03/06/2026
Bab 8
Aku stop uang bulanan 20 juta istriku, biar dia tak bisa lagi membiayai keluarganya. Aku ceraikan dia, lalu kuambil dengan paksa mobilnya. Seketika istriku dan keluarganya langsung kalang kabut.
***
"Berikan kunci mobilnya," pinta Sinta dengan menengadahkan tangan, tetapi Aldi tak memberikannya.
Aldi menarik napas panjang, mencoba menyembunyikan kekesalannya. Ia sangat malas jika harus ribut pagi-pagi dengan Sinta. "Tidak ada kunci mobil. Ini mobil kantor, tak bisa kamu pakai sembarangan. Bukankah aku sudah memberikanmu mobil sendiri? Pakai saja mobil itu," tolaknya.
Tentu saja Sinta sangat marah dengan penolakan itu. "Mobilku sedang dipinjam sama Manda, jadi kamu berikan mobilmu. Aku tak bisa bawa motor panas-panasan."
"Itu bukan urusanku."
"Nggak bisa, pokoknya kamu harus berikan kunci mobilmu padaku. Kalau tidak, aku akan semakin marah padamu. Aku nggak akan mau memaafkanmu," oceh Sinta, tetapi sayangnya Aldi sudah tidak peduli.
Mungkin jika dulu Aldi akan takut dengan kemarahan istrinya karena ia terlalu mencintainya, tetapi sekarang mata hatinya sudah terbuka lebar. Ia tak mau diinjak-injak oleh istrinya lagi.
Aldi mengambil uang merah beberapa lembar dari dalam dompetnya lalu memberikannya kepada pembantu rumahnya. "Bik, tolong kamu asuh Bima dengan baik ya. Ini uang untuk kebutuhan Bima. Mulai sekarang aku bayar kamu untuk mengasuh anakku dan beberes rumah. Selebihnya abaikan saja," ujar Aldi.
"Baik, Pak," jawabnya dengan patuh.
Usai itu, Aldi segera berangkat kerja, namun langkahnya langsung dihadang oleh Sinta. "Mas, tunggu. Kamu budek apa gimana sih? Sudah aku bilang berikan kunci mobilnya. Kamu pergi saja naik angkutan umum sana," pinta Sinta dengan garang.
Aldi yang sudah geram langsung menyingkirkan tubuh Sinta dari hadapannya dengan sedikit kasar. "Minggir, aku harus berangkat kerja sekarang. Nggak usah ribut masalah mobil. Jika kamu terus begini, akan aku tarik mobil yang kamu pakai. Kamu nggak lupa kan kalau mobil yang kamu pakai itu adalah mobilku?"
Sinta yang mendengar itu tubuhnya langsung membeku, karena mobil yang ia pakai nyatanya memang mobil milik suaminya. Sinta mengepalkan tangannya seraya menatap Aldi yang sudah berlalu dengan tajam.
"Kurang ajar kamu, Mas. Awas saja nanti kamu. Akan aku buat kamu menangis darah. Kamu pikir aku tak bisa meninggalkanmu? Aku ini cantik, banyak pria di luar sana yang mengantri untuk mendapatkanku." Sinta bisa dengan pede bilang begitu karena mantannya, Hendra, sekarang menghubunginya lagi.
Mendengar ponselnya berbunyi, Sinta langsung tersenyum manis karena yang sedang mengirim pesan adalah mantannya, Hendra. "Hai, Sin. Kamu ada waktu nggak? Kita keluar yuk, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," begitulah kira-kira isi pesan yang dikirim Hendra kepadanya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sinta langsung mengiyakannya. "Kamu jangan sampai menyesal ya, Mas, jika aku bersama pria lain. Salah sendiri, siapa suruh kamu tidak tunduk padaku lagi. Hendra itu sekarang jadi anggota DPR, sudah pasti uangnya lebih banyak dibandingkan denganmu," gumam Sinta, lalu langsung pergi menemui Hendra di sebuah kafe, karena mereka membuat janji temu di sana.
Sinta bahkan tidak berpamitan dengan anaknya lebih dahulu. Sungguh sikap Sinta ini tidak mencerminkan sebagai seorang ibu. Bahkan pembantu di rumahnya sampai geleng-geleng kepala melihat sikap Sinta.
Punya suami yang punya pekerjaan bagus, uang bulanan 20 juta, sayang anak dan istri, tetapi Sinta tidak pernah bersyukur.
—
Di sebuah kafe
Aldi dibuat kaget bukan main, karena ia tak sengaja melihat istrinya berjalan dari pintu masuk kafe bergandengan mesra bersama pria lain. Kebetulan Aldi memang berada di kafe itu karena ada urusan dengan seorang investor.
"Sinta… jadi benar kalau dia telah selingkuh dariku," batin Aldi yang langsung menyembunyikan wajahnya, supaya istrinya tak bisa melihatnya di sana.
Aldi memang berniat mencari tahu soal istrinya yang berselingkuh atau tidak, tetapi belum juga ia mencari tahu, Tuhan justru menunjukkan bahwa istrinya kemungkinan besar telah berselingkuh darinya. Jika memang mereka hanya berteman, tidak mungkin sikap keduanya sangat mesra, bagaikan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara.
Kebetulan sekali Sinta dan Hendra malah mengambil tempat duduk tepat di belakang Aldi. Posisi Aldi juga membelakangi mereka sehingga Sinta tidak menyadari jika di sana ada suaminya.
"Terima kasih sudah berbagi visi Anda. Saya butuh waktu untuk mendiskusikan hal ini dengan partner saya terlebih dahulu. Saya akan kabari Anda kembali paling lambat akhir minggu ini," ujar investor itu kepada Aldi.
"Baik, Pak. Saya tunggu kabar baiknya," jawab Aldi pelan, jangan sampai suaranya didengar oleh Sinta.
Untung saja urusannya dengan investor itu sudah selesai sehingga Aldi bisa memantau istrinya. Di sana, Aldi pura-pura sibuk dengan makanan dan minuman yang ada di hadapannya, sementara telinganya menajam mendengar percakapan antara istrinya dan pria itu.
"Kamu ketemu denganku begini, apa suamimu tidak marah?" tanya Hendra.
"Kalau dia mau marah ya biarkan saja, aku tidak takut. Lagian aku sebel banget sama suamiku itu. Jadi suami nggak becus banget membahagiakan istri. Keluargaku saja sudah muak dengannya. Aku nyesel dulu putus sama kamu," jawab Sinta yang menjelek-jelekkan suaminya.
"Sama, aku juga sudah muak dengan istriku. Kalau di rumah pakainya daster melulu, kucel. Beda banget sama kamu yang cantik dan wangi. Bisa memanjakan mata," kata Hendra yang membuat Sinta jadi malu-malu karena dibilang cantik dan wangi. Padahal Sinta bisa menjadi cantik dan terawat itu karena suaminya. Dari uang bulanan itulah dirinya bisa perawatan ke salon, beli skincare, dan membeli baju yang bagus.
"Ah, kamu ini bisa saja memujiku."
"Bagaimana kalau kita bersama lagi? Sesungguhnya aku masih sangat sayang dan cinta denganmu," ujar Hendra sambil menggenggam tangan Sinta.
Sinta begitu kaget dengan pernyataan dari Hendra itu.
Selanjutnya baca ke KBM APP
Judul: Menantu Yang Katanya Kampungan Dan Miskin
By: Bulan jingga.