03/28/2026
Di sebuah sudut sunyi di negeri Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Tubuhnya kurus, kulitnya dihiasi bercak putih akibat penyakit sopak, dan pakaiannya penuh tambalan. Namun, di balik penampilannya yang bersahaja, tersimpan cinta yang begitu hebat hingga mengguncang Arsy.
Berikut adalah narasi emosional tentang perjuangan Uwais demi ibunya:
1. Bisikan Kerinduan sang Ibu
Sore itu, di dalam gubuk yang pengap, sang ibu yang telah renta, buta, dan lumpuh berbisik dengan suara bergetar, "Wahai Uwais anakku, mungkinkah ibu bisa melihat Ka'bah sebelum ajal menjemput?"
Uwais terdiam. Hatinya perih. Ia tidak memiliki unta, tidak punya perbekalan, dan jarak ke Mekah adalah ribuan kilometer padang pasir yang membara. Namun, bagi Uwais, air mata ibunya adalah perintah yang tak boleh dibantah.
2. Latihan yang Dianggap Gila
Keesokan harinya, Uwais melakukan sesuatu yang aneh. Ia membeli seekor anak keledai, lalu setiap pagi ia menggendong hewan itu naik-turun bukit di dekat rumahnya.
Tetangganya tertawa. "Lihat si gila Uwais! Bukannya menunggangi keledai, ia malah menggendongnya!" ejek mereka. Uwais hanya tersenyum tipis. Ia tidak sedang gila; ia sedang mempersiapkan otot-ototnya. Ia sedang menempa tubuhnya agar cukup kuat memikul beban paling berharga dalam hidupnya: ibunya.
3. Perjalanan di Atas Punggung Cinta
Delapan bulan berlalu. Saat musim haji tiba, Uwais membuktikan janjinya. Ia meletakkan ibunya di atas punggungnya yang kini telah kuat dan tegap.
* Ribuan kilometer ia tempuh dengan kaki telanjang.
* Pasir panas yang membakar telapak kakinya tidak ia rasakan.
* Keringat yang bercucuran ia anggap sebagai embun penyejuk hati.
Setiap kali sang ibu bertanya, "Apakah kau lelah, Nak?" Uwais selalu menjawab dengan lembut, "Tidak, Ibu. Rasa cintaku padamu jauh lebih besar daripada rasa lelah ini.
4. Di Depan Ka'bah: Puncak Pengorbanan
Sesampainya di Mekah, Uwais tetap menggendong ibunya saat melakukan Tawaf. Di depan Baitullah, sang ibu menangis haru. Uwais kemudian berdoa dengan khusyuk:
> "Ya Allah, ampuni semua dosa ibuku."
Sang ibu terkejut dan bertanya, "Bagaimana dengan dosamu sendiri, Uwais?"
Uwais menjawab dengan air mata yang mengalir deras, "Jika Engkau telah mengampuni ibu, maka ibu akan rida kepadaku. Dan jika ibu rida kepadaku, maka Engkaulah yang akan membawaku ke surga-Mu."
Penutup: Sang Penghuni Langit
Seketika itu juga, penyakit sopak di tubuh Uwais sembuh total, menyisakan hanya satu bulatan sebesar keping dirham di telapak tangannya sebagai tanda.
Uwais pulang ke Yaman tanpa pernah bertemu Nabi Muhammad SAW secara fisik karena ia tak tega meninggalkan ibunya terlalu lama. Namun, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada para sahabat:
"Akan datang kepada kalian seorang pemuda dari Yaman bernama Uwais. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa darinya, karena doanya menembus langit."