31/05/2026
*Tanpa Pengorbanan, Cinta itu Omong Kosong*
“Jika tidak bisa memperbaiki, kita jangan mencela, menyalahkan, dan menghakimi. Ternyata, kita tidak lebih baik.”
Maaf, jika ada yang tersinggung. Lebih baik jujur dan mengakui terus terang, bahwa sesungguhnya kita semua pernah berbuat salah.
Kita tidak harus saling menyalahan dan melukai, jika untuk pembenaran diri dan demi gengsi. Alangkah bijak, jika kita refleksi diri. Mengapa kita sulit atau tidak mau berubah?
Sesungguhnya dengan refleksi diri, mengajar kita agar berani berjiwa besar, perbaiki diri, dan rendah hati. Hidup ini harus makin baik dan bermakna.
“Seharusnya suami itu ndak usah gengsi. Pilih-pilih pekerjaan, tapi yang penting bekerja dulu, karena punya keluarga. Saya mau bekerja lagi, tapi dilarang. Sedang kebutuhan harian keluarga itu tidak bisa ditunda,” syering WL dalam suatu serasehan.
Fakta itu benar dan tidak diingkari. Sering kali, kita terbiasa dan lebih
mudah melihat kesalahan orang lain, ketimbang kesalahan sendiri. Coba bertanya pada diri sendiri, dan direnungkan. “Mengapa suami atau istri berubah sikap, apa yang salah pada saya?”
Dengan bertanya pada diri sendiri lebih dulu itu bijaksana, ketimbang kita menyalahkan dan menghakimi pasangan sendiri.
Padahal pasangan yang berubah itu bisa jadi, karena kita temperamental, tak peduli, cerewet, banyak menuntut, dan sebagainya.
Coba berbicara dari hati ke hati. Dengan refleksi diri lebih dulu, kita lalu mencari titik temu untuk perbaiki yang keliru agar jadi baik, dan demi keutuhan keluarga.
Begitu p**a dengan suami WL yang pilih-pilih pekerjaan. Suami malu, karena pekerjaan tidak bergengsi, gaji kecil, dan turun derajat. Atau sebagai istri, WL banyak menuntut pada suami?
Tidak harus saling menyalahkan, tapi mengingatkan, menguatkan, dan meneguhkan. Yang salah itu tidak harus disalahkan dan dihakimi. Tapi didekati, didampingi, dan dimotivasi agar percaya diri untuk memulai hidup baru yang lebih baik.
Jika suami belum bisa bangkit dari keterpurukannya, WL juga harus berani mohon izin dan pengertian suami untuk bekerja kembali demi menjaga tiang rumah tangga agar tidak roboh.
Semangat berkorban yang muncul dari kerendahan hati. Kita belajar memahami satu sama lain, karena hati yang mengasihi. Semua itu demi kebaikan, keutuhan, dan masa depan keluarga.
*Mas Redjo*