12/06/2026
Sebuah studi yang dilaporkan Reuters mengungkap bahwa hujan ekstrem yang mengguyur ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara, selama empat hari pada November 2025 diduga menyebabkan kematian sedikitnya 58 orangutan Tapanuli. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 7 persen dari total populasi spesies yang tersisa kurang dari 800 individu di alam liar. Curah hujan yang melebihi 1.000 milimeter memicu longsor besar di kawasan hutan pegunungan yang menjadi habitat utama primata paling langka di dunia tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Borneo Futures, World Weather Attribution, dan Liverpool John Moores University menunjukkan bahwa Blok Barat Batang Toru mengalami dampak paling parah. Ribuan hektare hutan rusak akibat longsor dan aliran material yang bergerak cepat, menghancurkan area tempat orangutan mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Para peneliti memperkirakan banyak individu tewas akibat tertimbun longsor, tenggelam, mengalami cedera serius, atau kehilangan akses terhadap sumber pakan setelah habitatnya rusak.
Temuan ini menambah daftar ancaman yang dihadapi orangutan Tapanuli yang sebelumnya sudah tertekan oleh fragmentasi habitat, aktivitas pertambangan, dan perluasan lahan pertanian. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kehilangan populasi dalam jumlah besar akibat bencana alam dapat mempercepat risiko kepunahan spesies berstatus Kritis (Critically Endangered) tersebut. Studi yang dikutip Reuters itu juga menyoroti meningkatnya dampak cuaca ekstrem yang terkait perubahan iklim terhadap satwa liar dengan populasi kecil dan habitat yang terisolasi.
Sumber: Reuters; Borneo Futures; World Weather Attribution; Liverpool John Moores University.