19/05/2025
Dari Mimpi untuk Selamanya"
Amara selalu menjadi seorang pemimpi. Sejak remaja, ia mengisi jurnal dengan kisah cinta, membuat sketsa pernikahan impiannya, dan bahkan membisikkan percakapan imajiner kepada bintang-bintang di malam hari. Setiap pagi, ia tersenyum, bertanya-tanya kapan — atau apakah — cinta akan pernah datang.
Kemudian datanglah Kelechi.
Mereka pertama kali bertemu pada hari Selasa yang hujan, keduanya meraih buku yang sama di toko buku yang tenang di sudut kota. Itu adalah novel tentang belahan jiwa — ironis, pikirnya. Kelechi meminta maaf dengan tawa hangat, dan Amara menawarkan buku itu, diam-diam berharap dia bersikeras agar Amara mengambilnya. Kelechi melakukannya. Tetapi hanya jika Amara berjanji untuk mengizinkannya membelikannya kopi suatu saat nanti.
Hubungan mereka langsung terjalin — alami, tanpa dipaksakan, seolah-olah alam semesta telah menjahit jalan mereka bersama-sama. Hari-hari berubah menjadi minggu-minggu percakapan larut malam, tawa yang bergema melampaui panggilan telepon, dan jalan-jalan panjang yang tidak pernah terasa cukup lama. Kelechi membuatnya merasa bahwa mimpinya tidak konyol; dia mendengarkan ketika Amara membacakan buku lamanya surat cinta untuk siapa pun, dan dia tersenyum seolah-olah surat-surat itu memang ditulis untuknya selama ini.
Suatu malam, di bawah bintang-bintang yang biasa dia bisikkan, Kelechi berlutut di sampingnya di bukit yang sama tempat dia pernah membayangkan masa depannya. Dengan jari-jari gemetar, dia mengulurkan sebuah cincin, tidak mencolok, tetapi dengan permata yang senada dengan warna jurnal pertamanya.
"Aku ingin menjadi alasanmu berhenti bermimpi," katanya, "dan mulai menjalani setiap mimpi itu — bersamaku." Dia berkata ya, air mata bercampur tawa, dan pada saat itu, dunianya berubah. Gadis yang pernah menulis fantasi dengan tinta kini menjalani kisah yang hanya berani dia impikan.