKU TERNGANGA. KARENA TERNYATA SUAMIKU...

___

"Jadi kita mau langsung p**ang atau gimana, Pak?" tanya Sopir pribadi Al setelah melihat tuannya selesai dengan aktifitas teleponnya. Sedari tadi ia sibuk menghubungi banyak orang untuk membantunya mempersiapkan acara pernikahan esok.

"Sebentar." Al meminta tenggang waktu untuk menjawab.

"Din," panggil Al membuyarkan lamunan Dina yang sedari tadi hanya terdiam memikirkan ucapan tante Merry tentang Al yang membeli dirinya seharga Bar miliknya.

Ia menerka-nerka, berapakah harga Bar terbesar se-Surabaya itu jika dirupiahkan? Sanggupkah ia mengembalikan jumlah itu pada Al?

"Ya, Om?" sahut Dina yang belum sepenuhnya sadar.

Al menoleh dengan pandangan menyalang.

"Ah, maksudnya, Oppa Al," lanjutnya dengan senyuman bersalah.

"Nggak ada panggilan yang lebih enak didengar apa?" protes Al.

"Aku masih memikirkannya, Oppa, memangnya ada apa?" jawab Dina.

"Di mana kamu tinggal sebelumnya?" Al bertanya tanpa basa-basi.

"Kenapa Oppa tanya begitu? Oppa mau kembalikan aku ke tempat asalku?" tanya Dina heran. Setelah membayar dengan harga yang begitu besar, mana mungkin lelaki di hadapannya itu akan melepasnya begitu saja.

"Saya butuh beberapa data kamu untuk mengurus pernikahan di KUA," jelas Al tanpa basa-basi.

Dina tersenyum, tak menyangka lelaki di hadapannya itu begitu antusias mempersiapkan pernikahan mereka. Ia memang tidak mengenal sosok yang akan menikahnya itu, tapi dalam hati ia meyakini, bahwa Al adalah jawaban dari doanya yang Allah kirimkan untuknya.

"Sebelumnya aku ngekost, Oppa, di area dekat Universitas Airlangga."

"Kalau tempat tinggal orang tuamu?" tanya Al lagi.

Dina menghela nafasnya berat, "mereka sudah tenang di surga," jawabnya dengan pandangan kosong, tersirat kepedihan dari sorot matanya.

"Oh, Sorry, saya nggak tahu," ucap Al sesal.

"Nggak apa-apa," sahut Dina tersenyum tegar.

"Lalu wali nikahnya?"

"Wakil hakim saja, Oppa."

"Baiklah, Data kamu lengkap di kost-an? KTP, KK, Ijazah?" tanya Al lagi.

"Lengkap, kok," sahut Dina.

"Kalau gitu kita ke sana. Supri, mana handphone kamu," pinta Al pada sopirnya.

"Ini, Pak."

Al meraih ponsel yang diberikan Supri, kemudian menyerahkannya pada Dina.
"Tentukan titik lokasinya di Maps, biar bisa jadi petunjuk jalan untuk Supri!" titah Al pada Dina.

"Nggak usah, Oppa, biar aku pandu aja pak Sopirnya," tolak Dina tak merasa keberatan harus memandu jalan.

"Nggak usah bantah, udah cepetan cari!" titah Al tak terbantah. Segera Dina mencari titik kost-annya di Maps, kemudian kembali menyerahkan ponsel itu ke Al.

"Supri, kamu ikuti petunjuk jalan ini, ya!"

"Baik, Pak."

"Dan kamu, tidurlah! ini sudah lewat tengah malam," titah Al membuat hati Dina menghangat. Walau ia tampak sibuk menelpon sana sini, tapi perhatiannya tak luput dari bocah tengil yang berkali-kali menguap di sisinya.

"Walau gayanya badboy, tapi ternyata perhatian juga nih Om-Om," batin Dina sembari melirik Al.

"Nggak usah senyum-senyum, dah buruan tidur! Perjalanan ke kost-anmu masih setengah jam lagi."

"Aku belum ngantuk," jelas Dina merasa tak enak jika harus tidur sedangkan yang lain terjaga.

"Ya terserah kamu kalau begitu," jawab Al singkat kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.

Suasana hening, tak ada lagi obrolan di antara mereka, membuat Dina semakin tak dapat menahan kantuknya, tanpa ia sadari akhirnya ia tertidur juga.

"Din ..." panggil Al masih fokus dengan ponselnya, tapi tak ada sahutan.

"Dina ..." panggil Al lagi, namun Dina tetap tak menyahuti.

Al meletakkan ponselnya di saku, kemudian menoleh ke sisinya, tampak Dina yang tengah tertidur dengan memeluk tubuhnya sendiri.

Al tersenyum tipis, "Supri, tolong AC-nya dikecilkan!" titah Al yang mengira Dina tengah kedinginan.

****
"Saya terima nikah dan kawinnya Addina Amalia Zahra binti Almarhum Surya Saputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Al mengucap ijab qobulnya dengan mantap.

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah!"

"Alhamdulillahirobbil 'Alamin."

Acara prosesi pernikahan yang diadakan pagi itu telah usai. Semalaman Alfaro mengurus segala sesuatunya, menggerakkan anak buahnya untuk menyiapkan acara pernikahan dadakan. Hingga pagi ini akhirnya acara pernikahan yang sangat sederhana itu telah usai.

Pernikahan itu hanya dihadiri oleh kedua mempelai, seorang Ustadz, seorang penghulu, Oma Rose--Nenek Al dan empat orang saksi.

Pernikahan ini memang sengaja diadakan secara sirri, sebab semua prosesnya terjadi dalam kurun waku yang sangat singkat. Tak ada cukup waktu untuk mengurus banyak dokumen dan persyaratan untuk melaksanakan pernikahan yang Sah secara Negara.

Alfaro hanya ingin segera mendapatkan apa yang diinginkannya, perkara administrasi dengan KUA akan diurusnya belakangan. Lagi p**a Dina juga tak keberatan dengan hal itu.

Dengan berbekal kehadiran empat saksi dan bukti dokumentasi, akan sangat mudah mengurus pernikahan di KUA.

"Al, kamu kenapa mau menikah nggak ngomong-ngomong dulu sama Oma? Kalau Oma tahu kan Oma bisa bantu menyiapkan segala sesuatunya," protes Oma Rose pada cucunya. Seorang wanita tua yang sangat menyayangi Alfaro.

"Sudah lah, Oma. Yang terpenting kan Al sudah menikah. Ini kan yang Oma inginkan sejak dahulu?" jawab Al dengan lowtonenya, lelaki dingin itu selalu berkata lembut pada wanita tua yang mencintainya dengan sepenuh jiwa. Baginya beliaulah satu-satunya orang yang harus dihormatinya sepeninggal ayah dan ibunya.

"Kamu itu ya, s**a aneh-aneh aja kelakuannya. Sukanya ngerjain orang tua deh. Untung Oma nggak jantungan!" keluh sang Nenek dengan gaya tuanya.

Pagi-pagi sekali memang Al meminta Asisten pribadinya menjemput sang nenek tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya. Dan saat wanita tua itu tiba di kediamannya, ia disambut oleh beberapa orang yang sedang berkerumun untuk melangsungkan akad nikah. Semua yang serba tiba-tiba membuatnya terkejut dan menyimpan ribuan tanya dibenaknya.

"Iya, Maafin Al, Oma. Lagian Al udah nggak sabar pengen cepet nikahin dia, masalahnya dia nggak mau Al sentuh sebelum Al nikahin," jelas Al berterus terang sembari melirik Dina yang sedari tadi hanya terdiam.

"Ya memang begitu yang bener, bersyukur kamu ketemu sama perempuan macam dia, berasa dapat rejeki nomplok tau nggak Oma liatnya," ucap Oma Rose sembari berjalan mendekati Dina.

Melihat Oma Rose yang mendekat, Dina segera beranjak dari tempatnya, kemudian meraih tangan keriput wanita tua yang masih tampak cantik itu untuk diciumnya.
"Oma ..." sapanya ramah.

"Hai, Nak. Siapa namamu?"

"Dina, Oma," jawab Dina tersenyum manis.

"Cantik," pujinya sembari membalas senyum Dina.

"Terima kasih, Oma," balas Dina ramah.

"Gimana ceritanya kamu bisa nikah sama cucu Oma? Kok kamu mau sih, Din sama Al?" tanya Oma Rose penasaran.

"Habisnya Oppa Al tampan, Oma, Kiyowo,'' ucap Dina dengan mimik wajah imutnya.

"Oppa Al? Kaya di film-nya lee min hoo aja kamu manggilnya?" sahut nenek kekinian itu.

"Kok Oma tahu, sih?"

"Tau, d**g, kan Oma penggemar drakor," jawab Oma Rose.

"Wah, beneran, Oma? Sama d**g dengan Dina," sahut Dina antusias.

"Kamu juga s**a drakor? Wah, kebetulan sekali, jadi Oma punya teman se-frekuensi sekarang," ucap Oma Rose tak kalah antusias.

"Iya, Oma," sahut Dina tersenyum hangat, nenek suaminya itu begitu ramah dan penyayang.

"Gimana kalau sekarang kita nonton drakor? Di Channel langganan Oma ada tayang series baru hari ini," ajak Oma Rose.

"Wah, boleh, Oma."

Kemudian Oma Rose membawa Dina menuju ruang keluarga.

"Lho, Oma, istri Al mau dibawa kemana?" tanya Al yang baru menyadari istrinya diculik oleh sang Oma.

"Nonton drakor bentar," teriak Oma Rose.

"Oma ... Dina harus istirahat. Din, sebaiknya kamu ke kamar!" titah Al pada Dina.

"Al ini masih siang, keburu amat sih? Tunggu malam aja, lah. Dina biar temani Oma dulu," sahut Oma Rose kembali merangkul Dina berjalan menuju ruang keluarga. Sedang Dina hanya bisa menurut dengan sesekali memandang suaminya iba.

"Astagaa Oma! Pending lagi deh!" ucap Al pasrah.

***

SELENGKAPNYA BACA DI KBM APP SUDAH TAMAT

Judul: Jodoh untuk Om Bujang Lapuk
Karya: Pena_Zahra
Fb: Fatimah Al Zahra
Link di bio

"Des, kamu nggak ikut bukber? Kok suamimu datang sendirian lagi? Semua pada bawa pasangan, lho. Masa tahun ini kamu saki...
15/04/2026

"Des, kamu nggak ikut bukber? Kok suamimu datang sendirian lagi? Semua pada bawa pasangan, lho. Masa tahun ini kamu sakit lagi?"

Beberapa detik aku hanya menatap pesan itu tanpa membalasnya.

Sudah tiga kali puasa. Setiap tahun kantor suamiku selalu mengadakan acara buka bersama. Biasanya yang sudah menikah akan mengajak pasangannya. Aku tahu itu dari Irma. Karena sahabatku itu satu kantor dengan mas Indra, hanya beda divisi saja. Tapi sudah tiga tahun ini, mas Indra tak pernah mengajakku ke acara tersebut.

"Mas, kamu habis acara bukber di kantor, ya?" tanyaku polos tiga tahun yang lalu. Tanpa ada curiga sedikitpun.

"Iya. Kamu tahu dari siapa?"

"Enggak. Aku nebak aja, Mas. Biasanya 'kan setiap tahun kamu selalu ngajak aku. Tumben tahun ini nggak." Entah kenapa waktu itu aku menjawab seperti itu. Padahal Irma yang memberitahuku mengenai acara itu.

"Iya. Maaf, ya, Sayang. Aku nggak sempat ngajak kamu. Saking banyaknya kerjaan di kantor aku sampai lupa kalau ada acara bukber," jawab mas Indra kala itu.

Dan aku percaya.

Dari dulu aku memang sangat mempercayainya. Mas Indra suami yang baik, tidak neko-neko dan sangat bertanggung jawab penuh atas aku dan Kian, putra kami satu-satunya.

Tapi kepercayaan itu sekejap hilang saat malam harinya aku iseng membuka ponsel mas Indra. Aku menemukan pesannya ke seorang wanita bernama Kinara.

"Mas, besok acara bukber kamu ajak istri, ya?"

"Nggak, Ra. Istriku lagi sakit. Kemungkinan aku datang sendiri." Itu jawaban mas Indra.

Dadaku nyeri luar biasa kala itu. Dari jawaban suamiku ke wanita itu. Aku tahu dia berbohong. Aku tidak sakit. Aku sangat sehat. Suamiku tidak lupa, tapi sengaja tidak mengajakku ke acara tersebut.

Dan setelah mencari tahu lebih jauh. Aku mengetahui bahwa ... diam-diam suamiku jatuh cinta lagi di usia pernikahan kami yang ke lima.

Dia tetap baik dan bertanggung jawab masalah nafkah padaku dan Kian. Tapi ... hatinya terbagi untuk wanita lain.

Selama tiga tahun ini, aku tidak pernah sekalipun membahas mengenai wanita itu. Aku pura-pura tidak mengetahuinya. Karena bagiku, menasehati orang yang sedang jatuh cinta akan percuma.

Selama tiga tahun ini, aku berusaha sekuat tenaga mengambil hatinya kembali. Aku melayaninya bagai raja. Aku selalu berusaha untuk tidak membuatnya marah. Aku mengalah dalam hal apapun. Karena aku tidak ingin kalah dengan wanita itu.

Tapi ... hari ini. Tepat tiga tahun perjuanganku. Sepertinya semua sia-sia. Aku lelah, Mas. Sangat lelah.

Aku memilih menyerah ....

Kuhapus air mataku. Kuharap ini air mata terakhirku. Aku tidak kalah. Aku tidak menyesali kesetiaanku. Aku sudah berjuang sekuat tenaga. Kalau pada akhirnya aku tetap harus melepaskanmu. Aku ikhlas.

Mungkin aku egois sebagai ibu. Karena bagaimanapun kamu ayah yang baik untuk putra kami.

Tapi kalau aku bertahan lebih lama lagi. Sepertinya aku akan berakhir di rumah sakit jiwa. Jadi kuharap begini lebih baik untuk kita semua. Untuk kamu, untukku dan untuk ... putra kita.
Judul : Saat Aku Menyerah
Penulis : Brakasena

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (13) “Kalau kamu menikahi Dinar, gimana dengan Nira? Sehancur apa hati dia? Kalian itu gegabah...
14/04/2026

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (13)

“Kalau kamu menikahi Dinar, gimana dengan Nira? Sehancur apa hati dia? Kalian itu gegabah!” hardik Ayah.

“Maaf, Yah. Saya benar-benar minta maaf. Ini diluar kendali kami. Hanya saja, karena Dinar sudah mengaku mengandung anak saya. Biar saya yang bicara dengan Nira, kalau yang akan saya nikahi itu, Dinar. Bukan dia.”

Ayah mengepalkan tinjunya. Lalu menghantam tembok dengan keras berulang kali, seolah meluapkan kekesalannya yang memuncak.

“Ayah!” Ibu terkejut, bangun lalu memburu Ayah.

“Istighfar, yah … istighfar,” tutur Ibu sambil memeluk ayah. Ibu sesenggukkan. Tentu saja dia kesal, karena melihat anak kesayangannya akan terl*ka.

“Biar aku panggil Mbak Nira ke sini, Bu.” Aku lekas mengambil gawai dan menelpon Mbak Nira. Inisiatifku tak ada yang menahan. Aku harus segera selesaikan semua urusan ini. Aku nggak sabar melihat wajah Mbak Nira hancur lebur berantakan.

Tak berapa lama, pintu kamarku diketuk. Mbak Nira muncul dengan jeans selutut dan kaos longgar, rambutnya dikuncir santai. Di tangannya memegang es krim.

“Ada apa, Din? Eh, kok kalian pada ngumpul di sini?” tanyanya dengan wajah heran. Aku berpura-pura mendung, tetapi sudut hatiku tak sabar melihatnya hancur.

“Ayah dan Mas Indra mau bicara, Mbak.” Aku bicara lirih, sambil duduk kembali di tepi tempat tidurku.

“Oh, ya? Bicara apa, sih? Malah pada ngumpul di sini.” Mbak Nira ikut duduk di sampingku sambil menjilati es krim, santai, tenang, tanpa beban. Ah, sebentar lagi, es krim itu pasti dibantingnya ke lantai.

“Nak, kamu yang sabar, ya!” Sebelum orang lain berbicara, Ibu lebih dulu memeluk Mbak Nira dan menangis sesenggukkan.

“Loh, Ibu kenapa, sih? Aku emang kurang sabar apa, sih?” tanyanya dengan wajah polos dan heran.

“Kamu yang sabar, Naaak!” Suara Ibu penuh emosi, isaknya makin kencang.

“Bu, udah ih nangisnya. Es krimku jatuh nanti.” Mbak Nira begitu santai melepas pelukan Ibu, lalu menatap Mas Indra dan Ayah bergantian.

“Ayah sama Mas Indra mau bicara apa, sih? Kok kayak penting banget?” tanyanya, ringan.

Aku mendelik sekilas. Tak sabar melihat wajah sok kuat itu berubah pias.

Ayah dan Mas Indra malah saling bertukar pandang. Aku jadi nggak sabar. Akhirnya, aku ambil tespeck yang jatuh dari tangan ayah tadi dan menunjukkannya pada Mbak Dinar.

“Maaf, Mbak … a—aku, aku h4m1l.” Aku meletakkan tespeck itu ke pangkuannya.

Hening, tak ada reaksi. Aku melirik wajah Mbak Nira, tapi dia terlihat datar saja.

“Oh, h4m1l? Jadi selama ini kamu bukan pergi kuliah, tapi pergi pacaran?” kekehnya sambil melempar benda itu ke lantai, seolah tak penting.

Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya, yuk baca di KBM App

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (10)Aku meletakkan perhiasan-perhiasan milik Mbak Nira ke tempatnya lagi dengan kesal. Kami ba...
14/04/2026

KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU (10)

Aku meletakkan perhiasan-perhiasan milik Mbak Nira ke tempatnya lagi dengan kesal. Kami baru saja tiba di rumah besar yang sebentar lagi akan jadi milikku.

“Sayaaaang ….”

Mas Indra melingkarkan tangannya ke perutku, suaranya sudah berubah serak. Aku mendelik, menatapnya dari pantulan cermin.

“Apa?” tanyaku dengan galak yang dibuat-buat.

“Mau nengokkin dedek bayi dulu, boleh ‘kan?” bisiknya sangat dekat.

“Au, ah, sebel.” Aku berpura-pura jual mahal.

Namun, Mas Indra malah terkekeh, lalu menatap mataku lekat, “Makin cantik kalau ngambek. Yuk, bentar saja. Ekspress. Keburu kangen nunggu habis akad,” kekehnya sambil menarikku ke atas pembaringan.

Lalu, ya, seperti biasa, rutinintas ini terjadi lagi. Aku memberikan servis padanya dengan sepenuh hati. Mas Indra itu akan jadi ladang u4n9ku, pusat kebahagiaanku dan tentunya yang paling penting adalah merebutnya berarti menghancurkan kesombongan Mbak Nira.

Setengah jam berlalu ketika Mas Indra sudah memesankan mobil online untukku. Jika kemungkinan di rumah ada Mbak Nira, aku pasti p**ang tanpa diantar dia. Atau diantar hanya sampai ke minimarket tempat kami janjian. Aku takut, dia curiga, lalu menghancurkan semua rencana yang aku sudah buat.

Tiba di rumah, benar saja, Mbak Nira ada. Dia sedang duduk santai di teras sambil menyesap kopi hitamnya. Jemarinya sibuk berbalas pesan. Wajahnya terlihat riang, penuh kegembiraan. Aku jadi nggak sabar, lihat wajah sombongnya itu meratap dan menangis bombay.

Sabaaar, Din. Sebentar lagi. Hanya tinggal menghitung hari, kakakmu yang sombong itu kena batunya nanti.

“Baru p**ang, Din?”

“Iya, Mbak.”

Aku nyelonong saja, malas berbasa-basi dan bersikap manis hari ini. Gagal dapat berlian, membuat moodku rusak berantakan. Aku lagi malas berpura-pura manis di depan dia. Jadi, aku memilih ke kamar saja.

Hari-hari bergerak terasa lambat. Setiap hari aku mengecheck kalender, tak sabar membayangkan di hari bersejarah itu, aku dan Mas Indra duduk bersanding di pelaminan megah. Sementara Mbak Dinar, shock, histeris, dan mengurung diri di kamar tak berdaya. Ah, indahnya.

Satu hari, dua hari, tiga hari, aku mencoret kalender yang ada di dinding kamarku. Bahkan, aku sudah cuti kuliah. Aku juga ‘kan calon pengantin, jadi harusnya yang dipingit itu aku, bukan Mbak Nira. Jadi, biarkan saja Mbak Nira yang keras kepala itu berkeliaran setiap hari.

Dia terlihat sangat sibuk, entah sedang mengurus apa. Di saat aku sedang luluran merawat badan, mewarnai kuku dan memasang hena, Mbak Nira malah kelayapan setiap hari, entah ke mana.

“Wah, hena kamu bagus, Din. Udah kayak hena pengantin.”

Dia mengomentariku saat bertemu di meja makan. Aku hanya tersenyum yang dimanis-maniskan, “Iya, Mbak. Kok Mbak Dinar belom pake?”

“Nanti saja di hari H.”

Aku tertawa di dalam hati. Hari H? Hari itu nggak akan pernah ada. Karena di hari H, bukan dia pengantinnya tetapi aku.

Hari-hari yang kurasa sangat lambat ini, akhirnya tiba. Hari ini, aku sudah menghubungi Mas Indra untuk menunggu tak jauh dari rumah. Biar nanti kalau aku telepon dia, bisa cepat sampai.

Sore itu kerabat sudah mulai ramai ketika aku berbisik pada Ibu dengan wajah sendu.

“Bu, aku mau ngomong,” tuturku dengan memasang wajah takut-takut dan sedih.

“Iya, mau bicara apa, Din?” Ibu yang sedang sibuk membahas entah apa dengan beberapa kerabat di teras, menatapku.

“Bicara di kamarku, bisa, Bu?” bisikku sambil menunduk takut-takut.

“Oh, ya sudah. Ada apa si?” Ibu pun mengekoriku ke kamar.

Tiba di kamar, aku langsung berakting bersujud di kaki Ibu sambil menangis sesenggukkan. Ibu kaget dan langsung menggoyang-goyangkan badanku.

“Loh, kamu kenapa, Din? Kok malah nangis.”

Judul : KUJUAL PAKET PERNIKAHANKU
Author : Evie Yuzuma
Selengkapnya, yuk baca di KBM App

Address

Kuala Lumpur

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Indah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Cerita Indah:

Shortcuts

Share