14/04/2023
SEJARAH SINGKAT TENTANG MUHAMMAD
Sebelum Muhammad mengenal monotheisme, terdapat beberapa orang yang telah menentang budaya berhala yang ada di Mekah, dan berdakwah tentang tauhid atau monotheisme. Salah satunya adalah, Zayd bin Amr. Ia adalah seorang penyembah berhala kemudian murtad menjadi seorang Hanif (Agama Ibrahim). Zayd dengan keras menentang polytheisme, karenanya ia kemudian diasingkan oleh orang-orang Mekah. Selama masa pengasingan ini, ia sering bertemu Muhammad didekat Gua Hira. Zayd belajar agama hingga ke Syria. Di kemudian hari Muhammad bercerita tentang Zaid ini; “Aku telah melihat dia di surga menggambar baju-bajunya.” Perkataan ini membuktikan bahwa Muhammad begitu terkesan terhadap ajaran monotheisme yang diajarkan oleh Zaid tersebut. (Ibn Sa’d, vol.i, p.185)
Tidak banyak hal yang dapat kita ketahui mengenai apa agama awal Muhammad, namun dari beberapa Hadith dan biografinya, kita memperoleh informasi bahwa kemungkinan pada mulanya Muhammad adalah seorang kafir penyembah berhala. Ibnu Ishaq menulis bahwa Muhammad biasa bertapa seorang diri di gua Hira setiap tahun selama sebulan untuk melakukan ‘tahnanuth‘ yang merupakan ibadah berhala. Menurut masyarakat Quraish, ‘tahnanuth’ berarti pengabdian agamawi (Ibn Ishaq, Sirat, p.105).
‘Kami diberitahu bahwa Rasul Allah pernah menyinggung hal tentang al-‘Uzza dan katanya, “Aku telah mempersembahkan domba putih kepada al-‘Uzza, ketika aku masih menjadi pengikut agama masyarakatku.” (Hisham ibn al-Kalbi, Kitab al-Asnam, p.17)
Bukhari juga mencatat bahwa Muhammad muda memakan daging yang dipersembahkan pada berhala Mekah, hal yang dilarang dalam kepercayaan monotheisme seperti Yahudi dan Hanif. (Sahih Bukhari, 67:407, 58:169). Hal ini menunjukkan pada mulanya Muhammad adalah penyembah berhala (kafir), namun karena bimbingan dari orang-orang seperti Waraqah, Khadijah, dan Zaid bin Amr, akhirnya Muhammad menjadi seorang monotheisme.
13 tahun Muhammad berdakwah mengenai monotheisme di Mekah, menyampaikan berita bahwa dirinya adalah seorang rasul, namun kurang dari 80 orang yang menerimanya dan percaya padanya (bandingkan dengan Lia Eden, dalam 5 tahun pengikutnya lebih dari 50 orang). Dalam dakwahnya, ia selalu mengatakan bahwa barangsiapa yang tidak taat pada Allah dan dirinya adalah kafir. Hal itu membuat jengkel masyarakat Mekah, karena dengan begitu Muhammad mengejek agama dan dewa-dewa mereka. Akibatnya masyarakat Mekah tidak mau berhubungan dengan dia dan pengikutnya. Dalam sejarah yang ditulis para Muslim sendiri, tidak ada bukti penindasan terhadap Muhammad. Kaum-kaum tua Quraish yang muak dengan hinaan-hinaan Muhammad melaporkan hal itu kepada paman Muhammad, Abu Talib dan berkata,
“Keponakanmu ini telah mengucapkan kata-kata hinaan terhadap dewa-dewa dan agama kami, dan telah mengatakan kami bodoh, dan mengatakan semua kakek moyang kami sesat. Sekarang, kau yang berada di pihak kami silakan balas dia; (karena kau pun mengalami hinaan yang sama), atau jangan lindungi dia agar kami yang membalasnya.” (Sir William Muir, Life of Muhammad, Vol. 2, chap. 5,. p. 162.)
Ini bukan ucapan orang-orang yang s**a menindas. Ini adalah sebuah permintaan dan peringatan agar Muhammad berhenti menghina dewa-dewa mereka. Bandingkan dengan tindakan kaum Muslim modern ketika nabi mereka digambarkan di beberapa kartun. Muslim-muslim ini mengamuk dan di tempat-tempat seperti Nigeria dan Turki, mereka membunuh hampir 100 orang yang tidak bersalah atas pembuatan kartun-kartun itu. Tapi masyarakat Quraish bertoleransi atas hinaan-hinaan terhadap dewa-dewa mereka selama tiga belas tahun.
Ibnu Ishaq berkata, “Seperti yang disampaikan kepadaku, bahwa Abu Jahal bin Hisyam berjumpa dengan Rasulullah, kemudian ia berkata kepada beliau, ‘Hai Muhammad, engkau harus berhenti mencela tuhan-tuhan kami! Jika tidak, maka kami akan mencela tuhan yang engkau sembah.’ (Ibnu Hisyam, Sirah NA, Vol 1, p 318)
Berdasarkan peristiwa tersebut, maka Allah menurunkan ayat berikut:
Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS 6:108)