Faury Nazeeh Ulwan

Faury Nazeeh Ulwan Glory
(2)

04/04/2026

missing this place, always

17/03/2026

Kisah ini bermula dari sosok Fahim Saleh. Lahir di Arab Saudi dari keluarga imigran asal Bangladesh yang kemudian menetap di Amerika Serikat, Fahim bukanlah miliarder instan pewaris kekayaan. Ia adalah seorang jenius teknologi sejati yang telah membangun aplikasi sejak usia belasan tahun dan menciptakan kekayaannya dari nol.

Visi Fahim tidak terbatas di negara maju. Ia justru melihat potensi besar di negara-negara berkembang yang memiliki tantangan infrastruktur. Pada 2015, ia ikut mendirikan Pathao, perusahaan ride-sharing dan logistik yang sukses besar di Bangladesh. Tak berhenti di situ, pada 2017 ia berekspansi ke Lagos, Nigeria, dan mendirikan Gokada startup ojek online yang merevolusi sistem transportasi di kota dengan lalu lintas padat tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Gokada berkembang pesat dan berhasil menarik pendanaan jutaan dolar.

Di balik statusnya sebagai CEO perusahaan multinasional, rekam jejak Fahim selalu diwarnai oleh satu sifat dominan: ia adalah sosok yang luar biasa empatik, murah hati, dan selalu ingin memberdayakan orang lain. Ia percaya pada konsep "memberikan peluang."

Keyakinan murni itulah yang kemudian membuka pintu bagi seorang pemuda bernama Tyrese Haspil. Pada bulan Mei 2018, ketika bisnis Fahim sedang meroket tajam, ia membutuhkan tangan kanan untuk mengurus sisi operasional dan pribadinya. Ia mempekerjakan Haspil yang saat itu baru menginjak usia sekitar 19 tahun sebagai asisten pribadinya.

Kontras antara kedua pria ini sangat tajam. Jika Fahim adalah sosok yang hangat, ekspresif, dan memiliki rekam jejak panjang dalam membangun sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, Haspil datang dari latar belakang yang jauh lebih suram. Kerabat Haspil sendiri di kemudian hari mendeskripsikannya sebagai sosok yang sangat tertutup, selalu menjaga jarak, dan nyaris tidak pernah menunjukkan emosi apa pun.

Namun, Fahim melihat potensi yang bisa dikembangkan dalam diri Haspil. Alih-alih membatasinya pada tugas administratif biasa, Fahim memberikan akses dan kepercayaan yang luar biasa besar kepada pemuda tersebut. Haspil tidak hanya mengatur jadwal; ia dipercaya mengelola tugas-tugas finansial yang sangat krusial, memegang kendali atas kartu kredit bosnya, memiliki akses ke laporan keuangan, dan mengetahui persis denyut nadi aliran dana jutaan dolar. Fahim memperlakukan Haspil bukan sekadar karyawan, melainkan anak didik.

Sayangnya, niat baik itu jatuh ke tangan yang salah. Di balik wajah tanpa emosi sang asisten, sebuah pengkhianatan finansial mulai direncanakan. Pada Desember 2018 baru sekitar tujuh bulan sejak ia dipekerjakan Haspil diam-diam menciptakan sebuah entitas perusahaan fiktif dan rekening bank palsu untuk menyedot pelan-pelan kekayaan bosnya.

I. Kesempatan Kedua yang Membawa Petaka

Kehancuran itu tidak terjadi dalam semalam. Mengambil keuntungan dari fokus Fahim pada gambaran besar perusahaannya, Haspil menyedot dana dari rekening bosnya sedikit demi sedikit agar tidak memicu kecurigaan sistem keamanan bank. Namun, insting seorang pengusaha tidak bisa dibohongi. Pada Mei 2019, tepat setahun setelah Haspil bekerja, Fahim mengaudit keuangannya dan menemukan uang sekitar $90,000 (sekitar Rp 1,4 Miliar) telah lenyap. Semua jejak digital mengarah pada asisten pribadinya sendiri.

Di dunia korporat Manhattan, tindakan standar untuk penggelapan sebesar ini adalah panggilan ke polisi dan tuntutan penjara maksimal. Namun, Fahim memilih jalan yang sangat jarang diambil orang. Ia menolak untuk menghancurkan masa depan pemuda berusia 20 tahun itu.

Fahim memang memecat Haspil secara langsung, tetapi ia tidak melibatkan pihak kepolisian. Alih-alih menjebloskan Haspil ke penjara, Fahim menginisiasi sebuah dokumen hukum bernama Promissory Note (Surat Perjanjian Utang), sebuah skema cicilan dua tahun bagi Haspil untuk mengembalikan uang tersebut secara bertahap tanpa catatan kriminal.

Inilah plot twist yang memilukan. Setelah dipecat dan terikat utang legal, Haspil justru memperparah kejahatannya. Penyelidikan kejaksaan mengungkap bahwa sejak dipecat pada pertengahan 2019 hingga Juli 2020, Haspil mengeksploitasi celah keamanan menggunakan akun PayPal palsu yang masih terhubung dengan sumber dana Fahim. Pencurian yang tadinya $90,000, diam-diam membengkak drastis hingga menyentuh angka sekitar $400,000 (sekitar Rp 6 Miliar).

Haspil tahu ini adalah bom waktu. Sadar bahwa cepat atau lambat Fahim pasti akan menemukan pencurian lanjutan tersebut dan penjara adalah tempat peristirahatan selanjutnya otak Haspil merancang rencana gelap: menghabisi nyawa satu-satunya orang yang mengetahui kejahatannya.

II. Rencana Keji Berdarah Dingin

Fakta persidangan mengungkap bahwa pembunuhan Fahim bukanlah aksi spontan. Haspil menghabiskan waktu berminggu-minggu mempelajari anatomi leher manusia, mencari tahu letak pembuluh darah paling mematikan. Ia meriset tata letak cetak biru gedung apartemen mewah Fahim, serta mencari senjata taktis.

Bahkan, sebelum tragedi di bulan Juli 2020, Haspil sudah mencoba membunuh Fahim setidaknya dalam tiga kesempatan terpisah. Pada Maret 2020, Haspil diam-diam mengikuti mantan bosnya terbang ke Lagos, Nigeria, dengan membawa sebilah pisau. Sekembalinya ke New York, ia dua kali membuntuti Fahim ke daerah Hopewell Junction dengan niat menikam atau membakar rumahnya.

Memasuki bulan Mei 2020, Haspil memutuskan bahwa apartemen Fahim di Lower East Side, Manhattan, adalah lokasi eksekusi yang paling ideal. Haspil menyamar dan menghubungi agen properti untuk melihat unit apartemen kosong persis di seberang kediaman Fahim demi menyalin kunci. Ia memasang kamera pengintai NEST di sana, mengawasi gerak-gerik dan jadwal harian Fahim selama berminggu-minggu.

Pada 17 Juni 2020 nyaris sebulan sebelum pembunuhan Haspil sudah pergi ke toko perkakas Home Depot. Ia membeli alat pel, kantong sampah hitam kelas konstruksi tebal, dan sebuah gergaji mesin. Sejak awal, ia memang berencana untuk menyetrum, menikam, dan memutilasi tubuh orang yang memberinya kesempatan kedua itu hingga tak bersisa.

III. Hari Eksekusi di Dalam Lift

Pagi itu, 13 Juli 2020, udara musim panas menyelimuti Manhattan. Fahim baru saja menyelesaikan rutinitas lari paginya. Tyrese Haspil sudah berada di sana. Sekitar pukul 08:30 pagi, Haspil menyelinap masuk ke lobi gedung dan bersembunyi. Ia mengenakan setelan jas hitam yang dipesan khusus, topeng buram agar tak dikenali, membawa alat kejut listrik (Taser), sebilah pisau tajam, dan sebuah penyedot debu mini genggam.

Ketika Fahim melangkah ke dalam lift pribadinya yang akses pintunya langsung terbuka ke ruang tamu apartemen lantai 7, Haspil ikut masuk dari belakang. Fahim berdiri membelakangi sosok bertopeng itu tanpa curiga.

Begitu pintu lift terbuka dan Fahim melangkah keluar ke ruang tamunya, tanpa peringatan, Haspil menembakkan Taser-nya tepat ke punggung Fahim. Sengatan listrik bertegangan tinggi menghantam sang miliarder hingga ia jatuh tersungkur. Haspil langsung menindihnya, mencabut pisau, dan menikam leher serta dada mantan bosnya berkali-kali tanpa ampun. Fahim tewas bersimbah darah.

Dengan ketenangan yang mengerikan, Haspil mengeluarkan penyedot debu mininya. Ia mulai menyedot Anti-Felon Identification Discs (AFID) cakram-cakram konfeti kecil berisi nomor seri dari senjata Taser yang berserakan di lantai untuk menghapus jejak pelacakan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam bersama mayat mantan bosnya sebelum akhirnya pulang pada pukul 3 sore.

IV. Baterai Habis dan Takdir yang Intervensi

Keesokan harinya, 14 Juli 2020, Haspil kembali ke TKP membawa cairan pembersih, kantong sampah, dan gergaji listrik Makita. Di ruang tamu itu, Haspil memutilasi kepala dan anggota gerak tubuh Fahim, berencana membuangnya sedikit demi sedikit.

Namun, rencananya menemui jalan buntu yang konyol: baterai gergaji mesinnya habis. Alih-alih panik, Haspil dengan santai meletakkan gergaji itu, meninggalkan sisa tubuh Fahim yang berantakan, dan pergi menuju Home Depot di 23rd Street murni untuk membeli charger baterai tambahan.

Di saat Haspil sedang mengantre di kasir, takdir bekerja. Sepupu perempuan Fahim yang cemas karena Fahim tidak bisa dihubungi, datang mengecek apartemen. Saat pintu lift terbuka, ia disambut pemandangan mimpi buruk: tubuh sepupunya yang dimutilasi tanpa kepala, cairan pembersih, dan gergaji mesin. Ia langsung menelepon 911.

Hanya dalam hitungan menit, NYPD mengepung area apartemen. Ketika Haspil tiba kembali membawa charger baterainya dan melihat polisi berseragam di mana-mana, ia sadar rencananya hancur. Ia berbalik arah dan melarikan diri.

V. Pesta di Atas Darah Korban

Logika akal sehat berpikir Haspil akan bersembunyi. Sebaliknya, ia menyewa apartemen Airbnb mewah di kawasan elite SoHo menggunakan uang curian dari rekening Fahim pria yang tubuhnya baru saja ia potong-potong. Tujuannya? Merayakan ulang tahun ke-22 kekasih barunya. Haspil terekam CCTV keluar membeli kue ulang tahun dan balon emas. Di saat keluarga korban hancur lebur, Haspil meniup lilin dan berpesta dibiayai oleh darah korbannya.

Namun, kesombongannya menjadi bumerang. Pertama, Haspil melewatkan beberapa cakram pelacak (AFID) di karpet Fahim, yang langsung dilacak polisi ke transaksi pembelian Taser atas nama Tyrese Haspil. Kedua, dari Airbnb-nya, ia secara obsesif mencari berita tentang dirinya sendiri dengan kata kunci "Fahim Saleh dismembered".

Pada pagi hari tanggal 17 Juli 2020, pasukan taktis NYPD menggerebek apartemen Airbnb tersebut. Pacarnya hanya bisa terdiam syok melihat kekasihnya diseret keluar oleh detektif.

VI. Vonis Keadilan

Proses peradilan memakan waktu nyaris empat tahun. Di persidangan, pengacara Haspil menggunakan pembelaan "Gangguan Emosional Ekstrem", mengklaim Haspil meledak karena takut dicampakkan kekasihnya.

Jaksa menghancurkan alibi itu berkeping-keping dengan bukti persiapan berbulan-bulan yang sangat sadar dan kalkulatif. Motif Haspil murni keserakahan mutlak untuk menutupi pencurian Rp 6 Miliar.

Pada 24 Juni 2024, juri menyatakan Tyrese Haspil bersalah. Puncaknya, pada 10 September 2024, Jaksa Wilayah Manhattan memvonis Tyrese Haspil hukuman 40 tahun hingga seumur hidup di penjara, mengakhiri fasadenya sebagai asisten setia.

VII. Catatan Refleksi

Kasus Fahim Saleh bukan sekadar dokumenter kriminal biasa; ini adalah cermin paling retak tentang ironi sifat manusia. Tragedi ini meninggalkan satu pertanyaan pahit: Apakah kebaikan hati yang tulus selalu sepadan dengan harganya?

Bagi Fahim, memaafkan adalah bentuk investasi pada kemanusiaan. Namun, dunia nyata tidak selalu membalas kebaikan dengan karma yang manis. Kesalahan fatal Fahim bukanlah karena ia terlalu baik, melainkan karena ia lupa bahwa tidak semua orang memiliki kapasitas moral untuk menghargai sebuah "kesempatan kedua".

Bagi jiwa yang sudah dikendalikan oleh keserakahan, pengampunan dilihat sebagai kelemahan. Haspil membuktikan bahwa empati tidak bisa menyembuhkan sosiopati.

Ini adalah pesan peringatan yang sangat keras. Kebaikan memang nilai tertinggi manusia, tetapi kebaikan tanpa batas dan ketegasan adalah jalan tol menuju malapetaka. Jangan biarkan kasus ini membunuh empatimu. Tetaplah menjadi orang baik yang bersedia menolong sesama, namun jadilah orang baik yang logis dan mawas diri. Lindungi kebaikanmu dengan batasan yang jelas, karena empati yang jatuh ke tangan yang salah bisa menjadi senjata paling mematikan bagi dirimu sendiri.

Address

Al Madinah

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Faury Nazeeh Ulwan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share